Kebenaran Dan Fakta Dari Para Pecinta Dunia
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
مُحِبُّ الدُّنْيَا لَا يَنْفَكُّ مِنْ ثَلَاثٍ : هَمٌّ لَازِمٌ ، وَتَعَبٌ دَائِمٌ ، وَحَسْرَةٌ لَا تَنْقَضِى.
(إغاثة اللهفان في مصايد الشيطان 1/ 58 – 60 ط عطاءات العلم)
https://www.ibnalqayem.net/articles/799
"Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal :
(1) kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus;
(2) kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan;
(3) dan penyesalan yang tidak pernah berhenti."(lihat Ighatsatul Lahafan I/58)
Allah Ta'ala berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali Neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud : 15-16)
Rasulullah ﷺ bersabda :
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ جَمَعَ اللهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَـتْهُ الدُّنْـيَا وَهِـيَ رَاغِمَـةٌ
"Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina." (Shahih: HR. Ibnu Majah no. 4105; Ahmad V/183; Ibnu Hibban ; dan al-Baihaqi VII/288 dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'anhu.)
Rasulullah ﷺ bersabda :
مَاذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
"Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya." (Shahih: HR. At Tirmidzi, no. 2376; Ahmad, III/456, 460; ad-Darimi, II/304; Ibnu Hibban, no. 3218–At-Ta’liqatul Hisan; ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, XIX/96, no. 189; dan lainnya. Hadits ini dinilai shahih oleh at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan lainnya.)
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk zuhud terhadap dunia, tidak tamak kepada dunia, tidak panjang angan-angan, tidak mengharapkan sesuatu pada apa yang ada di tangan manusia, qana’ah, serta merasa cukup dan puas dengan apa yang Allah berikan yang dapat kita gunakan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.
Jumat, 30 Juni 2023
Kebenaran Dan Fakta Dari Para Pecinta Dunia
Kamis, 29 Juni 2023
Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 201
Allah Ta’ala berfirman :
{وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}(البقرة : 201)
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah : 201)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
وَكَانَ يَجِيءُ بَعَدَهُمْ آخَرُونَ [مِنَ الْمُؤْمِنِينَ](٨) فَيَقُولُونَ: ﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾ وَلِهَذَا مَدَحَ مَنْ يَسْأَلُهُ لِلدُّنْيَا وَالْأُخْرَى، فَقَالَ: ﴿وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ فَجَمَعَتْ هَذِهِ الدعوةُ كلَّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا، وصرَفت كُلَّ شَرٍّ فَإِنَّ الْحَسَنَةَ فِي الدُّنْيَا تشملُ كُلَّ مَطْلُوبٍ دُنْيَوِيٍّ، مِنْ عَافِيَةٍ، وَدَارٍ رَحْبَةٍ، وَزَوْجَةٍ حَسَنَةٍ، وَرِزْقٍ وَاسِعٍ، وَعِلْمٍ نَافِعٍ، وَعَمَلٍ صَالِحٍ، وَمَرْكَبٍ هَنِيءٍ، وَثَنَاءٍ جَمِيلٍ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ عباراتُ الْمُفَسِّرِينَ، وَلَا مُنَافَاةَ بَيْنَهَا، فَإِنَّهَا كُلَّهَا مُنْدَرِجَةٌ فِي الْحَسَنَةِ فِي الدُّنْيَا. وَأَمَّا الْحَسَنَةُ فِي الْآخِرَةِ فَأَعْلَى ذَلِكَ دُخُولُ الْجَنَّةِ وَتَوَابِعُهُ مِنَ الْأَمْنِ(٩) مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ فِي العَرَصات، وَتَيْسِيرِ الْحِسَابِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أُمُورِ الْآخِرَةِ الصَالِحٍةِ، وَأَمَّا النَّجَاةُ مِنَ النَّارِ فَهُوَ يَقْتَضِي تَيْسِيرَ أَسْبَابِهِ فِي الدُّنْيَا، مِنَ اجْتِنَابِ الْمَحَارِمِ وَالْآثَامِ وَتَرْكِ الشُّبَهَاتِ وَالْحَرَامِ(١٠) .
وَقَالَ الْقَاسِمُ بْنُ(١١) عَبْدِ الرَّحْمَنِ: مَنْ أُعْطِيَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَجَسَدًا صَابِرًا، فَقَدْ أُوتِيَ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَوُقِيَ عَذَابَ النَّارِ.
وَلِهَذَا وَرَدَتِ السُّنَّةُ بِالتَّرْغِيبِ فِي هَذَا الدُّعَاءِ. فَقَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: "اللَّهم ربَّنا، آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ"(١٢) .
وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ، عَنْ أَنَسٍ(١٣) قَالَ: كَانَ أَكْثَرُ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ [يَقُولُ](١٤) : "اللَّهُمَّ ربَّنا، آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وقنا عذاب النار"(١٥) .
[وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ](١٦) .
وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ شَدَّادٍ -يَعْنِي أَبَا طَالُوتَ -قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، فَقَالَ لَهُ ثَابِتٌ: إِنَّ إِخْوَانَكَ يُحِبُّونَ أَنْ تَدْعُوَ لَهُمْ. فَقَالَ: اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَتَحَدَّثُوا سَاعَةً حَتَّى إِذَا أَرَادُوا الْقِيَامَ، قَالَ(١٧) : يَا أَبَا حَمْزَةَ، إِنَّ إِخْوَانَكَ يُرِيدُونَ الْقِيَامَ فَادْعُ لَهُمْ فَقَالَ: تُرِيدُونَ أَنْ أشَققَ لَكُمُ الْأُمُورَ، إِذَا آتَاكُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَوَقَاكُمْ عَذَابَ النَّارِ فَقَدْ آتَاكُمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ.
"Lain halnya dengan orang-orang yang datang sesudah mereka dari kalangan kaum mukmin. Maka doa mereka ialah seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab Neraka." (QS. Al-Baqarah: 201). Maka Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan mereka itu, yaitu:
{أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ}
"Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat hisab(perhitungan)-Nya." (QS. Al-Baqarah: 202)
Karena itulah Allah memuji mereka yang meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat melalui firman-Nya: Dan di antara mereka ada orang yang mendoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab Neraka." (QS. Al-Baqarah: 201)
Doa ini mencakup semua kebaikan di dunia dan memalingkan semua keburukan, karena sesungguhnya kebaikan di dunia itu mencakup semua yang didambakan dalam kehidupan dunia, seperti kesehatan, rumah yang luas, istri yang cantik, rezeki yang berlimpah, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang mudah, dan sebutan yang baik serta lain-lainnya; semuanya itu tercakup di dalam ungkapan mufassirin. Semua hal yang kami sebutkan tadi termasuk ke dalam pengertian kebaikan di dunia.
Adapun mengenai kebaikan di akhirat, yang paling tinggi ialah masuk surga dan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti aman dari rasa takut yang amat besar di padang mahsyar, dapat kemudahan dalam hisab, dan lain sebagainya.
Bagi orang yang menghendaki keselamatan, dituntut mengerjakan hal-hal yang membawa dirinya ke jalan keselamatan itu, misalnya menjauhi hal-hal yang diharamkan, perbuatan-perbuatan yang berdosa, serta meninggalkan hal-hal yang syubhat dan yang diharamkan.
Sehubungan dengan hal ini Abul Qasim Abu Abdur Rahman pernah mengatakan, "Barang siapa yang dianugerahi hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, dan tubuh yang sabar, maka sesungguhnya dia telah dianugerahi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta dipelihara dari adzab Neraka."
Karena itulah maka banyak anjuran di dalam sunnah yang memerintahkan membaca doa ini.
فَقَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "اللَّهم ربَّنا، آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ"
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, dari Abdul Aziz, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ acapkali mengucapkan doa berikut: "Ya Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab Neraka."
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ أَكْثَرُ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [يَقُولُ] : "اللَّهُمَّ ربَّنا، آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وقنا عذاب النار"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Shuhaib yang menceritakan bahwa Qatadah pernah bertanya kepada Anas suatu doa yang paling banyak dibaca oleh Nabi ﷺ. Maka Anas menjawab bahwa Nabi ﷺ acapkali membaca doa berikut, yaitu: "Ya Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab Neraka."
Anas radhiyaallahu 'anhu apabila hendak mengucapkan suatu doa, ia pasti membaca doa ini; atau bila dia hendak mengucapkan suatu doa, maka ia mengikutkan doa ini di dalamnya. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Syaddad (yakni Abu Thalut), bahwa ia pernah berada di rumah Anas ibnu Malik, lalu Tsabit berkata kepadanya, "Sesungguhnya saudara-saudaramu menginginkan agar engkau berdoa untuk mereka." Maka Anas radhiyaallahu 'anhu membaca doa berikut: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari adzab Neraka. Lalu mereka mengobrol selama sesaat; dan ketika mereka hendak bubar dari rumah sahabat Anas, mereka berkata, "Wahai Abu Hamzah, sesungguhnya saudara-saudaramu hendak bubar, maka doakanlah kepada Allah buat mereka." Shahabat Anas menjawab, "Apakah kalian menghendaki agar aku memecah-belah semua urusan kalian? Apabila Allah memberi kalian kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta Allah memelihara diri kalian dari siksa neraka, berarti kalian telah diberi semua kebaikan."
(lihat Tafsir ibnu Katsir QS. Al Baqarah : 201)
Rabu, 28 Juni 2023
Sunnah Memperbanyak Dzikir Dan Doa Di Hari Tasyriq
Hari Tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah) adalah hari yang memiliki kemuliaan. Rasulullah ﷺ bersabda :
ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻷَﻳَّﺎﻡِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟﻨَّﺤْﺮِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻘَﺮِّ
“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qarr (hari tasyriq)” (HR. Abu Daud no. 1765, dishahihkan oleh Al-Albani).
Rasulullah ﷺ juga bersabda :
ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻛﻞ ﻭﺷﺮﺏ ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ
“Hari Tasyriq adalah hari makan, minum dan dzikr mengingat Allah.” (HR. Muslim)
Pada hari Tasyriq kita dianjurkan banyak bersyukur dan berdzikir mengingat Allah. Allah berfirman :
ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓِﻲ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻣَﻌْﺪُﻭﺩَﺍﺕٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang (hari tasyriq).” (QS. Al Baqarah: 203).
Ada doa yang yang dianjurkan untuk banyak di baca pada hari tasyriq. Ini berdasarkan firman Allah :
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ, وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar”. (Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)” (QS. Al Baqarah: 200-201).
قال عكرمة: كان يستحب أن يقال في أيام التشريق: {رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} [البقرة: ٢٠١] (ابن رجب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف)
https://shamela.ws/book/11363/298
Ikrimah berkata : “Disunnahkan membaca doa pada hari tasyriq: “Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)”. (QS. Al Baqarah : 201)
Secara umum doa ini adalah doa yang memiliki banyak keutamaan dan merupakan doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meminta kebaikan dunia dan akhirat. Anas bin Malik mengatakan :
ﻛَﺎﻥَ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺩُﻋَﺎﺀِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺁﺗِﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ، ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Do’a yang paling banyak dibaca oleh Nabi ﷺ : “Allahumma Rabbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar..” (Ya Allah, Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka)” (HR. Bukhari no. 2389 dan Muslim no. 2690).
Boleh Mengucapkan Tahniah Pada Hari Raya 'Id
فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah ﷺ berjumpa dengan hari ‘Id (Idul Fithri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.)
Selasa, 27 Juni 2023
Persiapkan Doa Terbaik Pada Hari 'Arafah
Hari ini Selasa 9 Dzulhijjah 1444 H (27-06-2023) mulai waktu Dzuhur KSA insya Allah jama'ah haji akan melakukan Wuquf di 'Arofah. Hari ini Selasa 9 Dzulhijjah 1444 H (27-06-2023) mulai waktu Dzuhur KSA insya Allah jama'ah haji akan melakukan Wuquf di 'Arofah.
Persiapkan Doa Terbaik Pada Hari 'Arafah
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, dan juga para nabi sebelumku adalah ucapan “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYA-IN QODIIR (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dilihat dari syawahid atau penguat-penguatnya, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1503, 4:8.)
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, disebutkan hadits :
أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَ النَّبِيُّوْنَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ ، وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر
“Kalimat utama yang aku dan para nabi ucapkan pada senja hari Arafah adalah: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI-IN QODIIR (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Ath-Thabrani dalam Fadhl ‘Ashri Dzil Hijjah, 2:13, dari Qais bin Ar-Rabi’, dari Al-Agharr bin Ash-Shabah, dari Khalifah bin Hushain, dari ‘Ali secara marfu’, Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1503, 4:7.)
Senin, 26 Juni 2023
Keutamaan Hari 'Arofah ( 9 Dzulhijjah )
فضل يوم عرفة
Hari 'Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Dzulhijjah dimana pada hari tersebut jama'ah haji disyari'atkan melakukan wukuf di 'Arafah. Hari Arafah memiliki banyak keutamaan diantaranya :
1. Hari Arafah Adalah Hari Disempurnakan Agama Islam Dan Nikmat
Allah menurunkan kepada NabiNya pada hari Jumat ba'da Ashar tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah di Arafah yaitu firman Allah :
( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا )
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah : 3)
Dalam shahihain (Bukhari-Muslim), dari jalan periwayatan Thariq bin Syihaab bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar bin aA-Khaththab dengan berkata :
آيَةٌ فِى كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا . قَالَ أَىُّ آيَةٍ قَالَ ( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ) . قَالَ عُمَرُ قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِى نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ
“Ada ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?” tanya ‘Umar. Ia berkata, “(Ayat yang artinya): Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu yaitu hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi ﷺ. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at.” (HR. Bukhari no. 45 dan Muslim no. 3017).
2. Hari 'Arafah Adalah Hari Raya Bagi Kaum Muslimin Yang Wukuf di Arafah
Nabi ﷺ bersabda:
يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام ، وهي أيام أكل وشرب (رواه أهل السنن)
“Hari Arafah, hari Nahr dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya kami orang Islam, ia adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahlis Sunan.)
Diriwayatkan dari Umar bin Khoththab bahwa beliau mengatakan, “Ayat ini diturunkan (maksudnya ayat ( اليوم أكملت – pada hari Jumat di hari Arafah. Keduanya menjadi hari raya bagi kami alhamdulillah.
3. Wukuf Di Arafah Merupakan Rukun Haji Yang Paling Pokok.
Nabi Muhammad ﷺ ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau ﷺ menjawab :
الْحَجُّ عَرَفَةُ
"Haji itu adalah Arafah." (HR. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015 , dihukumi shahih oleh al-Albâni)
4. Hari 'Arafah Adalah Hari Yang Mulia Sehingga Allah Bersumpah Dengannya
Allah Ta'ala berfirman :
وشاهد ومشهود (سورة البروج :3)
“Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj : 3)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda :
اليوم الموعود يوم القيامة ، واليوم المشهود يوم عرفة ، والشاهد يوم الجمعة ( رواه الترمذي وحسنه الألباني)
“Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat, dan hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Yang menjadi saksi adalah hari Jum'ah.” (HR. Tirmizi dihasankan oleh Albani)
Hari 'Arafah adalah ganjil dimana Allah bersumpah dengannya dalam firman-Nya;
والشفع والوتر (سورة الفجر :3)
“Dan yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3)
Ibnu Abbas mengatakan, “Yang genap adalah hari adha dan yang ganjil adalah hari Arafah. Ia termasuk pendapat Ikrimah dan Dhohhak.
5. Puasa Di Hari Arafah Memiliki Keutamaan Yang Besar
Puasa sehari ini menghapuskan dosa dua tahun, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Qatâdah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda :
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).
Puasa Arafah ini disunnahkan hanya untuk selain jamaah haji. Orang yang berhaji tidak disunnahkan puasa hari Arafah, sebab Nabi ﷺ tidak berpuasa Arafah ketika berhaji.
6. Hari Arafah Termasuk Hari Terbaik Untuk Berdoa Kepada Allah
Hal ini diberitakan Rasulullah ﷺ dalam hadits Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya (Abdullah bin Amru bin al-Ash) bahwa Nabi ﷺ bersabda :
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYA-IN QODIIR (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi no. 3585; Ahmad, 2:210. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dilihat dari syawahid atau penguat-penguatnya, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1503.)
7. Hari Arafah Adalah Hari Dimana Allah Paling Banyak Membebaskan Hamba-Nya Dari Neraka
Nabi ﷺ bersabda :
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟
Tidak ada hari di mana Allâh membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim no. 1348)
8. Hari Arafah Adalah Hari Ketika Allah Mengambil Sumpah Janji Kepada Keturunan Adam.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :
إن الله أخذ الميثاق من ظهر آدم بنعمان - يعني عرفة - وأخرج من صلبه كل ذرية ذرأها ، فنثرهم بين يديه كالذر ، ثم كلمهم قبلا ، قال : " ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين (172) أو تقولوا إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من يعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون (سورة الأعراف :172-173 ، رواه أحمد وصححه الألباني)
“Sesungguhnya Allah mengambil janji setia dari punggung Adam di Nikman –maksudnya Arafah – dan mengeluarkan dari tulang rusuknya semua keturunan yang melanjutkannya. Dan disebarkan diantara kedua tangannya seperti biji. Kemudian semua ditanya sebelumnya, seraya mengatakan: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS. Al-A’raf: 172-173, HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albany)
9. Hari Arafah Adalah Hari Dimana Allah Mendekat Dan Membanggakan Hamba-Nya Yang Wukuf Di Hadapan Para Malaikat
Dari Ibnu Umar sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda :
إن الله تعالى يباهي ملائكته عشية عرفة بأهل عرفة ، فيقول : انظروا إلى عبادي أتوني شعثا غبرا (رواه أحمد وصححه الألباني)
“Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk Arafah kepada malaikat-Nya pada siang Arafah, Seraya berfirman, “Lihatlah kepada hamba-Ku mereka datang dalam kondisi lusuh dan berdebu.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani)
Dalam shahih Musim dari Aisyah radhiallahu 'anha dari Nabi ﷺ bersabda :
مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟ (رواه مسلم)
“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka di banding pada hari Arafah. Sesungguhnya Dia mendekat dan membanggakannya (di hadapan) para malaikat, seraya bertanya, “Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)
Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam : وَإِنَّهُ لَيَدْنُو artinya turun kelanggit dunia dan mendekat dari hambaNya di ‘Arafah dengan kedekatan sesuai kebesaran dan keagungannya serta kemaha sempurnaanNya tanpa memvisualkan dan menyerupakan dengan selainnya, tanpa menyimpangkannya dan menafikannya Sifat turun dan dekat dari ahli Arafah termasuk rahmat Allah dimana akan ada disana banyak kebaikan dan keberkahan serta turunya rahmat Allah, sebagaimana dalam hadits dari Nabi ﷺ bahwa beliau menjawab seorang shahabat ketika bertanya tentang pahala berhaji. Beliau bersabda:
فَإِنَّ لَكَ مِنَ الْأَجْرِ إِذَا أَمَمْتَ الْبَيْتَ الْعَتِيقَ أَلَا تَرْفَعَ قَدَمًا أَوْ تَضَعَهَا أَنْتَ ودَابَّتُكَ إِلَّا كُتِبَتْ لَكَ حَسَنَةٌ، وَرُفِعَتْ لَكَ دَرَجَةٌ، وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ لِمَلَائِكَتِهِ: يَا مَلَائِكَتِي مَا جَاءَ بِعِبَادِي؟ قَالُوا: جَاءُوا يَلْتَمِسُونَ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِنِّي أُشْهِدُ نَفْسِي وَخَلْقِي أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ عَدَدَ أَيَّامِ الدَّهْرِ، وَعَدَدَ الْقَطْرِ، وَعَدَدَ رَمْلِ عَالِجٍ، وَأَمَّا رَمْيُكَ الْجِمَارَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: {فَلَا تَعَلَّمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [السجدة: 17] ، وَأَمَّا حَلْقُكَ رَأْسَكَ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَعْرِكَ شَعَرَةٌ تَقَعُ فِي الْأَرْضِ إِلَّا كَانَتْ لَكَ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَمَّا الْبَيْتُ إِذَا وَدَّعْتَ، فَإِنَّكَ تَخْرُجُ مِنْ ذُنُوبِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ»
"Sungguh engkau mendapatkan dari pahala apabila kamu telah berangkat ke Ka’bah maka tidaklah kamu dan kendaraanmu mengangkat kaki atau meletakkannya kecuali ditulis untukmu satu kebaikan dan diangkat untukmu satuderajat. Adapun wukufmu di Arafah, maka Allah berfirman kepada para Malaikat, Wahai para Malaikat mengapa hambaKu datang? Mereka menjawab: Mereka datang mencari keridhaan Engkau dan syurga. Lalu Allah berfirman, Sungguh Aku bersaksi kepada diriKu dan makhlukKu bahwa Aku telah mengampuni dosa mereka sejumlah hari-hari setahun dan sejumlah tetesan hujan dan sejumlah pasir yang saling bertumpuk-tumpuk. Sedangkan lemparanmu batu jamrah maka Allah berfirman: (yang artinya), Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. As-Sajdah/32:17). Sedangkan cukuran kepalamu maka tidaklah ada satu helaipun dari rambutmu jatuh ke tanah kecuali akan menjadi cahaya bagimu di hari kiamat. Adapun Ka’bah bila kamu tinggalkan maka kamu keluar dari dosamu seperti hari ibumu melahirkanmu. (HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath no.2320 dan dihasankan al-Albani dalam shahih at-Targhib wa at-Tarhib no 1113).
Sedangkan dalam riwayat yang lebih jelas lagi dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan redaksi :
وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ: «هَؤُلَاءِ عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ يَرْجُونَ رَحْمَتِي، وَيَخَافُونَ عَذَابِي، وَلَمْ يَرَوْنِي، فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي فَلَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ رَمْلِ عَالِجٍ، أَوْ مِثْلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا أَوْ مِثْلُ قَطْرِ السَّمَاءِ ذُنُوبًا غَسَلَهَا اللهُ عَنْكَ
"Adapun wuquf mu di Arafah, maka Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia lalu berbangga dengan kalian dihadapan Malaikat lalu berfirman: “Mereka hamba-hambaKu datang kepadaku dalam keadaan kusut berdebu dari semua penjuru yang jauh mengharapkan rahmatKu dan takut dengan adzabKu dan mereka belum melihatKu, Bagaimana seandainya mereka telah melihatKu”. Seandainya kamu memiiki dosa seperti pasir yang bertumpuk-tumpuk atau sepertu hari-hari dunia atau seperti tetasan air hujan maka Allah akan mencucinya dari kamu." (HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir no. 1566 dan dihasankan al-Albani dalam Shahih al-Jaami no. 1360).
10. Hari Arafah Adalah Hari Yang Paling Membuat Syaithan Jengkel Dan Hari Yang Allah Penuhi Hamba-hambaNya Dengan Rahmat Serta Ampunan
Nabi ﷺ bersabda :
مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلَا أَدْحَرُ وَلَا أَحْقَرُ وَلَا أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلَّا لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ إِلَّا مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ قِيلَ وَمَا رَأَى يَوْمَ بَدْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ رَأَى جِبْرِيلَ يَزَعُ الْمَلَائِكَةَ
"Tidaklah tampak syaithan pada satu hari dia berada yang lebih rendah, jengkel, hina dan marah dari keadaannya di hari Arafah. Tidaklah hal itu kecuali karena melihat turunnya rahmat dan Allah memafkan dosa-dosa besar. Kecuali yang ditampakkan di perang Badar. Ada yang bertanya, Apa yang ditampakkan pada perng Badar wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Dia melihat Jibril mengatur barisan Malaikat. (HR Maalik dalam al-Muwatha` no. 944 dan sanadnya shahih dampai Thalhah bin Ubaidillah bin Kuraiz dan Ia seorang Tabi’in sehingga haditsnya mursal. Hadits ini di lemahkan syeikh al-Albani dalam Dha’if at-targhib wa at-Tarhib no.739. Al-Haafizh Ibnu Abdilbarr berkata, makna hadits ini benar dari banyak sisi).
والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.
Sabtu, 24 Juni 2023
Hadits : "Tidak ada hari untuk beramal shalih yang lebih disukai Allah daripada hari-hari ini..."
Hadits : "Tidak ada hari untuk beramal shalih yang lebih disukai Allah daripada hari-hari ini..."
عن عبدالله بن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام» يعني أيام العشر. قالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: «ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله، فلم يَرْجِعْ من ذلك بشيء» [صحيح] - [رواه البخاري، وهذا لفظ أبي داود وغيره]
Abdullah bin 'Abbās radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidak ada hari untuk beramal saleh yang lebih disukai Allah daripada hari-hari ini." Maksudnya sepuluh hari (bulan Dzulhijjah). Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Tidak juga jihad di jalan Allah?" Beliau bersabda, "Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang berjihad dengan diri dan hartanya lalu tidak kembali dengan sesuatu apa pun." (Hadits shahih - Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dan ini adalah lafazh dari Abu Dawud dan lainnya.)
Hadits "Tidak ada hari-hari untuk beramal saleh yang lebih disukai Allah daripada hari-hari ini"; yakni, sepuluh hari awal Dzulhijjah. Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Tidak juga jihad di jalan Allah?" Beliau bersabda, "Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang berjihad dengan diri dan hartanya lalu tidak kembali dengan sesuatu apa pun." Sabdanya, "Amal shalih" mencakup shalat, sedekah, puasa, dzikir, takbir, membaca Al-Qur'an, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahmi, berbuat baik kepada makhluk, berbuat baik kepada tetangga, dan berbagai amal shalih lainnya. Dengan demikian, disunnahkan puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena masuk ke dalam keumuman amal shalih, tentunya selain hari kesepuluh karena adanya larangan puasa pada hari raya. Ini mengandung dalil keutamaan amal shalih pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Juga mengandung dalil bahwa jihad merupakan amal paling utama. Oleh karena itu, para shahabat bertanya, "Tidak juga jihad di jalan Allah?" Ini juga mengandung dalil keutamaan kondisi yang jarang ini, yaitu seseorang berjihad di jalan Allah dengan diri dan hartanya -yang dimaksud dengan hartanya adalah senjata dan kendaraannya- lalu terbunuh dan senjata serta kendaraannya diambil musuh. Dengan demikian, orang ini kehilangan jiwa dan hartanya di jalan Allah dan ia termasuk mujahid paling utama. Ini lebih utama dari amal saleh di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Jika jihad itu dilakukan pada sepuluh hari tersebut maka keutamaannya pun berlipat ganda.
Faidah dari Hadis Diantaranya :
• Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah atas hari-hari lainnya sepanjang tahun.
• Anjuran berpuasa sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
• Besarnya keutamaan jihad dalam Islam.
• Keutamaan sebagian waktu atas waktu yang lain.
• Di antara adab orang yang didakwahi adalah bertanya tentang sesuatu yang tidak diketahui.
Jumat, 23 Juni 2023
Hadits : "Shadaqah (sedekah) apakah yang paling besar pahalanya? ..."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، أي الصدقة أعظم أجرًا؟ قال: «أن تَصَدَّقَ وأنت صحيحٌ شَحِيحٌ، تخشى الفقر وتَأَمَلُ الغِنى، ولا تُمْهِلْ حتى إذا بلغتِ الحُلْقُومَ قلت: لفلان كذا ولفلان كذا، وقد كان لفلان». [صحيح] - [متفق عليه]
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata, "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya, "Wahai Rasulullah! Shadaqah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab, "Kamu bersedekah pada saat kamu sehat, saat kamu kikir, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, 'Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian', padahal harta itu telah (berpindah) menjadi hak si fulan (ahli waris)". (Hadits shahih - Muttafaqun 'alaih)
Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ untuk bertanya mengenai shadaqah paling utama. Beliau bersabda kepada orang itu, "Kamu bershadaqah pada saat badanmu sehat, jiwamu kikir, saat takut menjadi fakir jika usiamu panjang dan saat berangan-angan kaya. Janganlah engkau mengakhirkan shadaqah hingga ketika kematian datang kepadamu dan engkau tahu bahwa engkau akan meninggalkan dunia, engkau katakan bahwa untuk si fulan sekian dari harta yang didapat sebagai shadaqah atau wasiat. Untuk si fulan harta sekian sebagai shadaqah atau wasiat. Padahal harta itu sudah menjadi milik orang lain yang mewarisimu.
Kamis, 22 Juni 2023
Hadits : "Bertakwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima shalat kalian, .... niscaya kalian akan masuk ke dalam Jannah Rabb kalian."
عن أبي أمامة صُدي بن عجلان الباهلي رضي الله عنه قال: سَمِعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يَخطُبُ في حَجَّة الوَدَاع، فقال: «اتَّقُوا الله، وصَلُّوا خَمسَكُم، وصُومُوا شَهرَكُم، وأَدُّوا زَكَاة أَموَالِكُم، وأَطِيعُوا أُمَرَاءَكُم تَدخُلُوا جَنَّة رَبِّكُم». [صحيح] - [رواه الترمذي وأحمد وابن حبان. تنبيه: عند أحمد بدل اتقوا: [اعبدوا ربكم]، وعندهما: (ذا أمركم) أما (أمراءكم) فلفظ ابن حبان]
Dari Abu Umāmah Shudaiy bin 'Ajlan Al-Bahili radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Aku pernah mendengarkan Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah di Haji Wada', beliau bersabda, "Bertaqwalah kalian kepada Allah, tunaikanlah kelima shalat kalian, kerjakanlah puasa di bulan (Ramadhan) kalian, tunaikanlah zakat harta kalian, dan patuhilah para pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam Jannah (Surga) Rabb kalian!" (Hadits shahih - HR. Ibnu Hibban)
■ Nabi ﷺ berkhutbah pada Haji Wada' di hari Arafah, dan juga berkhutbah pada hari raya kurban. Beliau memberi nasehat kepada orang-orang dan mengingatkan mereka. Khuthbah ini termasuk khuthbah rutin yang disunnahkan bagi para pemimpin jamaah haji untuk berkhuthbah kepada manusia sebagaimana Nabi ﷺ berkhuthbah kepada mereka.
■ Di antara kalimat yang pernah disampaikan beliau dalam satu khuthbahnya pada Haji Wada' sebagai berikut: "Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb kalian," Rasulullah ﷺ menyuruh manusia seluruhnya agar bertakwa kepada Rabb mereka yang telah menciptakan mereka, mencurahkan berbagai kenikmatan-Nya, mempersiapkan mereka untuk menerima risalah-risalah-Nya, lalu memerintahkan mereka untuk bertaqwa kepada Allah.
■ Sabdanya, "Tunaikanlah kelima salat kalian!" yakni, laksanakanlah salat lima waktu yang telah diwajibkan oleh Allah kepada Rasulullah ﷺ.
■ Sabdanya, "Kerjakanlah puasa di bulan kalian," yakni, di bulan Ramadhan.
■ Sabdanya, "Tunaikanlah zakat harta kalian," yakni, berikanlah zakat harta kalian kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan janganlah kalian kikir.
■ Sabdanya, "Patuhilah para pemimpin kalian!" yakni, orang-orang yang telah dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin kalian. Ini termasuk para kepala wilayah dan negara, dan meliputi pemimpin umum, yaitu pemimpin negara seluruhnya. Kewajiban rakyat adalah patuh kepada mereka selain dalam kemaksiatan kepada Allah. Adapun dalam hal kemaksiatan kepada Allah, maka tidak boleh patuh kepada mereka jika mereka menyuruh melakukan hal itu. Sebab, mematuhi makhluk tidak boleh didahulukan dari taat kepada Al Khaliq (Sang Pencipta) dan siapa yang melakukan hal-hal yang disebutkan dalam hadits tersebut maka pahalanya adalah Jannah (Surga).
والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين
Selasa, 20 Juni 2023
Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Dan 10 Amalan Yang Disyariatkan
Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Dan 10 Amalan Yang Disyariatkan
Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Di dalam bulan Dzulhijjah ada hari-hari yang dipilih oleh Allah sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun. Allah Ta'ala berfirman :
والفجر وليال عشر
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (Qs. Al Fajr: 1-2)
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan 10 malam yang dimaksud dalam ayat tersebut. Penafsiran para ulama ahli tafsir mengerucut kepada 3 pendapat yaitu 10 hari pertama bulan Dzulijjah, 10 malam terakhir bulan Ramadhan dan 10 hari pertama bulan Al Muharram. Ketiga penafsiran tersebut bisa saja benar semua atau tidak ada yang salah. Akan tapi dalam sebuah hadits Nabi ﷺ, dari Jabir radhiyallaahu ‘anhuma :
14511- عن جابر، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: " إن العشر عشر الأضحى، والوتر يوم عرفة، والشفع يوم النحر "
“Sesungguhnya yang dimaksud dengan 10 itu adalah 10 bulan Al Adh-ha (bulan Dzulhijjah –pen), dan yang dimaksud dengan “ganjil” adalah hari Arafah, dan yang dimaksud dengan “genap” adalah hari raya Idul Adh-ha. (HR. Ahmad 14511, An-Nasaa’i. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Haakim dan penilaiannya disepakati oleh Adz-Dzahabi)
روى البخاري رحمه الله عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.
10 Amalan Yang Disyari'atkan
1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah
Amal ini termasuk amalan yang paling utama.
عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «العمرة إلى العمرة كفارةٌ لما بينهما، والحج المبرور ليس له جزاءٌ إلا الجنة».
[صحيح] - [متفق عليه]
”Dari satu umrah ke umrah yang lain adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannnya melainkan Jannah (Surga).” (Mutafaqun 'alaih)
2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut Atau Pada Sebagiannya Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak diragukan lagi bahwa puasa termasuk jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya, sebagaimana debutkan dalam hadist Qudsi.
عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ...
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, Allah berfirman; “Seluruh amal manusia adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk Ku dan Akulah yang langsung akan membalasnya. ..." (HR. Al Bukhari)
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :
ما من عبد يصوم يوماً في سبيل الله ، إلا باعد الله بذلك اليوم وجهه عن النار سبعين خريف
“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun“. [Hadits Muttafaqun ‘Alaih].
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah rahimahullah bahwa Nabi ﷺ bersabda :
صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والتي بعده .
“Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.
3. Perbanyak Dzikir
Allah Ta’ala berfirman :
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. (QS. Al-Hajj/22 : 28).
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut.
4. Memperbanyak Tahlil, Takbir dan Tahmid
وروى الإمام أحمد رحمه الله عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ما من أيام أعظم ولا احب إلى الله العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
“Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid“. (HR. Ahmad).
Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ولله الحمد
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah :
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ
“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. (QS. Al-Baqarah/2 : 185).
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain. Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah (seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan).
5. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda :
ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat I'ed. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.
7. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘anha bahwa Nabi ﷺ bersabda :
إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضّحي فليمسك عن شعره وأظفاره
“Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya“. Dalam riwayat lain :
فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره حتى يضحي
“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban“.
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Allah bwrfirman :
وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه
“….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. (QS. Al-Baqarah/2 : 196).
Larangan ini menurut zhahirnya hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya.
8. Banyak Beramal Shalih.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya. Bisa juga berupa ibadah sunnah seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.
10. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-Hari Tasyriq
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ.
وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما
“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu“. (Muttafaqun ‘Alaihi).
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para shahabatnya.
والله الموفق والهادي إلى سواء السبيل وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.
Senin, 19 Juni 2023
Hadits Shahih Seputar Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Hadits Shahih Seputar Keutamaan Bulan Dzulhijjah
☆ Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda :
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
☆ Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda :
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari dimana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi ﷺ bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen).” (HR. Al Bukhari, Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi)
☆ Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda :
شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ شَهْرَا عِيدٍ رَمَضَانُ وَذُو الْحَجَّةِ
“Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang, kedua bulan itu adalah bulan 'id (hari raya) : bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
☆ Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda :
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَه
“…puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim)
☆ Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :
يوم عرفة ، ويوم النحر ، وأيام التشريق ، عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب
“Hari Arafah, hari berqurban, dan hari tasyriq adalah hari raya kita, wahai kaum muslimin. Itu adalah hari makan dan minum.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, & Turmudzi)
☆ Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda :
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Tidak satu hari dimana Allah paling banyak membebaskan seseorang dari neraka melebihi hari arafah. Sesungguhnya Dia mendekat, kemudian Dia membangga-banggakan mereka (manusia) di hadapan malaikat. Dia berfirman: Apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim, An Nasa’i, dan Al Hakim).
☆ Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi ﷺ mengatakan :
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Rabu, 14 Juni 2023
Rasulullah ﷺ Anjurkan Umatnya Tak Bertubuh Gemuk
"Nasehat Untuk Orang Yang Bertubuh Gemuk"
Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda :
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ، وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
"Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan”. (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)
Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
خَيْرُ أُمَّتِى الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ… ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ، يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا
“Sebaik-baik umatku adalah masyarakat yang aku di utus di tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya. Kemudian datang kaum yang suka menggemukkan badan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.” (HR. Muslim 6636 dan Ahmad 7322)
Imam Al Qurthubi (wafat 671 H) menjelaskan dalam kitab tafsirnya :
... ومن حديث عمران بن حصين عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (خيركم قرني ثم الذين يلونهم - قال عمران فلا أدري أذكر بعد قرنه قرنين أو ثلاثة - ثم إن من بعدكم قوما يشهدون ولا يستشهدون ويخونون ولا يؤتمون وينذرون ولا يوفون ويظهر فيهم السمن) وهذا ذم. وسبب ذلك أن السمن المكتسب إنما هو من كثرة الاكل والشره، والدعة والراحة والامن والاسترسال مع النفس على شهواتها، فهو عبد نفسه لا عبد ربه، ومن كان هذا حاله وقع لا محالة في الحرام، وكل لحم تولد عن سحت فالنار أولى به
Dan dari hadits Imran bin Hussain dari Nabi ﷺ, beliau bersabda : "Yang terbaik dari kalian adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya." Imran berkata, "Aku tidak tahu apakah akan menyebutkan setelah generasinya dua atau tiga abad.”
Kemudian sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan
Hadits ini adalah celaan bagi orang gemuk. Karena gemuk yang bukan bawaan penyebabnya banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamba bagi Rabb-nya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan terjerumus kepada yang haram.
Dan setiap daging yang tumbuh dari hal-hal yang haram, Neraka lebih layak baginya.
Allah mencela orang kafir yang hidupnya gemar makan, seperti binatang. Allah berfirman :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad :12)
Al-Qurthubi juga menegaskan, tradisi banyak makan, hobi kuliner, adalah kebiasaan orang kafir. Beliau melanjutkan,
وقد ذم الله تعالى الكفار بكثرة الأكل فقال: {وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوىً لَهُمْ} فإذا كان المؤمن يتشبه بهم، ويتنعم بتنعمهم في كل أحواله وأزمانه، فأين حقيقة الإيمان، والقيام بوظائف الإسلام؟! ومن كثر أكله وشربه كثر نهمه وحرصه، وزاد بالليل كسله ونومه، فكان نهاره هائما، وليله نائما
(تفسير القرطبي - القرطبي - ج ١١ - الصفحة ٦٧)
"Allah mencela orang kafir karena banyak makan. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.”
Karena itu, apabila ada orang mukmin yang meniru tradisi mereka, dan menikmati segala kenikmatan dunia setiap saat, lantas di mana hakikat imannya dan pelaksanaan Islam pada dirinya?! Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan semakin rakus dan tamak, bertambah malas dan banyak tidur di malam hari. Siang harinya dipakai untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur." (lihat Tafsir al-Qurthubi, 11/67).
Kemudian dalam hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Suatu ketika ada orang bersendawa di dekat Rasullullah ﷺ. Lalu beliau menegurnya,
كفّ عنا جُشاءك ، فإنَّ أكثرهم شبعاً في الدنيا أطولُهم جوعاً يوم القيامة
"Jangan keras-keras sendawanya, sesungguhnya orang yang paling sering kenyang di dunia, dia paling lama laparnya di akhirat." (HR. Tirmidzi 2666 dan dihasankan al-Albani)
Kemudian, disebutkan pula dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menceritakan salah satu model manusia yang disiksa di hadapan seluruh makhluk,
إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ العَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، وَقَالَ: اقْرَءُوا {فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا}
"Sesungguhnya akan didatangkan seseorang yang sangat besar dan gemuk pada hari kiamat, akan tetapi timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk. Bacalah firman Allah, (yang artinya), “Dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari 4729 & Muslim 7222).
Ketika menyebutkan hadits di atas, an-Nawawi mengatakan,
“لايزن عند الله جناح بعوضة” أى لايعدله فى القدر والمنزلة أى لاقدر له وفيه ذم السمن
“Timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk” artinya beratnya dan nilainya tidak menyamai sayap nyamuk, artinya tidak ada nilainya. Di sini terdapat celaan bagi kondisi gemuk. (lihat Syarah sahih Muslim, 17/129)
Kegemukan Itu Hukum Asalnya Adalah Tercela
"Celaan Imam As-Syafii kepada Orang Gemuk"
Dari Hasan bin Idris al-Halwani menyatakan bahwa beliau mendengar komentar Imam as-Syafii tentang orang gemuk,
قال الشافعي رحمه الله : ما أفلح سمين قط, الا أن يكون محمد بن الحسن. قيل: ولم ؟ قال : لأن العاقل لا يخلو من احدى خلتين : اما أن يغتم لآخرته ومعاده, أو لدنياه ومعاشه, والشحم مع الغم لا ينعقد, فاذا خلا من المعنيين صار في حد البهائم فيعقد الشحم.
"Sama sekali tidak akan beruntung orang yang gemuk, kecuali Muhammad bin Hasan As-Syaibany (Gurunya as-Syafi’i). Beliau ditanya, “Mengapa demikian?”
Jawab beliau, "Karena seorang yang berakal tidak lepas dari dua hal; sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau urusan dunianya, sedangkan kegemukan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti dia sama saja dengan hewan, jadilah gemuk." (lihat Hilyah al-Auliya’, 9/146).
Tips Agar Tidak Bertubuh Gemuk
Banyak orang gemuk termasuk diantara tanda akhir zaman. Insya Allah ada beberapa tips agar tidak bertubuh gemuk, diantaranya :
1. Jangan Gemar Makan Sampai Kenyang
Allah Ta'ala berfirman :
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Makan dan minumlah kalian, namun jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang suka bersikap berlebihan." (QS. al-A’raf: 31).
Rasulullah ﷺ bersabda :
ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة
“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.” (lihat Siyar A’lam An-Nubala 8/248)
Bahkan kekenyangan hukumnya bisa haram, Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
وما جاء من النهي عنه محمول على الشبع الذي يثقل المعدة ويثبط صاحبه عن القيام للعبادة ويفضي إلى البطر والأشر والنوم والكسل وقد تنتهي كراهته إلى التحريم بحسب ما يترتب عليه من المفسدة
“Larangan kekenyangan dimaksudkan pada kekenyangan yang membuat penuh perut dan membuat orangnya berat untuk melaksanakan ibadah dan membuat angkuh, bernafsu, banyak tidur dan malas. Bisa jadi hukumnya berubah dari makruh menjadi haram sesuai dengan dampak buruk yang ditimbulkan (misalnya membahayakan kesehatan)”.
2. Orang Mukmin Hendaknya Makan Dengan Satu Usus, Tidak Sebagaimana Orang Kafir Makan Dengan Tujuh Usus
Rasulullah ﷺ bersabda :
اَلْمُؤْمِنُ يَأكُلُ فِي مِعً وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِيْ سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
“Orang mukmin makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.” (HR Bukhari no. 5393, Muslim no. 2060)
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata :
ما حديث أبي هريرة هذا وأمثاله، فليس فيه إلا مدح المؤمن بقلّة رغبته في الدنيا، وزهده فيها، بأخذ القليل منها في قوته، وأكله ولُبسه وكسبه، وأنه (يأكل ليحيا، لا ليسمن)
“Maknanya adalah pujian kepada seorang muslim dengan sedikitnya keinginan kepada dunia dan zuhud. Mereka mengambil sedikit (secukupnya) saja dari makanan pokok, makanan, pakaian dan pekerjaan mereka.” (http://www.alukah.net/sharia/0/47798/)
3. Jangan Rakus Terhadap Dunia Dan Melalaikan Akhirat
4. Rajin Ibadah, Beraktivitas Dan Tidak Bermalas-malasan
5. Perbanyak Puasa Untuk Meraih Kebaikan Dunia Dan Akhirat
Kesimpulan
■ Kegemukan itu jika penyebabnya adalah faktor genetik dan kondisi alami tubuh atau sebab-sebab ukhrawi, maka tidak tercela. Adapun jika perut buncit dan kegemukan itu muncul sebagai akibat kerakusan terhadap dunia dan kelalaian terhadap akhirat, maka itulah yang tercela.
■ Memiliki tubuh ideal yang bebas dari perut buncit dan kegemukan tetap paling utama, karena lebih dekat dengan kesehatan. Orang yang sehat berarti merealisasikan sifat-sifat terpuji yang disebut dalam nash, seperti perintah merealisasikan kekuatan, berlindung dari kelemahan, memenuhi hak tubuh, mukmin kuat lebih disukai Allah, dan semisalnya.
والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين































