Kegelisahan dan Kesedihan Bagi Orang Yang Mengikuti Hawa Nafsu


 

Kegelisahan dan Kesedihan Bagi Orang Yang Mengikuti Hawa Nafsu


"بَلْ مَنْ اتَّبَعَ هَوَاهُ فِي مِثْلِ طَلَبِ الرِّئَاسَةِ وَالْعُلُوِّ؛ وَتَعَلُّقِهِ بِالصُّوَرِ الْجَمِيلَةِ أَوْ جَمْعِهِ لِلْمَالِ يَجِدُ فِي أَثْنَاءِ ذَلِكَ مِنْ الْهُمُومِ وَالْغُمُومِ وَالْأَحْزَانِ وَالْآلَامِ وَضِيقِ الصَّدْرِ مَا لَا يُعَبِّرُ عَنْهُ. وَرُبَّمَا لَا يُطَاوِعُهُ قَلْبُهُ عَلَى تَرْكِ الْهَوَى وَلَا يَحْصُلُ لَهُ مَا يَسُرُّهُ؛ بَلْ هُوَ فِي خَوْفٍ وَحُزْنٍ دَائِمًا: إنْ كَانَ طَالِبًا لِمَا يَهْوَاهُ فَهُوَ قَبْلَ إدْرَاكِهِ حَزِينٌ مُتَأَلِّمٌ حَيْثُ لَمْ يَحْصُلْ."
من كتاب: مجموع الفتاوى(٦٥١/١٠)

✍️ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"Sebaliknya, barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya seperti dalam mencari kekuasaan dan kedudukan, keterikatan pada rupa yang indah (syahwat), atau sibuk mengumpulkan harta; maka di tengah-tengah usahanya itu ia akan merasakan kegelisahan, kesedihan, duka cita, kepedihan, dan kesesakan dada yang tak terlukiskan.
Bahkan mungkin saja hatinya tidak sanggup untuk meninggalkan hawa nafsu tersebut, namun ia juga tidak mendapatkan apa yang menyenangkannya. Justru ia senantiasa berada dalam ketakutan dan kesedihan: selama ia masih mengejar apa yang ia nafsu-kan, ia akan terus bersedih dan menderita karena apa yang diinginkannya itu belum juga tercapai."

📚 Majmu' Al-Fatawa, 10/651

Komentar