Selasa, 28 Februari 2023
Minggu, 26 Februari 2023
Jumat, 24 Februari 2023
Selasa, 21 Februari 2023
Minggu, 19 Februari 2023
Sabtu, 18 Februari 2023
Jumat, 17 Februari 2023
Bentuk 7 Bumi Seperti Qurshoh Dan 7 Lapis Langit Seperti Dirham
Bentuk 7 Bumi Seperti Qurshoh Dan 7 Lapis Langit Seperti Dirham
Allah ta’ala berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12).
Ibnu Jarir berkata: “Yunus meriwayatkan kepadaku dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِيْ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَدَرَاهِمَ سَبْعَةٍ أُلْقِيَتْ فِيْ تِرْسٍ
“Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping Dirham yang diletakkan di atas perisai.” (lihat Fathul Majid)
Allah Ta'ala berfirman :
يَوْمَ تَكُونُ ٱلسَّمَآءُ كَٱلْمُهْلِ
"Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak." (QS. Al Ma'arij : 8)
Allah Ta'ala berfirman :
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19). Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata :
وهو يرد على من زعم أنها كالكرة
“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola.” (Tafsir Al-Qurthubi 10/13)
Imam al-Qurthubi rahimahullah juga berkata :
والذي عليه المسلمون وأهل الكتاب القول بوقوف الأرض وسكونها ومدها، وأن حركتها إنما تكون في العادة بزلزلة تصيبها.
“Pendapat yang dipegang oleh kaum muslimin dan Ahlul Kitab adalah pendapat yang menyatakan bahwa bumi itu diam dan datar dan bahwa gerakannya itu secara kebiasaan karena gempa yang menimpanya.” (Al-Jami’ li Ahkamil Quran: 9/280).
Allah Ta'ala berfirman :
وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghaasyiyah : 20). Dalam Tafsir Jalalain ketika menafsirkan ayat dijelaskan :
سطحت ظاهر في أن الأرض سطح وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة
“Makna ‘suthihat’ zahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom.” (lihat Tafsir Jalalain 1/805)
Imam Al-Qahthaniy Al-Andalusy (wafat sekitar th 379 H) dalam kitab Nuniyah-nya berkata :
كذب المهندس والمنجم مثله … فهما لعلم الله مدعيان
الأرض عند كليهما كروية … وهما بهذا القول مقترنان
والأرض عند أولي النهى لسطيحة … بدليل صدق واضح القرآن
“Telah berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”
“Bumi menurut mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”
“Bumi menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran” (lihat Nuniyyah Al-Qahthani)
Allah ta’ala berfirman :
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُسَمًّى أَلا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Az-Zumar: 5).
Kata ‘Yukawwiru-Takwir’ dalam ayat di atas mempunyai arti melilitkan dan melingkarkan, seperti melingkarkan imamah (sorban) atas kepala. Al-Allamah Sirajuddin Abu Hafsh Ibnu Adil al-Hanbali (wafat tahun 775 H) rahimahullah berkata:
والتكوير : اللَّفُ واللَّيُّ يقال : كَارَ العَمَامَةَ على رأسه وكَوَّرهَا ،
“Arti ‘at-Takwir’ adalah melilitkan dan memutarkan. Dikatakan bahwa seseorang men-takwir imamah (sorban) di kepalanya ketika dia melingkarkannya.” (Al-Lubab fi Ulumil Kitab: 13/401). Allah menutupkan malam atas siang karena matahari berputar secara harizontal (bukan vertikal) sebagaimana seseorang melingkarkan sorban.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ
“Pada hari kiamat kelak, manusia akan dikumpulkan di bumi yang tanahnya sangat putih seperti qurshoh (berbentuk bulat pipih, seperti roti biskuit/apem) dan datar tidak ada tanda (bangunan) milik siapapun di atasnya.” (HR. Bukhâri, no. 6521 dan Muslim, no. 2790)
Dari ayat dan hadits serta penjelasan para ulama tersebut insya Allah bisa dipahami :
☆ Bumi tidak 1 dan bulat seperti bola sebagaimana yang dipahami orang-orang berpaham Ateisme.
☆ Bumi ada 7 lapis sebagaimana 7 lapis langit.
☆ Langit bisa dihuni (malaikat, ruh para nabi dst) sebagaimana Bumi bisa dihuni.
☆ Hukum asal langit bentuknya seperti kepingan dirham dengan warna keperakan.
☆ Hukum asal Bumi seperti qurshoh dan mayoritas berwarna putih seperti salju.
☆ Allah ciptakan manusia, jin, malaikat, hewan, buah-buah secara umum bentuknya tidak berubah. Jika di dunia anggur bentuknya bulat bola maka pada hari Qiyamat bentuknya tetap bulat bola dan bukan bulat pipih..walau ukuran, sifat dan kualitasnya beda. Sebagaimana Bumi insya Allah bentuknya tetap seperti Qurshoh dan Langit seperti Dirham. Tidak berbentuk persegi panjang, kerucut, tabung, kendang, donat ataupun seperti bola.
☆ Teori Bumi seperti bola itu bukan realita tapi baru klaim orang-orang berpaham Ateisme. Sebagaimana mereka mengklaim Bumi hanya 1, bumi berotasi dan mengelilingi matahari, matahari lebih besar dari bumi, jarak antar galaksi jutaan tahun cahaya dll. Yang mana itu bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah.
Insya Allah ini hukum asal kecuali datang dalil yang memalingkan ataupun burhan (bukti kebenaran). Wa Allahu a'lam.
Allah ta’ala berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12).
Ibnu Jarir berkata: “Yunus meriwayatkan kepadaku dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِيْ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَدَرَاهِمَ سَبْعَةٍ أُلْقِيَتْ فِيْ تِرْسٍ
“Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping Dirham yang diletakkan di atas perisai.” (lihat Fathul Majid)
Allah Ta'ala berfirman :
يَوْمَ تَكُونُ ٱلسَّمَآءُ كَٱلْمُهْلِ
"Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak." (QS. Al Ma'arij : 8)
Allah Ta'ala berfirman :
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (Al-Hijr: 19). Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata :
وهو يرد على من زعم أنها كالكرة
“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola.” (Tafsir Al-Qurthubi 10/13)
Imam al-Qurthubi rahimahullah juga berkata :
والذي عليه المسلمون وأهل الكتاب القول بوقوف الأرض وسكونها ومدها، وأن حركتها إنما تكون في العادة بزلزلة تصيبها.
“Pendapat yang dipegang oleh kaum muslimin dan Ahlul Kitab adalah pendapat yang menyatakan bahwa bumi itu diam dan datar dan bahwa gerakannya itu secara kebiasaan karena gempa yang menimpanya.” (Al-Jami’ li Ahkamil Quran: 9/280).
Allah Ta'ala berfirman :
وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghaasyiyah : 20). Dalam Tafsir Jalalain ketika menafsirkan ayat dijelaskan :
سطحت ظاهر في أن الأرض سطح وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة
“Makna ‘suthihat’ zahirnya menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom.” (lihat Tafsir Jalalain 1/805)
Imam Al-Qahthaniy Al-Andalusy (wafat sekitar th 379 H) dalam kitab Nuniyah-nya berkata :
كذب المهندس والمنجم مثله … فهما لعلم الله مدعيان
الأرض عند كليهما كروية … وهما بهذا القول مقترنان
والأرض عند أولي النهى لسطيحة … بدليل صدق واضح القرآن
“Telah berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”
“Bumi menurut mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”
“Bumi menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran” (lihat Nuniyyah Al-Qahthani)
Allah ta’ala berfirman :
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُسَمًّى أَلا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Az-Zumar: 5).
Kata ‘Yukawwiru-Takwir’ dalam ayat di atas mempunyai arti melilitkan dan melingkarkan, seperti melingkarkan imamah (sorban) atas kepala. Al-Allamah Sirajuddin Abu Hafsh Ibnu Adil al-Hanbali (wafat tahun 775 H) rahimahullah berkata:
والتكوير : اللَّفُ واللَّيُّ يقال : كَارَ العَمَامَةَ على رأسه وكَوَّرهَا ،
“Arti ‘at-Takwir’ adalah melilitkan dan memutarkan. Dikatakan bahwa seseorang men-takwir imamah (sorban) di kepalanya ketika dia melingkarkannya.” (Al-Lubab fi Ulumil Kitab: 13/401). Allah menutupkan malam atas siang karena matahari berputar secara harizontal (bukan vertikal) sebagaimana seseorang melingkarkan sorban.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ
“Pada hari kiamat kelak, manusia akan dikumpulkan di bumi yang tanahnya sangat putih seperti qurshoh (berbentuk bulat pipih, seperti roti biskuit/apem) dan datar tidak ada tanda (bangunan) milik siapapun di atasnya.” (HR. Bukhâri, no. 6521 dan Muslim, no. 2790)
Dari ayat dan hadits serta penjelasan para ulama tersebut insya Allah bisa dipahami :
☆ Bumi tidak 1 dan bulat seperti bola sebagaimana yang dipahami orang-orang berpaham Ateisme.
☆ Bumi ada 7 lapis sebagaimana 7 lapis langit.
☆ Langit bisa dihuni (malaikat, ruh para nabi dst) sebagaimana Bumi bisa dihuni.
☆ Hukum asal langit bentuknya seperti kepingan dirham dengan warna keperakan.
☆ Hukum asal Bumi seperti qurshoh dan mayoritas berwarna putih seperti salju.
☆ Allah ciptakan manusia, jin, malaikat, hewan, buah-buah secara umum bentuknya tidak berubah. Jika di dunia anggur bentuknya bulat bola maka pada hari Qiyamat bentuknya tetap bulat bola dan bukan bulat pipih..walau ukuran, sifat dan kualitasnya beda. Sebagaimana Bumi insya Allah bentuknya tetap seperti Qurshoh dan Langit seperti Dirham. Tidak berbentuk persegi panjang, kerucut, tabung, kendang, donat ataupun seperti bola.
☆ Teori Bumi seperti bola itu bukan realita tapi baru klaim orang-orang berpaham Ateisme. Sebagaimana mereka mengklaim Bumi hanya 1, bumi berotasi dan mengelilingi matahari, matahari lebih besar dari bumi, jarak antar galaksi jutaan tahun cahaya dll. Yang mana itu bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah.
Insya Allah ini hukum asal kecuali datang dalil yang memalingkan ataupun burhan (bukti kebenaran). Wa Allahu a'lam.
Nabi Adam عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ Manusia Pertama Benarkah Teori Evolusi Manusia Berasal Dari Kera?
Nabi Adam عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ Manusia Pertama
Benarkah Teori Evolusi Manusia Berasal Dari Kera?
Manusia bukanlah hasil evolusi dari kera. Itu hanya sekedar teori dusta dari orang berpaham Ateisme. Andai benar manusia berasal dari evolusi kera, mengapa sekarang masih ada kera? Sebagaimana juga ketidakbenaran teori evolusi jerapah berleher panjang berasal dari jerapah berleher pandek. Menurut ahli genetika pun hal ini tidak benar. Perubahan fisik karena sebuah latihan itu tidak bisa menurun ke keturunannya.
Allah Ta'ala menjelaskan tentang perkembangan penciptaan Adam. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian berkata ‘Jadilah!’, maka iapun jadilah“. (QS.Ali-Imran/3 : 59)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”. (QS. Al-Mu’minun/23 : 12)
إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat“. (QS. Ash-Shaffat/37 : 11)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk“. (QS. Al-Hijr/15 : 26).
Kemudian setelah kering tanah tersebut berubah seperti tembikar. Allah Ta’ala berfirman :
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”. (QS. Ar-Rahman/55 : 14)
Allah membentuk tanah tersebut menjadi bentuk yang Dia ingini, lalu ditiupkan ruh kedalamnya dari ruh (ciptaan)-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ﴿٢٨﴾ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesunggguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, bila telah Aku sempurnakan bentuknya dan telah Aku tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, tunduklah kamu kepadanya dengan cara bersujud“. (QS. Al-Hijr/15 : 28-29)
Itulah fase perkembangan penciptaan Adam dari sudut pandang Al-Qur’an. Adapun tentang istri Adam (Hawa), Allah Ta’ala terangkan bahwa ia diciptakan dari Adam, sebagaimana tersebut dalam firmanNya :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
“Hai manusia, bertakwalah kamu sekalian kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari diri itulah Dia menciptakan istrinya“. (QS. An-Nisa/4 : 1)
Adapun perkembangan yang dialami keturunan Adam disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ﴿١٣﴾ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah ; lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging ; lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang ; lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging ; kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.“ (QS. Al-Mu’minun/23 : 12-14)
Tinggi nabi Adam عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ 60 Hasta Dalam صورةِ الرَّحمنِ
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda :
خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا
“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam shuroh (bentuk)-Nya. Tinggi beliau 60 hasta (sekitar 20 meter).” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).
Dalam riwayat Muslim,
إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ
“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).
Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda :
إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5/217) mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).
Berdasarkan hadits Adam diciptakan dengan tinggi 60 hasta dan shuroh Ar Rohman. Jadi manusia pertama di Bumi tidak diciptakan dengan bentuk kera.
Akan tapi hadits tersebut tidak boleh dipahami bentuk nabi Adam seperti Allah dalam segala sisi. Karena Nabi yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” juga bersabda :
إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر
“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).
Maka hadits tersebut tidak mungkin dipahami bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya. Mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan.
Allah ta’ala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan Dia (Allah). Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy Syura: 11).
Benarkah Teori Evolusi Manusia Berasal Dari Kera?
Manusia bukanlah hasil evolusi dari kera. Itu hanya sekedar teori dusta dari orang berpaham Ateisme. Andai benar manusia berasal dari evolusi kera, mengapa sekarang masih ada kera? Sebagaimana juga ketidakbenaran teori evolusi jerapah berleher panjang berasal dari jerapah berleher pandek. Menurut ahli genetika pun hal ini tidak benar. Perubahan fisik karena sebuah latihan itu tidak bisa menurun ke keturunannya.
Allah Ta'ala menjelaskan tentang perkembangan penciptaan Adam. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian berkata ‘Jadilah!’, maka iapun jadilah“. (QS.Ali-Imran/3 : 59)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”. (QS. Al-Mu’minun/23 : 12)
إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat“. (QS. Ash-Shaffat/37 : 11)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk“. (QS. Al-Hijr/15 : 26).
Kemudian setelah kering tanah tersebut berubah seperti tembikar. Allah Ta’ala berfirman :
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”. (QS. Ar-Rahman/55 : 14)
Allah membentuk tanah tersebut menjadi bentuk yang Dia ingini, lalu ditiupkan ruh kedalamnya dari ruh (ciptaan)-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ ﴿٢٨﴾ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesunggguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, bila telah Aku sempurnakan bentuknya dan telah Aku tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, tunduklah kamu kepadanya dengan cara bersujud“. (QS. Al-Hijr/15 : 28-29)
Itulah fase perkembangan penciptaan Adam dari sudut pandang Al-Qur’an. Adapun tentang istri Adam (Hawa), Allah Ta’ala terangkan bahwa ia diciptakan dari Adam, sebagaimana tersebut dalam firmanNya :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
“Hai manusia, bertakwalah kamu sekalian kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari diri itulah Dia menciptakan istrinya“. (QS. An-Nisa/4 : 1)
Adapun perkembangan yang dialami keturunan Adam disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ﴿١٢﴾ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ﴿١٣﴾ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah ; lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging ; lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang ; lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging ; kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.“ (QS. Al-Mu’minun/23 : 12-14)
Tinggi nabi Adam عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ 60 Hasta Dalam صورةِ الرَّحمنِ
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda :
خَلَقَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ آدَمَ علَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِراعًا
“Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam shuroh (bentuk)-Nya. Tinggi beliau 60 hasta (sekitar 20 meter).” (HR. Bukhari no.6227, Muslim no. 2841).
Dalam riwayat Muslim,
إذا قاتَلَ أحَدُكُمْ أخاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ، فإنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ علَى صُورَتِهِ
“Jika kalian saling berkelahi dengan saudaranya, maka jangan pukul wajah. Karena Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.” (HR. Muslim no. 2612).
Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda :
إنَّ اللهَ خلق آدمَ على صورةِ الرَّحمنِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk Ar-Rahman.” (HR. Ad Daruquthni. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5/217) mengatakan, “sanadnya dan perawinya tsiqah”).
Berdasarkan hadits Adam diciptakan dengan tinggi 60 hasta dan shuroh Ar Rohman. Jadi manusia pertama di Bumi tidak diciptakan dengan bentuk kera.
Akan tapi hadits tersebut tidak boleh dipahami bentuk nabi Adam seperti Allah dalam segala sisi. Karena Nabi yang bersabda “Allah ‘azza wa Jalla menciptakan Adam dalam bentuk-Nya” juga bersabda :
إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر
“sesungguhnya rombongan pertama orang yang masuk surga kelak, mereka dalam bentuk bulan.” (HR. Bukhari no.3254, Muslim no.2834).
Maka hadits tersebut tidak mungkin dipahami bahwa orang-orang yang pertama kali masuk surga itu berbentuk seperti bulan dalam semua sisinya. Mereka tetap dalam bentuk manusia, namun dari sisi bersinarnya mereka, bagusnya mereka, indahnya mereka, cerahnya wajah mereka, sama seperti bulan.
Allah ta’ala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan Dia (Allah). Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Asy Syura: 11).
Rabu, 15 Februari 2023
Selasa, 14 Februari 2023
Senin, 13 Februari 2023
Minggu, 12 Februari 2023
Kamis, 09 Februari 2023
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sudah sering kita dengar. Banyak orang, kelompok atau firqoh (jam'iyyah/hizbiyyah) yang mengaku berada di atas pemahaman/manhaj Ahlus Sunnah. Sebuah pengakuan-pengakuan tanpa hujjah dan burhan. Masing-masing merasa dirinya di atas kebenaran, sedangkan kelompok lain adalah menyimpang.
☆ Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Kata “Ahlus Sunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu "Ahlu" dan kata "As Sunnah". Ahlu yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan. As Sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat.
Ibnu Rojab al-Hambali rahimahullah berkata :
وَالسُّنَّةُ: هِيَ الطَّرِيقَةُ الْمَسْلُوكَةُ، فَيَشْمَلُ ذَلِكَ التَّمَسُّكَ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ هُوَ وَخُلَفَاؤُهُ الرَّاشِدُونَ مِنَ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ، وَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ الْكَامِلَةُ
“As-Sunnah adalah jalan yang diikuti; dan itu meliputi berpegang teguh dengan apa yang menjadi keyakinan, perkataan dan amalan, baik dari Rosuulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, maupun para Al-Khulafa’ ar-Rosyidun. Inilah As Sunnah yang sempurna.” (lihat Jami’ul Ulum wal Hikam, 2/120, Ibnu Rojab al-Hambali wafat 795 H).
Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Sebagaimana Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (Sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal.16)
Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, Tabi'in dan para ulama yang mengamalkan As Sunnah sampai hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al Jama’ah.” (HR. Abu Daud 4597, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)
Rasulullah ﷺ juga bersabda :
عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن
“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena syaithan itu bersama orang yang bersendirian dan syaithan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min.” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)
Dan ketahuilah tolok ukur "Al Jama'ah" itu bukan banyaknya jumlah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu :
اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
“Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan al haq (kebenaran) walaupun engkau sendirian.” Dalam riwayat lain:
وَيحك أَن جُمْهُور النَّاس فارقوا الْجَمَاعَة وَأَن الْجَمَاعَة مَا وَافق طَاعَة الله تَعَالَى
“Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan manusia telah keluar dari Al Jama’ah. Dan Al Jama’ah itu adalah yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala.” (lihat Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan, 1/70)
Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ tentang satu golongan yang selamat :
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَاب
”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para shahabatku.”
☆ Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Penamaan istilah Ahlus Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi Shahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in.
‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala :
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
“Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.’” (QS. Ali ‘Imran : 106).
وقوله تعالى : { يوم تبيض وجوه وتسود وجوه } يعني : يوم القيامة ، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة ، وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة ، قاله ابن عباس ، رضي الله عنهما .
{ فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم } قال الحسن البصري : وهم المنافقون : { فذوقوا العذاب بما كنتم تكفرون } وهذا الوصف يعم كل كافر .
“Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan furqoh (perpecahan). Demikianlah menurut tafsir Ibnu Abbas radhiyaallahu 'anhuma.
Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), "Mengapa kalian kafir sesudah kalian beriman?"
Menurut Al-Hasan Al-Basri, mereka adalah orang-orang munafik. "Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu." Dan gambaran ini bersifat umum menyangkut semua orang kafir.
.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir). Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh para ulama generasi Tabi'in dan setelahnya.
Imam Malik rohimahullooh berkata, saat ditanya siapa mereka “Ahlus Sunnah” itu:
الذين ليس لهم لقب يعرفون به، لا جهمي ولا رافضي ولا قدري
“Mereka yang tidak memiliki julukan yang dikenal; mereka bukan Jahmy (pengikut firqoh Jahmiyyah), bukan Rofidzy (pengikut firqoh Rofidhoh), bukan pula Qodary (pengikut firqoh Qodariyyah).” (Al-Qodhi ‘Iyadh [wafat 544 H], Tartibul Madarik wa Taqribil Masali, 2/41)
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (hidup th 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, As-Sunnah: “Inilah madzhab ahlul ‘ilmi, ash-haabul atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, dari semenjak zaman para Sahabat Radhiyallahu anhum hingga pada masa sekarang ini…”
☆ Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Yang Sejati?
Dalam hadits Iftiraaqul-Ummah disebutkan :
تفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة، كلهم في النار إلا ملة واحدة». قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: «ما أنا عليه وأصحابي
“Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golonan. Semuanya masuk neraka kecuali satu”. Mereka (para shahabat) bertanya : “Siapakah ia wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Apa-apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya”.
Hadits di atas diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2641) dan berkata :
هذا حديث حسن غريب مفسر لا نعرفه مثل هذا إلا هذا الوجه.
“Ini adalah hadits hasan ghariib mufassar (yang dijelaskan. Kami tidak mengetahui hadits yang seperti ini kecuali dari sisi ini”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para ulama Ahli Ijtihad dan Ahli Hadits yang berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah dan siapa saja yang mengikuti mereka dalam hal tersebut sampai hari kiamat.
Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan Sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan As Sunnah. Jangan sampai menjadi seperti yang digambarkan dalam sebuah syair,
وَكُلٌّ يَدَّعِي وَصْلًا بِلَيْلَى وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا
"Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila,
tetapi Laila tidak pernah mengakui hal itu."
Maknanya, sebatas pengakuan tidaklah ada artinya apabila dirinya jauh dari kenyataan.
Allah Ta’ala berfirman :
ذٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۙ وَهُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدٰى
”Itulah kadar ilmu mereka. Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An Najm : 30).
Wal Allahu a'lam.
Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sudah sering kita dengar. Banyak orang, kelompok atau firqoh (jam'iyyah/hizbiyyah) yang mengaku berada di atas pemahaman/manhaj Ahlus Sunnah. Sebuah pengakuan-pengakuan tanpa hujjah dan burhan. Masing-masing merasa dirinya di atas kebenaran, sedangkan kelompok lain adalah menyimpang.
☆ Makna Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Kata “Ahlus Sunnah” terdiri dari dua suku kata yaitu "Ahlu" dan kata "As Sunnah". Ahlu yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan. As Sunnah adalah apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang bathin, kemudian dilakukan oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat.
Ibnu Rojab al-Hambali rahimahullah berkata :
وَالسُّنَّةُ: هِيَ الطَّرِيقَةُ الْمَسْلُوكَةُ، فَيَشْمَلُ ذَلِكَ التَّمَسُّكَ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ هُوَ وَخُلَفَاؤُهُ الرَّاشِدُونَ مِنَ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ، وَهَذِهِ هِيَ السُّنَّةُ الْكَامِلَةُ
“As-Sunnah adalah jalan yang diikuti; dan itu meliputi berpegang teguh dengan apa yang menjadi keyakinan, perkataan dan amalan, baik dari Rosuulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, maupun para Al-Khulafa’ ar-Rosyidun. Inilah As Sunnah yang sempurna.” (lihat Jami’ul Ulum wal Hikam, 2/120, Ibnu Rojab al-Hambali wafat 795 H).
Dengan demikian definisi Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan sunnah para shahabatnya. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum. Sebagaimana Imam Ibnul Jauzi berkata,” Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (Sunnah) Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” (Lihat Talbisul Iblis hal.16)
Sedangkan kata ”Al Jama’ah” artinya bersama atau berkumpul. Dinamakan demikian karena mereka bersama dan berkumpul dalam kebenaran, mengamalkannya dan mereka tidak mengambil teladan kecuali dari para sahabat, Tabi'in dan para ulama yang mengamalkan As Sunnah sampai hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al Jama’ah.” (HR. Abu Daud 4597, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)
Rasulullah ﷺ juga bersabda :
عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .ن سرته حسنته وساءته سيئته فذلكم المؤمن
“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkan kekelompokan. Karena syaithan itu bersama orang yang bersendirian dan syaithan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min.” (HR. Tirmidzi no.2165, ia berkata: “Hasan shahih gharib dengan sanad ini”)
Dan ketahuilah tolok ukur "Al Jama'ah" itu bukan banyaknya jumlah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu :
اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
“Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan al haq (kebenaran) walaupun engkau sendirian.” Dalam riwayat lain:
وَيحك أَن جُمْهُور النَّاس فارقوا الْجَمَاعَة وَأَن الْجَمَاعَة مَا وَافق طَاعَة الله تَعَالَى
“Ketahuilah, sesungguhnya kebanyakan manusia telah keluar dari Al Jama’ah. Dan Al Jama’ah itu adalah yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala.” (lihat Ighatsatul Lahfan Min Mashayid Asy Syaithan, 1/70)
Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, dan dalam memahami dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ tersebut mereka meneladani praktek dan pemahaman para sahabat, tabi’in dan orang yang mengikuti mereka. Dan makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ tentang satu golongan yang selamat :
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَاب
”yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para shahabatku.”
☆ Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Penamaan istilah Ahlus Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi Shahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in.
‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala :
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
“Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.’” (QS. Ali ‘Imran : 106).
وقوله تعالى : { يوم تبيض وجوه وتسود وجوه } يعني : يوم القيامة ، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة ، وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة ، قاله ابن عباس ، رضي الله عنهما .
{ فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم } قال الحسن البصري : وهم المنافقون : { فذوقوا العذاب بما كنتم تكفرون } وهذا الوصف يعم كل كافر .
“Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan furqoh (perpecahan). Demikianlah menurut tafsir Ibnu Abbas radhiyaallahu 'anhuma.
Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), "Mengapa kalian kafir sesudah kalian beriman?"
Menurut Al-Hasan Al-Basri, mereka adalah orang-orang munafik. "Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiran kalian itu." Dan gambaran ini bersifat umum menyangkut semua orang kafir.
.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir). Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh para ulama generasi Tabi'in dan setelahnya.
Imam Malik rohimahullooh berkata, saat ditanya siapa mereka “Ahlus Sunnah” itu:
الذين ليس لهم لقب يعرفون به، لا جهمي ولا رافضي ولا قدري
“Mereka yang tidak memiliki julukan yang dikenal; mereka bukan Jahmy (pengikut firqoh Jahmiyyah), bukan Rofidzy (pengikut firqoh Rofidhoh), bukan pula Qodary (pengikut firqoh Qodariyyah).” (Al-Qodhi ‘Iyadh [wafat 544 H], Tartibul Madarik wa Taqribil Masali, 2/41)
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (hidup th 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, As-Sunnah: “Inilah madzhab ahlul ‘ilmi, ash-haabul atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya, dari semenjak zaman para Sahabat Radhiyallahu anhum hingga pada masa sekarang ini…”
☆ Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Yang Sejati?
Dalam hadits Iftiraaqul-Ummah disebutkan :
تفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة، كلهم في النار إلا ملة واحدة». قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: «ما أنا عليه وأصحابي
“Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga golonan. Semuanya masuk neraka kecuali satu”. Mereka (para shahabat) bertanya : “Siapakah ia wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Apa-apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya”.
Hadits di atas diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2641) dan berkata :
هذا حديث حسن غريب مفسر لا نعرفه مثل هذا إلا هذا الوجه.
“Ini adalah hadits hasan ghariib mufassar (yang dijelaskan. Kami tidak mengetahui hadits yang seperti ini kecuali dari sisi ini”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari para ulama Ahli Ijtihad dan Ahli Hadits yang berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah dan siapa saja yang mengikuti mereka dalam hal tersebut sampai hari kiamat.
Ahlus Sunnah yang sejati tidak sibuk dengan label dan pengakuan, serta benci dengan semangat kekelompokkan. Sebagaimana perkataan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah tentang Ahlus Sunnah: ”Sesuatu yang tidak mempunyai nama kecuali Ahlus Sunnah” (Lihat Madarijus Salikin III/174). Bahkan seorang Ahlus Sunnah menyibukkan diri dengan menerapkan Sunnah dalam setiap aspek kehidupannya. Dan tidak ada gunanya seseorang mengaku-ngaku Ahlus Sunnah, sementara ia sibuk dengan melakukan bid’ah dan hal-hal yang bertentangan dengan As Sunnah. Jangan sampai menjadi seperti yang digambarkan dalam sebuah syair,
وَكُلٌّ يَدَّعِي وَصْلًا بِلَيْلَى وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا
"Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila,
tetapi Laila tidak pernah mengakui hal itu."
Maknanya, sebatas pengakuan tidaklah ada artinya apabila dirinya jauh dari kenyataan.
Allah Ta’ala berfirman :
ذٰلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۙ وَهُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدٰى
”Itulah kadar ilmu mereka. Sesungguhnya Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia juga lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An Najm : 30).
Wal Allahu a'lam.
Rabu, 08 Februari 2023
Mimpi Bertemu Nabi ﷺ
Mimpi Bertemu Nabi ﷺ
Mimpi bertemu Nabi ﷺ adalah suatu hal yang mungkin terjadi dan bisa dialami oleh seseorang sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahîh.
وَعَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ رَآنِي فِي المنَامِ فَسَيَرَانيِ فِي الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رَآنِي فِي اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي”. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang melihatku dalam tidurnya, maka ia akan melihatku dalam sadarnya—atau seolah ia melihatku dalam sadarnya—karena syaithan tidak bisa menyerupaiku.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 6993 dan Muslim, no. 2266).
Ada beberapa catatan penting terkait mimpi bertemu Nabi ﷺ :
☆ Pertama, bahwa seseorang mungkin untuk mimpi bertemu Nabi ﷺ. Karena syaithan tidak mampu meniru wajah beliau ﷺ dan menampakkan diri dalam mimpi dalam rupa beliau ﷺ.
Sebagaimana dinyatakan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda :
من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتخيل بي
“Siapa yang melihatku dalam mimpi, dia benar-benar melihatku. Karena setan tidak mampu meniru rupa diriku.” (HR. Bukahri dan Muslim)
Hanya saja, penting untuk dicatat di sini, yang tidak mampu dilakukan syaithan adalah menyerupai wajah Nabi ﷺ yang sebenarnya. Adapun menampakkan diri dengan wajah yang lain, bisa dilakukan oleh syaithan. Kemudian dia mengaku sebagai nabi atau orang yang melihatnya mengira bahwa dia nabi, padahal sejatinya syaithan.
☆ Kedua, ketika seseorang melihat wajah cerah, rupawan, baju putih, dan manusia dengan ciri mengagumkan lainnya, maka bukan jaminan bahwa itu pasti Nabi ﷺ. Karena yang dimaksud mimpi melihat Nabi ﷺ adalah melihat beliau persis sebagaimana ciri fisik dan wajah beliau. Karena itu, jika ada orang yang merasa melihat Nabi ﷺ dalam mimpi, perlu dicocokkan dengan ciri fisik dan wajah beliau ﷺ, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dan keterangan para shahabat.
Imam Bukhari menyebutkan keterangan Ibnu Sirin rahimahullah, ketika mengomentari hadits tentang mimpi melihat Nabi ﷺ, Ibnu Sirin mengatakan:
إذا رآه في صورته
“Apabila dia benar-benar melihat wajah Nabi ﷺ.” (Shahih Bukhari, setelah hadis no. 6592)
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan : “Diriwayatkan dari Ayyub, beliau menceritakan: “Jika ada orang yang bercerita kepada Muhammad bin Sirrin bahwa dirinya mimpi bertemu Nabi ﷺ, maka Ibnu Sirrin meminta kepada orang ini untuk menceritakan ciri orang yang dia lihat dalam mimpi itu. Jika orang ini menyampaikan ciri-ciri fisik yang tidak beliau kenal, beliau mengatakan: “Kamu tidak melihat Nabi ﷺ.” Ibnu Hajar menyatakan: “Sanad riwayat ini shahih.
Kemudian beliau membawakan riwayat yang lain, bahwa Kulaib (seorang Tabi’in) pernah berkata kepada Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma: “Aku melihat Nabi ﷺ dalam mimpi.” Ibnu Abbas berkata: “Ceritakan kepadaku (orang yang kamu lihat).” Kulaib mengatakan: “Saya teringat Hasan bin Ali bin Abi Thalib, kemudian saya sampaikan, beliau mirip Hasan bin Ali.” Lalu Ibnu Abbas menegaskan: “Berarti, kamu memang melihat Nabi ﷺ. Sanadnya jayyid. (lihat Fathul Bari, 12:383 – 384)
☆ Ketiga, bagaimana cara agar bisa mengenal ciri fisik Nabi ﷺ ?
Untuk bisa mengetahui ciri fisik Nabi ﷺ dengan membaca hadits-hadits dan keterangan para shahabat yang menceritakan ciri-ciri fisik Nabi ﷺ. Sebagaimana yang kita pahami, tidak ada manusia yang catatan sejarahnya paling lengkap melebihi sejarah Rasulullah ﷺ. Dan ini bagian dari jasa besar para shahabat yang menceritakan segala sesuatu terkait beliau ﷺ. Bahkan sampai bentuk rambut, gerakan jenggot, perkiraan jumlah uban, tinggi badan, postur tubuh, cara jalan, dan seterusnya. (Bisa dilihat di kitab Asy-Syamail seperti Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi).
☆ Keempat, jika ciri-ciri sifat fisiknya tidak sesuai maka para Ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian Ulama berpendapat bahwa makna mimpinya perlu ditakwilkan. Hal itu pertanda tentang kekurangan yang terdapat pada diri orang yang bermimpi tersebut dalam hal beragama. Atau sebagai pertanda terjadinya kerusakan dalam kehidupan beragama di tengah-tengah masyarakat. Sebagian Ulama lain berpendapat bahwa ia tidak melihat Rasulullah ﷺ karena ciri-ciri sifat fisiknya tidak sesuai dengan ciri-ciri sifat fisik Rasulullah ﷺ. Tetapi syaithan berupaya menipunya dalam mimpi tersebut dengan cara mengaku sebagai Nabi ﷺ , sekalipun syaithan tersebut tidak mampu menyerupai ciri-ciri sifat fisik Nabi ﷺ. Oleh sebab itu, sebagian para Sahabat dan tabi'in jika ada seseorang mengaku mimpi bertemu Nabi ﷺ mempertanyakan ciri-ciri sifat fisiknya. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Sirîn dalam ungkapan beliau : “Apabila ia melihatnya dalam bentuk rupa Rasulullah ﷺ yang sebenarnya”.
Ibnu Sirin, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani memberi rumusan:
إذا قص عليه رجل أنه رأى النبي صلى الله عليه و سلم قال صف لي الذي رأيته فان وصف له صفة لا يعرفها قال لم تره
“Jika seseorang berkata kepada Ibnu Sirrin bahwa ia telah mimpi melihat Nabi Muhammad ﷺ, maka ia akan bertanya kepadanya: “Jelaskanlah sifat orang yang kamu lihat (mimpikan) itu kepadaku. Maka jika orang yang bermimpi tersebut mengisahkan kepadanya denga sifat yang tidak diketahui oleh Ibnu Sirin, maka Ibnu Sirin berkata: “Kamu tidak melihat Nabi ﷺ dalam mimpimu.” Hal seperti inilah yang dilakukan oleh ahli tafsir mimpi. Wa Allahu a'lam.
Makna Hadits Nabi "مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ"
عَنْ أبي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ إِذَا رَآهُ فِي صُورَتِهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata: “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga. Dan syaithan tidak mampu menyerupaiku”. (HR. Al Bukhari). Abu Abdillah (Imam Bukhari) setelah menyebutkan hadits ini berkata: “Ibnu Sirin berkata: “Apabila ia melihatnya dalam bentuk rupa yang sebenarnya.””
Para Ulama menerangkan maksud dari hadits فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ dengan beberapa penjelasan.
Berkata Ibnul-Jauzi rahimahullah: “Ini adalah bagaikan kabar gembira bagi orang yang melihatnya, bahwa dia akan berjumpa Nabi ﷺ pada Hari Kiamat.” (Lihat Kasyful al-Musykil 1/912)..
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Dalam menjelaskan maksud hadis tersebut ada beberapa pendapat:
Menurut al-Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud lafazh فسيراني في اليقظة mengandung tiga pengertian, yaitu:
☆ Pertama: Yang dimaksud adalah bagi orang yang hidup pada masanya (zaman Nabi). Artinya, barang siapa yang melihatnya dalam mimpi, sedangkan ia belum berhijrah; maka Allah memberi taufik kepadanya untuk berhijrah dan bertemu melihat Nabi ﷺ dengan nyata dalam keadaan terjaga.
☆ Kedua: Dia akan melihat kenyataan mimpinya tersebut dalam keadaan terjaga pada Hari Kiamat, karena semua umatnya akan melihatnya pada Hari Kiamat.
☆ Ketiga: Dia akan melihat Nabi ﷺ pada hari Akhirat secara khusus dalam keadaan dekat dan mendapat syafaatnya atau yang semisalnya” (Lihat Syarah Imam Nawawi:15/26).
Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menukil penafsiran terhadap hadits mimpi bertemu Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari ada enam pendapat, yaitu:
1. Hadist tersebut harus dipahami secara perumpamaan (tasybih), karena diperkuat dengan riwayat lain yang redaksi lafazhnya menunjukkan arti perumpamaan (لَكَأَنَّمَا).
2. Orang yang mimpi bertemu Rasulullah ﷺ akan melihat kebenaran, baik secara nyata maupun hanya ta’bir saja.
3. Hadist tersebut dikhususkan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah ﷺ dan bagi orang yang beriman kepada Rasulullah ﷺ yang belum sempat melihatnya.
4. Bahwa orang mimpi tersebut akan melihat Rasulullah ﷺ, seperti ketika bercermin, namun hal tersebut sangat mustahil.
5. Maknanya bahwa ia akan melihat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat dan tidak dikhususkan bagi mereka yang telah mimpi bertemu dengan Rasulullah ﷺ saja.
6. Orang yang mimpi melihat Rasulullah ﷺ, ia akan melihatnya secara nyata. Namun pendapat ini masih diperdebatkan.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ia benar-benar akan berjumpa dalam keadaan terjaga waktu di dunia ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah pendapat yang sangat batil lagi sesat. Pendapat ini ditolak dan dibantah dengan tegas oleh para Ulama Ahlus Sunnah.
Imam al-Qurthûbi rahimahullah berkata: “Dalam makna hadits ini terdapat perbedaan; sebagian berpendapat sebagaimana lahirnya, yaitu barangsiapa yang melihat dalam mimpi, maka ia telah melihat secara hakiki sama seperti orang melihatnya di waktu terjaga. Pendapat ini dapat diketahui kekeliruannya dengan dalil akal yang mengharuskan:
◇ Bahwa, tidak seorang pun yang melihatnya melainkan dalam bentuk saat beliau meninggal.
◇ Tidak mungkin ada dua orang yang mimpi melihatnya dalam waktu yang sama dalam dua tempat.
◇ Bahwa ia hidup keluar dari kuburnya dan berjalan di pasar serta berbicara dengan manusia.
◇ Bahwa kuburnya kosong dari jasadnya, sehingga tidak tertinggal sesuatu dalamnya, maka yang diziarahi hanya kubur semata (tanpa jasad) dan memberi salam kepada sesuatu tidak ada.
Karena ia bisa dilihat di sepanjang waktu; pagi dan sore secara hakiki di luar kuburnya. Pendapat ini adalah kebodohan, tidak akan berpegang dengannya siapa saja yang memiliki sedikit akal sehat”. (lihat Fathul Bari 12/384).
Wa Allahu a'lam.
Mimpi bertemu Nabi ﷺ adalah suatu hal yang mungkin terjadi dan bisa dialami oleh seseorang sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahîh.
وَعَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ رَآنِي فِي المنَامِ فَسَيَرَانيِ فِي الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رَآنِي فِي اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي”. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang melihatku dalam tidurnya, maka ia akan melihatku dalam sadarnya—atau seolah ia melihatku dalam sadarnya—karena syaithan tidak bisa menyerupaiku.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 6993 dan Muslim, no. 2266).
Ada beberapa catatan penting terkait mimpi bertemu Nabi ﷺ :
☆ Pertama, bahwa seseorang mungkin untuk mimpi bertemu Nabi ﷺ. Karena syaithan tidak mampu meniru wajah beliau ﷺ dan menampakkan diri dalam mimpi dalam rupa beliau ﷺ.
Sebagaimana dinyatakan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda :
من رآني في المنام فقد رآني فإن الشيطان لا يتخيل بي
“Siapa yang melihatku dalam mimpi, dia benar-benar melihatku. Karena setan tidak mampu meniru rupa diriku.” (HR. Bukahri dan Muslim)
Hanya saja, penting untuk dicatat di sini, yang tidak mampu dilakukan syaithan adalah menyerupai wajah Nabi ﷺ yang sebenarnya. Adapun menampakkan diri dengan wajah yang lain, bisa dilakukan oleh syaithan. Kemudian dia mengaku sebagai nabi atau orang yang melihatnya mengira bahwa dia nabi, padahal sejatinya syaithan.
☆ Kedua, ketika seseorang melihat wajah cerah, rupawan, baju putih, dan manusia dengan ciri mengagumkan lainnya, maka bukan jaminan bahwa itu pasti Nabi ﷺ. Karena yang dimaksud mimpi melihat Nabi ﷺ adalah melihat beliau persis sebagaimana ciri fisik dan wajah beliau. Karena itu, jika ada orang yang merasa melihat Nabi ﷺ dalam mimpi, perlu dicocokkan dengan ciri fisik dan wajah beliau ﷺ, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dan keterangan para shahabat.
Imam Bukhari menyebutkan keterangan Ibnu Sirin rahimahullah, ketika mengomentari hadits tentang mimpi melihat Nabi ﷺ, Ibnu Sirin mengatakan:
إذا رآه في صورته
“Apabila dia benar-benar melihat wajah Nabi ﷺ.” (Shahih Bukhari, setelah hadis no. 6592)
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan : “Diriwayatkan dari Ayyub, beliau menceritakan: “Jika ada orang yang bercerita kepada Muhammad bin Sirrin bahwa dirinya mimpi bertemu Nabi ﷺ, maka Ibnu Sirrin meminta kepada orang ini untuk menceritakan ciri orang yang dia lihat dalam mimpi itu. Jika orang ini menyampaikan ciri-ciri fisik yang tidak beliau kenal, beliau mengatakan: “Kamu tidak melihat Nabi ﷺ.” Ibnu Hajar menyatakan: “Sanad riwayat ini shahih.
Kemudian beliau membawakan riwayat yang lain, bahwa Kulaib (seorang Tabi’in) pernah berkata kepada Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma: “Aku melihat Nabi ﷺ dalam mimpi.” Ibnu Abbas berkata: “Ceritakan kepadaku (orang yang kamu lihat).” Kulaib mengatakan: “Saya teringat Hasan bin Ali bin Abi Thalib, kemudian saya sampaikan, beliau mirip Hasan bin Ali.” Lalu Ibnu Abbas menegaskan: “Berarti, kamu memang melihat Nabi ﷺ. Sanadnya jayyid. (lihat Fathul Bari, 12:383 – 384)
☆ Ketiga, bagaimana cara agar bisa mengenal ciri fisik Nabi ﷺ ?
Untuk bisa mengetahui ciri fisik Nabi ﷺ dengan membaca hadits-hadits dan keterangan para shahabat yang menceritakan ciri-ciri fisik Nabi ﷺ. Sebagaimana yang kita pahami, tidak ada manusia yang catatan sejarahnya paling lengkap melebihi sejarah Rasulullah ﷺ. Dan ini bagian dari jasa besar para shahabat yang menceritakan segala sesuatu terkait beliau ﷺ. Bahkan sampai bentuk rambut, gerakan jenggot, perkiraan jumlah uban, tinggi badan, postur tubuh, cara jalan, dan seterusnya. (Bisa dilihat di kitab Asy-Syamail seperti Kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah karya Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi).
☆ Keempat, jika ciri-ciri sifat fisiknya tidak sesuai maka para Ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian Ulama berpendapat bahwa makna mimpinya perlu ditakwilkan. Hal itu pertanda tentang kekurangan yang terdapat pada diri orang yang bermimpi tersebut dalam hal beragama. Atau sebagai pertanda terjadinya kerusakan dalam kehidupan beragama di tengah-tengah masyarakat. Sebagian Ulama lain berpendapat bahwa ia tidak melihat Rasulullah ﷺ karena ciri-ciri sifat fisiknya tidak sesuai dengan ciri-ciri sifat fisik Rasulullah ﷺ. Tetapi syaithan berupaya menipunya dalam mimpi tersebut dengan cara mengaku sebagai Nabi ﷺ , sekalipun syaithan tersebut tidak mampu menyerupai ciri-ciri sifat fisik Nabi ﷺ. Oleh sebab itu, sebagian para Sahabat dan tabi'in jika ada seseorang mengaku mimpi bertemu Nabi ﷺ mempertanyakan ciri-ciri sifat fisiknya. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Sirîn dalam ungkapan beliau : “Apabila ia melihatnya dalam bentuk rupa Rasulullah ﷺ yang sebenarnya”.
Ibnu Sirin, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani memberi rumusan:
إذا قص عليه رجل أنه رأى النبي صلى الله عليه و سلم قال صف لي الذي رأيته فان وصف له صفة لا يعرفها قال لم تره
“Jika seseorang berkata kepada Ibnu Sirrin bahwa ia telah mimpi melihat Nabi Muhammad ﷺ, maka ia akan bertanya kepadanya: “Jelaskanlah sifat orang yang kamu lihat (mimpikan) itu kepadaku. Maka jika orang yang bermimpi tersebut mengisahkan kepadanya denga sifat yang tidak diketahui oleh Ibnu Sirin, maka Ibnu Sirin berkata: “Kamu tidak melihat Nabi ﷺ dalam mimpimu.” Hal seperti inilah yang dilakukan oleh ahli tafsir mimpi. Wa Allahu a'lam.
Makna Hadits Nabi "مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ"
عَنْ أبي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ إِذَا رَآهُ فِي صُورَتِهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata: “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan terjaga. Dan syaithan tidak mampu menyerupaiku”. (HR. Al Bukhari). Abu Abdillah (Imam Bukhari) setelah menyebutkan hadits ini berkata: “Ibnu Sirin berkata: “Apabila ia melihatnya dalam bentuk rupa yang sebenarnya.””
Para Ulama menerangkan maksud dari hadits فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ dengan beberapa penjelasan.
Berkata Ibnul-Jauzi rahimahullah: “Ini adalah bagaikan kabar gembira bagi orang yang melihatnya, bahwa dia akan berjumpa Nabi ﷺ pada Hari Kiamat.” (Lihat Kasyful al-Musykil 1/912)..
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Dalam menjelaskan maksud hadis tersebut ada beberapa pendapat:
Menurut al-Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud lafazh فسيراني في اليقظة mengandung tiga pengertian, yaitu:
☆ Pertama: Yang dimaksud adalah bagi orang yang hidup pada masanya (zaman Nabi). Artinya, barang siapa yang melihatnya dalam mimpi, sedangkan ia belum berhijrah; maka Allah memberi taufik kepadanya untuk berhijrah dan bertemu melihat Nabi ﷺ dengan nyata dalam keadaan terjaga.
☆ Kedua: Dia akan melihat kenyataan mimpinya tersebut dalam keadaan terjaga pada Hari Kiamat, karena semua umatnya akan melihatnya pada Hari Kiamat.
☆ Ketiga: Dia akan melihat Nabi ﷺ pada hari Akhirat secara khusus dalam keadaan dekat dan mendapat syafaatnya atau yang semisalnya” (Lihat Syarah Imam Nawawi:15/26).
Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menukil penafsiran terhadap hadits mimpi bertemu Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari ada enam pendapat, yaitu:
1. Hadist tersebut harus dipahami secara perumpamaan (tasybih), karena diperkuat dengan riwayat lain yang redaksi lafazhnya menunjukkan arti perumpamaan (لَكَأَنَّمَا).
2. Orang yang mimpi bertemu Rasulullah ﷺ akan melihat kebenaran, baik secara nyata maupun hanya ta’bir saja.
3. Hadist tersebut dikhususkan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah ﷺ dan bagi orang yang beriman kepada Rasulullah ﷺ yang belum sempat melihatnya.
4. Bahwa orang mimpi tersebut akan melihat Rasulullah ﷺ, seperti ketika bercermin, namun hal tersebut sangat mustahil.
5. Maknanya bahwa ia akan melihat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat dan tidak dikhususkan bagi mereka yang telah mimpi bertemu dengan Rasulullah ﷺ saja.
6. Orang yang mimpi melihat Rasulullah ﷺ, ia akan melihatnya secara nyata. Namun pendapat ini masih diperdebatkan.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ia benar-benar akan berjumpa dalam keadaan terjaga waktu di dunia ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah pendapat yang sangat batil lagi sesat. Pendapat ini ditolak dan dibantah dengan tegas oleh para Ulama Ahlus Sunnah.
Imam al-Qurthûbi rahimahullah berkata: “Dalam makna hadits ini terdapat perbedaan; sebagian berpendapat sebagaimana lahirnya, yaitu barangsiapa yang melihat dalam mimpi, maka ia telah melihat secara hakiki sama seperti orang melihatnya di waktu terjaga. Pendapat ini dapat diketahui kekeliruannya dengan dalil akal yang mengharuskan:
◇ Bahwa, tidak seorang pun yang melihatnya melainkan dalam bentuk saat beliau meninggal.
◇ Tidak mungkin ada dua orang yang mimpi melihatnya dalam waktu yang sama dalam dua tempat.
◇ Bahwa ia hidup keluar dari kuburnya dan berjalan di pasar serta berbicara dengan manusia.
◇ Bahwa kuburnya kosong dari jasadnya, sehingga tidak tertinggal sesuatu dalamnya, maka yang diziarahi hanya kubur semata (tanpa jasad) dan memberi salam kepada sesuatu tidak ada.
Karena ia bisa dilihat di sepanjang waktu; pagi dan sore secara hakiki di luar kuburnya. Pendapat ini adalah kebodohan, tidak akan berpegang dengannya siapa saja yang memiliki sedikit akal sehat”. (lihat Fathul Bari 12/384).
Wa Allahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)


















































