Iman Kepada Allah

 




Iman Kepada Allah


     Syaikh Al-Utsaimin mengatakan :

الإيمان في اللغة: الإقرار بالشيء عن تصديق به

"Iman secara bahasa adalah : pengakuan/penetapan terhadap sesuatu dari apa yang ia benarkan." (lihat Syarah Aqidah Wasithiyah lil Ustaimin : 1/54)

     Dalam hadits Jibril Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ؟ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ, قَالَ: صَدَقْتَ

“Kabarkanlah kepadaku tentang iman, Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.’ Ia mengatakan, ‘Engkau Benar.’” (HR. Muslim no. 8 ).

     Beriman Kepada Allah Mencakup Beberapa Perkara

(1) Beriman kepada wujud/adanya Allah
     Bahwa adanya alam semesta ini pasti ada yang menciptakan, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena tidak mungkin seluruh alam semesta dan isinya terjadi dengan sendirinya.
     Wujud keberadaan Allah ini tidak dapat dibantahkan lagi. Adanya seluruh alam baik itu langit, bumi, gunung, laut, pepohonan, batu, dan seluruh kejadian-kejadiannya adalah bukti adanya pencipta dari itu semua. Sangatlah tidak masuk akal benda-benda itu ada dan bekerja dengan sendirinya. 
     Akal yang sehat pasti meyakini bahwa dimana ada ciptaan pasti ada yang menciptakan. Demikian pula akal yang sehat juga pasti akan menganggap mustahil segala sesuatu yang ada tanpa ada yang mengadakan.
     Contoh sederhananya adalah pakaian atau makanan yang kita makan sehari-hari. Tidaklah masuk akal jika pakaian atau makanan tersebut ada dengan sendiri tanpa ada  Apalagi adanya alam semesta yang semuanya berjalan dengan seimbang dan teratur menunjukkan adanya Sang Pencipta di balik itu semua.

(2) Beriman kepada rububiyah Allah, yaitu Dia-lah yang satu-satunya yang menyandang hak rububiyah (menciptakan, mengatur dan memberi rezeki kepada seluruh mahluk-Nya).
     Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S Al-A’raf  : 54)

(3) Beriman kepada uluhiyah-Nya, yakni Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi.
     Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan maupun amalan. Hal ini telah diterangkan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah dalam kitabnya risalatul ubudiyah, beliau mengatakan:

العبادة هي اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة

"Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah baik itu ucapan maupun perbuatan yang lahir maupun yang batin."
     Seorang mukmin harus meyakini dan mengakui bahwa satu-satunya dzat yang berhak diibadahi atau disembah hanyalah Allah ta’ala. Tidak ada satupun dari makhluk yang patut dan berhak disembah. Karena segala sesuatu selain Allah hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Maka tidak selayaknya mereka dijadikan sesuatu yang disembah. Allah ta’ala berfirman :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (sesembahan yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran 3:18)
     Tauhid ini merupakan inti dakwah para rasul, dari rasul yang pertama sampai terakhir.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya “Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS. Al Anbiya’ : 25)

(4) Beriman kepada asma (nama) dan sifat Allah

     Pengertian iman kepada Allah dengan Asma’ wa Sifat adalah mengimani nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah yang telah Allah namakan dan sifatkan untuk diri Nya sendiri dan juga mengimani nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah yang telah dinamai dan disifati oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman :

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S Al A’raf 7:180)
     Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah Ta'ala berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." ( QS. Asy Syura : 11)
     Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits. Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thiltakyif dan tamtsil. (lihat Kitab Tauhid 1, karya : Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan)
     Dalam mengimani asma' wa sifat-Nya sangatlah wajib kita meneladani para ulama’ salaf bagaimana pemahaman mereka; seperti Imam Abu Hanifah mengatakan pemahamannya terkait sifat-Nya :

لا يوصف الله تعالى بصفات المخلوقين، وغضبه ورضاه صفتان من صفاته بلا كيف، وهو قول أهل السُّنَّة والجماعة وهو يغضب ويرضى ولا يقال: غضبه عقوبته ورضاه ثوابه، ونصفه كما وصف نفسه أحدٌ صمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوًا أحد، حيٌّ قادر سميع بصير عالم، يد الله فوق أيديهم ليست كأيدي خلقه ووجهه ليس كوجوه خلقه

"Tidaklah Allah ta’ala memiliki sifat sebagaimana sifat-sifatnya para makhluk. 
Marah-Nya dan ridho-Nya adalah kedua sifat-Nya diantara sifat-sifat lain-Nya dengan tanpa bagaimana, itulah pendapatnya ahlu sunnah wal jama’ah. 
Dia marah dan Dia ridho dan tidaklah dikatakan : marahnya adalah hukumannya dan ridhonya adalah pahalanya. 
Kami meyakini sifat-Nya sebagaimana Ia mensifati diri-Nya sendiri, (Dialah) yang Maha Esa lagi Maha segala sesuatu bergantung pada-Nya, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada seorangpun yang menyerupai-Nya. 
Dia Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Tangan-Nya di atas tangan-tangan mereka yang tidak seperti tangan-tangan makhluk-Nya, wajah-Nya tidaklah seperti wajah-wajah makhluk-Nya." (lihat I’tiqod Al-Aimmah Al-Arba’ah : 1/10)

Komentar