Sunnah dan Keutamaan Berdoa pada "Dubur Ash-Shalawat" Terutama Sebelum Salam
Dari Abu Umamah Al-Bahili, beliau berkata:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: «جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ»
Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: "Doa apakah yang paling didengar (diijabah oleh Allah)?" Beliau bersabda: "Di malam terakhir dan dubur as-shalawat (ujung/akhir shalat-shalat) wajib.” (HR. Tirmidzi, No. 3499).
🔸 Istilah "dubur" secara bahasa berarti "bagian belakang" atau "ekor". Para ulama menjelaskan bahwa kata dubur dalam konteks shalat memiliki dua dimensi waktu: pertama, bagian akhir sebelum salam (setelah tasyahud akhir), dan kedua, bagian yang berada tepat setelah salam selesai. Namun, dalam hal memanjatkan doa hajat pribadi, para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa berdoa sebelum salam jauh lebih utama karena posisi kita masih berada di dalam ibadah shalat dan sedang bermunajat. Beliau rahimahullah menjelaskan dalam Majmu' al-Fatawa (22/488)
🔸 Nabi ﷺ umumnya lebih sering berdoa di dalam shalat dan senantiasa berdoa di dubur shalat sebelum salam. Sedang setelah salam beliau gunakan untuk berdzikir. Walau ada riwayat Nabi ﷺ juga pernah atau kadang-kadang berdoa setelah salam.
🔸 Kebiasaan berdoa di dalam shalat dan di dubur shalat sebelum salam ini dipraktikkan secara konsisten dan indah oleh generasi Salafush Shalih. Bagi mereka, waktu ini adalah kesempatan emas untuk mengetuk pintu langit, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membuktikan ketulusan cinta kepada guru, murid, dan sahabat mereka melalui doa rahasia (bahrul ghaib). Hal ini sebagaimana kebiasaan imam Ahmad mendoakan dan menyebut nama imam Asy-Syafi'i di dalam shalatnya.

Komentar
Posting Komentar