Selasa, 31 Januari 2023

KUNCI-KUNCI KEBAIKAN


 

🗝️ KUNCI-KUNCI KEBAIKAN

✒️ قال الإمام ابن القيم رحمه الله تعالى:

‏☆ مفتاح حياة القلب: تدبر القرآن، والتضرع بالأسحار، وترك الذنوب
☆ ‏ومفتاح حصول الرحمة: الإحسان في عبادة الخالق، والسعي في نفع عبيده
☆ ‏ومفتاح الرزق: السعي مع الاستغفار والتقوى.

📚 حادي الأرواح (ص٦٩)



✒️ Al Imam Ibnul Qayyim رحمَـہ الله تَعـَالَـى berkata :

🔑 Kunci hidupnya hati adalah (1) mentadabburi (menghayati) Al Qur'an, (2) berdo'a dengan penuh ketundukan hati di waktu-waktu sahur, dan (3) meninggalkan dosa-dosa.

🔑 Kunci mendapatkan rahmat adalah (1) Ihsan (bersungguh-sungguh) ketika beribadah kepada Al Khaliq (Allah), dan (2) berusaha memberikan manfaat kepada hamba-hamba-Nya.

🔑 Kunci pembuka rizki adalah (1) berusaha sambil Istighfar (meminta ampunan) dan (2) Taqwa.

📚 lihat Hadil Arwah (hal 69)

Sabtu, 28 Januari 2023

HAKEKAT IMAN





 

HAKEKAT IMAN

Al-Imam al-Fudhoil bin ‘Iyaadh rohimahullooh berkata:

لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يَعُدَ الْبَلَاءَ نِعْمَةً وَالرَّخَاءَ مُصِيبَةً , وَحَتَّى لَا يُبَالِي مِنْ أَكَلِ الدُّنْيَا وَحَتَّى لَا يُحِبُّ أَنْ يُحْمَدَ عَلَى عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Seorang hamba tidak akan sampai pada Iman yang hakiki, sehingga dia menganggap ujian adalah nikmat, dan kesenangan adalah musibah; sehingga dia tidak peduli terhadap makanan dunia dan tidak suka dipuji karena ibadahnya.”
(lihat Hilyatul Auliya’, 8/94. Abu Nu’aim al-Ashfahaany wafat 430 H)


KOMUNITAS YANG BURUK

‘Umar Ibnul Khoththoob rodhiyallahu ‘anhu berkata:

لَا خير فِي قوم لَيْسُوا بناصحين وَلَا خير فِي قوم لَا يحبونَ الناصحين

“Tidak ada kebaikan pada suatu kaum jika diantara mereka tidak ada yang memberi nasihat; dan tidak ada kebaikan pada suatu kaum jika mereka (kaum itu) membenci orang-orang yang memberi nasihat.”
(lihat Risalatul Mustarsyidin, hal. 73-74. Al-Muhasibi wafat 243 H)

Jumat, 27 Januari 2023

“Mahabbatullah” Mencintai Allah







 “Mahabbatullah”
Mencintai Allah

    Mahabbatullah adalah sebuah keharusan, bagi siapa pun yang mengaku beriman kepada-Nya, baik lelaki maupun perempuan. Bahkan, cinta ini termasuk syarat dari syahadat “Laa ilaaha illa Allah” dan merupakan landasan dalam beramal. 

     Kadar kecintaan dalam hati orang yang mencintai Allah adalah bertingkat-tingkat. Itulah sebabnya, Allah menyebutkan betapa besarnya kecintaan orang-orang mukmin kepada-Nya dalam firman-Nya :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS. Al-Baqarah : 165)

     Cinta kepada Allah merupakan kekuatan yang sangat kuat untuk mendorong seseorang mampu bertahan untuk tidak melanggar dan mendurhakai Allah.

” إنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعٌ “

“Orang yang mencintai tunduk kepada sang kekasih yang dicintainya.”

Bukti mencintai Allah Ta‘ala

     Bukti bahwa seseorang mencintai Allah dan sekaligus indikasi bahwa seseorang meraih cinta Allah Ta‘ala adalah mencintai dan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta‘ala berfirman:

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

“Katakanlah: “Jika engkau (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”” (QS. Ali -‘Imran : 31)

     Ibnu Katsiir rahimahullah menerangkan, “Ayat yang mulia ini menjadi  hakim atas orang-orang yang mengaku mencintai Allah namun ia tidak berjalan di atas sunnāh Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam. Maka sesungguhnya ia telah berdusta dalam pengakuannya itu, kecuali ia telah benar-benar mengikuti syari’at dan agama Muhāmmad shāllallahu ‘alaihi wa âlihi wasāllam dalam segenap perkataannya dan keadaan dirinya. Sebagaimana hal ini telah tsabit dalam shahih Al-Bukhâri, bahwa Rasulullah shāllallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda :

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

"Barang siapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk tuntunan kami, maka amalnya itu tertolak."
Sebab itulah Allah berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

"Katakanlah (hai Muhāmmad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian..” yakni kalian akan mendapatkan  lebih dari apa yang kalian inginkan dari kecintaan kalian kepada Rabb kalian, yaitu kecintaan Allah atas kalian, dan ini lebih tinggi kedudukannya dari yang pertama. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian Ulama :

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبَّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَبَّ

“Persoalannya itu bukan bagaimana engkau mencinta, tapi bagaimana agar engkau dicinta.” Al-Hasan Al-Bashri dan selain beliau dari kalangan salaf menuturkan, “Ada suatu kaum yang mereka mengaku mencintai Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini, Allah berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir – surat Ali-‘Imran ayat 31).

     Syaaikh Abdurrahman bin Nâshir As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Dalam ayat ini terkandung makna kewajiban mencintai Allah, tanda-tanda orang yang mencintai-Nya, serta hasil dan buah kecintaan kepada-Nya. Allah berfirman, “Katakanlah (hai Muhāmmad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allah..” yakni apakah kalian mengaku telah mencapai derajat yang tinggi  ini (yaitu mencintai Allah) dimana tidak ada lagi tingkatan di atasnya? Sungguh pengakuan lisan semata tidaklah cukup, bahkan pengakuanmu itu haruslah dibangun di atas kejujuran, dan sebagai tanda kejujuran dari pengakuanmu itu ialah dengan mengikuti sunnah Nabi-Nya shāllallahu‘alaihi wa alihi wasallam dalam segenap keadaan, segenap perkataan dan perbuatan, dalam perkara ushul maupun furu’ secara lāhir maupun bātin. Maka orang yang mengikuti Rasul shāllallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam itu menunjukkan kejujuran ia dalam pengakuan kecintaannya kepada Allah ta’aala ." (Taisirul Karimirrahman fi Tafsir Kalâmil Mannân – Surat Al-‘Imrân 31).


Sebab-sebab Yang Bisa Mendatangkan Kecintaan Allah

     Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
”Sesungguhnya sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan dari Allah ada sepuluh (yaitu):

1. Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an serta memahami makna-maknanya dan maksud yang terkandung didalamnya.

2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan amalan-amalan yang sunnah sesudah amalan-amalan yang wajib.

3. Terus-menerus berdzikir kepada Allah dalam setiap kondisi, baik dengan lisan, hati, perbuatan maupun keadaan, karena kadar kecintaan tergantung pada dzikirnya. (Semakin cinta berarti semakin banyak dzikr/ingat kepada yang dicintai).

4. Mengutamakan apa-apa yang Allah cintai daripada apa yang engkau cintai ketika hawa nafsu berkuasa.

5. Hati senantiasa menela’ah serta memperhatikan nama-nama Allah dan sifat-sifat-NYA, dan mendalaminya di taman dan medan ilmu pengetahuan ini.

6. Menyaksikan berbagai kebaikan dan nikmat Allah yang lahir dan batin.

7. Merasa rendah dan tunduk hatinya di hadapan Allah, dan ini merupakan sebab yang sangat menakjubkan.

8. Menyendiri untuk beribadah pada sepertiga terakhir dari waktu malam dan membaca kitabNYA (Al-Quran Al-Karim), lalu menutup (bacaan)nya dengan istighfar dan taubat.

9. Bermajelis dengan orang-orang yang mencintai Allah dengan jujur, mengambil buah yang baik dari perkataan mereka, dan engkau tidak berbicara kecuali tampak kuat adanya maslahat dalam berbicara, serta engkau tahu akan manfaat bagi dirimu dan orang lain.

10. Menjauhi setiap sebab yang menjadi penghalang antara hati dengan Allah.

Dan dari sepuluh sebab inilah, orang-orang yang mencintai (Allah) telah sampai pada kedudukan kecintaan (dari Allah yang sangat tinggi). (Lihat kitab Madarijus Salikin III/17-18, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah).



DOA MEMOHON KECINTAAN ALLAH


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى وَأَهْلِى وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ. (رواه الترمذي وقال حديث حسن)

“Allaahumma innii as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalal-ladzii yubbaligunii hubbaka. Allaahummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahlii wa minal-maa’il-baarid.”

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan cinta-Mu lebih aku cintai melebihi cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.” (HR. At-Tirmidzi dari jalan Abu Darda’ radhiyallahu anhu, dan beliau (At-Tirmidzi) berkata derajat hadits ini hasan (baik)).

Beriman Kepada Hari Akhir







Rabu, 25 Januari 2023

Beriman Kepada Taqdir Allah




 

Beriman Kepada Taqdir Allah

     Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49)

     Dalam ayat lain disebutkan :

فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ

“Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” (QS. Al-Mursalat: 23)

     Demikian juga dalam hadits Jibril, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ؟ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ, قَالَ: صَدَقْتَ

“Kabarkanlah kepadaku tentang iman, Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’ Ia mengatakan, ‘Engkau Benar.’” (HR. Muslim)

     Ahlus Sunnah sepakat beriman kepada takdir itu wajib karena bagian dari rukun iman yang enam sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril di atas.

Beriman Kepada Taqdir Mencakup Beberapa Perkara

1. Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada.
     Mengimani bahwa Allah dengan ilmu-Nya, yang merupakan Sifat-Nya yang azali dan abadi, Allah Maha Mengetahui semua yang ada di langit dengan seluruh isinya, juga semua yang ada di bumi dengan seluruh isinya, serta apa yang ada di antara keduanya, baik secara global maupun secara rinci, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Mahamengetahui tentang daun yang kering ataupun basah, biji-bijian yang tumbuh dan lainnya. Allah Maha Mengetahui semua yang ghaib dan Dia Maha Mengetahui segala amal perbuatan makhluk-Nya, serta mengetahui segala ihwal mereka, seperti taat, maksiat, rizki, ajal, bahagia dan celaka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Mahamengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’aam/6: 59)

2. Mengimani Kitabah bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
     Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (al-Lauhul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj/22: 70)

3. Mengimani masyi’ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya.

     Mengimani bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Semua gerak-gerik yang terjadi di langit dan di bumi hanyalah dengan kehendak Allah Subhanahu wa Taala, tidak ada sesuatu yang terjadi dalam kerajaan-Nya apa yang tidak diinginkan-Nya. Mengimani masyiiah (kehendak) Allah Subhanahu wa Ta’ala yang pasti terlaksana dan qudrah (kekuasaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi segala sesuatu. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb seluruh alam." (QS. Al Takwir : 29)
     Tentang hal ini terdapat untaian sya’ir Imam asy-Syafi’i rahimahullah :

مَا شِئْتَ كَانَ وَإِنْ لَمْ أَشَأْ وَمَا شِئْتُ إِنْ لَمْ تَشَأْ لَمْ يَكُنْ.
خَلَقْتَ الْعِبَادَ عَلَى مَا عَلِمْتَ فَفِي الْعِلْمِ يَجْرِي الْفَتَى وَالْمُسِنْ.
عَلَى ذَا مَنَنْتَ وَهَذَا خَذَلْتَ وَهَذاَ أَعَنْتَ وَذَا لَمْ تُعِنْ.
فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَمِنْهُمْ سَعِيْدٌ وَمِنْهُمْ قَبِيْحٌ وَمِنْهُمْ حَسَنٌ.

"Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi,
kendati aku tidak menghendakinya. Sedang apa yang aku kehendaki, jika tidak Engkau kehendaki pastilah tidak terjadi.
Telah Engkau ciptakan hamba-hamba, sesuai dengan apa yang Engkau ketahui. Di dalam ilmu berlangsung kehidupan,
orang muda dan orang tua.
Kepada ini, Engkau anugerahkan, dan ini, Engkau terlantarkan. Ini, Engkau tolong, dan ini, tidak Engkau tolong.
Di antara mereka ada celaka, dan di antara mereka ada bahagia. Di antara mereka ada yang buruk,
dan di antara mereka ada pula yang baik." (Lihat Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (II/434) oleh Dr. Muham-mad bin ‘Abdil Wahhab al-‘Aqiil. Diiwan Imaam asy-Syafi’i (no. 215, hal. 397) syarah Muhammad ‘Abdurrahim)

4. Mengimani bahwa Allah Maha Pencipta atas segala sesuatu, baik yang ada maupun yang belum ada.

     Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia. Allah Ta'ala berfirman :

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ

"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. Ash Shaffat : 96)

Selasa, 24 Januari 2023

Hanya Allah Yang Mengetahui Perkara Ghaib







Ash Shuroh (Gambar) Dan Larangan Mushowwir (Pembuat Gambar) Makhluk Bernyawa







Ash Shuroh (Gambar) Dan Larangan Mushowwir (Pembuat Gambar) Makhluk Bernyawa

https://hazimaljawiy.blogspot.com/2023/01/ash-shuroh-gambar-dan-larangan.html?m=1



Baca juga :

https://teguhakhirblora.blogspot.com/2022/09/benarkah-gambar-hasil-kamera-dan-hasil.html?m=1

Minggu, 22 Januari 2023

Siapakah Mujaddid Di Penghujung Setiap 100 Tahun?


 Dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا”

“Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun." (HR Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267).)
    Kita ketahui Nabi menjadi Rosul dan berdakwah mulai tahun 13 SH dan wafat pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal 11 H. Para Shahabat Nabi meski lebih utama tapi berdasarkan zhohir hadits bukan termasuk mujaddid yang dimaksud dalam hadits.
     Kemudian berdasarkan biografi kita amati :
(1) Umar bin ‘Abdil ‘Aziz bin Marwan bin Hakam al-Qurasyi al-Umawi al-Madani. Lahir pada tahun 64 H dan wafat pada tahun 101 H. Jika mujaddid lebih dari satu maka Hasan Al Bashri (wafat 110 H) dan Muhammad bin Sirin (wafat 110 H).?
(2) Imam asy-Syafi’i, Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin bin al-‘Abbas bin ‘Utsman al-Muththalibi al-Qurasyi al-Makki. Lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H.
(3) Imam An-Nasa’i, Abu Abdir Rahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali bin Sinan. Beliau adalah imam besar, syaikhul Islam, penghafal dan kritikus hadits kenamaan, serta sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Lahir pada tahun 215 H dan wafat tahun 303 H.  Atau jika mujaddid lebih dari satu juga Ad-Daruquthni wafat 306 H.?
(4) Imam Abu Bakar Al Baqilani (338 H – 403 H). Atau Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi ( أبو عبدالله محمد بن عبدالله الحاكم النيسابوري‎; 321 H/933 M - 405 H/1014 M).?
(5) Al-Baghawi.; wafat 516 H.?
(6) Ibnul Jauzi atau Abu al-Faraj ibn al-Jauzi (508 H-597 H)
(7) Ibnu Daqiq al-Ied wafat 702 H
(8) Al Hafizh Al Iraqi wafat 806 H
(9) Syamsuddin Abu al-Khair Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar bin Utsman bin Muhammad as-Sakhawi asy-Syafi'i (lahir di Kairo pada tahun 831 H/1428, meninggal di Madinah pada tahun 902 H) atau Jalaluddin As-Suyuthi wafat 911 H.?
(10) Imam ar Ramli (wafat 1004 H.).
(11) Imam Ash Shan’ani (lahir 1059 - wafat 1182 H).?
(12) Imam syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab at-Tamimi (wafat 1206 H).
(13) Shiddiq Hasan Khan wafat pada tahun 1307 H. Atau Al Al Luknawi.; wafat 1304 H.?
(14) Syaikh Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi (1325-1393 H) guru syaikh bin baz, syaikh Utsaimin, syaikh Muqbil, syaikh Robi', syaikh Sholih Al Fauzan, syaikh Abdul Muhsin dll.?
     Itu hanya sebatas dugaanku dengan melihat biografi..wa Allahu A'lam.


Bertaqwalah Kepada Allah Jika Ingin Mendapat Furqon



Bertaqwalah Kepada Allah Jika Ingin Mendapat Furqan Sehingga Bisa Membedakan Kebenaran Dan Kebatilan

     Allah Ta'ala berfirman :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (29) }

"Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian Furqan dan menghapuskan segala kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al Anfal : 29)

     "Ibnu Abbas, As-Saddi, Mujahid, Ikrimah, Ad-Dahhak, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan serta ulama lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya : "Furqan" (Al-Anfal: 29) bahwa yang dimaksud ialah jalan keluar.
     Menurut Mujahid di tambahkan di dunia dan akhirat.
     Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan Furqan ialah keselamatan.
     Sedangkan menurut  riwayat yang lain -juga dari Ibnu Abbas- yang dimaksud dengan furqan ialah pertolongan Allah.
     Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa makna furqan ialah pemisah antara perkara yang hak dan yang batil. Tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq ini pengertiannya lebih mencakup daripada pendapat lainnya, dan memang apa yang dikemukakannya itu mencakup kesemuanya. Karena sesungguhnya orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya berarti dia mendapat taufik untuk mengetahui perbedaan antara perkara yang hak dan yang batil. Maka yang demikian itu merupakan penyebab datangnya pertolongan Allah, jalan keselamatan, dan jalan keluar dari semua urusan dunia serta kebahagiaan di hari kiamat, penghapus segala dosa, beroleh ampunan dan disembunyikan dari semua orang serta menjadi penyebab beroleh pahala Allah yang berlimpah. Pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat­-Nya kepada kalian dua bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hadid: 28)" (lihat Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah)

     Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan : "Ketakwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah tanda keberuntungan dan kebahagiaan, Allah mengaitkan banyak sekali kebaikan dunia dan akhirat dengan takwa. dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka dia akan mendapatkan empat perkara, setiap satu perkara darinya leih baik daripada dunia dan isinya.
     Pertama : al furqan yaitu ilmu dan hidayah yang dengannya pemiliknya dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, halal dengan haram, dan orang orang yang berbahagia dengan orang orang yang sengsara.
     Kedua dan ketiga : pelebur keburukan dan ampunan dosa-dosa, masing-masing dari keduanya adalah satu makna jika disebutkan secara mutlak, jika digabung maka yang pertama berarti pelebur dosa dosa kecil dan yang kedua adalah ampunan dosa dosa besar.
     Keempat : pahala dan ganjaran yang besar bagi yang bertakwa kepada Allah dan mementingkan ridhaNya diatas hawa nafsunya. ”dan Allah mempunyai karunia yang besar”
(lihat Taisir Al-Karimir Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan hal 319)

     Saat pertama kali Imam Malik berjumpa dengan muridnya yang bernama Imam Syafi'i, beliau berkata:

"إني أرى الله قد ألقى على قلبك نورا، فلا تطفئه بظلمة المعصية"

"Sesungguhnya aku melihat bahwa Allah sungguh telah meletakkan cahaya di hatimu. Maka jangan engkau padamkan ia dengan gelapnya kemaksiatan."
Makna yang terkandung dalam pesan Imam Malik ini diambil dari firman Allah :

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا }[الأنفال:29]

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan jadikan bagi kalian furqana (pembeda atau pemisah)." (QS. Al Anfal : 29)

     Ibnu Qayyim AlJauziyyah berkata bahwa termasuk "furqaana" adalah cahaya yang bisa digunakan oleh seorang hamba untuk membedakan yang haq dan yang batil. Allah titipkan cahaya ini di hati hambaNya yang dekat kepadaNya. Semakin dekat dengan Allah, maka semakin sempurnalah cahaya itu. Semoga Allah memberikan pertolongan pada kita semua." (lihat I'laam al-Muwaqqi'in juz 4 hal. 254)



Jumat, 20 Januari 2023

Iman Kepada Kitab-kitab Allah


 




Iman Kepada Kitab-kitab Allah

https://hazimaljawiy.blogspot.com/2023/01/iman-kepada-kitab-kitab-allah.html?m=1



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur-an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 285)

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka menggunakan besi itu) dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hadid : 25)


Iman Kepada Kitab-kitab Allah Mencakup Beberapa Perkara

1. Mengimani bahwa turunnya kitab-kitab Allah benar-benar dari sisi Allah Ta’ala.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka menggunakan besi itu) dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hadid : 25)

2. Mengimani nama-nama kitab yang kita ketahui namanya seeprti Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salaam, Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihis salaam serta Shuhuf Ibrahim Alaihissallam dan Musa Alaihissallam.
Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita mengimaninya secara global.

3. Membenarkan berita-beritanya yang benar, seperti berita mengenai Al Quran, dan berita-berita  lain yang tidak diganti atau diubah dari iktab-kitab terdahulu sebelum Al Quran.

4. Melaksanakan seluruh hukum yang tidak dinasakh (dihapus) serta ridho dan tunduk menerimanya, baik kita memahami hikmahnya maupun tidak.
     Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur-an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu..." (QS. Al-Maa-idah : 48). Oleh karena itu, tidak dibenarkan melaksanakan hukum apapun dari hukum Kitab-kitab terdahulu, kecuali yang benar dan ditetapkan oleh Al-Qur-anul Karim.




Keutamaan Dan Kedudukan Al-Qur'an Di Antara Kitab-kitab Suci Lainnya



     Al-Qur'an merupakan kitab suci terakhir dan penutup dari kitab-kitab suci sebelumnya. Selain itu, Al-Qur'an juga merupakan hakim atas kitab-kitab suci sebelumnya. Allah Ta'ala berfirman : 

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu;
Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah  engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan," (QS. Al Maidah : 48)

     Al Qur'an lebih utama dari kitab-kitab samawi lainnya sekalipun semuanya turun dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ

“Aku diberi pengganti isi Taurat dengan as-Sab’u (7 surat panjang), dan aku diberi pengganti isi Zabur dengan surat al-Mi-in, dan aku diberi pengganti isi Injil dengan al-Matsani, dan aku diberi tambahan dengan surat-surat al-Mufashal.” (HR. Ahmad 16982 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Al-Baihaqi menjelaskan hadis ini :

والأشبه أن يكون المراد بـ (السبع) في هذا الحديث (السبع الطول) و(المئين) كل سورة بلغت مائة آية فصاعدًا، و(المثاني) كل سورة دون (المئين) وفوق (المفصل)
h
"Yang mendekati, makna kata ‘as-Sab’u’ dalam hadis ini adalah as-Sab’u at-Thiwal (7 surat yang panjang); sementara makna al-Mi-in adalah semua surat yang jumlah ayatnya 100 atau lebih. Istilah Al-Matsani maknanya adalah semua surat yang jumlah ayatnya di bawah al-Mi-in, di atas al-Mufashal."

     Di antara perkara lain yang menjadi kekhususan Al-Qur'an dari kitab-kitab suci lainnya adalah penjagaan Allah terhadapnya. Allah Ta'ala berfirman:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)



Sekilas Tentang Taurat Dan Injil

     Taurat adalah kitab yang Allah turunkan kepada Musa `alahis salam. Taurat merupakan kitab yang mulia yang tercakup didalamnya cahaya dan petunjuk.(lihat QS. Al-Maidah : 44).
     Taurat yang ada saat ini (biasa disebut dengan kitab perjanjian lama), setiap orang yang berakal sehat tentu mengetahui bahwa taurat tersebut bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa `alaihis salam. Hal itu bisa diketahui dari beberapa bukti berikut :
(1) Ketidakmampuan mereka (baik Yahudi maupun Nashrani) dalam menunjukkan sanad ilmiah yang sampai kepada Musa `alaihis salam, bahkan mereka mengakui bahwa Taurat pernah hilang selama beberapa kali.
(2) Terjadi banyak kontradiksi di dalamnya, yang menunjukkan bahwa sudah banyak terjadi campur tangan para ulama yahudi dalam merubah isi Taurat.
(3) Banyak terdapat kesalahan ilmiah.
(4) Dan masih banyak bukti lainnya.

     Allah Ta`ala berfirman

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗفَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ اَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)

     Sedangkan Injil, dia adalah kitab yang Allah turunkan kepada Isa `alaihis salam sebagai penyempurna dan penguat bagi Taurat, mencocoki dangannya dalam sebagian besar syariatnya, petunjuk kepada jalan yang lurus, membedakan kebenaran dan kebatilan, dan menyeru kepada peribadatan kepada Allah Ta`ala semata.
     Sebagaimana taurat yang ada sekarang bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa, demikian juga injil yang ada sekarang, juga bukan injil yang diturunkan kepada Isa `alaihimas salam. Di antara bukti dari penyataan tersebut :
(1) Penulisan injil terjadi jauh beberapa tahun setelah diangkatnya Isa`alaihis salam.
(2) Terputusnya sanad dalam penisbatan penulisan injil-injil tersebut kepada penulisnya.
(3) Banyak terdapat kontradiksi dan kesalahan ilmiah di dalamnya.
(4) Dan masih banyak bukti lainnya.

Wa Allahu a'lam.

Kamis, 19 Januari 2023

Apa Itu Taqwa?


 


Apa Itu Taqwa?


     Allah Ta'ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran : 102)

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. At Taghabun : 16)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar." (QS. Al Anfal : 29)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al Ahzab : 70)

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

     Ali bin abi Thalib Radiallahuanhu memberikan definisi taqwa. Beliau berkata :

التقوى هي الخوف من الجليل و العمل بالتنزيل والرضا بالقليل و الإستعداد ليوم الرحيل

"Taqwa adalah takut kepada Allah, beramal sesuai yang diturunkan (Al-Qur’an dan As-Sunnah), menerima dengan yang sedikit dan selalu senantiasa bersiap-siap menempuh untuk  hari perjalanan menghadap Allah."

     Seorang Tabi’in, Umar bin abdul Aziz  Rahimahullah memberikan makna taqwa

ليس تقوى الله  بصيام النهار ولا بقيام الليل و التخليط فيما بين ذلك و لكن تقوى الله ترك ما حرم الله و أداء ما افترض الله فمن رزق بعد ذلك خيرا فهو من خير إلى خير

“Ketaqwaan kepada Allah bukanlah terletak pada puasanya seseorang di siang hari dan shalatnya ditengah malam maupun hal –hal yang dia kerjakan di waktu – waktu itu, akan tetapi ketaqwaan kepada Allah terletak pada meninggalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan mengerjakan semua kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan dan barang siapa yang telah diberi rezeqi sesudah itu maka itu merupakan kebaikan menuju kebaikan.”

    

     Abu Ja’far  Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya menjelaskan QS. Ali Imron 102. Beliau rahimahullah berkata :

يعني بذلك جل ثناؤه: يا معشر من صدّق الله ورسوله =”اتقوا الله”، خافوا الله ورَاقبوه بطاعته واجتناب معاصيه “حقّ تُقاته”، حقّ خوفه، وهو أن يُطاع فلا يُعصى، ويُشكر فلا يكفر، ويُذكر فلا يُنسى”ولا تموتن”، أيها المؤمنون بالله ورسوله =”إلا وأنتم مسلمون” لربكم، مذعنون له بالطاعة. مخلصون له الألوهةَ والعبادة  

“Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, Bertaqwalah kalian kepada Allah, takutlah kamu kepada Allah dengan selalu merasa diawasi) sehingga kalian menaatinya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dengan rasa takut yang sebenarnya, Dialah Allah yang ditaati sehingga tidak dimaksiati, Dialah yang disyukuri sehingga tidak dikufuri, Dialah Allah yang selalu di ingat dan tidak dilupakan. Wahai kaum yang beriman kepada Allah dan Rasulnya. Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam, yakni tunduk dan patuh dalam ketaatan kepada-Nya, juga dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya."

     Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan kita penjelasan hakekat takwa. Beliau rahimahullah berkata :
“Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan  diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (lihat Al Majmu’ Al Fatawa, 10: 433)

     Tholaq bin Habib rahimahullah mengatakan :

أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ وَ أَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عَذَابَ اللهِ 

"Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) dengan harapan untuk mendapatkan pahala dari Allah dan engkau menjauhi maksiat atas cahaya dari Allah (yaitu di atas ilmu) karena takut akan ’adzab Allah." (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 211)

Sudahkah Engkau Berupaya Menjaga Pakaian Bathin (Taqwa) Melebihi Menjaga Kenersihan Pakaian Lahiriyah?


 

Rabu, 18 Januari 2023

Iman Kepada Para Rasul


 



Iman Kepada Para Rasul

     Allah Ta’ala berfirman:

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ  كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ  لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Rabb kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (QS.Al Baqarah : 285)

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا 150 أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا 151

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)," serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan."  (QS. An Nisa’: 150-151)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." (QS. An Nisa' : 136)

     Demikian juga dalam hadits Jibril, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ؟ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ, قَالَ: صَدَقْتَ

“Kabarkanlah kepadaku tentang iman, Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’ Ia mengatakan, ‘Engkau Benar.’” (HR. Muslim)


Beriman Kepada Para Rasul Mencakup Beberapa Perkara

1. Mengimani Risalah Para Rasul Dari Allah Ta'ala.

     Barangsiapa mengingkari risalah para rasul, walaupun hanya seorang (dari mereka), maka ia kafir. Allah Ta'ala berfirman :

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” (QS. Asy-Syu-‘araa : 105)
    Allah Ta'ala menyebutkan bahwa kaum Nuh mendustakan semua Rasul, padahal hanya seorang Rasul saja yang ada (yaitu Nuh Alaihissallam) ketika mereka mendustakannya. Oleh karena itu, ummat Nasrani yang mendustakan dan tidak mau mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti mereka juga telah mendustakan dan tidak mengikuti Nabi ‘Isa al-Masih bin Maryam Alaihissallam, karena Nabi ‘Isa Alaihissallam sendiri pernah menyampaikan kabar gembira dengan kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke alam semesta ini sebagai rahmat bagi semesta alam.

2. Mengimani Nama Para Rasul Yang Allah Sebutkan Dalam Al-Qur-an Dan As-Sunnah Yang Shahih.
 
   Jumlah nabi dan rasul banyak sekali. Menurut sebuah riwayat bahwa jumlah nabi ada 124.000 dan jumlah rasul ada 315.(Lihat Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad I/43-44).
     Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang para Nabi dan Rasul di dalam Al-Qur'an ada 25, yaitu Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Is-haq, Ya’qub, Yusuf, Syu’aib, Ayyub, Dzulkifli, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ‘Isa dan Muhammad, صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ.

     Allah Ta'ala berfirman :

۞ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)." (QS. Ali Imran : 33)

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (1) (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada (2) Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada (3) Ibrahim, (4) Isma’il, (5) Ishak, (6) Ya’qub dan (7) al-asbath (anak cucunya, yaitu Yusuf, pen.) (8) ‘Isa, (9) Ayyub, (10) Yunus, (11) Harun, dan (12) Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada (13) Daud.” (QS. An-Nisa’: 163).

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاء إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ ؛ وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلاًّ هَدَيْنَا وَنُوحاً هَدَيْنَا مِن قَبْلُ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ  ؛ وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ ؛ وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada (1) Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan (2) Ishak dan (3) Yaqub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada (4) Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu (5) Daud, (6) Sulaiman, (7) Ayyub, (8) Yusuf, (9) Musa, dan (10) Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan (11) Zakaria, (12) Yahya, (13) ‘Isa, dan (14) Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang salih. Dan (15) Ismail, (16) Alyasa’, (17) Yunus, dan (18) Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS. Al-An’am: 83-86).
     Selebihnya Allah Ta’ala sebutkan dalam surat yang terpisah. (Lihat QS. Ali ‘Imran : 33; QS. Hud : 50, 61, 84; QS. Al-Anbiyaa' : 85; QS. Al-An’aam : 83-86 dan QS. Al Fat-h/48: 29.)
     Adapun terhadap para Rasul yang tidak kita ketahui nama-namanya, kita wajib beriman secara global. AllahTa’ala berfirman :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (QS. Al Mukmin:78).

3. Membenarkan Berita-berita Para Rasul Yang Shahih Riwayatnya.

4. Mengamalkan Syari’at Rasul Yang Diutus Kepada Kita.

     Dia adalah Nabi terakhir, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diutus Allah Ta'ala kepada seluruh manusia.
Allah Ta'ala berfirman :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa' : 65)

Permisalan Beramal Tanpa Ikhlas Dan Tidak Iqtida'


 Permisalan Beramal Tanpa Ikhlash Dan Tiada Iqtida'


Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan nasihat :

العَمَلُ بِغَيْرِ إِخْلَاصٍ وَلَا اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابَهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ

“Beramal tanpa ikhlas dan tidak iqtida’ seperti seorang musafir yang memenuhi tasnya dengan pasir, memberatkannya dan tidak memberikan manfaat kepadanya.” (lihat Al-Fawa’id)

    Kita hidup di dunia ini ibarat seorang musafir yang sedang berjalan menuju Allah. Amal ibadah adalah bekal yang kita siapkan. Namun jika amal ibadah tersebut tidak benar maka keadaan kita seperti permisalan yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah.
     Demikianlah perumpamaan seorang yang beribadah tanpa keikhlasan dan iqtida’, amalannya justru bisa menjadi mudharat bagi dirinya. Karena syarat diterimanya sebuah amal ibadah ada dua :
(1) ikhlash, Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)
(2) iqtida’ atau mutaba’ah yaitu mengikuti tuntunan atau tata cara ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para Shahabat. Beliau pernah bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim: 1718)
     Jika amalan tidak memenuhi dua syarat ini maka ia tidak akan diterima Allah, ia tak ubahnya pasir kerikil yang dimasukkan ke dalam tas musafir. Justru memberatkan dan bisa memudharatkan dirinya sendiri. Wa Allahu a'lam.