Mauqif Seorang Mukmin Ketika Mengalami Musibah
{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ} قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: هُوَ الرَّجُلُ تُصِيبُهُ الْمُصِيبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ. فَالسَّعِيدُ يَسْتَغْفِرُ مِنْ المعائب وَيَصْبِرُ عَلَى الْمَصَائِبِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: {فَاصْبِرْ إنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} وَالشَّقِيُّ يَجْزَعُ عِنْدَ الْمَصَائِبِ وَيَحْتَجُّ بِالْقَدَرِ عَلَى المعائب؛
كتاب مجموع الفتاوى ٨\٤٥٤ - ابن تيمية
"{Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.}" (QS. At-Taghabun: 11).
Ibnu Mas'ud berkata: "Dia adalah seorang laki-laki yang ditimpa musibah, lalu ia menyadari bahwa musibah itu datang dari sisi Allah, maka ia pun ridha dan berserah diri."
Maka, orang yang bahagia adalah ia yang memohon ampun (istighfar) atas cacat/kesalahan diri dan bersabar atas musibah, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "{Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu.}" (QS. Ghafir: 55).
Sedangkan orang yang celaka adalah ia yang berkeluh kesah saat tertimpa musibah, namun justru berhujjah (beralasan) dengan takdir atas cacat/dosa yang dilakukannya."
📚 Kitab Majmu' Al-Fatawa 8/454 - Ibnu Taimiyah

Komentar
Posting Komentar