Rabu, 28 Januari 2026

Penjelasan Mengenai Hakikat Zuhud


 

Penjelasan Mengenai Hakikat Zuhud


قَالَ الْخَلَّالُ مَا بَلَغَنِي أَنَّ أَحْمَدَ سُئِلَ عَنْ الزَّاهِدِ يَكُونُ زَاهِدًا وَمَعَهُ مِائَةُ دِينَارٍ قَالَ نَعَمْ عَلَى شَرِيطَةٍ إذَا زَادَتْ لَمْ يَفْرَحْ، وَإِذَا نَقَصَتْ لَمْ يَحْزَنْ قَالَ وَبَلَغَنِي أَنَّ أَحْمَدَ قَالَ لِسُفْيَانَ: حُبُّ الرِّيَاسَةِ أَعْجَبُ إلَى الرَّجُلِ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَمَنْ أَحَبَّ الرِّيَاسَةَ طَلَبَ عُيُوبَ النَّاسِ أَوْ عَابَ النَّاسَ أَوْ نَحْوَ هَذَا وَقَالَ أَبُو الْخَطَّابِ سُئِلَ أَحْمَدُ وَأَنَا شَاهِدٌ: مَا الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا قَالَ قِصَرُ الْأَمَلِ وَالْإِيَاسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ.

كتاب الآداب الشرعية والمنح المرعية ج ٢ ص ٢٤١ - شمس الدين ابن مفلح

Al-Khallal berkata: Telah sampai (kabar) kepadaku bahwa Imam Ahmad pernah ditanya:  "Apakah seseorang bisa disebut zuhud padahal ia memiliki seratus dinar?" Beliau menjawab: "Ya, dengan syarat: jika harta itu bertambah ia tidak terlalu gembira, dan jika berkurang ia tidak bersedih."
Beliau (Al-Khallal) berkata: Dan telah sampai kepadaku bahwa Imam Ahmad berkata kepada Sufyan: "Cinta pada kedudukan (kekuasaan) lebih disukai seseorang daripada emas dan perak. Barangsiapa yang mencintai kedudukan, ia akan cenderung mencari-cari aib orang lain atau mencela mereka'" (atau kalimat serupa itu).
Abu al-Khattab berkata: Imam Ahmad ditanya saat aku sedang menyaksikan: "Apa itu zuhud di dunia?" Beliau menjawab: "Pendek angan-angan (selalu ingat kematian) dan tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain."

📖 Kitab Al-Adabus Syar'iyyah libni Muflih, jilid 2 hal. 241

Sabtu, 24 Januari 2026

Di Antara Pangkal Utama Dari Sifat Tawadhu'


 



Di Antara Pangkal Utama Dari Sifat Tawadhu'



حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ أَبِي عِيسَى أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ قَالَ: " إِنَّ مِنْ رَأْسِ التَّوَاضُعِ أَنْ تَبْدَأَ مَنْ لَقِيتَ بِالسَّلَامِ , وَأَنْ تَرْضَى بِالدُّونِ مِنْ شَرَفِ الْمَجْلِسِ , وَتَكْرَهَ الْمِدْحَةَ وَالسُّمْعَةَ وَالرِّيَاءَ بِالْبِرِّ
كتاب الزهد لهناد بن السري ج ٢ ص ٤١٤ - هناد بن السري

"Hatim bin Isma'il telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin 'Ajlan, dari Abu 'Isa, bahwa Ibnu Mas'ud berkata:
'Sesungguhnya di antara pangkal (utama) dari ketawadhuan (rendah hati) adalah: Engkau memulai mengucapkan salam kepada orang yang engkau temui. Engkau ridha (rela) duduk di tempat yang rendah (biasa saja) dalam suatu majelis. Serta engkau membenci pujian, popularitas (sum'ah), dan riya' dalam amal kebajikan.'"

📚 Kitab Az-Zuhd karya Hannad bin as-Sariy [2/414]:

Pesan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu ini menekankan tiga pilar tawadhu' (kerendahan hati):
• Menebar Salam: Menghilangkan gengsi dengan menyapa lebih dulu.
• Tidak Gila Hormat: Tidak ambisius untuk duduk di tempat paling depan atau tempat terhormat demi status sosial.
• Ikhlash: Menjaga hati agar tidak mencari perhatian manusia (riya) atau ingin dikenal orang lain (populer) saat melakukan kebaikan.

Kamis, 22 Januari 2026

Di Antara Hikmah Tertundanya Jalan Keluar ( Pertolongan Allah )


 


Di Antara Hikmah Tertundanya Jalan Keluar ( Pertolongan Allah )



وَأَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ لِأَوْلِيَائِهِ عِنْدَ ابْتِلَائِهِمْ مَخَارِجَ، وَإِنَّمَا يَتَأَخَّرُ ذَلِكَ عَنْ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ تَهْذِيبًا وَزِيَادَةً لَهُمْ فِي الثَّوَابِ.
كتاب فتح الباري بشرح البخاري ج ٦؛ص ٤٨٣ - ط السلفية - ابن حجر العسقلاني

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata :
"Sesungguhnya Allah menjadikan jalan keluar bagi para wali-Nya (yaitu hamba Allah yang bertaqwa) saat mereka ditimpa ujian. Hanya saja jalan keluar tersebut tertunda bagi sebagian mereka pada waktu-waktu tertentu sebagai bentuk pembersihan (penyucian jiwa) serta untuk menambah pahala bagi mereka."
📚  Kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, jilid 6, halaman 483, cetakan Salafiyah, Ibnu Hajar Al-Asqalani

Kutipan tersebut penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah mengenai hikmah di balik musibah atau kesulitan yang menimpa orang-orang shalih (bertaqwa). Beliau menekankan dua poin utama:
🔸 Kepastian Pertolongan: Allah pasti akan memberikan makharij (jalan keluar/solusi) bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
🔸 Hikmah Penundaan: Jika bantuan tidak segera datang, itu bukan berarti Allah membiarkan, melainkan untuk Tahdzib (mendidik dan menyucikan hati) serta Ziyadah (meningkatkan derajat pahala mereka di sisi-Nya)

Selasa, 20 Januari 2026

Orang Yang Tidak Takut Kepada Allah Akan Mengikuti Hawa Nafsunya


 


Orang Yang Tidak Takut Kepada Allah Akan Mengikuti Hawa Nafsunya



✍️ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"فَإِنَّ الْإِنْسَانَ إذَا لَمْ يَخَفْ مِنْ اللَّهِ اتَّبَعَ هَوَاهُ وَلَا سِيَّمَا إذَا كَانَ طَالِبًا مَا لَمْ يَحْصُلْ لَهُ، فَإِنَّ نَفْسَهُ تَبْقَى طَالِبَةً لِمَا تَسْتَرِيحُ بِهِ وَتَدْفَعُ بِهِ الْغَمَّ وَالْحُزْنَ عَنْهَا وَلَيْسَ عِنْدَهَا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعِبَادَتِهِ مَا تَسْتَرِيحُ إلَيْهِ وَبِهِ؛ فَيَسْتَرِيحُ إلَى الْمُحَرَّمَاتِ مِنْ فِعْلِ الْفَوَاحِشِ وَشُرْبِ الْمُحَرَّمَاتِ وَقَوْلِ الزُّورِ وَذِكْرِ ماجريات النَّفْسِ وَالْهَزْلِ وَاللَّعِبِ وَمُخَالَطَةِ قُرَنَاءِ السُّوءِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَلَا يَسْتَغْنِي الْقَلْبُ إلَّا بِعِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى."
من كتاب: مجموع الفتاوى ١\٥٥

"Sesungguhnya insan, jika tidak memiliki rasa takut kepada Allah, ia akan mengikuti hawa nafsunya, terlebih lagi jika ia sedang mencari sesuatu yang belum berhasil ia dapatkan. Maka jiwanya akan terus mencari sesuatu yang bisa memberikan ketenangan serta menghilangkan kegalauan dan kesedihan darinya.
Namun, ketika ia tidak memiliki dzikir dan ibadah kepada Allah yang dapat memberikan ketenangan tersebut, maka ia akan mencari ketenangan pada hal-hal yang diharamkan; seperti melakukan perbuatan keji (fawahisy), meminum minuman yang haram, berkata dusta, menyibukkan diri dengan obrolan kosong tentang urusan duniawi (majrayatun nafs), bersenda gurau yang berlebihan, bermain-main, bergaul dengan teman yang buruk, dan hal-hal semacam itu.
Dan hati tidak akan pernah merasa cukup (merasa kaya/tenang) kecuali dengan beribadah kepada Allah Ta'ala."

📚 Majmu' Al-Fatawa 1/55.

Kamis, 15 Januari 2026

Penciptaan Adam ( Manusia Pertama ) dan Penciptaan Manusia ( Keturunan Adam )


 


Penciptaan Adam ( Manusia Pertama ) dan Penciptaan  Manusia ( Keturunan Adam )


1. Penciptaan Nabi Adam (Manusia Pertama) dari Tanah

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ ۝٢٨ فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ ۝٢٩

(28) Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (29) Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”  (QS. Al-Hijr : 28-29)

2. Proses Penciptaan Manusia (Keturunan Adam)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ ۝١٢ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ ۝١٣ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ۝١٤

(12) Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. (13) Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (14) Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. (QS. Al-Mu'minun : 12-14)

Bagi keturunan Adam, QS. Al-Mu'minun: 12-14 merinci tahapan biologis dalam rahim. Ayat tersebut merupakan rujukan paling detail mengenai tahapan janin: (1) Saripati tanah (Sulalah min thin). (2) Nuthfah: Air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). (3) 'Alaqah: Sesuatu yang melekat/segumpal darah. (4) Mudghah: Segumpal daging. (5) Idzam: Pembentukan tulang belulang. (6) Pembungkusan tulang dengan daging, lalu menjadi makhluk yang sempurna. 

Kamis, 08 Januari 2026

Kegelisahan dan Kesedihan Bagi Orang Yang Mengikuti Hawa Nafsu


 

Kegelisahan dan Kesedihan Bagi Orang Yang Mengikuti Hawa Nafsu


"بَلْ مَنْ اتَّبَعَ هَوَاهُ فِي مِثْلِ طَلَبِ الرِّئَاسَةِ وَالْعُلُوِّ؛ وَتَعَلُّقِهِ بِالصُّوَرِ الْجَمِيلَةِ أَوْ جَمْعِهِ لِلْمَالِ يَجِدُ فِي أَثْنَاءِ ذَلِكَ مِنْ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَالْآلَامِ وَضِيقِ الصَّدْرِ مَا لَا يُعَبِّرُ عَنْهُ. وَرُبَّمَا لَا يُطَاوِعُهُ قَلْبُهُ عَلَى تَرْكِ الْهَوَى وَلَا يَحْصُلُ لَهُ مَا يَسُرُّهُ؛ بَلْ هُوَ فِي خَوْفٍ وَحُزْنٍ دَائِمًا: إنْ كَانَ طَالِبًا لِمَا يَهْوَاهُ فَهُوَ قَبْلَ إدْرَاكِهِ حَزِينٌ مُتَأَلِّمٌ حَيْثُ لَمْ يَحْصُلْ."
من كتاب: مجموع الفتاوى(٦٥١/١٠)

✍️ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"Sebaliknya, barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya seperti dalam mencari kekuasaan dan kedudukan, keterikatan pada rupa yang indah (syahwat), atau sibuk mengumpulkan harta; maka di tengah-tengah usahanya itu ia akan merasakan kegelisahan, kesedihan, duka cita, kepedihan, dan kesesakan dada yang tak terlukiskan.
Bahkan mungkin saja hatinya tidak sanggup untuk meninggalkan hawa nafsu tersebut, namun ia juga tidak mendapatkan apa yang menyenangkannya. Justru ia senantiasa berada dalam ketakutan dan kesedihan: selama ia masih mengejar apa yang ia nafsu-kan, ia akan terus bersedih dan menderita karena apa yang diinginkannya itu belum juga tercapai."

📚 Majmu' Al-Fatawa, 10/651

Senin, 05 Januari 2026

Al-Fatihah Sebagai "A'zhom Suroh" ( Surat Paling Agung dan Mulia )


 


Al-Fatihah Sebagai "A'zhom Suroh" ( Surat Paling Agung dan Mulia )


عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ المُعَلَّى رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي فِي المَسْجِدِ، فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي، فَقَالَ: «أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ: {اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الأنفال: 24]». ثُمَّ قَالَ لِي: «لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي القُرْآنِ، قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ المَسْجِدِ». ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ، قُلْتُ لَهُ: «أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي القُرْآنِ»، قَالَ: «{الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ} [الفاتحة: 2] هِيَ السَّبْعُ المَثَانِي، وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ». (صحيح - رواه البخاري)

Dari Abu Sa'īd Rāfi' bin Al-Mu'alla radhiyallāhu 'anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda kepadaku, "Maukah engkau aku engkau surah yang paling agung di dalam Al-Qur'ān sebelum engkau keluar masjid?" Lalu beliau memegang tanganku. Ketika kami hendak keluar, aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan, "Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur'ān?" Beliau menjawab, "Alḥamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn (Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam) adalah As-Sab'u Al-Matsānī (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan Al-Qur'ān Al-Azhīm (Al-Qur'ān yang agung) yang telah diberikan kepadaku."  (Hadits shahih - Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Kamis, 01 Januari 2026

Inti Sari Kandungan QS. Al-Ashr


 


Inti Sari Kandungan QS. Al-Ashr


بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۝٣

1. Demi masa,
2. sungguh, manusia berada dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran

Menurut tafsir para ulama, surah ini menjelaskan bahwa semua manusia akan rugi, kecuali mereka yang memiliki empat kriteria: 
• Beriman: Memiliki akidah yang benar kepada Allah
• Beramal Shalih: Mengerjakan kebajikan sesuai syariat.
• Saling Menasihati dalam Kebenaran: Mengajak sesama pada kebaikan dan keadilan.
• Saling Menasihati dalam Kesabaran: Teguh dalam menghadapi ujian dan menjalankan ketaatan. 

Ringkasan Ada Apa Dibalik Perayaan Menyambut Tahun Baru?


 


Ringkasan Ada Apa Dibalik Perayaan Menyambut Tahun Baru?


1. Perayaan Tahun Baru (Masehi/Semisal) Bukan Termasuk Ajaran Islam
2. Merayakan Tahun Baru Berarti Mengikuti Perayaan Orang Kafir Dan Termasuk Tasyabbuh
3. Merayakaan Tahun Baru Berarti Membuat Hari Raya Baru Padahal Hari Raya Umat Islam Hanya 'Idul Fitri Dan 'Idul Adha.
4. Mengikuti Hari Raya Orang Kafir Termasuk Bentuk Loyalitas Dan Menampakkan Rasa Cinta Kepada Mereka
5. Kita Seharusnya Tidak Mengikuti Atau Tidak Meniru-niru Orang Kafir Dalam Perkara Agama Dan Keyakinan
6. Merayakan Tahun Baru Termasuk Begadang Tanpa Ada Keperluan, Padahal Nabi ﷺ Melarang Begadang Setelah Isya Tanpa Ada Hajat Syar'i
7. Merayakan Tahun Baru Termasuk Tabdzir, Buang-buang Harta Untuk Tujuan Yang Salah.
8. Melibatkan Dirinya Dalam Hari Raya Orang Kafir Berarti Bukan Termasuk 'Ibadurrahman (Hamba-hamba Allah Pilihan)
9. Merayakan Tahun Baru Terkadang Bisa Sampai Meninggalkan Shalat Padahal Meninggalkan Shalat Sekali Saja Telah Melakukan Dosa Besar Yang Lebih Parah Dari Berzina Dan Judi.
10. Pada Malam Tahun Baru, Banyak Kaum Muslimin Ikut Membunyikan Terompet Dan  Lonceng Yang Merupakan Syiar Orang Yahudi Dan Nashrani.
11. Mengucapkan Selamat Tahun Baru Atau Happy New Year Termasuk Ucapan Selamat Yang Tidak Dibolehkan Karena Perayaannya Tidak Disyariatkan.
Wa Allahu a'lam.

Selengkapnya insya Allah bisa dibaca :
https://hazimaljawiy.blogspot.com/2023/12/ada-apa-dibalik-perayaan-menyambut.html?m=1