Minggu, 31 Desember 2023

Ada Apa Dibalik Perayaan Menyambut Tahun Baru ( Nairuz, Masehi, Dan Semisal ) ?








 

Ada Apa Dibalik Perayaan Menyambut Tahun Baru ( Nairuz, Masehi, Dan Semisal ) ?


1. Perayaan Tahun Baru (Nowruz, Masehi Dan Semisal) Bukan Termasuk Ajaran Islam

     Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan tahun baru mungkin tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan.

     Perayaan pergantian tahun atau tahun baru telah dilakukan oleh masyarakat Mesopotamia pada sekitar 2000 SM. Mereka merayakan pergantian tahun saat matahari tepat berada di atas katulistiwa, yang sekarang bertepatan pada tanggal 20 Maret. Perayaan tradisional seperti itu disebut Nowruz, yang sampai saat ini masih dilakukan di beberapa negara Timur Tengah. Setelah itu, peradaban di seluruh dunia juga tercatat merayakan tahun baru yang didasari oleh berbeda peristiwa.

     Perayaan tahun baru pada 1 Januari pertama kali dilakukan pada 46 SM, pada masa kekuasaan Kaisar Romawi, Julius Caesar. Kala itu, Julius Caesar memutuskan mengganti penanggalan Romawi yang terdiri dari 10 bulan (304 hari), yang dibuat oleh Romulus pada abad ke-8. Dalam mendesain kalender baru, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi asal Iskandariyah, Mesir. Sosigenes menyarankan agar penanggalan baru dibuat berdasarkan revolusi matahari, seperti yang dilakukan orang Mesir kuno. Setelah itu, 1 Januari resmi ditetapkan sebagai hari pertama tahun, di mana satu tahun terdiri atas 365 seperempat hari.

     Nama Januari diambil dari nama dewa dalam mitologi Romawi, yaitu Dewa Janus, yang memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan ke belakang. Masyarakat Romawi meyakini bahwa Dewa Janus adalah dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Julius Caesar juga setuju untuk menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM, sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Untuk menghormati Dewa Janus, maka orang-orang Romawi mengadakan perayaan setiap tanggal 31 Desember tengah malam untuk menyambut 1 Januari.

     Jadi kegiatan ini sama sekali tidak berasal dari ajaran Islam, tapi merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (lihat G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400).

     Dari sejarah tersebut maka bisa kita ketahui perayaan tahun baru ternyata sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad diutus. Akan tapi Nabi dan para Shahabat tidak ikut merayakan tahun baru. Demikian juga tiada nukilan dari para nabi sejak nabi Adam sampai nabi akhir zaman yang merayakan tahun baru.

2.  Nabi Melarang Semua Perayaan Ahli Jahiliyah Dan Diganti Dengan 2 Hari Raya 'Id

     Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun yang malan mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi datang ke kota Madinah, beliau bersabda,
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Shahih)

     Hari Nairuz adalah hari raya tahun baru orang Majusi menurut perhitungan kalender masehi (pergiliran matahari). Masyarakat kota madinah saat itu ikut-ikutan merayakan hari raya Majusi tersebut. Beberapa kamus Arab menjelaskan demikian definisi Nairuz, semisal kamus AL-Lughah Al-Arabiyyah AL-Mu’aashir dijelaskan,

ﺃﻭّﻝ ﻳﻮﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺴَّﻨﺔ ﺍﻟﺸَّﻤﺴﻴَّﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻔُﺮﺱ

“Nairuz adalah hari pertama pada tahun syamsiyyah versi Persia (bangsa Majusi saat itu).”

     Adz-Dzahabi juga menjelaskan bahwa Nairuz ini juga ikut-ikutan dilakukan oleh penduduk Mesir saat itu, beliau berkata,

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻨﻴﺮﻭﺯ، ﻓﺈﻥ ﺃﻫﻞ ﻣﺼﺮ ﻳﺒﺎﻟﻐﻮﻥ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻪ ، ﻭ ﻳﺤﺘﻔﻠﻮﻥ ﺑﻪ ، ﻭﻫﻮ ﺃﻭﻝ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﻘﺒﻂ ، ﻭﻳﺘﺨﺬﻭﻥ ﺫﻟﻚ ﻋﻴﺪﺍً، ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﻬﻢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ

“Adapun hari Nairuz, penduduk Mesir berlebih-lebihan melakukan dan merayakannya. Nairuz adalah hari pertama pada tahun Qibhti yang mereka menjadikannya sebagai hari raya (diperingati setiap tahun), kemudian kaum muslimin mengikuti mereka (tasyabbuh).” (lihat Tasyabbuhul Khasis biahlil Khamis hal 46)

3.  Larangan Ikut Merayakan Hari Raya Orang Kafir Walau Tujuannya Hanya Untuk Bersenang-senang

     Hari raya merupakan bagian dari agama dan mengandung unsur doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk Madinah,

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; 'Idul Fithri dan 'Idul Adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

     Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk Madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang Majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya lebih baik yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Untuk itu turut bergembira dengan perayaan orang kafir (meskipun hanya bermain-main dan tanpa mengikuti ritual keagamaannya) termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut menyetujui atau mensukseskan acara mereka.

4.  Merayakan Tahun Baru Berarti Mengikuti Perayaan Orang Kafir Dan Termasuk Tasyabbuh

     Tasyabbuh pada perayaan orang kafir itu terlarang. Nabi  melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabdda :

من تشبه بقوم فهو منهم

Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

     Sahabat ‘Abdullaah bin ‘Amr radhiallaahu ‘anhuma berkata,

ﻣَﻦْ ﺑَﻨَﻰ ﻓِﻲ ﺑِﻼﺩِ ﺍﻷَﻋَﺎﺟِﻢِ، ﻭَﺻَﻨَﻊَ ﻧَﻴْﺮُﻭﺯَﻫُﻢْ ﻭَﻣِﻬْﺮَﺟَﺎﻧَﻬُﻢْ ﻭَﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻬِﻢْ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤُﻮﺕَ، ﻭَﻫُﻮَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺣُﺸِﺮَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam (negeri kafir), meramaikan hari raya Nairuz dan Mihrajan (perayaan tahun baru mereka), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” (Sunan Al-Kubraa 9/234)

5.  Mengikuti Hari Raya Orang Kafir Termasuk Bentuk Loyalitas Dan Menampakkan Rasa Cinta Kepada Mereka

     Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah Ta'ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق …

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)

6.  Kita Seharusnya Tidak Mengikuti Atau Tidak Meniru-niru Orang Kafir Dalam Perkara Agama Dan Keyakinan

     Yang kita ikuti bukanlah orang kafir atau ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) karena setiap rakaat dalam shalat, kita terus memohon kepada Allah jalan yang lurus yang bukan jalannya orang Yahudi dan Nasrani. Dalam surah Al-Fatihah disebutkan,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)

     Kalau mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak mendapatkan hidayah, kenapa sampai perayaan mereka diikuti oleh umat Islam?

7.  Menyambut Perayaan Tahun Baru Termasuk Begadang Tanpa Ada Hajat Syar'i, Padahal Nabi ﷺ Membencinya
    
     Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah ﷺ membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)

8.  Merayakan Tahun Baru Termasuk Tabdzir, Buang-buang Harta Untuk Tujuan Yang Salah

     Sebelumnya perlu kita luruskan, untuk membedakan antara mubadzir dengan tabzir. Tabdzir itu sikap dan perbuatan, sedangkan pelakunya disebut mubadzir. Kata tabdzir dan mubazir telah Allah Ta’ala sebutkan dalam Alquran. Allah berfirman,

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah ikhwan (saudara/teman) syaithan.” (QS. Al-Isra’ : 26-27)

9.  Melibatkan Dirinya Dalam Hari Raya Orang Kafir Berarti Bukan Termasuk 'Ibadurrahman (Hamba-hamba Allah Pilihan)

     Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar orang kafir adalah firman Allah :

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ
    
“Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur (memberikan persaksian palsu).” (QS. Al-Furqan/25 : 72)

     Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat 'Ibadurrahman yaitu para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “Az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir. Sehingga artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

10. Merayakan Tahun Baru Terkadang Bisa Sampai Meninggalkan Shalat Padahal Meninggalkan Shalat Sekali Saja Telah Melakukan Dosa Besar Yang Lebih Parah Dari Membunuh, Berzina Dan Judi

     Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

لا يختلف المسلمون أن ترك الصلاة المفروضة عمدا من أعظم الذنوب وأكبر الكبائر وأن ائمه عند الله أعظم من إثم قتل النفس وأخذ الأموال ومن إثم الزنا والسرقة وشرب الخمر وأنه متعرض لعقوبة الله وسخطه وخزيه

"Ulama kaum muslimin tidak berbeda pendapat bahwa meninggalkan sholat wajib dengan sengaja termasuk dosa besar yang terbesar, dan bahwa dosanya di sisi Allah lebih besar dari dosa membunuh jiwa, mengambil harta tanpa hak, berzina, mencuri dan minum khamar, dan bahwa pelakunya terancam dengan hukuman Allah, kemurkaan-Nya dan kehinaan dari-Nya di dunia dan akhirat."
(lihat Ash-Sholaatu wa Ahkaamu Taarikiha, hal. 31)

11.  Pada Malam Tahun Baru, Banyak Kaum Muslimin Ikut Membunyikan Terompet Dan  Lonceng Yang Merupakan Syiar Orang Yahudi Dan Nashrani.

12. Mengucapkan Selamat Tahun Baru Atau Happy New Year Termasuk Ucapan Selamat Yang Tidak Dibolehkan Karena Perayaannya Tidak Disyariatkan.


والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Selasa, 19 Desember 2023

Bahaya Syahwat Perut






Bahaya Syahwat Perut

    Allah Ta’ala telah menyebutkan bagi kita berbagai jenis syahwat yang membawa jiwa untuk mencintainya. Seperti disebutkan dalam firman-Nya :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia syahawat (kecintaan kepada apa-apa yang diingini) yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al Imran:14)

     Syahwat perut termasuk salah satu perkara yang dapat membinasakan manusia. Banyak kemaksiatan (dosa) yang timbul penyebabnya akibat tidak bisa menjaga syahwat perut. Syahwat ini pula yang menjadi penyebab Nabi Adam Alaihissalam dikeluarkan dari Surga yang kekal. Rasulullah ﷺ pun mengkhawatirkan fitnah syahwat perut dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

"Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan." (HSR Ahmad)

     Oleh karena itu seorang mukmin memiliki cara makan yang berbeda dengan orang-orang kafir. Di dalam hadits yang shahih diriwayatkan :

عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يُؤْتَى بِمِسْكِينٍ يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَدْخَلْتُ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَكَلَ كَثِيرًا فَقَالَ يَا نَافِعُ لَا تُدْخِلْ هَذَا عَلَيَّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Dari Nâfi’, ia berkata: “Kebiasaan Ibnu ‘Umar, tidak makan sehingga didatangkan seorang miskin yang akan makan bersamanya,” maka aku memasukkan seorang laki-laki yang akan makan bersamanya. Laki-laki itu makan banyak, maka Ibnu ‘Umar berkata: “Wahai Nâfi’, janganlah engkau masukkan (lagi) orang ini kepadaku. Aku telah mendengar Nabi bersabda, "Seorang mukmin makan memenuhi satu usus, sedangkan orang kafir makan memenuhi tujuh usus".” (HR. Bukhari, no. 5391)

     Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan :

"شهوة البطن من أعظم المهلكات، وبها أخرج آدم عليه السلام من الجنة، ومن شهوة البطن تحدث شهوة الفرج والرغبة في المال، ويتبع ذلك آفات كثيرة."

"Syahwat perut termasuk salah satu sebab kebinasaan yang terbesar. Karena syahwat perutlah, Adam 'alaihis salam dikeluarkan dari surga. Darinya pula, muncul syahwat kemaluan dan ambisi terhadap harta. Itu pun masih diiringi dengan berbagai kerusakan lainnya yang banyak."
(lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 153)

     Orang bisa meninggalkan sholat, korupsi, tasawwul (mengemis), memakan makanan haram (bangkai ulat jati, babi dsb), membunuh orang, murtad (pindah agama), zina dan berbuat kemaksiatan (dosa) lainnya pangkal sumber penyebabnya juga bisa karena syahwat perut. 

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.
     



Rabu, 13 Desember 2023

Maukah Kalian Kuberitahu Mengenai Penghuni Surga Dan Penghuni Neraka ?


 

Maukah Kalian Kuberitahu Mengenai Penghuni Surga Dan Penghuni Neraka ?


     Dari Haritsah bin Wahab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Aku mendengar Nabi bersabda :

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni surga? Yaitu dhoifin mutadho'iif (setiap orang lemah, tawadhu', diremehkan ataupun dizhalimi), yang sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni neraka? Yaitu (1) 'utull (setiap orang yang kasar), (2) jawwazh (orang yang gemar mengumpulkan harta, rakus dan kikir), lagi (3) mustakbir (kibr/sombong).” (HR. Bukhari dan Muslim).

     Di antara tanda-tanda sebagian penghuni surga adalah orang yang lemah dan terzhalimi, yakni ia tidak begitu peduli dengan posisi, kedudukan atau usaha untuk meraih kedudukan yang tinggi di dunia, namun dia adalah orang yang lemah dan dizhalimi oleh orang lain. Apabila dia bersumpah untuk sesuatu niscaya Allah akan memudahkan perkaranya tersebut, hingga Allah merealisasikan sumpahnya tersebut. Adapun penghuni neraka, di antara tanda-tanda mereka adalah setiap orang yang keras perangainya, kasar dan tidak tunduk pada kebenaran, serta setiap orang yang mengumpulkan harta kekayaan dan enggan mengeluarkan zakatnya, dan juga orang yang menolak kebenaran karena kesombongan serta merasa tinggi atas orang lain. Hadits ini bukan membatasi hanya pada tanda-tanda yang telah disebutkan saja, akan tetapi ia hanya menjelaskan sebagian tanda-tanda kedua golongan tersebut.  


Jumat, 08 Desember 2023

Mengulangi Maksiat Bukan Penghalang Untuk Senantiasa Taubat


 

Mengulangi Maksiat Bukan Penghalang Untuk Senantiasa Taubat


     Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

ولا يجـوز للمسـلم إذا تـاب ثـم عـاد إلـى المعصـية أن يُصِـرّ؛ بـل يتـوب ولـو عـاد فـي اليـوم مـائة.

"Seorang muslim jika dia bertaubat kemudian kembali melakukan maksiat tidak boleh baginya untuk bersikeras terus-menerus melakukannya, bahkan hendaknya dia selalu bertaubat walaupun kembali (bermaksiat) 100 kali dalam sehari."

(lihat Majmu’ul Fatawa, jilid 16 hlm. 58)

Rabu, 06 Desember 2023

Janji Allah Akan Memberikan Jalan Keluar Bagi 'Abdi Allah Yang Bertaqwa


Janji Allah Akan Memberikan Jalan Keluar Bagi 'Abdi Allah Yang Bertaqwa

     Seberat, sebesar ataupun sesulit apapun suatu masalah dan ujian, maka Allah berjanji akan memberikan jalan keluar bagi 'abdi Allah yang bertaqwa. Allah Ta'ala berfirman :

.... وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢  وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣

“.... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)

‏قال الحكم بن عمرو الغفاري رضي الله عنه : أقسم بالله لو أن السماوات والأرض كانتا رتقاً على عبد فاتقى الله، يجعل الله من بينهما مخرجاً . (سير أعلام النبلاء(٤٧٥/٢))

     Al-Hakam bin Amr al-Ghiffary radhiyallahu anhu berkata :
“Aku bersumpah dengan nama Allah, seandainya langit dan bumi menyatu menghimpit seorang hamba lalu dia bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan celah (jalan keluar) diantara keduanya.” (lihat Siyar A’lamin Nubala’, jilid 2 hlm. 475)

 

Senin, 04 Desember 2023

Dengan Kejujuran Dan Ikhlash


 

Dengan Kejujuran Dan Ikhlash


وقال أبو بكر المرُّوذي: سمعتُ رجلًا يقول لأبي عبدالله أحمد بن حنبل - وذكر له الصدق والإخلاص - فقال أحمد بن حنبل: بهذا ارتفع القوم. (مناقب الإمام أحمد؛ لابن الجوزي (ص: 267)).

     Imam Abu Bakr Al-Marudzi rahimahullah mengatakan :

Saya pernah mendengar seorang bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (imam Ahmad), disebutkan pula kepada beliau tentang jujur dan ikhlas. Maka imam Ahmad berkata, “Dengan ini suatu kaum akan menjadi tinggi (kedudukannya).”

(lihat Manaqib Al-Imam Ahmad, hlm. 267)

Minggu, 03 Desember 2023

Bacaan Ketika Memasuki Kebun Atau Menjumpai Perkara Semisal


 

Bacaan Ketika Memasuki Kebun Atau Menjumpai Perkara Semisal


     Ketika memasuki kebun atau semisal, maka hendaknya mambaca doa berikut ini :

مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Masyaa-Allah, laa quwwata illaa billaah.."

     Bacaan ini terdapat dalam firman Allah Ta'ala di Surat Al Kahfi :

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً. ( الوابل الصيب من الكلم الطيب ) 

"Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu: 'Masyaa-Allah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).' Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan." (QS Al Kahfi : 39)

     Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah ketika membahas ayat ini mengatakan:

فينبغي لمن دخل بستانه أو داره أو رأى في ماله وأهله ما يعجبه ، أن يبادر إلى هذه الكلمة، فإنه لا يرى فيه سوءا

"Selayaknya bagi orang yang memasuki kebunnya, atau rumahnya, atau terheran terhadap harta dan keluarganya, hendaknya dia segera membaca kalimat ini. Karena dia tidak akan melihat sesuatu yang buruk terhadap nikmat itu." (lihat Al Wabilush Shayyib, halaman 165)

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Jumat, 01 Desember 2023

Talbis ( Perangkap/Tipu Daya ) Iblis Pertama "Menghalangi Manusia Dari Ilmu"


 


Talbis ( Perangkap/Tipu Daya ) Iblis Pertama "Menghalangi Manusia Dari Ilmu"


قال ابن الجوزي رحمه الله : اعلم أن أول تلبيس إبليس على الناس صدهم عن العلم، لأن العلم نور فإذا أطفأ مصابيحهم خبطهم في الظلام كيف شاء.
(تلبيس ابليس 289/1)

     Al-Hafizh Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : "Ketahuilah, bahwasanya talbis (perangkap/tipu daya) iblis pertama yang dilancarkan kepada manusia adalah MENJAUHKAN MANUSIA DARI ILMU (ilmu nafi'/yang bermanfaat). Karena ilmu itu cahaya, sehingga apabila lentera cahaya manusia padam, maka iblis bisa dengan mudahnya menyeret manusia kepada kegelapan (kesesatan) sekehendaknya."
(lihat Talbis Iblis I/289)

     Adapun bala tentara iblis, maka tugasnya tidak lain dan tidak bukan juga satu misi. Dan syaithan itu ada 2 jenis, yaitu dari jenis jin dan dari jenis manusia. Syaithan jenis manusia ini tidak kalah bahayanya. Mereka berupaya memalingkan manusia dari ilmu (ilmu syar'i), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah :

‏نواب إبليس في الأرض: ‏هم الذين يثبّطون الناس عن طلب العلم والتفقه في الدين ، فهؤلاء أضر عليهم من شياطين الجن ، فإنهم يحولون بين القلوب وبين هدى الله وطريقه.

“Wakil iblis di bumi, mereka adalah orang-orang yang memalingkan manusia dari menuntut ilmu dan tafaqquh fid din (memahami agama). Mereka ini lebih berbahaya daripada syaithan jenis jin. Karena mereka menghalau hati-hati manusia dari petunjuk dan jalan Allah.”
(lihat Miftah Daris Sa’adah I/160)