Bila Lelaki Menjadi Budak Wanita
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah :
" الرجل اذا تعلق قلبه بامرأة ، ولو كانت مباحة له ، يبقى قلبه أسيرا لها ، تحكم فيه وتتصرف بما تريد ، وهو فى الظاهر سيدها ، لأنه زوجها ، وفي الحقيقة هو أسيرها ومملوكها ، لا سيما إذا دَرَت بفقره إليها ، وعشقه لها ، فإنها حينئذ تحكم فيه بحكم السيد القاهر الظالم في عبده المقهور الذي لا يستطيع الخلاص منه ، بل أعظم ، فإن أسر القلب أعظم من أسر البدن ، واستعباد القلب أعظم من استعباد البدن " انتهى .
"Ketika hati seorang suami terpaut pada istrinya walaupun hal itu mubah baginya...
Maka hatinya akan menjadi tawanan wanita tersebut, ialah yang akan mengendalikan dan mengatur gerak geriknya sesuai dengan keinginannya...
Dia nampaknya adalah seorang tuan karena ia adalah suaminya namun pada hakikatnya ia adalah tawanan dan budak baginya...
Terlebih lagi bila wanita tersebut tahu bahwa sang suami sangat merasa butuh dengannya, sedang dimabuk cinta padanya,apalagi dia menyadari dirinya tidak tergantikan oleh orang lain..,
Maka pada saat itulah sang wanita akan mengaturnya sebagaimana seorang tuan yang zalim mengatur budaknya dan ia tidak akan mampu lepas darinya bahkan bisa lebih besar daripada itu..,
Karena tertawannya hati jauh lebih besar dibandingkan tertawannya jasad..,
Dan diperbudaknya hati jauh lebih besar dibandingkan diperbudaknya jasad."
(lihat Al Majmu' Al Fatawa 10/185)
Senin, 31 Juli 2023
Bila Lelaki Menjadi Budak Wanita
Jumat, 28 Juli 2023
Kehidupan Seperti Apa Yang Layak Diirikan ?
Kehidupan Seperti Apa Yang Layak Diirikan ?
قال مالك بن دينار: إني لأغبط الرجل يكون عيشه كفافاً فيقنع به, فقال محمد بن واسع: أغبط والله عندي من ذلك أن يصبح جائعاً ويمسي جائعاً وهو عن الله عز وجل راض.(كتاب صفة الصفوة - ابن الجوزي)
Malik bin Dinar Rahimahullah berkata :
"Sungguh aku sangat iri dengan seseorang yang kehidupan dunianya secukupnya dan ia puas dengan hidupnya."
Maka Muhammad bin Wasi' Rahimahullah berkata :
"Demi Allah yang lebih aku iri lagi dari itu adalah seseorang yang pagi harinya dalam keadaan lapar dan sore harinya dalam kondisi lapar dan ia ridha kepada Allah Azza Wa Jalla."
(lihat Shifatush Shofwah 2)
Jalani Hidup Ini Dengan Tawakkal, Sabar, Ridho, Syukur Dan Selalu Berupaya Mencintai Taqdir Allah
Jalani Hidup Ini Dengan Tawakkal, Sabar, Ridho, Syukur Dan Selalu Berupaya Mencintai Taqdir Allah
Umar bin Al Khothob Radhiallahu anhu berkata :
ما أبالي على أي حال أصبحت على ما أحب أو على ما أكره لأني لاَ أدري الخير فيما أحب أو فيما أكره
"Aku tak peduli bagaimana kondisiku di pagi hari entah dalam keadaan yang aku sukai atau dalam kondisi yang kubenci karena aku tak tahu kebaikan yang sebenarnya berada pada hal yang aku cintai atau pada hal yang kubenci."
(lihat Az Zuhud karya Imam Ibnul Mubarak)
Kamis, 27 Juli 2023
KETIKA JIWA HAMPA TAK MAMPU MERASAKAN MANISNYA IMAN DAN CAHAYA HIDAYAH
KETIKA JIWA HAMPA TAK MAMPU MERASAKAN MANISNYA IMAN DAN CAHAYA HIDAYAH
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
"وإذا رأى أنه لا ينشرح صدره ، ولا يحصل له حلاوة الايمان ونور الهداية :
➊ فليكثر التوبة والاستغفار .
➋ وليلازم الاجتهاد بحسب الإمكان ، فان اللهَ يقول : ﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا﴾ "سورة العنكبوت ، مِن آية : 69" .
➌ وعليه باقامة الفرائض ظاهرًا وباطنًا.
➍ ولزوم الصراط المستقيم ، مستعينًا بالله، متَبرِّئًا مِن الحَوْل والقوة إلاَّ به".
"Jika seseorang melihat dirinya tidak merasa lapang dadanya, tidak dapat merasakan manisnya iman dan cahaya hidayah maka hendaknya ia :
1. Memperbanyak Istighfar dan taubat.
2. Terus menerus bersungguh-sungguh melakukan ketaatan sesuai kemampuannya, karena Allah ﷻ berfirman:
الَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
"Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut : 69).
3. Dia harus mengerjakan amalan-amalan yang wajib dengan tulus lahir maupun batinnya.
4. Menetapi jalan yang lurus, dengan meminta pertolongan kepada Allah serta berlepas diri dari semua daya dan kekuatan kecuali hanya kepada Allah ﷻ".
(lihat Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah, 11/390.)
Sang Merah Putih (Sang Dwi Warna) Bendera Negeriku Indonesia
Sang Merah Putih (Sang Dwi Warna)
Bendera Negeriku Indonesia
Allah taqdirkan diriku sebagai muslim dan menjadi warga negara Indonesia..sehingga satu-satunya bendera yang kuakui hanya Sang Merah Putih..
Sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, maka diriku tidak mengakui bendera ISIS, bendera Jam'iyyah, bendera partai, bendera ormas dan semua bendera selain bendera pemerintah yang sah di negeri ini..
Hukum Mengibarkan Bendera
Panji atau bendera adalah sepotong kain atau kertas berbentuk segi empat atau segitiga (diikatkan pada ujung tongkat, tiang, dan sebagainya) dipergunakan sebagai lambang negara, perkumpulan, badan, dan sebagainya atau sebagai tanda; panji-panji; tunggul:sering dikibarkan di tiang, umumnya digunakan secara simbolis untuk memberikan sinyal atau identifikasi. Hal ini sering juga digunakan untuk identitas atau melambangkan suatu negara untuk menunjukkan kedaulatannya.
Keberadaan bendera telah menjadi 'urf suatu bangsa atau negara dan ini juga digunakan kaum muslimin di zaman Nabi Muhammad, sehingga hukum asal memasang atau mengibarkan bendera adalah mubah (boleh) jika tujuannya bukan untuk ibadah atau menjadikan sesembahan selain Allah. Karena kita dilarang menyembah malaikat, langit, bumi, matahari, bintang, pohon, api, bulan, orang sholih, panji/bendera dan semua bentuk penyembahan kepada selain Allah.
Apa Hukumnya Hormat Bendera?
■ Menghormati atau memuliakan bendera selama dalam batas yang wajar dan tidak bertentangan dengan syari'at Islam, maka hukumnya mubah. Seperti menggunakan bendera untuk identitas atau lambang kedaulatan sebuah bangsa, tidak menghinakan, tidak membakarnya serta menjaga bendera untuk tetap berkibar dan tidak jatuh ke tanah. Hal ini sebagaimana diamalkan pada zaman Nabi, karena menjadikan bendera sebagai simbol kedaulatan.
■ Bapak Muhammad Hatta dan bapak Jusuf Kalla pun tidak mengangkat tangan ketika bendera dikibarkan, tapi cukup dengan berdiri sikap sempurna. Jika sekedar berdiri untuk menghormati bendera sebagaimana berdirinya kita menghormati jenazah atau menyambut tamu, maka itu insya Allah dibolehkan dengan catatan tidak mengganggap perkara tersebut wajib serta tidak mencela orang yang duduk.
■ Adapun jika hormat bendera secara berlebihan (ghuluw) atau dalam batas tidak wajar, mewajibkan berdiri dan mengangkat tangan, diagungkan sebagaimana/dengan niat ibadah..yang mana perkara tersebut tidak pernah dilakukan Nabi dan para Shahabat, maka kami khawatir itu termasuk perkara bid'ah. Rasulullah ﷺ setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan :
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim)
■ Fatwa ulama yang melarang adalah fatwa Al-Lajnah :
ما حكم تحية العلم في الجيش وتعظيم الضباط وحلق اللحية فيه؟
Pertanyaan: Apa hukum hormat bendera yang dilakukan oleh tentara, menghormati komandan dan mencukur jenggot?
لا تجوز تحية العلم، بل هي بدعة محدثة
Jawab: Tidak boleh menghormati bendera, bahkan ini termasuk bid’ah yang dibuat-buat … (Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah 1/236)
■ Insya Allah sebenarnya banyak kaum muslimin di berbagai dunia yang punya keyakinan seperti kami, akan tapi diantara mereka banyak yang takut untuk menyampaikannya. Setahu kami demikian juga pendapat pribadi Ketua MUI pusat (bukan fatwa MUI).
"Salah satu ketua MUI, Cholil Ridwan, menyatakan bahwa menghormati bendera dan lagu kebangsaan hukumnya haram. Ia melandaskan pendapatnya ini dengan fatwa yang dikeluarkan sejumlah ulama asal Arab Saudi. Dalam fatwa itu, dikatakan bahwa menghormati bendera dan lagu kebangsaan sama hukumnya dengan menyembah benda-benda dan dikategorikan sebagai perbuatan musyrik Cholil menyatakan pendapatnya ini dalam sebuah forum tanya jawab di sebuah media Islam."
Bagaimana Sikapku Jika Dituntut Memasang/Mengibarkan Bendera?
(1) Sebagai Ahlus Sunnah maka insya Allah akan saya sampaikan keyakinanku secara jujur dan terang-teranganan. 'Id atau hari raya umat Islam hanya ada 2 yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Nabi dan para Shahabat mengingkari semua hari raya yang ada di Madinah pada waktu itu..sehingga setiap tahun tidak ada nukilan mengadakan hari raya semisal perayaan Fathul Makkah (hari pembebasan kota Makkah), Maulid Nabi dsb. Yang menghalangiku untuk mengkhususkan hari pengibaran bendera insya Allah tiada lain karena diriku takut kepada Allah, karena perkara tersebut tidak diamalkan Nabi dan para Shahabat.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata :
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
“Ketika Nabi ﷺ datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim).
(2) Kita diperintahkan taat kepada umaro' (pemerintah) selama bukan dalam perkara bermaksiat kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab: 36).
Ketaatan yang mutlak hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada orang lain hanya dalam perkara yang ma’ruf. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).
Adapun terkait bukti ketaatan dan loyalitas insya Allah diriku selalu mengajak kaum muslimin untuk mengerjakan sholat Jum'at dan sholat 'Id bersama umaro' (pemerintah yang sah), tidak berpecah belah mengadakan sendiri, serta berupaya selalu taat kepada pemerintah selama bukan dalam perkara maksiat kepada Allah ataupun mengandung unsur maksiat. Demikian juga melarang mencela penguasa, memberontak ataupun demo. Dan alhamdulillah sejak kecil kemudian SDN s.d PTN tidak pernah tercatat sebagai pelajar/mahasiswa yang bermasalah. Belum pernah terkena tilang lalu lintas, tidak pernah terlibat tindakan arnakis, tidak pernah sengaja merusak tanaman orang lain ataupun tindakan kriminal. Apa itu masih belum cukup untuk dikatakan loyal kepada pemerintah yang sah?
(3) Bendera bangsa Indonesia yang kuakui pemerintah yang sah hanya Sang Merah Putih. Sehingga jika diriku tidak mengibarkan bendera Merah Putih, maka itu artinya tidak ada satupun bendera di muka bumi yang akan kukibarkan. Karena yang menjadi masalah bukan yang dikibarkan bendera Merah Putih atau tidak. Bahkan andai ada duplikat bendera Nabi pun juga tidak kukibarkan.
(4) Sebagai warga negara walau diriku tiap tahun diwajibkan membayar pajak dsb, insya Allah belum pernah menuntut apapun kepada pemerintah :
- Sejak SDN sampai kuliah di perguruan tinggi Negeri, diriku tidak pernah menuntut hak atau demo kepada pemerintah. Bahkan ketika OSPEK Maba dan dilatih demo "Turunkan SPP" ke Rektorat, diriku juga diizinkan tidak ikut demo.
- Diriku tidak pernah minta bantuan atau mengajukan beasiswa, walau IPK diatas 3.
- Diriku belum pernah menuntut listrik subsidi, BBM subsidi, LPG subsidi, pupuk subsidi dan segala bentuk subsidi. Bahkan sudah 3 th ini diriku berupaya menjauhi barang-barang bersubsidi. Diriku lebih sering bersepeda pancal, jika memasak pakai kompor listrik non subsidi dan sudah tidak membeli pupuk subsidi untuk memupuk tanamanku.
- Diriku tidak pernah menuntut bantuan sembako, minta sepeda ke bapak presiden, bantuan WC dan semisal.
- Diriku tidak pernah menuntut perbaikan jalan, pembangunan dsb. Bahkan diriku pernah menolak ketika ditawari mendapat bantuan sembako dari desa. Ataupun ditawari bantuan WC (karena rumahku belum ada WC-nya) tapi diriku tetap menolak dan kusarankan jatah tersebut agar diberikan kepada orang lain saja. Biar tidak ada omongan yang tidak mengenakkan.
(5) Saya mengucapkan terima kasih (wa jazahumullah khoira) kepada pemerintah daerah kabupaten Blora terutama kepada bapak kepala dusun Tanjung dan bapak kepala desa Geneng atas perhatian dan niat baiknya untuk memberi sembako waktu wabah Covid-19. Sama sekali bukannya diriku tak menghargai maksud baik bapak-bapak semua. Sebenarnya di antara sebab diriku tidak mau menerima bantuan, karena diriku tidak ingin menimbulkan fitnah seperti :
- diriku sudah daftar haji. Gimana jika ada omongan "mampu daftar haji, ternyata masih mau menerima bantuan?"
- jika diriku menerima bantuan tapi tidak mau diajak demo..gimana jika ada tuduhan "pantas saja gak mau menyampaikan kebenaran, karena mulutnya telah disumpal sembako.?" (sebagaimana pernah ada warga yang mengajak demo terkait pembagian sembako, pembangunan dll tapi kutolak mentah-mentah. Sehingga diriku kemudian "disatru" dan ini realita)
- syari'at Islam mengajarkan untuk menjaga iffah dan tidak minta-minta kecuali minta hak serta dengan sebab yang dibenarkan.
- dsb.
(6) Diriku meyakini bahwa mengkhususkan mengkibarkan bendera pada setiap perayaan itu termasuk bid'ah, karena tidak pernah diamalkan Nabi dan para Shahabat padahal pada zaman tersebut sudah ada bendera. Jadi rasa takutku kepada Allah yang mencegah untuk mengkibarkan bendera, karena ketika kita mati kelak akan ditanya pada hari kiyamat tentang hujjah kita. Diriku juga tidak ingin menginfakan atau membelanjakan harta untuk membeli bendera atau perkara yang tidak Allah syari'atkan.
Andai diriku tetap dituntut untuk memasang bendera, maka pemerintah punya kewajiban memberi bendera (beserta tiang bendera) bagi warga yang tidak memiliki bendera. Dalam ajaran Islam pun, rakyat insya Allah berhak meminta sesuatu/haknya kepada pemerintah jika dengan sebab yang dibenarkan syari'at. Apalagi selama ini diriku belum pernah meminta sesuatu kepada pemerintah yang manfaatnya untuk diriku. Adapun terkait bendera dan tiangnya, insya Allah diriku punya hak untuk menuntut atau meminta kepada pemerintah. Terlebih pasang bendera manfaatnya bukan untuk diriku dan ada aturan bahwa pemda hendaknya memberi bendera bagi warga yang di rumahnya tidak memiliki bendera.
(7) Jika memasang bendera dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur loyalitas kita kepada penguasa yang sah, maka silahkan saja pasang bendera di 3 lokasi yaitu depan rumahku, sawah dan kebunku..setiap hari dan sepanjang tahun. Di sepanjang jalan dekat rumahku andai dipasang 1 juta bendera pun, diriku juga gak mungkin merusak atau menurunkan. Insya Allah hanya sebatas kuingkari dalam hati.
Kemudian jika di depan rumahku dipasang bendera, gimana jika pada hari-hari tersebut diriku lebih milih mengungsi tinggal di kandang kambing yang tidak ada benderanya? Atau hanya masuk ke rumah ketika sudah tidak ada bendera (pada malam hari setelah bendera turun).
Rabu, 26 Juli 2023
Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Dan Puasa Asyura (10 Muharram)
Puasa Tasu’ah (9 Muharram) Dan Puasa Asyura (10 Muharram)
■ Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda :
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahru (bulan) Allah yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).
■ Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).
■ Nabi ﷺ punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut.
Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((فإذا كان العام المقبل ، إن شاء الله ، صمنا اليوم التاسع )) . قال : فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم
Ketika Nabi ﷺ melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)
■ Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasarkan hadits :
صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما
“Puasalah hari Asyura’ dan selisihilah orang Yahudi. Dan puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadits ini juga dikuatkan hadits lain, yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubro dengan lafadz:
صوموا قبله يوماً وبعده يوماً
“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya”.
والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.
Selasa, 25 Juli 2023
HIKMAH LEBIH BAIK DARIPADA HARTA
HIKMAH LEBIH BAIK DARIPADA HARTA
Abaan bin Sulaim Rahimahullah berkata :
كلمة حِكْمَة لك من أخيك، خير لك من مال يعطيك؛ لأنَّ المال يطغيك، والكلمة تهديك.
"Satu ucapan hikmah dari saudaramu untukmu lebih baik daripada harta yang ia berikan untukmu karena harta bisa membuatmu lupa diri dan ucapan hikmah dapat membimbingmu."
(lihat Bahjatul Majalis karya Ibnu AbdilBarr 1/5)
TAHUKAH KALIAN APA ITU HIKMAH?
TAHUKAH KALIAN APA ITU HIKMAH?
Abu Bakr bin Duraid Rahimahullah berkata :
كلُّ كلمة وعظتك وزجرتك، أو دعتك إلى مكرمة، أو نهتك عن قبيح، فهي حِكْمَة
"Setiap ucapan yang mengandung nasihat dan teguran atau mengajakmu pada prilaku yang mulia atau mencegahmu dari prilaku yang buruk maka itulah hikmah."
(lihat Syarah Shahih Muslim An Nawawi 2/33)
Senin, 24 Juli 2023
Pesan Sang Ayah Kepada Putranya
Pesan Sang Ayah Kepada Putranya
Sa'ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'anhu berpesan kepada putranya :
يا بني, إذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة، فإنها مال لا ينفد؛ وإياك والطمع فإنه فقر حاضر؛ وعليك باليأس، فإنك لم تيأس من شيء قطُّ إلا أغناك الله عنه
"Duhai anakku sayang bila engkau ingin mencari kekayaan maka carilah ia pada sifat qona'ah karena ia adalah harta yang tak akan sirna..,
Hati-hati engkau dari ketamakan karena ia adalah kefakiran yang akan selalu menghampirimu..,
Sudah seharusnya bagimu untuk memutus asamu kepada makhluk karena tidaklah engkau memutus asamu dari sesuatu (selain-Nya) melainkan Allah melepaskanmu dari ketergantungan kepadanya."
(lihat Tarikh Damaskus karya Ibnu Asakir 20/363)
Minggu, 23 Juli 2023
Cobalah Engkau Menangis Karena Khosyyah (Takut) Kepada Allah
Cobalah Engkau Menangis Karena Khosyyah (Takut) Kepada Allah
Yazid Bin Maisaroh Rohimahullah berkata :
البكاء من سبعة أشياء : البكاء من الفرح ، والبكاء من الحزن ، والفزع ، والرياء ، والوجع ، والشكر ، وبكاء من خشية الله تعالى ، فذلك الذي تُطفِئ الدمعة منه أمثال الجبال من النار !
"Tangisan itu ada tujuh sebabnya :
(1) ada tangisan karena bahagia,
(2) ada tangisan karena sedih,
(3) ada tangisan ketakutan,
(4) ada tangisan untuk riya',
(5) ada juga karena sakit,
(6) ada tangisan karena bersyukur, dan
(7) ada tangisan karena takut kepada Allah itulah tangisan yang setiap tetesnya bisa memadamkan api neraka sebesar gunung."
(lihat Hilyatul Auliya 5/235)
"Bila Engkau Ingin Merangkul Bidadari Surga..."
"Bila Engkau Ingin Merangkul Bidadari Surga..."
Imam Asy Syafi'i Rohimahullah berkata dalam sebuah syair :
يا مَن يُعانِقُ دُنيا لا بَقاءَ لَها
يُمسي وَيُصبِحُ في دُنياهُ سَفّارا
هَلّا تَرَكتَ لِذي الدُنيا مُعانَقَةً
حَتّى تُعانِقَ في الفِردَوسِ أَبكارا
إِن كُنتَ تَبغي جِنانَ الخُلدِ تَسكُنُها
فَيَنبَغي لَكَ أَن لا تَأمَنَ النارا
"Hai orang yang merangkul dunia fana
Senja dan pagi di dunia berkelana
Maukah engkau tinggalkan merangkul dunia
Hingga engkau bisa merangkul dalam Firdaus bidadari-bidadari surga
Bila engkau berharap kekal tinggal di surga
Maka tak sepantasnya engkau merasa aman dari neraka..."
(lihat Diwan Syafi'i hal 86)
Sabtu, 22 Juli 2023
Tahukah Engkau, Keindahan Yang Tak Butuh Perhiasan?
Tahukah Engkau, Keindahan Yang Tak Butuh Perhiasan?
Berkata Iman Abu Hatim ibnu Hibban Al Busty berkata sebagian salaf :
الصمت عبادة من غير عناء ، وزينة من غير حلي ، وهيبة من غير سلطان ، وحصن من غير سور ، وراحة للكاتبين ، وغنية من الإعتذار .
Diam adalah ibadah tanpa mengalami kelelahan
Keindahan tanpa menggunakan perhiasan
Kewibawaan tanpa adanya kekuasaan
Benteng yang tak perlu akan tembok membentang
Ketenangan dari dua malaikat pencatat amalan
Tak perlu bagimu untuk mencari berbagai macam alasan.
(lihat Roudhotul Uqolaa' liibnil Hibban hal 43)
Di Antara Tanda-tanda Kebahagiaan Seorang Hamba
Seorang Hamba
Imam As-Syathiby rahimahullah menjelaskan,
من علامات السعادة على العبد : تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين ، ومراعاته لأوقاته.
“Di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah :
1. dimudahkan ketaatan baginya,
2. perbuatan-perbuatannya (amalnya) sesuai dengan sunnah,
3. berteman dengan orang-orang sholih,
4. baiknya akhlaq kepada sesama manusia,
5. menyebarkan kebaikan pada semua makhluk,
6. memberikan perhatian kepada kaum muslimin, dan
7. pandai menjaga waktu” (lihat Al-I’tishom, 2 : 152).
Jumat, 21 Juli 2023
Ikutilah Syariat Allah...Jangan Ikuti Hawa Nafsu Kebanyakan Orang
Ikutilah Syariat Allah...Jangan Ikuti Hawa Nafsu Kebanyakan Orang
Jika dirimu merasa berat untuk menyelisihi hawa nafsu manusia, maka cobalah renungkan firman Allah ini :
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ. اِنَّهُمْ لَنْ يُّغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗوَاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۚ وَاللّٰهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ.
“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
Sungguh mereka tidak akan dapat menghindarkan engkau sedikit pun dari (azab) Allah. Dan sungguh, orang-orang yang zhalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lain, sedangkan Allah pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Jatsiyah 18-19)
Minggu, 16 Juli 2023
Hadits : "Wahai Sang Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Hadits : "Wahai Sang Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."
عن شهر بن حوشب قال: قلت لأم سلمة رضي الله عنها ، يا أم المؤمنين، ما كان أكثر دعاء رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان عندك؟ قالت: كان أكثر دعائه: «يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك».
[صحيح لغيره] - [رواه الترمذي]
Dari Syahr bin Hawsyab, dia berkata : Aku bertanya kepada Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, "Wahai Ummul Mukminin, doa apa yang paling banyak diucapkan oleh Rasulullah ﷺ ketika berada bersamamu?" Ia menjawab, Doa yang paling banyak beliau ucapkan adalah,“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” (Shahih li ghairihi - Diriwayatkan At Tirmidzi)
Doa yang paling banyak beliau ucapkan adalah, "Wahai Dzat Pembolak-balik hati," maksudnya: Yang kadang-kadang memalingkannya kepada ketaatan dan kadang juga kepada kemaksiatan dan kelalaian. "Tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." maksudnya, jadikanlah hatiku tetap teguh dalam agama-Mu tanpa menyimpang dari agama yang benar dan jalan yang lurus.
Sabtu, 15 Juli 2023
Ciri Penasihat Yang Sejati
Ciri Penasihat Yang Sejati
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
“أنّ النّاصح لا يُعاديك إذا لم تقبل نصيحتَه، وقال: قد وقعَ أجري على الله، قَبِلْتَ أو لم تقبل، ويدعو لك بظهر الغيبِ، ولا يذكرُ عُيوبَكَ ويبُثُّها في النّاس.”
“Sesungguhnya seorang penasehat tidak akan memusuhimu jika engkau tidak menerima nasehatnya.
Dia akan mengatakan, ‘Sungguh telah tetap pahalaku di sisi Allah, engkau terima atau tidak terima nasehatku.’
Dia akan mendoakan kebaikan untukmu tanpa sepengetahuanmu, tidak akan menyebutkan aib-aibmu dan tidak menyebarkannya kepada orang lain.” (lihat Ar-Ruh 1/258)
Jumat, 14 Juli 2023
Hadits : "... Kebanyakan penghuni Surga adalah orang-orang faqir, dan ... kebanyakan penduduk Neraka adalah para wanita."
عن ابن عباس وعمران بن الحصين رضي الله عنهم عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «اطَّلَعت في الجنة فرأيتُ أكثرَ أهلِها الفقراءَ، واطَّلعتُ في النار فرأيتُ أكثرَ أهلها النِّساءَ». [صحيح] - [متفق عليه]
Dari Ibnu Abbas dan 'Imrān bin Al-Ḥushain radhiyallāhu 'anhum, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Aku melihat ke dalam Surga lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang faqir, dan aku melihat ke dalam Neraka lalu aku melihat kebanyakan penduduknya adalah para wanita."
(Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)
■ Nabi ﷺ mengabarkan di dalam hadis tersebut bahwa beliau melihat ke dalam Surga, beliau melihat kebanyakan penduduknya adalah orang-orang fakir. Itu karena mereka tidak memiliki apa-apa yang menjadikan mereka sombong, mereka orang-orang yang tenang dan rendah hati. Oleh karena itu, siapa yang memperhatikan ayat-ayat Alquran maka ia akan mendapati bahwa orang-orang yang mendustai para Rasul adalah orang-orang terhormat dan orang-orang kaya. Sementara kaum dhuafa (orang-orang faqir) adalah orang-orang yang mengikuti para Rasul. Karena itu, kebanyakan mereka adalah penghuni Surga.
■ Hadits ini tidak menjadi sebuah keharusan bahwa setiap orang faqir lebih mulia daripada orang-orang kaya, akan tetapi mengandung arti bahwa orang-orang faqir lebih banyak menempati Surga daripada orang-orang kaya, maka beliau mengabarkan hal itu. Dan bukanlah kefakiran yang menjadi sebab mereka dimasukkan ke dalam Surga meskipun hal itu meringankan dalam hisab mereka, akan tetapi mereka dimasukkan ke dalam Surga lantaran kebaikan-kebaikannya dan kefakirannya, karena kefakiran tanpa kebaikan tidaklah memiliki makna dan keutamaan.
■ Nabi ﷺ juga mengabarkan bahwa ketika beliau melihat Neraka, beliau melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita, hal itu disebabkan karena kebiasaan-kebiasaan buruk yang nampak dominan dalam tabiat mereka dan selalu menyertai mereka, seperti kurang mensyukuri pemberian suaminya dan banyak mencela. Maka sudah merupakan kewajiban bagi mereka untuk menjaga aturan-aturan agama agar mereka selamat dari ancaman Neraka.
■ Surga Dan Neraka adalah 2 makhluq yang telah ada (telah diciptakan).
Kamis, 13 Juli 2023
Do’a Dan Ta'awudz Ibarat Senjata Pedang
Do’a Dan Ta'awudz Ibarat Senjata Pedang
Ibnul Qayyim dalam Al Jawabul Kaafi mengatakan :
والادعية والتعوذات بمنزلة السلاح والسلاح بضاربه لا بحده فقط فمتى كان السلاح سلاحا تاما لا آفة به والساعد ساعد قوي والمانع مفقود حصلت به النكاية في العدو ومتى تخلف واحد من هذه الثلاثة تخلف التأثير فإن كان الدعاء في نفسه غير صالح أو الداعى لم يجمع بين قلبه ولسانه في الدعاء أو كان ثم مانع من الاجابة لم يحصل الأثر
“Do’a dan ta’awudz (meminta perlindungan pada Allah) ibarat senjata (pedang). Pedang itu diandalkan tebasannya bukan hanya ketajamannya. Oleh karenanya, pedang jadi ampuh bila: (1) tidak cacat, (2) yang menebas adalah orang yang kuat dan (3) tidak ada penghalang ketika pedang dihujam yang membuat musuh tersingkir. Jika salah satu dari tiga hal ini tidak ada, maka pedang tersebut tidaklah ampuh.
Do’a pun demikian. Do’a tidaklah ampuh bila: (1) orang yang berdo’a tidaklah sholih, (2) yang berdo’a tidak menyatukan antara hati dan lisan saat berdo’a (artinya: do’a yang dipanjatkan tidak diresapi), (3) ada penghalang sehingga do’a tidak terkabul. Jika ada salah satu dari tiga hal ini, do’a tidaklah ampuh.”
Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita...
Nabi Mengabarkan Jaminan Buah Dari Doa
Nabi Mengabarkan Jaminan Buah Dari Doa
Rasulullah ﷺ bersabda :
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إثْمٌ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ؛ إِلاَّ أَعْطَاهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إذًا نُكْثِرُ. قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ
“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sesuatu pun, selama (doanya) tidak mengandung dosa atau memutus silaturahmi; kecuali Alah akan memberinya salah satu dari tiga hal:
(1) disegerakan baginya pengabulannya,
(2) atau disimpan baginya di akhirat,
(3) atau dihindarkan darinya bencana atau keburukan yang semisal dengannya.”
(Ketika mendengar hadits ini) para sahabat bertanya, “Kalau demikian (yakni setiap orang yang berdoa pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga hal tersebut), kami akan memperbanyak doa.”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Sungguh, pengabulan Allah subhanahu wa ta’ala lebih banyak daripada doa kalian.”
(HR. Ahmad no. 11133, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1633.)
Selasa, 11 Juli 2023
“Maukah Aku Tunjukkan Kepadamu Salah Satu Dari Simpanan Al Jannah (Surga) ?”
“Maukah Aku Tunjukkan Kepadamu Salah Satu Dari Simpanan Al Jannah (Surga) ?”
وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَلاَ أدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ ؟ )) فَقُلْتُ : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : (( لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ menunjukkan kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu dari simpanan surga?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).” (Muttafaqun ‘alaih)
Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut, “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.” Ulama lain menafsirkan, “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”
Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menukil tafsir/makna kalimat "لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ", bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ
“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.”
Siapakah Kawan Sejatimu ?
Siapakah Kawan Sejatimu ?
قَــالَ الشَّـيخ العلّامــة ابن العُثيمين– رَحِمهُ الله تعالى – :
*• إذا رأيت أصحابك يدلونك على الخير ويعينونك عليه ، وإذا نسيت ذكروك ، وإذا جهلت علموك ، فاستمسك بحجزهم وعضّ عليهم بالنواجذ ؛*
*•• وإذا رأيت من أصحابك من هو مهمل في حقك ولا يبالي هل هلكت أم بقيت ، بل ربما يسعى لهلاكك ، فاحذره فإنه السم الناقع والعياذ بالله ، لا تقرب هؤلاء بل ابتعد عنهم ، فر منهم فرارك من الأسد .*
شرح رياض الصالحين (٢/٣٨٨)
Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata:
“Apabila kamu melihat temanmu menunjukkan kepadamu suatu kebaikan, dan membantumu untuk melakukan kebaikan tersebut ….
Apabila kamu lupa, maka dia mengingatkanmu.…
Dan apabila kamu tidak tahu (dalam suatu permasalahan), maka dia yang mengajarimu….
Maka (terhadap teman seperti ini), hendaknya kamu pegang teguh persahabatan dengan mereka,
Dan gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (yakni teruslah kamu bersahabat dengan mereka. Jangan kamu lepaskan sama sekali).
Tetapi apabila kamu melihat dari sahabatmu/ temanmu itu menyia-nyiakan hak-hakmu, dan dia tidak peduli dengan keadaanmu, apakah kamu binasa ataupun tidak …..
Bahkan terkadang dia berusaha untuk mengarahkan kebinasaanmu …..
Maka (terhadap teman seperti ini) hendaknya kamu berhati-hati,
Karena sesungguhnya dia itu adalah racun yang sebenarnya (bagimu),
Wal ‘iyyadzu billah ….
Jangan kamu dekat-dekat dengan mereka
Bahkan wajib bagimu untuk menjauh dari mereka, lari dari mereka, seperti larimu (ketika kamu takut) dari (terkaman) singa. (lihat Syarh Riyadhis, 2/388)
Minggu, 09 Juli 2023
Hadits : "Tidak akan masuk Neraka orang yang menangis karena khasyyah (takut) kepada Allah hingga susu kembali ke teteknya."
عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا يَلِجُ النارَ رجُل بَكى من خشية الله حتى يَعود اللَّبنُ في الضَّرْع، ولا يَجتمع غُبَارٌ في سبيل الله وَدُخَانُ جهنم». [صحيح] - [رواه الترمذي والنسائي وأحمد]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena khasyyah (takut) kepada Allah hingga air susu kembali ke teteknya, dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap Jahanam (Neraka)."
(Hadits shahih - Diriwayatkan At Tirmidzi)
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah. Sebab, biasanya takut itu menuntun orang melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, hingga susu kembali ke teteknya. Ini merupakan komentar terhadap sesuatu yang mustahil, dan tidak akan berkumpul pada seseorang debu di jalan Allah dengan asap neraka jahanam, seolah-olah keduanya adalah sesuatu yang berlawanan dan tidak pernah berkumpul seperti kondisi dunia dan akhirat.
Hadits : "Di antara sebaik-baik sumber kehidupan manusia ..."
Hadits : "Di antara sebaik-baik sumber kehidupan manusia ..."
Keutamaan Jihad Dan Keutamaan Uzlah Ketika Terjadi Banyak Fitnah Dalam Agama
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أنه قالَ: "مِن خَيرِ مَعَاشِ النّاسِ لهم رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرسِهِ في سبيلِ اللهِ، يَطيرُ على مَتنِهِ كُلَّما سَمِعَ هَيْعَةً أو فَزعَةً، طَارَ عَليه يَبْتَغِي القَتْلَ، أو المَوتَ مَظانَّه، أو رَجلٌ في غُنَيمَةٍ في رأسِ شَعفَةٍ من هذه الشَّعَفِ، أو بطنِ وادٍ من هذه الأوديةِ، يُقيمُ الصلاةَ، ويُؤتِي الزكاةَ، ويَعبدُ ربَّهُ حتى يَأتِيَه اليقينُ، ليسَ من النَّاسِ إلا في خيرٍ". [صحيح] - [رواه مسلم]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya beliau bersabda, “Di antara sebaik-baik sumber kehidupan manusia adalah seorang pria yang memegang tali kekang kudanya (berjihad) di jalan Allah, ia terbang di atas punggungnya, setiap kali ia mendengar suara atau gemuruh perang, ia terbang di atas punggungnya ketika mendengar panggilan jihad, ia terbang di atas punggungnya karena ingin berperang atau mencari kematian di peperangan; Atau seseorang yang menggembala kambing di puncak gunung yang tinggi, atau di salah satu lembah dari lembah-lembah ini, ia juga menegakkan salat, menunaikan zakat, beribadah kepada Tuhannya hingga kematian menjemputnya, dan tidaklah (ia bersama) manusia melainkan dalam kebaikan.”
(Hadits shahih - Diriwayatkan Muslim)
Sabtu, 08 Juli 2023
Teman Yang Menasihati Lebih Baik Dari Teman Yang Memberi Harta Dan Materi
Al Imam al-Auza’iy rahimahullah berkata bahwa beliau mendengar Bilal bin Sa’ad rahimahumallah berkata :
أخ لك كلما لقيك ذكرك بحظك من الله خير لك من أخ كلما لقيك وضع في كفك دينارا.
“Saudaramu yang setiap berjumpa denganmu ia mengingatkan tentang kewajibanmu terhadap Allah, lebih baik dari saudaramu yang setiap kali ia berjumpa denganmu ia menaruh satu dinar di telapak tanganmu.”
(lihat Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya, jilid 5, hlm. 225)
Kehidupan Dunia Tiada Lain Kesenangan Yang Menipu
Kehidupan Dunia Tiada Lain Kesenangan Yang Menipu
Sungguh banyak manusia yang terkagum-kagum dengan dunia. Begitu terpesona sampai lupa daratan. Dunia pun dikejar-kejar tanpa pernah merasa puas. Sifat qona’ah, merasa cukup dengan setiap nikmat rizki pun jarang dimiliki. Demikianlah watak kebanyakan manusia. Sekalipun Allah Ta’ala telah berfirman :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (20)
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20)
Jumat, 07 Juli 2023
Hadits : "Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zhalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."
Hadits : "Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zhalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه مرفوعاً: «إن الله ليُمْلِي للظالم، فإذا أخذه لم يُفْلِتْهُ»، ثم قرأ: (وكذلك أخذ ربك إذا أخذ القرى وهي ظالمة إن أخذه أليم شديد). [صحيح] - [متفق عليه]
Abu Musa Al-Asy'ariy radhiyallahu 'anhu meriwayatkan secara marfu', "Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zhalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya." Selanjutnya beliau membaca ayat, "Dan begitulah adzab Rabb-mu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih lagi keras.(QS. Hud : 102)." (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah menangguhkan orang yang zhalim dan membiarkannya menzhalimi dirinya hingga ketika Allah menghukumnya, Dia tidak meninggalkannya sampai Dia menuntaskan siksaan-Nya. Selanjutnya Nabi ﷺ membaca firman Allah Ta'ala :
{وكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} [هود: 102]
"Dan begitulah azab Rabb-mu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih lagi keras." (QS. Hud : 102)
Faidah dari Hadits Diantaranya :
• Seorang yang berbuat kezhaliman kadang kala dibiarkan (ditangguhkan) oleh Allah Ta'ala di dalam kezhalimannya sehingga melanjutkan terus menerus perbuatannya, na’udzubillah.
• Orang yang berakal tidak akan merasa aman dari makar Allah saat dia berbuat zhalim lalu tidak ditimpa keburukan, tetapi dia yakin itu adalah bentuk istidraj (penangguhan), sehingga ia pun bersegera mengembalikan hak-hak tersebut kepada pemiliknya.
• Allah akan menangguhkan orang-orang yang zhalim agar dosa mereka bertambah lalu diadzab dengan adzab yang berlipat.
• Apabila seorang berbuat kezhaliman lalu disegerakan hakuman/adzab/'iqobnya mungkin dia akan cepat sadar, bertaubat dan akan meninggalkan kezhalimannya tetapi bila dia dibiarkan dalam kezhaliman maka akan terus bertambah kezhaliman-kezhalimannya dan dosa-dosanya dan akan terus bertambah-tambah siksanya. Tetapi apabila Allah telah menghukumnya, maka tidak akan melepaskannya sama sekali – sampai hancur sehancur-hancurnya.
• Yang paling baik dalam menafsirkan hadits ataupun Al-Qur'an adalah dengan firman Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Kamis, 06 Juli 2023
Hujan Termasuk Rahmat Yang Manfaat (Mashlahat) Dan Bisa Menjadi Adzab Yang Madharat
■ Hujan Termasuk Rahmat
Allah Ta'ala berfirman :
وأنزل من السماء ماءً فأخرج به من الثمرات رزقاً لكم
“Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah : 22)
وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهٗ ۗوَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ
“Dan dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan dialah yang maha pelindung lagi maha terpuji." (QS. Asy-Syura: 28)
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ
"Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu." (QS. An-Nahl : 10)
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf : 9).
■ Hujan Bisa Sebagai Peringatan Dan Adzab Atas Para Pelaku Maksiat
Hal ini dapat kita lihat pada firman Allah Ta’ala tentang adzab kaum ‘Aad :
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)
“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. Al Ahqaf: 24-25)
Allah Ta’ala juga berfirman :
فكلاً أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصباً ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا به الأرض ومنهم من أغرقنا
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.” (QS. Al-Ankabut: 40)
Juga pada firman-Nya:
فأعرضوا فأرسلنا عليهم سيل العرم
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.” (QS. Saba`: 16)
Dalam hadits dikatakan, bahwa Nabi ﷺ begitu khawatir pada saat muncul mendung, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Hal ini sebagaimana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan :
وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِى وَجْهِهِ . قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا ، رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ ، وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ . فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا ( هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ) »
“Jika Rasulullah ﷺ melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu girang. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.” Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adaah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
■ Sebab-sebab Umum Turunnya Hujan
1. Ketakwaan kepada Allah
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
2. Memperbanyak istighfar dan taubat dari dosa-dosa
فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفاراً. يرسل السماء عليكم مدراراً
“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.” (QS. Nuh: 10-11)
3. Istiqamah di atas syariat Allah
وألّوِ استقاموا على الطريقة لأسقيناهم ماءًً غدقاً
“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar.” (QS. Al-Jin: 16)
4. Istisqa', baik sekedar berdoa maupun diiringi dengan shalat istisqa' 2 raka'at sebagaimana sholat 'Id
Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُتَبَذِّلاً مُتَوَاضِعًا مُتَضَرِّعًا حَتَّى أَتَى الْمُصَلَّى – زَادَ عُثْمَانُ فَرَقِىَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ اتَّفَقَا – وَلَمْ يَخْطُبْ خُطَبَكُمْ هَذِهِ وَلَكِنْ لَمْ يَزَلْ فِى الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّكْبِيرِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّى فِى الْعِيدِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam keadaan meninggalkan berhias diri, menghinakan diri dan banyak mengharap pertolongan Allah hingga sampai ke tanah lapang –Utsman menambahkan bahwa kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki mimbar- lalu beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kalian ini. Akan tetapi, beliau senantiasa memanjatkan do’a, berharap pertolongan dari Allah dan bertakbir. Kemudian beliau mengerjakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melaksanakan shalat ‘ied.” (HR. Abu Dawud no. 1165, At Tirmidzi no. 558, An Nasai no. 1508. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat Irwaul Gholil no. 665.)
Di antara do’a istisqo’ yang dibaca adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْىِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ
“Ya Allah, turunkanlah hujan pada hamba-Mu, pada hewan ternak-Mu, berikanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati.” (HR. Abu Dawud no. 1176, hasan)
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
“Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami.” (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897.)
■ Berdoa Ketika Hujan Turun
Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,
إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً
“Nabi ﷺ ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ‘Allahumma shoyyiban nafi’an (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat).’” (HR. Bukhari, no. 1032)
Ibnu Baththal mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdoa ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak manfaatnya.” (lihat Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal)
■ Turun hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa
Terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ
“Dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika azan dan doa ketika ketika hujan turun.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan; lihat Shahihul Jami’, no. 3078)
■ Doa ketika hujan lebat
Nabi ﷺ suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebat, beliau memohon kepada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi ﷺ berdoa :
اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiraabi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan).” (HR. Bukhari, no. 1014)
■ Berdoa Setelah Turun Hujan
عن زيد بن خالد الجهني رضي الله عنه قال : صلَّى لنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - صلاة الصبح بالحديبية على إِثْر سماء كانت من الليلة ، فلما انصرف أقبل على الناس فقال : ( هل تدرون ماذا قال ربكم ؟ قالوا : الله ورسوله أعلم ، قال : أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر ، فأمَّا من قال : مُطِرنا بفضل الله ورحمته ، فذلك مؤمن بي وكافر بالكوكب ، وأما من قال : مُطِرنا بنوء كذا وكذا فذلك كافر بي ومؤمن بالكوكب ) رواه البخاري ومسلم .
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, “Nabi ﷺ melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jamaah shalat, lalu mengatakan, ‘Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?’ Kemudian mereka mengatakan, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda :
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
‘Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa yang mengatakan ’muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘muthirna binnau kadza wa kadza’ (kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini) maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman kepada bintang-bintang.’” (HR. Bukhari, no. 846; Muslim, no. 71)
■ Doa apabila ada angin kencang
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya.” (HR. Abu Dawud, 4:326; Ibnu Majah, 2:1228, lihat kitab Shahih Ibnu Majah, 2:305)
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya dan kebaikan tujuan dihembuskannya angin ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan tujuan diehmbuskannya angin ini.” (HR. Bukhari, 4:76; Muslim, 2:616)
■ Apakah Penduduk Negeri Itu Merasa Aman?
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Namun mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka pada malam hari sewaktu mereka sedang tidur?” (Qs. Al-A’raf: 97)
أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka sewaktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (Qs. Al-A’raf: 98)
أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 99)
Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk segera beristigfar dan bertaubat dari segala dosa dan maksiat, yang dilakukan secara sengaja maupun tak sengaja, yang dilakukan sendirian maupun beramai-ramai, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.






































