Selasa, 17 Januari 2023

Keutamaan Mendoakan Saudara (Teman/Sahabat) Tanpa Sepengetahuannya (بِظَهرِ الْغَيْبِ)




Keutamaan Mendoakan Saudara (Teman/Sahabat) Tanpa Sepengetahuannya (بِظَهرِ الْغَيْبِ)

     Rasulullah ﷺ bersabda :


مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ (رواه مسلم)

“Tidaklah ada seorang hamba Muslim yang mendoakan saudaranya muslim tanpa sepengetahuan orang yang didoakan kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat, "Kamu juga mendapatkan sebagaimana doa yang kamu lantunkan itu"." (HR Muslim)

     Dalam riwayat lain disebutkan:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ (رواه مسلم)

“Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya mustajabah (akan dikabulkan oleh Allah). Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat yang menjaganya berkata, "Amin dan bagimu hal yang semisal dengan apa yang engkau minta untuk saudaramu"." (HR. Muslim)

إِنَّ دَعْوَةَ الْمُسْلِمِ مُسْتَجَابَةٌ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Sesungguhnya doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya (tidak dihadapannya), dikabulkan oleh Allah. Di kepalanya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Maka malaikat yang ditugaskan berkata, ‘Semoga doamu dikabulkan oleh Allah dan bagimu seperti yang kau minta bagi saudaramu’.” (HR. Ahmad no. 21707 dengan sanad shahih)

     Di antara amalan yang dapat mendatangkan doa malaikat adalah kita mendoakan saudara atau teman kita, sedangkan dia tidak mengetahui bahwa kita telah mendoakannya. Kita mendoakannya di setiap salat malam dan sujud kita serta mendoakannya waktu tidak sedang berada di hadapannya. Seseorang yang mendoakan temannya atau saudaranya tanpa sepengetahuannya menunjukkan bahwa dia benar-benar tulus mendoakannya. Allah ﷻ Maha mengetahui perbuatan seorang muslim yang telah berdoa untuk saudaranya. Wa Allahu a'lam.

Senin, 16 Januari 2023

Beriman Kepada Para Malaikat

 








Beriman Kepada Para Malaikat



1. Beriman Terhadap Wujud (Keberadaan) Para Malaikat.

     Allah Ta’ala berfirman :

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Rabb-muberfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah : 30)
    
2. Beriman Terhadap Nama-nama Malaikat

     Malaikat-malaikat Allah memiliki nama. Kewajiban kita adalah beriman secara global bahwa para malaikat memiliki nama. Kita beriman dengan nama-nama yang secara rinci telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antara nama-nama malaikat adalah Jibril, Mikail, serta Isrofil. Allah berfirman:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

"Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah : 98)
     Kita juga beriman secara global adanya malaikat-malaikat Allah yang tidak kita ketahui namanya. Tidak boleh seseorang menamakan malaikat tanpa ada dalil-dali yang shahih dari Al Quran dan As Sunnah.

3. Beriman Terhadap Sifat-sifat Malaikat

     Para malaikat memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah dan hadits shahih. Sifat-sifat malaikat bisa dibagi menjadi 2, diantaranyaa :
(1) Sifat-sifat fisik
☆  Diciptakan dari cahaya.
       Di antara dalil akan hal ini adalah sabda Nabi ﷺ,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ » [أخرجه مسلم]

“Malaikat (adalah makhluk yang) diciptakan dari cahaya, dan jin itu diciptakan dari api yang menyala-nyala, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disifati bagikalian.“. (HR Muslim no: 2996)
☆  Malaikat memiliki sayap dan kekuatan bertingkat-tingkat.
     Dalilnya di antaranya firman Allah ﷻ :

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir: 1)
☆  Malaikat memiliki tangan.
     Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ

“Sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, ‘Keluarkanlah nyawamu’.” (QS. Al-An’am: 93)
☆  Malaikat punya jantung.
     Hal ini sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Dan syafaat (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafaat itu). Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati (jantung) mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang benar’, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Saba’: 23)
☆  Malaikat punya telinga dan pundak.
      Dalam hadis Nabi ﷺ bersabda,

أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ، إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِ مِائَةِ عَامٍ

“Aku telah diberi izin untuk menceritakan tentang sesosok malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang bertugas memikul ‘Arsy. Sesungguhnya, jarak antara ujung telinga dengan bahunya adalah tujuh ratus tahun perjalanan.” (HR. Abu Daud no. 4727)
☆  Malaikat tidak makan dan tidak minum serta bisa menjelma dengan rupa manusia rupawan.
      Di antara dalil akan hal ini adalah ketika malaikat-malaikat yang menjelma menjadi tamu Nabi Ibrahim  ketika hendak berkunjung kepada Nabi Luth. Kata Allah ﷻ,

فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ، فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ، فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

“Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, ‘Mengapa tidak kamu makan’. Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut’, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq)’.” (QS. Adz-Dzariyat: 26-28)
☆  Malaikat juga bisa mati.
     Malaikat termasuk dalam keumuman firman Allah :

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)” (QS Az-Zumar : 68)

(2) Sifat-sifat akhlak (perangai)
    
     Ada beberapa sifat-sifat malaikat yang bisa kita ketahui berdasarkan dalil-dalil yang ada. Di antara sifat-sifat tersebut antara lain,
☆  Malaikat memiliki sifat malu

فَقَالَ: أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

Rasulullah ﷺ, ‘Wahai Aisyah, bagaimana mungkin aku tidak merasa malu kepada seseorang yang para malaikat saja merasa malu kepadanya?’.” (HR. Muslim No. 2401)
☆  Malaikat terganggu dengan bau yang tidak enak (sedap). Seperti dalam hadis di mana Nabi ﷺ menyebutkan bahwasanya malaikat terganggu dengan bau bawang dari mulut seseorang. Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Barangsiapa makan bawang merah dan putih serta bawang bakung- janganlah dia mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan bau yang tidak enak sebagaimana anak cucu Adam juga merasa terganggu (disebabkan baunya).” (HR. Muslim No. 564)
☆  Malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjing dan gambar makhluk bernyawa atau patungnya. Nabi ﷺ bersabda,

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar (patung).” (HR. Muslim No. 2106)
☆ Malaikat bisa bicara dengan Allah, para nabi dan berbicara dengan siapa saja yang Allah kehendaki. Dalilnya sangat banyak di dalam Kitabullah dan As Sunnah.
☆  Malaikat mendoakan kebaikan bagi orang-orang shalih, dan mendoakan keburukan bagi orang-orang yang buruk.
☆  Malaikat memiliki akal tapi tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia. Karena jika tidak memiliki akal, tidak mungkin Allah memuji mereka dengan menyebutkan sifat mereka, “tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. Allah Ta'ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim :6).

4. Beriman Terhadap Amalan-amalan Dan Tugas Malaikat.

     Malaikat yang kita ketahui nama dan tugas khusus dari dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, diantaranya sebagai berikut.
(1) Malaikat Jibril ‘alaihissalaam  memiliki tugas khusus menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul.
(2) Malaikat Mikail yang ditugasi menurunkan hujan dan tumbuhan.
(3) Malaikat Isrofil bertugas meniup sangkakala ketika datang hari kiamat dan saat kebangkitan manusia.
(4) Malaikat Maut yang ditugasi mencabut nyawa. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ta’ala:

۞ قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ

Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Rabb-mu, kamu akan dikembalikan.” (QS. As-Sajdah: 11)
(5) Yang ditugasi menjaga amal perbuatan hamba dan mencatatnya, perbuatan yang baik maupun yang buruk, mereka adalah para malaikat pencatat yang mulia. Allah Ta’ala berfirman :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)
(6) Yang ditugasi menjaga manusia secara bergiliran yaitu Mu’aqqibat. Allah ﷻ berfirman :

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
(7) Para malaikat penjaga surga.
(8) Sembilan belas malaikat yang merupakan pemimpin para malaikat penjaga neraka dan pemukanya adalah malaikat Malik. Allah Ta'ala berfirman :

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُم مَّاكِثُونَ

“Mereka berseru, ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.’ Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).’” (QS. Az-Zukhruf: 77)
(9) Para malaikat yang diserahi untuk mengatur janin di dalam rahim. Jika seorang hamba telah sempurna empat bulan di dalam perut ibunya, maka Allah ta’ala mengutus seorang malaikat kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya dan sengsara atau bahagianya.
(10) Dua malaikat yang ditugasi untuk menanyai mayit ketika di dalam kuburnya. Ketika itu, dua malaikat mendatanginya untuk menanyakan kepadanya tentang Rabb-nya, nabinya dan agamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ – أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ – أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ

“Jika salah seorang dari kalian dimakamkan, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru. Salah satunya bernama Munkar, dan yang lainnya bernama Nakir.” (HR. Tirmidzi no. 1071, dinilai hasan oleh Al-Albani).
Wa Allahu a'lam.

SIAPA YANG MENABUR ANGIN AKAN MENUAI BADAI

 


     Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

…وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ …

“… Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri…” (QS. Fathir/35: 43)

     Dengan kata lain, barang siapa yang menggali lubang, dia sendiri yang terjerumus ke dalamnya.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: ذَكَرَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي زَكَرِيَّا الْكُوفِيِّ عَنْ رَجُلٍ حَدَّثَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِيَّاكَ وَمَكْرَ السَّيِّئِ، فَإِنَّهُ لَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ، وَلَهُمْ مِنَ اللَّهِ طَالِبٌ"،

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Ali ibnul Husain mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Zakaria Al-Kufi, dari seorang lelaki yang menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  pernah bersabda: Janganlah kamu membuat makar yang jahat, karena sesungguhnya makar (rencana) yang jahat itu tidak menimpa kecuali orang yang merencakannya sendiri, dan mereka akan dituntut oleh Allah.
     Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi pernah mengatakan bahwa ada tiga perkara yang barang siapa mengerjakannya tidak akan selamat kecuali bila meninggalkannya, yaitu rencana jahat, zalim, dan melanggar janji. Hal yang membenarkannya dari Kitabullah ialah firman Allah Ta'ala: 

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ 

"Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri." (QS. Fathir : 43)

اِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ

"sesungguhnya (bencana) kezaliman (kejahatan)mu akan menimpa dirimu sendiri. (QS. Yunus : 23)
Dan firman Allah Ta'ala : 

فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ

"maka barang siapa yang melanggar janjinya, maka akibat pelanggaran janjinya itu akan menimpa dirinya sendiri." (QS. Al-Fat-h : 10) (lihat Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah)

Minggu, 15 Januari 2023

Iman Kepada Allah

 




Iman Kepada Allah


     Syaikh Al-Utsaimin mengatakan :

الإيمان في اللغة: الإقرار بالشيء عن تصديق به

"Iman secara bahasa adalah : pengakuan/penetapan terhadap sesuatu dari apa yang ia benarkan." (lihat Syarah Aqidah Wasithiyah lil Ustaimin : 1/54)

     Dalam hadits Jibril Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ؟ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ, قَالَ: صَدَقْتَ

“Kabarkanlah kepadaku tentang iman, Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’ Ia mengatakan, ‘Engkau Benar.’” (HR. Muslim no. 8 ).

     Beriman Kepada Allah Mencakup Beberapa Perkara

(1) Beriman kepada wujud/adanya Allah
     Bahwa adanya alam semesta ini pasti ada yang menciptakan, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena tidak mungkin seluruh alam semesta dan isinya terjadi dengan sendirinya.
     Wujud keberadaan Allah ini tidak dapat dibantahkan lagi. Adanya seluruh alam baik itu langit, bumi, gunung, laut, pepohonan, batu, dan seluruh kejadian-kejadiannya adalah bukti adanya pencipta dari itu semua. Sangatlah tidak masuk akal benda-benda itu ada dan bekerja dengan sendirinya. 
     Akal yang sehat pasti meyakini bahwa dimana ada ciptaan pasti ada yang menciptakan. Demikian pula akal yang sehat juga pasti akan menganggap mustahil segala sesuatu yang ada tanpa ada yang mengadakan.
     Contoh sederhananya adalah pakaian atau makanan yang kita makan sehari-hari. Tidaklah masuk akal jika pakaian atau makanan tersebut ada dengan sendiri tanpa ada  Apalagi adanya alam semesta yang semuanya berjalan dengan seimbang dan teratur menunjukkan adanya Sang Pencipta di balik itu semua.

(2) Beriman kepada rububiyah Allah, yaitu Dia-lah yang satu-satunya yang menyandang hak rububiyah (menciptakan, mengatur dan memberi rezeki kepada seluruh mahluk-Nya).
     Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S Al-A’raf  : 54)

(3) Beriman kepada uluhiyah-Nya, yakni Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi.
     Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan maupun amalan. Hal ini telah diterangkan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah dalam kitabnya risalatul ubudiyah, beliau mengatakan:

العبادة هي اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة

"Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah baik itu ucapan maupun perbuatan yang lahir maupun yang batin."
     Seorang mukmin harus meyakini dan mengakui bahwa satu-satunya dzat yang berhak diibadahi atau disembah hanyalah Allah ta’ala. Tidak ada satupun dari makhluk yang patut dan berhak disembah. Karena segala sesuatu selain Allah hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Maka tidak selayaknya mereka dijadikan sesuatu yang disembah. Allah ta’ala berfirman :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (sesembahan yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran 3:18)
     Tauhid ini merupakan inti dakwah para rasul, dari rasul yang pertama sampai terakhir.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya “Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiya’ : 25)

(4) Beriman kepada asma (nama) dan sifat Allah

     Pengertian iman kepada Allah dengan Asma’ wa Sifat adalah mengimani nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah yang telah Allah namakan dan sifatkan untuk diri Nya sendiri dan juga mengimani nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah yang telah dinamai dan disifati oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S Al A’raf 7:180)
     Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah Ta'ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." ( QS. Asy Syura : 11)
     Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits. Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil. (lihat Kitab Tauhid 1, karya : Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan)
     Dalam mengimani asma' wa sifat-Nya sangatlah wajib kita meneladani para ulama’ salaf bagaimana pemahaman mereka; seperti Imam Abu Hanifah mengatakan pemahamannya terkait sifat-Nya :

لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين، وغضبه ورضاه صفتان من صفاته بلا كيف، وهو قول أهل السُّنَّة والجماعة وهو يغضب ويرضى ولا يقال: غضبه عقوبته ورضاه ثوابه، ونصفه كما وصف نفسه أحدٌ صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوًا أحد، حيٌّ قادر سميع بصير عالم، يد الله فوق أيديهم ليست كأيدي خلقه ووجهه ليس كوجوه خلقه

"Tidaklah Allah ta’ala memiliki sifat sebagaimana sifat-sifatnya para makhluk. 
Marah-Nya dan ridho-Nya adalah kedua sifat-Nya diantara sifat-sifat lain-Nya dengan tanpa bagaimana, itulah pendapatnya ahlu sunnah wal jama’ah. 
Dia marah dan Dia ridho dan tidaklah dikatakan : marahnya adalah hukumannya dan ridhonya adalah pahalanya. 
Kami meyakini sifat-Nya sebagaimana Ia mensifati diri-Nya sendiri, (Dialah) yang Maha Esa lagi Maha segala sesuatu bergantung pada-Nya, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada seorangpun yang menyerupai-Nya. 
Dia Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Tangan-Nya di atas tangan-tangan mereka yang tidak seperti tangan-tangan makhluk-Nya, wajah-Nya tidaklah seperti wajah-wajah makhluk-Nya." (lihat I’tiqod Al-Aimmah Al-Arba’ah : 1/10)

Sibukkan Hatimu Dengan Al Qur'an


Berkata Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu:

ﺇﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﻘﻠﻮﺏ ﺃﻭﻋﻴﺔ ﻓﺎﺷﻐﻠﻮﻫﺎ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ، ﻭﻻ ﺗﺸﻐﻠﻮﻫﺎ ﺑﻐﻴﺮﻩ

“Sesungguhnya hati itu bagaikan bejana. Maka sibukkanlah dia dengan Al Qur'an, dan janganlah engkau menyibukkannya dengan selainnya.” (Hadits hasan – dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: no.30633, Ahmad dalam Az-Zuhd: no.891, dan Abu Nuaim dalam Al-Hilyah:1/131)

     Menyibukkan hati dengan Alquran mencakup: Membacanya, Mempelajarinya, Mengajarkannya, dan Mengamalkannya. Barang siapa yang hatinya tersibukkan dengan Al Qur'an, maka yang tertampung di dalam hatinya adalah nilai-nilai Alquran.

     Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ القُرْآنِ كَالبَيْتِ الخَرِبِ

“Sesungguhnya seseorang yang  didalam hatinya kosong dari  Al Qur’an maka ia bagaikan rumah yang rusak/runtuh “ 
(H.R. Tirmidzi no. 2913 hadis hasan sahih)

     Utsman bin ‘Affan radhiallaahu ’anhu berkata :

لَوْ طَهَرَتْ قُلُوْبُنَا مَا شَبِعَتْ مِنْ كَلَامِ اللّٰهِ

“Seandainya hati kita bersih, maka tidak akan puas membaca Kalamullah (Al Quran).” (lihat Ighatsatul Lahfan, 1/64)

     Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

الْبَيْتُ يُتْلَى فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ كَثُرَ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الْمَلَائِكَةُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الشَّيَاطِينُ، وَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي لَمْ يُتْلَ فِيهِ كِتَابُ اللَّهِ ضَاقَ بِأَهْلِهِ، وَقَلَّ خَيْرُهُ، وَحَضَرَتْهُ الشَّيَاطِينُ، وَخَرَجَتْ مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

“Rumah yang dibacakan di dalamnya kitab Allah, niscaya menjadi banyak kebaikannya, para malaikat mendatanginya dan syaithan-syaithan keluar darinya. Adapun rumah yang tidak dibacakan kitab Allah, niscaya akan terasa sempit bagi penghuninya, sedikit kebaikannya, syaithan-syaithan pun mendatanginya dan para malaikat keluar darinya.” (lihat Az-Zuhd Li Ibnu Al-Mubarak 1/273 no. 790)

 

Sabtu, 14 Januari 2023

Mewaspadai Dai-dai Yang Mengajak Kepada Pintu-pintu Neraka Jahannam


 

Cabang-cabang Iman


     

 


أنواعُ شُعَب الإيمان
Cabang-cabang Iman


Dalam hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

     Para ulama membebani diri mengumpulkan cabang-cabang iman tersebut melalui jalan ijtihad. Menghukumi bahwa yang disebutkan itulah maksudnya adalah hal yang sulit. Dan ketidaktahuan mengetahui semua itu secara tafsil (rinci) tidaklah menodai keimanan.
     Al Hafizh Ibnu Hajar telah meringkas hal tersebut dalam kitabnya sesuai keterangan Ibnu Hibban, beliau berkata, " Cabang-cabang iman ini terbagi dalam amalan hati, lisan dan anggota badan".

1. Amal Yang Terkait Dengan Hati Itu Ada Yang Berupa I'tiqad (Keyakinan) Dan Ada Yang Berupa Niat.
     Ia terbagi dua puluh empat perkara, yaitu:
(1) Beriman kepada Allah, termasuk di dalamnya beriman kepada Dzat-Nya, sifat-Nya, tauhid-Nya, dan bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya, serta meyakini barunya segala sesuatu selain-Nya,
(2) Demikian pula beriman kepada malaikat-Nya,
(3) Beriman kepada kitab-kitab-Nya,
(4) Beriman kepada rasul-rasul-Nya,
(5) Beriman kepada qadar-Nya yang baik maupun yang buruk,
(6) Beriman kepada hari Akhir, termasuk di dalamnya beriman kepada pertanyaan di alam kubur, kebangkitan, penghidupan kembali, hisab, mizan, shirat, surga, dan neraka.
(7) Mencintai Allah,
(8) Cinta dan benci karena-Nya.
(9) Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meyakini kemuliaannya. Termasuk di dalamnya bershalawat kepadanya dan mengikuti sunnahnya.
(10) Berniat ikhlas, termasuk di dalamnya meninggalkan riya’, dan kemunafikan.
(11) Bertobat.
(12) Khauf (rasa takut kepada Allah).
(13) Roja’ (berharap kepada Allah)
(14) Bersyukur
(15) Memenuhi janji
(16) Bersabar
(17) Ridha terhadap qadha’ Allah
(18) Bertawakkal (menyerahkan urusan kepada Allah)
(19) Bersikap rahmah (sayang)
(20) Bertawadhu’, termasuk di dalamnya menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.
(21) Meninggalkan sombong dan ujub.
(22) Meninggalkan hasad.
(23) Meninggalkan dendam
(24) Meninggalkan marah.
    
2. Amal Yang Terkait Dengan Lisan Itu Ada Tujuh Perkara, yaitu:
(1) Melafazhkan kalimat tauhid
(2) Membaca Al Qur’an
(3) Mempelajari ilmu
(4) Mengajarkannya
(5) Berdoa
(6) Berdzikr, termasuk di dalamnya beristighfar dan bertasbih
(7) Menjauhi perkataan sia-sia (laghwun).

3. Amal Yang Terkait Dengan Anggota Badan Itu Ada Tiga Puluh Delapan Perkara.
     Di antaranya ada yang terkait dengan orang-perorang, ia ada lima belas perkara, yaitu:
(1) Membersihkan, baik secara hissi (inderawi) maupun maknawi. Termasuk di dalamnya menjauhi najis.
(2) Menutup aurat.
(3) Melaksanakan shalat baik fardhu maupun sunat.
(4) Zakat juga demikian.
(5) Memerdekakan budak.
(6) Bersikap dermawan. Termasuk di dalamnya memberikan makan dan memuliakan tamu.
(7) Berpuasa, yang wajib maupun yang sunat.
(8) Berhaji dan berumrah juga demikian.
(9) Berthawaf.
(10) Beri’tikaf.
(11) Mencari malam Lailatul qadr.
(12) Pergi membawa agama. Termasuk di dalamnya berhijrah dari negeri syirik.
(13) Memenuhi nadzar.
(14) Memeriksa keimanan.
(15) Membayar kaffarat.
     Yang terkait dengan yang menjadi pengikut, ia ada enam perkara, yaitu:
(1) Menjaga diri dengan menikah.
(2) Mengurus hak-hak orang yang ditanggungnya.
(3) Berbakti kepada kedua orang tua, termasuk pula menjauhi sikap durhaka.
(4) Mendidik anak.
(5) Menyambung tali silaturrahim.
(6) Menaati para pemimpin atau bersikap lembut kepada budak.
     Yang terkait dengan masyarakat umum, ia ada tujuh belas cabang, yaitu:
(1) Menegakkan pemerintahan dengan adil.
(2) Mengikuti jamaah.
(3) Menaati waliyyul amri (pemerintah).
(4) Mendamaikan manusia, termasuk di dalamnya memerangi khawarij dan para pemberontak.
(5) Tolong-menolong di atas kebaikan, termasuk di dalamnya beramar ma’ruf dan bernahi munkar.
(6) Menegakkan hudud.
(7) Berjihad, termasuk di dalamnya ribath (menjaga perbatasan).
(8) Menunaikan amanah.
(9) Menunaikan khumus (1/5 ghanimah).
(10) Memberikan pinjaman dan membayarnya, serta memuliakan tetangga.
(11) Bermu’amalah dengan baik.
(12) Mengumpulkan harta dari yang halal.
(13) Menginfakkan harta pada tempatnya, termasuk di dalamnya meninggalkan boros dan berlebihan.
(14) Menjawab salam.
(15) Mendoakan orang yang bersin.
(16) Menghindarkan bahaya atau sesuatu yang mengganggu dari manusia.
(17) Menjauhi perbuatan sia-sia dan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.

     Sehingga jumlahnya 69 perkara, dan bisa menjadi 79 jika sebagiannya tidak disatukan dengan yang lain, wallahu a’lam. (Lihat Fathul Bari  juz 1 hal. 77 Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani. Minhaj Al Firqah An Najiyah Wat Thaifah Al Manshurah Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
     

Hakekat Malu


 Hakekat Malu

عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم استحيوا من الله حق الحياء قال قلنا يا رسول الله إنا نستحيي والحمد لله قال ليس ذاك ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى والبطن وما حوى ولتذكر الموت والبلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء

"Dari ‘Abdullah bin Mas’uud رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Malu lah kalian dengan sebenar-benar malu.“
Kami bertanya, “Ya Rosulullah, kami punya malu. Alhamdulillah.”
Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allah سبحانه وتعالى dengan sebenarnya itu adalah:
(1) Kamu pelihara kepalamu dan apa yang menjadi isinya
(2) Kamu pelihara perutmu dan apa yang ditampungnya
(3) Ingatlah olehmu kematian dan kemusnahan
(4) Dan barangsiapa yang menginginkan akherat, maka dia tinggalkan perhiasan dunia
Dan barangsiapa yang melakukan itu, maka dia sungguh telah malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sesungguhnya.”
(Hadits Riwayat Imaam At Tirmidzy no: 2458, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani)


Malu Adalah Sebagian dari Iman

     Dari Ibnu ‘Umar dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

الْـحَيَاءُ مِنَ الإيْمَـانِ

“Malu bagian dari keimanan.” (HR. Bukhari no. 44 dan Muslim no. 36.)