Sabtu, 29 Juni 2024

Hendaklah Berkata Yang Baik ( Tidak Bermadhorot Dan Dosa ) Atau Diam


 


Hendaklah Berkata Yang Baik ( Tidak Bermadhorot Dan Dosa ) Atau Diam



وروى البخاري في صحيحه (٦٤٧٥) ومسلم في صحيحه (٧٤) عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت" الحديث.


قال النووي في شرح الأربعين في شرح هذا الحديث: "قال الشافعي: معنى الحديث إذا أراد أن يتكلَّم فليُفكِّر، فإن ظهر أنَّه لا ضرر عليه تكلَّم، وإن ظهر أنَّ فيه ضرراً وشكَّ فيه أمسك"

📖 كتاب رفقا أهل السنة بأهل السنة



✍🏻 Dari Abu Hurairah radhiyaallahu 'anhu, dia berkata Rasulullah ﷺ bersabda : 


وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari & Muslim)


Berkata Imam an-Nawawi dalam menjelaskan hadits Arba’in tentang hadits ini : Imam Asy-Syafi’i berkata : "makna hadits ini adalah apabila seseorang ingin berkata hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Apabila diperkirakan perkataannya tersebut tidak akan mendatangkan mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya tersebut akan mendatangkan mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia menahan diri dan tidak usah berbicara."



Minggu, 23 Juni 2024

Berupayalah Menjadi Orang Yang Konsisten Selama Engkau Memiliki KemampuanBerupayalah Menjadi Orang Yang Konsisten Selama Engkau Memiliki Kemampuan


 

Berupayalah Menjadi Orang Yang Konsisten Selama Engkau Memiliki Kemampuan


یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ۝٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ۝٣

"Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff ayat 2-3).

قال الحسن البصري- رحمه الله تعالى- : إذا كنت آمرًا بالمعروف, فكن من آخذ الناس به، 
وإلا هلكت, وإذا كنت ممن ينهى عن المنكر, فكن من أنكر الناس له، وإلا هلكت.

✍🏻 Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

إِذَا كُنْتَ آمرا بالمَعْرُوفِ فَكُنْ مِنْ آخَذِ النَّاسِ بِهِ وَإِلَّا هَلَكْتَ، وَإذَا كُنْتَ مِمَّنْ يَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ فَكُنْ مِنْ أَنْكَرِ النَّاسِ لَهُ وَإِلَّا هَلَكْتَ

“Jika engkau memerintahkan hal yang ma'ruf, jadilah orang yang paling konsisten melaksanakannya. Apabila tidak demikian, engkau akan celaka.
Jika engkau melarang suatu kemungkaran, jadilah orang yang paling konsisten menjauhinya. Kalau tidak demikian, engkau akan celaka.”

📖  lihat Az-Zuhd karya Imam Ahmad

Kamis, 20 Juni 2024

Kebahagiaan Haqiqi Seorang Mukmin Yang Mukhlish


 


Kebahagiaan Haqiqi Seorang Mukmin Yang Mukhlish


قال ابن القيم رحمة الله : فالمؤمن المخلص لله من أطيب الناس عيشا ، وأنعمهم بالا وأشرحهم صدرا ، وأسرهم قلبا وهذه جنة عاجلة قبل الجنّة الآجلة
📖  الداء والدواء (459)

✍🏼 Imam Ibnul Qoyyim, seorang ulama besar yang wafat pada tahun 751 H menegaskan,

المؤمن المخلص لله من أطيب الناس عيشا، وأنعمهم بالا، وأشرحهم صدرا، وأسرهم قلبا. وهذه جنة عاجلة قبل الجنة الآجلة .

“Seorang mukmin yang ikhlas kepada Allah adalah manusia yang paling baik kehidupannya, paling nikmat keadaannya, paling lapang dadanya, dan paling bahagia hatinya, Dan inilah kenikmatan surga yang disegerakan untuknya di dunia sebelum kenikmatan surga yang akan dirasakannya pada akhirat nanti.”
📖  lihat Ad-Daa' Wad Dawa' (hal.459)

Minggu, 16 Juni 2024

Ringkasan Takbiran Hari Raya 'Idul Fithri Dan 'Idul Adha


 

Ringkasan Takbiran Hari Raya 'Idul Fithri Dan 'Idul Adha

✍🏼 Waktu Takbiran 'Idul Fithri

     Sejak Maghrib 1 Syawwal (malam 'Idul Fithri) sampai selesai shalat 'Idul Fithri.

✍🏼 Waktu Takbiran 'Idul Adha

     Takbir ada macam :
1. Takbir mutlak/mursal (tidak terikat waktu. Bisa di jalan, rumah, pasar dsb). Dari awal bulan Dzul-Hijjah (sampai Hari Tasyriq) dan waktunya kapan saja.
2. Takbir muqayyad (terikat). Dari Shubuh hari Arafah (tgl 9) sampai terbenam matahari hari Tasyriq (tgl 13 Dzul-Hijjah), setiap selesai shalat wajib.

✍🏼 Takbiran tidak harus di masjid dan bisa di rumah, boleh dikeraskan tanpa pengeras suara dan tidak secara berjama'ah.

Contoh Lafazh Takbiran

✍🏼  Takbir Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:

أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ
ب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ


Malam Senin, 10 Dzul-Hijjah 1445 H (17-06-2024)


Sabtu, 15 Juni 2024

Ringkasan 9 Keutamaan Hari 'Arofah 9 Dzul-Hijjah (فضل يوم عرفة )


 


Ringkasan 9 Keutamaan Hari 'Arofah
9 Dzul-Hijjah  (فضل يوم عرفة )

     Hari 'Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Dzulhijjah dimana pada hari tersebut jama'ah haji disyari'atkan melakukan wukuf di 'Arafah. Hari Arafah memiliki banyak keutamaan diantaranya :

1.  Hari Arafah Adalah Hari Disempurnakan Agama Islam Dan Nikmat

2.  Hari 'Arafah Adalah Hari Raya Bagi Kaum Muslimin Yang Wukuf di Arafah

3.  Wukuf Di Arafah Merupakan Rukun Haji Yang Paling Pokok

4.  Hari 'Arafah Adalah Hari Yang Mulia Sehingga Allah Bersumpah Dengannya

5.  Puasa Di Hari Arafah Memiliki Keutamaan Yang Besar  (yaitu dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang)

6.  Hari Arafah Termasuk Hari Terbaik Untuk Berdoa Kepada Allah

7.  Hari Arafah Adalah Hari Dimana Allah  Paling Banyak Membebaskan Hamba-Nya Dari Neraka

8.  Hari Arafah Adalah Hari Ketika Allah Mengambil Sumpah Janji Kepada Keturunan Adam

9.  Hari Arafah Adalah Hari Dimana Allah Mendekat Dan Membanggakan Hamba-Nya Yang Wukuf Di Hadapan Para Malaikat

      Terkait uraian dan dalilnya silahkan dibaca :
https://hazimaljawiy.blogspot.com/2023/06/keutamaan-hari-arofah-9-dzulhijjah.html?m=1

Malam Ahad, 9 Dzul-Hijjah 1445 H / 16-06-2024 M

Apa Hukumnya Duduk Bersama ( Berteman ) Dengan Orang Yang Tidak Menjaga Shalat



 

Apa Hukumnya Duduk Bersama ( Berteman ) Dengan Orang Yang Tidak Menjaga Shalat


السؤال :
ما حكم مجالسة من لم يحافظ على الصلاة؟

الجواب :
من جالس من لم يحافظ على الصلاة لنصحه وأمره بالصلاة وبالمعروف عموما ونهيه عن المنكر رجاء أن يهديه الله، وتستقيم أحواله، فقد أحسن وأدى ما عليه من النصح والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، أما من جالسه لمجرد الصحبة والتسلية أو لمصالح الدنيا فقط فقد أساء وأثم، «مثل الجليس الصالح والجليس السوء كمثل صاحب المسك وكير الحداد، لا يعدمك من صاحب المسك إما تشتريه أو تجد ريحه، وكير الحداد يحرق بدنك أو ثوبك أو تجد منه ريحا خبيثة» رواه البخاري. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

المصدر :
السؤال الثالث من الفتوى رقم 6278، اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء. الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز.


Pertanyaan :
Apa hukum berteman dengan orang yang tidak menjaga shalat?

Jawaban :
"Jika ia berteman dengan orang yang tidak menjaga shalat dalam rangka menasihati, memerintahkannya untuk shalat, memerintahkannya kepada perkara yang makruf secara umum dan melarangnya dari kemungkaran, dengan harapan agar Allah memberinya hidayah dan dia menjadi baik, maka sungguh dia telah berbuat baik. Ia juga telah menunaikan kewajiban untuk menasihati dan amar makruf nahi mungkar kepadanya.

Adapun berteman dengannya sekedar karena ingin besahabat, sebagai hiburan, atau karena maslahat-maslahat duniawi saja, maka ini tidak bagus dan ia berdosa. Nabi bersabda:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ المِسْكِ وَكِيرِ الحَدَّادِ، لَا يَعْدِمُكَ مِن صَاحبِ المِسكِ إِمَّا تَشْتَرِيْهِ أَوْ تَجِدُ رِيْحَهُ، وَكِيْرُ الحَدَّادِ يَحْرِقُ بَدَنَكَ أَو ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنهُ رِيحًا خَبِيْثَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual parfum dan pandai besi. Penjual parfum, kamu tidak akan sia-sia berteman dengannya. Karena, kamu bisa membeli parfum darinya, atau setidaknya mencium semerbak wanginya.

Adapun pandai besi, bisa jadi dia membakar badanmu atau bajumu, atau setidaknya engkau mencium darinya bau yang tidak sedap.” (HR. Al-Bukhari)

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
 
Sumber : Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyati wal Ifta’, pertanyaan ke-3 dari Fatwa no. 6278

Rabu, 12 Juni 2024

Zaman Tidak Akan Tetap Di Atas Satu Keadaan



 

Zaman Tidak Akan Tetap Di Atas Satu Keadaan


قال ابن الجوزي رحمه الله : ” اعلم أن الزمان لا يثبت على حال ؛ كما قال عز وجل : ” وتلكَ الأيامُ نداولها بينَ الناس ” .
– فتارة فقر ، وتارة غنى، وتارة عز ، وتارة ذل ، وتارة يفرح الموالي ، وتارة يشمت الأعادي.
– فالسعيد من لازم أصلاً واحداً على كل حال، وهو تقوى الله عز وجل.
– فإنه إن استغنى زانته، وإن افتقر فتحت له أبواب الصبر، وإن عوفي تمت النعمة عليه، وإن ابتلى حملته، ولا يضره إن نزل به الزمان أو صعد، أو أعراه أو أشبعه أو أجاعه.
لأن جميع تلك الأشياء تزول وتتغير والتقوى أصل السلامة حارس لا ينام.

📖 صيد الخاطر : (١/٣٩)


     ✍️ Berkata Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah:

“Ketahuilah bahwa zaman tidaklah akan tetap pada satu keadaan; sebagaimana firman الله ‘Azza wa Jalla‘:

( وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ) [سورة آل عمران 140]

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” (QS. Ali Imran : 140)

Maka terkadang (menjadi) miskin dan terkadang kaya. Terkadang jaya dan terkadang hina. Terkadang membuat para penolong senang dan terkadang membuat musuh gembira.

Maka orang yang bahagia adalah orang yang tetap pada satu prinsip dalam keadaan bagaimanapun, yaitu (dalam keadaan) takwa kepada الله ‘Azza wa Jalla.

Karena sejatinya dia jika kaya, maka akan memperindah (keadaan)nya,
dan jika dia dalam keadaan miskin maka akan dibukakan baginya pintu kesabaran.

Dan jika dimudahkan (urusannya) maka menjadi sempurna kenikmatan baginya, dan jika dia diuji maka dia akan memikulnya.

Dan tidaklah bermadharat baginya jika zaman membuatnya terjatuh ataupun naik, atau membuatnya papa (miskin), membuatnya kenyang atau pun lapar.

Karena itu, semua pastilah akan sirna dan berubah. Sedangkan ketakwaan adalah dasar dari sebuah keselamatan yang akan menjaga dan tidak akan pernah tidur.

📖 Shoyd Al-Khothir (1/39).

Senin, 10 Juni 2024

Hari Terbaik Bagi Seorang Hamba Tatkala Taubat Kepada الله Dan Diterima Taubatnya


 

Hari Terbaik Bagi Seorang Hamba Tatkala Taubat Kepada الله Dan Diterima Taubatnya


استنبط الإمام ابن القيم من قصة توبة كعب بن مالك وصاحبيه رضي الله عنهم:
فيه دليلٌ على أن خير أيام العبد على الإطلاق وأفضلَها يومُ توبته إلى الله، وقبول الله توبتَه؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم (أبشِرْ بخير يومٍ مرّ عليك مُنذُ ولدتْك أمُّك)
📖 زاد المعاد (٣/ ٥١٢).

     ✍️ Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
mengambil istinbat hukum dari kisah taubat Ka'ab bin Malik dan kedua shahabatnya radhiyallahu'anhum,
"Padanya terdapat dalil bahwa hari terbaik bagi seorang hamba dan yang paling utama secara mutlak adalah hari tatkala dia bertaubat kepada الله, lalu الله menerima taubatnya, sebagaimana sabda Nabi : "Bergembiralah dengan sebaik-baik hari yang telah berlalu, sejak engkau dilahirkan oleh ibumu."

📖  lihat Zaadul Ma'ad (3/512 )

Pergunakan Waktu ( Walau Hitungan Detik ) Dengan Baik Agar Engkau Tidak Menyesal


 

Pergunakan Waktu ( Walau Hitungan Detik ) Dengan Baik Agar Engkau Tidak Menyesal


قال الإمام الأوزاعي رحمه الله : ليس ساعة من ساعات الدنيا إلا وهي معروضة على العبد يوم القيامة يوما فيوما وساعة فساعة، ولا تمر به ساعة لم يذكر الله تعالى فيها إلا تقطعت نفسه عليها حسرات فكيف إذا مرت به ساعة مع ساعة ويوم مع يوم وليلة مع ليلة وهو لم يذكر ربه ؟
{حلية الأولياء ٦/١٤٢}

     ✍️ Imam Al Auza’i rohimahullah berkata, “Tidaklah waktu demi waktu di dunia ini melainkan akan ditampakkan kepada seorang hamba pada hari kiamat.. Hari demi hari, bahkan detik demi detik.. dan tidaklah berlalu satu detik saja sedang dia tidak berdzikir mengingat الله Ta’ala, melainkan akan tercabik-cabik hatinya karena merasa rugi.. Lalu bagaimana dengan orang yang detik demi detik, hari demi hari, dan malam demi malam berlalu sedang dia tidak berdzikir mengingat Robb-nya..?!”
📖  lihat Hilyatul Auliya’ 6/142 

Minggu, 09 Juni 2024

Siapa Yang Lebih Berhak Memberi Nama Seorang Anak ?


 

Siapa Yang Lebih Berhak Memberi Nama Seorang Anak ?


     ✍️ Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

ولد لي الليلة غلام فسميته بإسم أبي: إبراهيم

"Semalam, anakku telah lahir. Lalu, aku menamainya dengan nama ayahku, yaitu Ibrahim."
📖 HR. Muslim (2315)

     ✍️ Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

التسمية حق للأب لا للأم، هذا مما لا نزاع فيه بين الناس، وأن الأبوين إذا تنازعا في تسمية الولد، فهي للأب.

"Pemberian nama merupakan hak seorang ayah, bukan ibu. Ini adalah perkara yang tidak ada perselisihan di antara manusia (ahlu ilmi).
Apabila kedua orang tua berselisih dalam menamai anaknya, maka hal itu merupakan hak sang ayah."
📖  lihat  Tuhfatul Maudud (233)

Sabtu, 08 Juni 2024

Qolbun Salim ( Hati Yang Sehat Dan Selamat )




 

📖 Qolbun Salim ( Hati Yang Sehat Dan Selamat ) 📖


يوم لا ينفع مال ولا بنون (٨٨) إلا من أتى الله بقلب سليم (٨٩)

“Hari ketika tiada lagi berguna harta dan anak-anak kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah membawa qolbun salim (hati yang selamat).” (QS. Asy-Syu’ara 88-89)

     Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :

وَقَوْلُهُ: ﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ﴾ أَيْ: لَا يَقِي الْمَرْءَ(٢٣) مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مَالُهُ، وَلَوِ افْتَدَى بِمِلْءِ الْأَرْضِ ذَهَبًا: ﴿وَلا بَنُونَ﴾ وَلَوِ افْتَدَى بِمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا، وَلَا ينفعُ يَوْمئِذٍ إِلَّا الإيمانُ بِاللَّهِ، وَإِخْلَاصُ الدِّينِ لَهُ، وَالتَّبَرِّي مِنَ الشِّرْكِ؛ وَلِهَذَا قَالَ: ﴿إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾ أَيْ: سَالِمٍ مِنَ الدَّنَسِ وَالشَّرْكِ.
قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ: الْقَلْبُ السَّلِيمُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ حَقٌّ، وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا، وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ.
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ﴿إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾ حَيِي(٢٤) يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
وَقَالَ مُجَاهِدٌ، وَالْحَسَنُ، وَغَيْرُهُمَا: ﴿بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾ يَعْنِي: مِنَ الشِّرْكِ.
وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: الْقَلْبُ السَّلِيمُ: هُوَ الْقَلْبُ الصَّحِيحُ، وَهُوَ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ؛ لِأَنَّ قَلْبَ [الْكَافِرِ وَ](٢٥) الْمُنَافِقِ مَرِيضٌ، قَالَ اللَّهُ: ﴿فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ﴾ [الْبَقَرَةِ:١٠] .
وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ النَّيْسَابُورِيُّ: هُوَ الْقَلْبُ الْخَالِي مِنَ الْبِدْعَةِ، الْمُطْمَئِنُّ إِلَى السُّنَةِ.

"Firman الله Ta'ala : {يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ} (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. (QS. Asy-Syu'ara': 88). Yakni tiada yang dapat melindungi seseorang dari adzab الله harta bendanya, sekalipun ia memiliki emas sepenuh bumi. Tidak dapat pula menebusnya dari adzab الله, sekalipun dengan seluruh manusia yang ada di bumi. Tiada yang bermanfaat pada hari itu kecuali iman kepada الله dan mengikhlaskan diri hanya kepada-Nya dalam beragama serta berlepas diri dari kemusyrikan dan para penganutnya.

Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: {إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}"kecuali orang-orang yang menghadap الله dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara': 89) Yaitu bersih dari keyakinan yang kotor dan kemusyrikan. Ibnu Sirin mengatakan bahwa hati yang bersih itu ialah bila pemiliknya mengetahui bahwa Allah adalah hak, dan hari kiamat pasti terjadi tiada keraguan padanya, dan bahwa Allah akan membangkitkan semua makhluk dari kuburnya.

Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya : {إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} "kecuali orang-orang yang menghadap الله dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara': 89). Hati yang bersih ialah yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain الله.

Mujahid dan Al-Hasan serta lain-lainnya mengatakan, hati yang bersih maksudnya bersih dari kemusyrikan.

Sa'id ibnul Musayyab mengatakan bahwa hati yang bersih ialah hati yang sehat, yaitu hatinya orang mukmin, karena hati orang kafir dan orang munafiq sakit. الله telah bertiman:{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ} "Dalam hati mereka ada penyakit." (Qs. Al-Baqarah : 10)

Abu Utsman An-Naisaburi mengatakan bahwa qolbun salim ialah yang bersih dari bid'ah dan mantap serta tenang dengan As Sunnah."

📖 lihat Tafsir Ibnu Katsir

     Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah menjelaskan :

فهذا الذي ينفعه عندك وهذا الذي ينجو به من العقاب ويستحق جزيل الثواب
والقلب السليم معناه الذي سلم من الشرك والشك ومحبة الشر والإصرار على البدعة والذنوب ويلزم من سلامته مما ذكر اتصافه بأضدادها من الإخلاص والعلم واليقين ومحبة الخير وتزيينه في قلبه وأن تكون إرادته ومحبته تابعة لمحبة الله وهواه تابعا لما جاء عن الله

"Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala.
Qolbun Salim (hati yang selamat) maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid’ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharuskannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya (ditundukkan) untuk mengikuti apa saja yang datang dari Allah." (lihat Taisiir Kariimir Rahmaan fii Tafsiirri Kalaamil Mannaan).

Rabu, 05 Juni 2024

Perbanyak Istighfar Di Setiap Keadaan


 

Perbanyak Istighfar Di Setiap Keadaan


وقد رواه ابن أبي الدنيا في كتاب (التوبة) حديث رقم (158) قال:
حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ مَحْبُوبٍ، ثنا أَبُو تَوْبَةَ، ثنا الْمُعْتَمِرُ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ، يَقُولُ: أَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ، أَيْنَمَا كُنْتُمْ فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ.


✍🏼 Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

أَكْثِرُوا مِنَ الاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ، أَيْنَمَا كُنْتُمْ فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ

Perbanyaklah istighfaar (1) di rumah-rumah kalian, (2) di meja-meja hidangan kalian, (3) di jalan-jalan kalian, (4) di pasar-pasar kalian, (5) di majelis-majelis (tempat perkumpulan) kalian dan dimana saja kalian berada. Sungguh kalian tidak mengetahui kapan turunnya ampunan .

📕 Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyaa dalam kitab At-Taubah hadits : 158.

Nasihat Apabila Usia Telah Memasuki 60 Tahun



 

Nasihat Apabila Usia Telah Memasuki 60 Tahun

      Apabila usia telah menginjak 60 tahun, maka janganlah malah panjang angan-angan dan cinta harta (dunia). Dalam hadits disebutkan,

قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ حُبِّ الْعَيْشِ وَالْمَالِ

 "(Ada) hati orang tua yang tetap muda dalam dua perkara, yaitu; dalam hal mencintai hidup (ingin berumur panjang) dan cinta harta." (HR. Muslim 1046)

     Dalam riwayat lain disebutkan,

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ

“Bani Adam (manusia) ada yang usianya menua. Hanya saja jiwanya tetap merasa muda mengenai dua perkara, yaitu tamak akan harta benda dan antusias untuk panjang umur.” (HR. Muslim)

     Dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

"Allah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun." (HR. Bukhari 6419).

     Bukan maksud hadits bahwa orang yang usianya di bawah 60 tahun, berarti dia punya udzur di hadapan الله. Karena semua orang tidak memiliki udzur (alasan) di hadapan الله (untuk melanggar) setelah الله mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan Kitab. Namun maksud hadits itu motivasi bagi manusia yang telah mencapai usia ini untuk semakin bertaqwa kepada Allah di sisa usianya.

قال الحافظ في " الفتح " ( 10 / 240 ) : " الإعذار : إزالة العذر . والمعنى : أنه لم يبق له اعتذار ، كأن يقول : لو مد لي في الأجل لفعلت ما أمرت به . .... وإذا لم يكن له عذر في ترك الطاعة مع تمكنه منها بالعمر الذي حصل له ؛ فلا ينبغي له حينئذ إلا الاستغفار والطاعة ، والإقبال على الآخرة بالكلية " انتهى.

     Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di Al Fath (10/240), الإعذار : terhapus udzur.

وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَمْ يَبْقَ لَهُ اعْتِذَارٌ كَأَنْ يَقُولَ لَوْ مُدَّ لِي فِي الْأَجَلِ لَفَعَلْتُ مَا أُمِرْتُ بِهِ ….وَإِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ عُذْرٌ فِي تَرْكِ الطَّاعَةِ مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْهَا بِالْعُمُرِ الَّذِي حَصَلَ لَهُ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ حِينَئِذٍ إِلَّا الِاسْتِغْفَارُ وَالطَّاعَةُ وَالْإِقْبَالُ عَلَى الْآخِرَةِ بِالْكُلِّيَّةِ

"Makna hadits bahwa udzur (alasan) sudah tidak ada, misalnya ada orang mengatakan, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.” ....
Ketika dia tidak memiliki udzur untuk meninggalkan ketaatan, sementara sangat memungkinkan baginya untuk melakukannya, dengan usia yang dia miliki, maka ketika itu tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah ketaatan, dan konsentrasi penuh untuk akhirat. (lihat Fathul Bari, 11/240).

     Maka, semestinya orang yang usianya semakin menua untuk memperbanyak amal shalih. Meskipun, para remaja juga seharusnya demikian, karena manusia tidak tahu kapan ia akan meninggal. Bisa saja, seorang pemuda meninggal pada usia mudanya atau ajalnya tertunda hingga ia tua. Akan tetapi, yang pasti bahwa orang yang sudah berusia senja, ia lebih dekat kepada kematian lantaran telah menghabiskan jatah usianya.”

Minggu, 02 Juni 2024

Dzul-Qo'dah Termasuk Bulan Haram Yang Banyak Dilalaikan


 

Dzul-Qo'dah Termasuk Bulan Haram Yang Banyak Dilalaikan


     Di dalam Al Qur'an الله Ta’ala berfirman mengenai bulan haram,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi الله ialah dua belas bulan, dalam ketetapan الله di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

     Nabi  bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak الله Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzul-Qo'dah, Dzul-Hijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadilakhir dan Syakban” (HR. Bukhari dan Muslim).

     Dari keempat bulan haram tersebut yang paling banyak dilalaikan yaitu Dzul-Qo"dah. Beberapa ulama menjelaskan mengenai keutamaan bulan Haram. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما ، وعظم حرماتهن ، وجعل الذنب فيهن أعظم ، والعمل الصالح والأجر أعظم

“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut dan menjadikannya bulan haram. Allah jadikan melakukan perbuatan dosa pada saat itu lebih besar, sedangkan beramal salih diberi pahala lebih besar juga.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)