Selasa, 16 Juni 2026

Menjaga Marwah Hati yang Terkhianat


 


Menjaga Marwah Hati yang Terkhianat



Jika trauma hadir di dalam dada,
Bukanlah tanda dirimu nista,
Ia adalah bukti yang nyata,
Ketulusanmu dalam berkawan saja.

Kau beri jiwa tanpa bersyarat,
Menjalin persahabatan teramat erat,
Meski dibalas luka tersayat,
Ketulusanmu tetaplah bermartabat.

Kini rasa takut kerap melanda,
Gemetar tubuh saat menyapa,
Jangan kau sesali batin yang luka,
Itu cara tubuh menjaga raga.

Dinding dibangun demi selamat,
Agar tak lagi perih menyengat,
Tubuhmu tahu caramu merawat,
Dari kawan akrab yang khianat.

"Menjauh dari keramaian bukan berarti kamu kalah. Itu adalah cara jiwamu menyembuhkan diri dari luka yang tak terlihat."

"Satu pengkhianatan dari orang terdekat memang cukup untuk menghancurkan kepercayaan, tetapi jangan biarkan itu menghancurkan masa depanmu."

"Kamu tidak bersalah karena telah menaruh ketulusan. Yang salah adalah mereka yang tidak tahu cara menghargai ketulusan tersebut."

"Waktu mungkin tidak menghapus ingatanmu tentang rasa sakit itu, tetapi waktu akan membuatmu lebih kuat saat mengingatnya."

Jumat, 12 Juni 2026

Sunnah dan Keutamaan Berdoa pada "Dubur Ash-Shalawat" Terutama Sebelum Salam


 


Sunnah dan Keutamaan Berdoa pada "Dubur Ash-Shalawat" Terutama Sebelum Salam



Dari Abu Umamah Al-Bahili, beliau berkata:

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: «جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ»

Ditanyakan kepada Rasulullah : "Doa apakah yang paling didengar (diijabah oleh Allah)?" Beliau bersabda: "Di malam terakhir dan dubur as-shalawat (ujung/akhir shalat-shalat) wajib.” (HR. Tirmidzi, No. 3499).

🔸 Istilah "dubur" secara bahasa berarti "bagian belakang" atau "ekor". Para ulama menjelaskan bahwa kata dubur dalam konteks shalat memiliki dua dimensi waktu: pertama, bagian akhir sebelum salam (setelah tasyahud akhir), dan kedua, bagian yang berada tepat setelah salam selesai. Namun, dalam hal memanjatkan doa hajat pribadi, para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa berdoa sebelum salam jauh lebih utama karena posisi kita masih berada di dalam ibadah shalat dan sedang bermunajat. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam Majmu' al-Fatawa (22/488)

🔸 Nabi ﷺ umumnya lebih sering berdoa di dalam shalat dan senantiasa berdoa di dubur shalat sebelum salam. Sedang setelah salam beliau gunakan untuk berdzikir. Walau ada riwayat Nabi ﷺ juga pernah atau kadang-kadang berdoa setelah salam.

🔸 Kebiasaan berdoa di dalam shalat dan di dubur shalat sebelum salam ini dipraktikkan secara konsisten dan indah oleh generasi Salafush Shalih. Bagi mereka, waktu ini adalah kesempatan emas untuk mengetuk pintu langit, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membuktikan ketulusan cinta kepada guru, murid, dan sahabat mereka melalui doa rahasia (bahrul ghaib). Hal ini sebagaimana kebiasaan imam Ahmad mendoakan dan menyebut nama imam Asy-Syafi'i di dalam shalatnya.

Jumat, 06 Maret 2026

Bulan Romadhon.. Bulun Turunnya Al-Qur'an


 



Bulan Romadhon.. Bulun Turunnya Al-Qur'an


Allah تبارك وتعالى  telah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ 

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta al-Furqon (pembeda antara yang haq dan yang batil). ..." (QS. Al-Furqon : 185)

وَفِي رِوَايَةِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْر، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أُنْزِلَ الْقُرْآنُ فِي النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَجُعِلَ فِي بَيْتِ العِزَّة، ثُمَّ أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي عِشْرِينَ سَنَةً لِجَوَابِ كَلَامِ النَّاسِ.
وَفِي رِوَايَةِ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: نَزَلَ الْقُرْآنُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ إِلَى هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا جُمْلَةً وَاحِدَةً، وَكَانَ اللَّهُ يُحْدثُ لَنَبِيِّهِ مَا يَشَاءُ، وَلَا يَجِيءُ الْمُشْرِكُونَ بمثَل يُخَاصِمُونَ بِهِ إِلَّا جَاءَهُمُ اللَّهُ بِجَوَابِهِ، وَذَلِكَ قَوْلُهُ: ﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نزلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا * وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا﴾ [الْفُرْقَانِ: ٣٢، ٣٣] .

"Dalam riwayat Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Al-Qur'an diturunkan pada pertengahan bulan Ramadan ke langit dunia, lalu ditempatkan di Baitul Izzah. Kemudian, Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah ﷺ dalam kurun waktu dua puluh tahun sebagai jawaban atas perkataan manusia."
"Dan dalam riwayat Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Al-Qur'an turun pada bulan Ramadan pada Lailatul Qadar ke langit dunia ini secara sekaligus (jumlah wahidah). Dan Allah senantiasa menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya apa yang Dia kehendaki. Tidaklah kaum musyrik datang membawa suatu perumpamaan (keraguan) untuk mendebat beliau, melainkan Allah mendatangkan jawabannya. Hal itu sesuai dengan firman-Nya:
“Berkatalah orang-orang yang kafir: 'Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (berangsur-angsur). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS. Al-Furqan: 32-33)." 


Malam Jum'at,  17 Ramadhan 1447 H 

Jumat, 27 Februari 2026

Memperbanyak Doa Pada Hari Jum'at Terutama Ba'da Ashar


 


Memperbanyak Doa Pada Hari Jum'at Terutama Ba'da Ashar


يومُ الجمعةِ ثِنتا عشرةَ - يريدُ - ساعةً لا يوجَدُ مسلِمٌ يسألُ اللَّهَ عزَّ وجلَّ شيئًا إلَّا آتاهُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ فالتمِسوها آخرَ ساعةٍ بعدَ العصرِ
الراوي : جابر بن عبدالله | المحدث : الألباني | المصدر : صحيح أبي داود الصفحة أو الرقم: 1048 | خلاصة حكم المحدث : صحيح | التخريج : أخرجه أبو داود (1048) واللفظ له، والنسائي (1389)

"Hari Jumat itu dua belas jam -maksud beliau- tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah 'Azza wa Jalla pada jam tersebut melainkan Allah 'Azza wa Jalla akan mengabulkannya. Maka carilah ia (saat itu) di akhir jam setelah Ashar." (HR. Abu Daud: 1048 & An-Nasa'i: 1389, dishahihkan oleh Al-Albani) 

وروى سعيد بن جبير عن ابن عباس قال: الساعة التي تُذكَر يوم الجمعة: ما بين صلاة العصر إلى غروب الشمس، وكان سعيد بن جبير إذا صلَّى العصر لم يكلِّم أحدًا حتى تغرب الشمس.
وهذا القول هو قول أكثر السلف، وعليه أكثر الأحاديث. ويليه القول بأنها ساعة الصلاة. وبقية الأقوال لا دليل عليها. 
كتاب زاد المعاد في هدي خير العباد ١\٤٨٧ - ط عطاءات العلم - ابن القيم

"Sa'id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: 'Waktu yang dimaksud (waktu ijabah) pada hari Jum'at adalah antara shalat Ashar hingga matahari terbenam'. Dan dahulu Sa'id bin Jubair apabila telah selesai shalat Ashar, ia tidak berbicara dengan siapa pun hingga matahari terbenam.
Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf, dan didukung oleh sebagian besar hadits. Pendapat kedua yang mendekati adalah bahwa waktu itu adalah saat shalat (Jumat/khotbah). Sedangkan pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil."
dari kitab Zad al-Ma'ad (1/487) karya Ibnu al-Qayyim

Minggu, 22 Februari 2026

Puasa Memiliki Tiga Tingkatan


 

Puasa Memiliki Tiga Tingkatan



وللصوم ثلاث مراتب: صوم العموم. وصوم الخصوص، وصوم خصوص الخصوص.
فأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة.
وأما صوم الخصوص: فهو كف النظر، واللسان، واليد، والرجل، والسمع، والبصر، وسائر الجوارح عن الآثام.
وأما صوم خصوص الخصوص: فهو صوم القلب عن الهمم الدنيئة، والأفكار المبعدة عن الله تعالى، وكفه عما سوى الله تعالى بالكلية، وهذا الصوم له شروح تأتى فى غير هذا الموضع.
من آداب صوم الخصوص: غض البصر، وحفظ اللسان عما يؤذى من كلام محرم أو مكروه، أو ما لا يفيد، وحراسة باقي الجوارح.
كتاب مختصر منهاج القاصدين ص ٤٤ - المقدسي، نجم الدين

"Puasa itu memiliki tiga tingkatan: Puasa Umum, Puasa Khusus, dan Puasa Khususnya Khusus. 
🔸 Puasa Umum (Shoumul 'Umum) adalah menahan perut dan kemaluan dari melampiaskan syahwat (makan, minum, dan hubungan intim).
🔸 Puasa Khusus (Shoumul Khushush) adalah menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.
🔸 Puasa Khususnya Khusus (Shoumu Khushushil Khushush) adalah puasa hati dari cita-cita yang rendah dan pikiran yang menjauhkan diri dari Allah Ta'ala, serta menahannya dari selain Allah secara total. Puasa ini memiliki penjelasan lebih lanjut yang akan dibahas di tempat lain. 
Di Antara Adab Puasa Khusus: Menundukkan pandangan, menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti—baik haram, makruh, atau tidak berguna—serta menjaga seluruh anggota tubuh lainnya."
📚 Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 44 - karya Najmuddin al-Maqdisi.


Sabtu, 21 Februari 2026

Dunia Itu Penjara Bagi Orang Mukmin dan Surga Bagi Orang Kafir


 


Dunia Itu Penjara Bagi Orang Mukmin dan Surga Bagi Orang Kafir



عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan,

[٢٩٥٦] قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ) مَعْنَاهُ أَنَّ كُلَّ مُؤْمِنٍ مَسْجُونٌ مَمْنُوعٌ فِي الدُّنْيَا مِنَ الشَّهَوَاتِ الْمُحَرَّمَةِ وَالْمَكْرُوهَةِ مُكَلَّفٌ بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ الشَّاقَّةِ فَإِذَا مَاتَ اسْتَرَاحَ مِنْ هَذَا وَانْقَلَبَ إِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ مِنَ النَّعِيمِ الدَّائِمِ وَالرَّاحَةُ الْخَالِصَةُ مِنَ النُّقْصَانِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَإِنَّمَا لَهُ مِنْ ذَلِكَ مَا حَصَّلَ فِي الدُّنْيَا مَعَ قِلَّتِهِ وَتَكْدِيرِهِ بِالْمُنَغِّصَاتِ فَإِذَا مَاتَ صَارَ إِلَى الْعَذَابِ الدَّائِمِ وَشَقَاءِ الْأَبَدِ. (كتاب شرح النووي على مسلم ج ١٨ ص ٩٣)

"[2956] Sabda Nabi ﷺ: 'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir'. Maknanya adalah setiap mukmin terpenjara dan terhalang di dunia dari syahwat yang diharamkan dan dimakruhkan, serta dibebani untuk melakukan ketaatan yang berat. Maka, ketika mati, ia beristirahat dari hal tersebut dan berpindah menuju kenikmatan abadi serta istirahat yang murni dari kekurangan yang telah Allah Ta'ala siapkan baginya.
Adapun orang kafir, mereka hanyalah mendapatkan sedikit dari kesenangan dunia yang juga dicampuri dengan hal-hal yang menyengsarakan. Jika mereka mati, mereka berpindah menuju azab yang kekal dan kesengsaraan selamanya."

🔸 Bagi Orang Mukmin: Dunia disebut "penjara" bukan karena tidak boleh bahagia, melainkan karena ia dibatasi oleh aturan syariat, perintah, dan larangan Allah. Selain itu, segala kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan surga yang dijanjikan di akhirat.
🔸 Bagi Orang Kafir: Dunia disebut "surga" karena mereka merasa bebas melakukan apa saja tanpa terikat aturan wahyu. Selain itu, kenikmatan yang mereka rasakan hanya ada di dunia ini saja, karena menurut keyakinan Islam, mereka tidak mendapatkan bagian kenikmatan di akhirat kelak. 

Kamis, 12 Februari 2026

Keindahan dan Kecantikan Yang Sejati ( Haqiqi )


 


Keindahan dan Kecantikan Yang Sejati ( Haqiqi )



يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ ۝٢٦

"Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Akan tetapi, pakaian taqwa itulah yang paling baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat." (QS. Al-A'raf: 26)

قال الإمام الشوكاني في تفسير (٢٠٤/٢) : المراد بلباس التقوى لباس الورع واتقاء معاصي الله، وهو الورع نفسه والخشية من الله، فذلك خير لباس وأجمل زينة. 

Imam Asy-Syaukani berkata dalam tafsirnya (2/204): 'Yang dimaksud dengan pakaian takwa adalah pakaian wara' (menjaga diri dari syubhat/maksiat) dan menjauhi maksiat-maksiat Allah. Ia (pakaian taqwa) adalah wara' itu sendiri dan rasa takut kepada Allah. Maka itulah sebaik-baik pakaian dan seindah-indah perhiasan.'" 

وقال ابن القيم رحمه الله : اعلم أنَّ الجمال ينقسمُ قسمين: ظاهر وباطن، والجمال هو المحبوب لذاته، وهو جمال العلم، والعقل، والجود، والعفَّة، والشجاعة، وهذا الجمال الباطن هو محل نظر الله من عبد ه وموضع محبته، كما في الحديث الصحيح (١): «إن الله لا ينظر إلى صوركم، وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم». (كتاب روضة المحبين ونزهة المشتاقين ٣٢٠ - ط عطاءات العلم)

Ibnu al-Qayyim رحمه الله berkata: "Ketahuilah bahwa keindahan itu terbagi menjadi dua: lahiriah dan batiniah. Keindahan (yang hakiki) adalah sesuatu yang dicintai karena zatnya, yaitu keindahan ilmu, akal, kedermawanan, kesucian diri ('iffah), dan keberanian. Keindahan batin inilah yang menjadi tempat pandangan Allah terhadap hamba-Nya dan tempat kecintaan-Nya, sebagaimana dalam hadits shahih: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian."
(Kitab Rawdhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin, hal. 320). 


Senin, 09 Februari 2026

Doa Orang Yang Muqim Untuk Musafir ( Orang Yang Akan Melakukan Safar )


 

Doa Orang Yang Muqim Untuk Musafir ( Orang Yang Akan Melakukan Safar )


كَانَ ابنُ عمرَ -رضِيَ الله عنهما- يَقُول لِلرَّجُل إِذَا أَرَادَ سَفَرًا: ادْنُ مِنِّي حَتَّى أُوَّدِعَكَ كَمَا كَان رسولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- يُوَدِّعُنَا، فَيقُول: «أَسْتَوْدِعُ الله دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ». وعن عبد الله بن يزيد الخطمي رضي الله عنه- قال: كَانَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَدِّعَ الجَيشَ، قال: «أَسْتَودِعُ الله دِينَكُم، وَأَمَانَتَكُم، وخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُم».  
[صحيحان] - [الحديث الأول: رواه أبو داود، والتَرمذي واللفظ له، وابن ماجه والنسائي في الكبرى وأحمد. الحديث الثاني: رواه أبو داود والنسائي الكبرى]

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah berkata kepada seseorang yang hendak bepergian (safar): "Mendekatlah kepadaku agar aku dapat melepasmu sebagaimana Rasulullah  melepas kami, lalu beliau berucap: "Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan akhir penutup amalmu."
Dan dari Abdullah bin Yazid al-Khathmi radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah  jika hendak melepas pasukan (jihad), beliau bersabda: "Aku menitipkan kepada Allah agama kalian, amanah kalian, dan akhir penutup amal-amal kalian." 
(Dua hadits ini shahih. Hadits pertama diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi (teks darinya), Ibnu Majah, An-Nasa'i dalam al-Kubra, dan Ahmad. Hadits kedua diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i dalam al-Kubra)




Untuk teman yang malam ini insya Allah akan safar ke Jakarta - Saudi - Yaman :

«أَسْتَوْدِعُ الله دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ»

Selasa, 03 Februari 2026

Mauqif Seorang Mukmin Ketika Mengalami Musibah


 


Mauqif Seorang Mukmin Ketika Mengalami Musibah


{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ} قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: هُوَ الرَّجُلُ تُصِيبُهُ الْمُصِيبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ. فَالسَّعِيدُ يَسْتَغْفِرُ مِنْ المعائب وَيَصْبِرُ عَلَى الْمَصَائِبِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {فَاصْبِرْ إنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} وَالشَّقِيُّ يَجْزَعُ عِنْدَ الْمَصَائِبِ وَيَحْتَجُّ بِالْقَدَرِ عَلَى المعائب؛ 
كتاب مجموع الفتاوى ٨\٤٥٤  - ابن تيمية

"{Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.}" (QS. At-Taghabun: 11).

Ibnu Mas'ud berkata: "Dia adalah seorang laki-laki yang ditimpa musibah, lalu ia menyadari bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, maka ia pun ridha dan berserah diri."

Maka, orang yang bahagia adalah ia yang memohon ampun (istighfar) atas cacat/kesalahan diri dan bersabar atas musibah, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "{Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu.}" (QS. Ghafir: 55).

Sedangkan orang yang celaka adalah ia yang berkeluh kesah saat tertimpa musibah, namun justru berhujjah (beralasan) dengan takdir atas cacat/dosa yang dilakukannya."

📚  Kitab Majmu' Al-Fatawa 8/454 - Ibnu Taimiyah

Rabu, 28 Januari 2026

Penjelasan Mengenai Hakikat Zuhud


 

Penjelasan Mengenai Hakikat Zuhud


قَالَ الْخَلَّالُ مَا بَلَغَنِي أَنَّ أَحْمَدَ سُئِلَ عَنْ الزَّاهِدِ يَكُونُ زَاهِدًا وَمَعَهُ مِائَةُ دِينَارٍ قَالَ نَعَمْ عَلَى شَرِيطَةٍ إذَا زَادَتْ لَمْ يَفْرَحْ، وَإِذَا نَقَصَتْ لَمْ يَحْزَنْ قَالَ وَبَلَغَنِي أَنَّ أَحْمَدَ قَالَ لِسُفْيَانَ: حُبُّ الرِّيَاسَةِ أَعْجَبُ إلَى الرَّجُلِ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَمَنْ أَحَبَّ الرِّيَاسَةَ طَلَبَ عُيُوبَ النَّاسِ أَوْ عَابَ النَّاسَ أَوْ نَحْوَ هَذَا وَقَالَ أَبُو الْخَطَّابِ سُئِلَ أَحْمَدُ وَأَنَا شَاهِدٌ: مَا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا قَالَ قِصَرُ الْأَمَلِ وَالْإِيَاسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ.

كتاب الآداب الشرعية والمنح المرعية ج ٢ ص ٢٤١ - شمس الدين ابن مفلح

Al-Khallal berkata: Telah sampai (kabar) kepadaku bahwa Imam Ahmad pernah ditanya:  "Apakah seseorang bisa disebut zuhud padahal ia memiliki seratus dinar?" Beliau menjawab: "Ya, dengan syarat: jika harta itu bertambah ia tidak terlalu gembira, dan jika berkurang ia tidak bersedih."
Beliau (Al-Khallal) berkata: Dan telah sampai kepadaku bahwa Imam Ahmad berkata kepada Sufyan: "Cinta pada kedudukan (kekuasaan) lebih disukai seseorang daripada emas dan perak. Barangsiapa yang mencintai kedudukan, ia akan cenderung mencari-cari aib orang lain atau mencela mereka'" (atau kalimat serupa itu).
Abu al-Khattab berkata: Imam Ahmad ditanya saat aku sedang menyaksikan: "Apa itu zuhud di dunia?" Beliau menjawab: "Pendek angan-angan (selalu ingat kematian) dan tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain."

📖 Kitab Al-Adabus Syar'iyyah libni Muflih, jilid 2 hal. 241

Sabtu, 24 Januari 2026

Di Antara Pangkal Utama Dari Sifat Tawadhu'


 



Di Antara Pangkal Utama Dari Sifat Tawadhu'



حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ أَبِي عِيسَى أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ قَالَ: " إِنَّ مِنْ رَأْسِ التَّوَاضُعِ أَنْ تَبْدَأَ مَنْ لَقِيتَ بِالسَّلَامِ , وَأَنْ تَرْضَى بِالدُّونِ مِنْ شَرَفِ الْمَجْلِسِ , وَتَكْرَهَ الْمِدْحَةَ وَالسُّمْعَةَ وَالرِّيَاءَ بِالْبِرِّ
كتاب الزهد لهناد بن السري ج ٢ ص ٤١٤ - هناد بن السري

"Hatim bin Isma'il telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin 'Ajlan, dari Abu 'Isa, bahwa Ibnu Mas'ud berkata:
'Sesungguhnya di antara pangkal (utama) dari ketawadhuan (rendah hati) adalah: Engkau memulai mengucapkan salam kepada orang yang engkau temui. Engkau ridha (rela) duduk di tempat yang rendah (biasa saja) dalam suatu majelis. Serta engkau membenci pujian, popularitas (sum'ah), dan riya' dalam amal kebajikan.'"

📚 Kitab Az-Zuhd karya Hannad bin as-Sariy [2/414]:

Pesan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu ini menekankan tiga pilar tawadhu' (kerendahan hati):
• Menebar Salam: Menghilangkan gengsi dengan menyapa lebih dulu.
• Tidak Gila Hormat: Tidak ambisius untuk duduk di tempat paling depan atau tempat terhormat demi status sosial.
• Ikhlash: Menjaga hati agar tidak mencari perhatian manusia (riya) atau ingin dikenal orang lain (populer) saat melakukan kebaikan.

Kamis, 22 Januari 2026

Di Antara Hikmah Tertundanya Jalan Keluar ( Pertolongan Allah )


 


Di Antara Hikmah Tertundanya Jalan Keluar ( Pertolongan Allah )



وَأَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ لِأَوْلِيَائِهِ عِنْدَ ابْتِلَائِهِمْ مَخَارِجَ، وَإِنَّمَا يَتَأَخَّرُ ذَلِكَ عَنْ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ تَهْذِيبًا وَزِيَادَةً لَهُمْ فِي الثَّوَابِ.
كتاب فتح الباري بشرح البخاري ج ٦؛ص ٤٨٣ - ط السلفية - ابن حجر العسقلاني

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata :
"Sesungguhnya Allah menjadikan jalan keluar bagi para wali-Nya (yaitu hamba Allah yang bertaqwa) saat mereka ditimpa ujian. Hanya saja jalan keluar tersebut tertunda bagi sebagian mereka pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk pembersihan (penyucian jiwa) serta untuk menambah pahala bagi mereka."
📚  Kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, jilid 6, halaman 483, cetakan Salafiyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kutipan tersebut penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah mengenai hikmah di balik musibah atau kesulitan yang menimpa orang-orang shalih (bertaqwa). Beliau menekankan dua poin utama:
🔸 Kepastian Pertolongan: Allah pasti akan memberikan makharij (jalan keluar/solusi) bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
🔸 Hikmah Penundaan: Jika bantuan tidak segera datang, itu bukan berarti Allah membiarkan, melainkan untuk Tahdzib (mendidik dan menyucikan hati) serta Ziyadah (meningkatkan derajat pahala mereka di sisi-Nya)

Selasa, 20 Januari 2026

Orang Yang Tidak Takut Kepada Allah Akan Mengikuti Hawa Nafsunya


 


Orang Yang Tidak Takut Kepada Allah Akan Mengikuti Hawa Nafsunya



✍️ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"فَإِنَّ الْإِنْسَانَ إذَا لَمْ يَخَفْ مِنْ اللَّهِ اتَّبَعَ هَوَاهُ وَلَا سِيَّمَا إذَا كَانَ طَالِبًا مَا لَمْ يَحْصُلْ لَهُ، فَإِنَّ نَفْسَهُ تَبْقَى طَالِبَةً لِمَا تَسْتَرِيحُ بِهِ وَتَدْفَعُ بِهِ الْغَمَّ وَالْحُزْنَ عَنْهَا وَلَيْسَ عِنْدَهَا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعِبَادَتِهِ مَا تَسْتَرِيحُ إلَيْهِ وَبِهِ؛ فَيَسْتَرِيحُ إلَى الْمُحَرَّمَاتِ مِنْ فِعْلِ الْفَوَاحِشِ وَشُرْبِ الْمُحَرَّمَاتِ وَقَوْلِ الزُّورِ وَذِكْرِ ماجريات النَّفْسِ وَالْهَزْلِ وَاللَّعِبِ وَمُخَالَطَةِ قُرَنَاءِ السُّوءِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَغْنِي الْقَلْبُ إلَّا بِعِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى."
من كتاب: مجموع الفتاوى ١\٥٥

"Sesungguhnya insan, jika tidak memiliki rasa takut kepada Allah, ia akan mengikuti hawa nafsunya, terlebih lagi jika ia sedang mencari sesuatu yang belum berhasil ia dapatkan. Maka jiwanya akan terus mencari sesuatu yang bisa memberikan ketenangan serta menghilangkan kegalauan dan kesedihan darinya.
Namun, ketika ia tidak memiliki dzikir dan ibadah kepada Allah yang dapat memberikan ketenangan tersebut, maka ia akan mencari ketenangan pada hal-hal yang diharamkan; seperti melakukan perbuatan keji (fawahisy), meminum minuman yang haram, berkata dusta, menyibukkan diri dengan obrolan kosong tentang urusan duniawi (majrayatun nafs), bersenda gurau yang berlebihan, bermain-main, bergaul dengan teman yang buruk, dan hal-hal semacam itu.
Dan hati tidak akan pernah merasa cukup (merasa kaya/tenang) kecuali dengan beribadah kepada Allah Ta'ala."

📚 Majmu' Al-Fatawa 1/55.