Zuhud Yang Sesuai Dengan Syari'at
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
والزهد المشروع هو : ترك الرغبة فيما لا ينفع في الدار الآخرة، وهو: فُضول المباح التي لا يستعان بها على طاعة الله.
"Zuhud yang sesuai dengan syariat adalah meninggalkan keinginan pada hal-hal yang tidak bermanfaat di negeri akhirat, yaitu hal-hal mubah yang melebihi kebutuhan yang tidak membantu ketaatan kepada Allah."
( lihat Majmuu' al-Fataawaa, jilid 10 hlm. 21)
Ibnul Qayyim mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
الزُّهْدُ تَرْكُ مَالاَ يَنْفَعُ فِي الآخِرَةِ وَالوَرَعُ : تَرْكُ مَا تَخَافُ ضَرَرَهُ فِي الآخِرَةِ
“Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang membawa mudarat di akhirat.”
Ibnul Qayyim lantas berkata, “Itulah pengertian zuhud dan wara’ yang paling bagus dan paling mencakup.” (lihat Madarij As-Salikin, 2)
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan saling berbangga-banggaan di antara kamu serta berlomba berbanyak-banyakan dalam harta dan anak. Laksana hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian (tanaman) itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ada ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (palsu).“ (QS. Al Hadid/57 : 20)
Rasulullah ﷺ menggambarkan perbandingan antara dunia dan akhirat dengan sabdanya :
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali laksana seseorang di antara kamu mencelupkan jarinya ini (Perawi yang bernama Yahya bin Sa’id mengisyaratkan dengan jari telujuknya) ke dalam sungai. Maka lihatlah apa yang bisa dibawa oleh jarinya itu.“ (HR. Muslim)
Rabu, 27 September 2023
Zuhud Yang Sesuai Dengan Syari'at
Selasa, 26 September 2023
Keutamaan Shodaqoh Dari Hasil Usaha Sendiri
Keutamaan Shodaqoh Dari Hasil Usaha Sendiri
Allah Melipatgandakan Pahala Sodaqoh Hingga Sebesar Gunung Dan Menurunkan Berkah Pada Hartanya
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الجَبَلِ»
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ telah bersabda:
“Barang siapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu mengasuhnya untuk pemiliknya, sebagaimana jika seseorang dari kalian mengasuh anak kudanya hingga membesar seperti gunung.” (HR. Al-Bukhariy 1410)
Faidah Hadits :
1. Allah tidak menerima shadaqah, kecuali dari harta yang halal lagi baik, karena Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik.
2. Allah akan melipatgandakan shadaqah yang berasal dari usaha yang baik, sehingga tumbuh besar menjadi seperti gunung.
3. Shadaqah merupakan kebaikan dan ibadah kepada Allah, apabila seseorang bershadaqah dengan sesuatu dari hartanya yang baik. Sebab Allah ﷻ akan melipatgandakan pahala dan ganjaran dari shadaqah tersebut, dan menurunkan berkah pada harta yang tersisa dari yang telah dishadaqahkan.
4. Anjuran untuk mencari usaha yang halal, serta menjauhi yang haram dan yang syubhat (hukumnya samar), agar Allah ﷻ memberkahi shadaqahnya.
5. Hendaknya tidak meremehkan orang yang bershadaqah dengan sesuatu yang ia shadaqahkan, walaupun hal itu hanya sebutir kurma atau sebelah biji kurma, bahkan potongan kecilnya, selama hal tersebut adalah sesuai dengan kemampuannya.
6. Baiknya shadaqah tidak ditentukan oleh kuantitas (jumlah/besar) shadaqah, tetapi ditentukan oleh keikhlashan pelakunya dan harta yang dikeluarkan, baik bersumber dari yang halal maupun yang haram. Apabila terpenuhi hal tersebut, shadaqah itu memiliki ukuran dan bobot yang berat dalam timbangan Allah, walaupun yang dishadaqahkan adalah sesuatu yang kecil dan sedikit.
7. Bahwasanya amalan-amalan salih pada Hari Kiamat kelak akan menjelma menjadi bentuk abstrak yang memiliki berat dan ukuran, yang akan diletakkan di timbangan seorang hamba, dan ditimbang dalam daun timbangan kebaikannya.
والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.
Rabu, 20 September 2023
Wahai Saudaraku Kaum Muslimin..Jauhilah Riba
Wahai Saudaraku Kaum Muslimin..Jauhilah Riba
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imron: 130)
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)
Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda :
« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ »
“Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “(1) Menyekutukan Allah, (2) Sihir, (3) Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, (4) Memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) melarikan diri dari medan peperangan, (7) menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina).” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)
Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata :
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)
Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan :
وَهُوَ مُحَرَّمٌ بِالْكِتَابِ ، وَالسُّنَّةِ ، وَالْإِجْمَاعِ
“Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).” (Al Mughni, 7/492)
Rabu, 13 September 2023
Al Qur'an Untuk Difahami Dan Diamalkan... Bukan Hanya Untuk Dihafal
Al Qur'an Untuk Difahami Dan Diamalkan...
Bukan Hanya Untuk Dihafal
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
المطلوب فهم معاني القرآن والعمل به، فإن لم تكن هذه همة حافظه، لم يكن من أهل العلم والدين.
“Yang dituntut adalah memahami makna-makna Al-Qur’an dan juga mengamalkannya, sehingga jika hal ini bukan menjadi perhatian terbesar bagi orang yang menghafalnya maka dia bukan termasuk ahli ilmu dan agama.” (lihat Majmu’ul Fatawa, jilid 23 hlm. 55)
Sabtu, 09 September 2023
Kibr ( Takabur/Sombong ) Dan Hasad ( Dengki ) Dua Penyakit Yang Membinasakan
Kibr ( Takabur/Sombong ) Dan Hasad ( Dengki )
Dua Penyakit Yang Membinasakan
Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata :
والكبر والحسد هما داءان أهلكا الأولين والآخرين وهما أعظم الذنوب التي بها عصى الله أولا فإن إبليس استكبر وحسد آدم وكذلك ابن آدم الذي قتل أخاه حسد أخاه
"Takabur dan hasad adalah dua penyakit yang membinasakan generasi pertama sampai terakhir. Keduanya dosa terbesar yang Allah dimaksiati dengannya. Karena Iblis kibr dan hasad kepada Adam. Demikian juga anak Adam membunuh saudaranya akibat hasad..” (lihat Jami’ur Rosail hal. 233)
Akibat kibr (kesombongan), orang bisa mendustakan (menolak) kebenaran dan meremehkan para pemberi nasihat yang menyampaikan kebenaran. Sehingga ia lebih memilih kesesatan dibanding kebenaran..
Jumat, 08 September 2023
Obat Riya' Dan Kibr (Takabur/Sombong)
Obat Riya' Dan Kibr (Takabur/Sombong)
قال ابن القيِّم - رحمه الله تعالى -: "فدواء الرِّياء بـ﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ﴾، ودواء الكبر بـ﴿ إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾، وكثيرًا ما كنت أسْمَع شيخَ الإسلام ابن تيمية - قدَّس الله رُوحه - يقول: ﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ ﴾ تدفع الرِّياء، و﴿ إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾ تدفع الكِبرياء"
مدرج السالكين ١/٥٤
Berkata Ibnul Qoyyim Rohimahullah Ta'ala :
" Maka obatnya riya' adalah ( Hanya kepada-Mu kami beribadah) dan obatnya sombong ( Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan).
Dan sering kali aku mendengarkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah - Semoga Allah mensucikan ruhnya - mengatakan :
" ( Hanya kepada-Mu kami beribadah ) menolak riya' dan ( Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan ) menolak sombong..."
(Lihat kitab Madarijus Salikin 1/54 karya Ibnul Qoyyim Rohimahullah Ta'ala)
Rabu, 06 September 2023
Janganlah Mengikuti Kebanyakan Manusia...Bagaimana Keadaan Kebanyakan Manusia ?
Janganlah Mengikuti Kebanyakan Manusia...Bagaimana Keadaan Kebanyakan Manusia ?
1. Tidak Beriman (lihat QS. Hud : 17)
2. Benci Kepada Kebenaran (lihat QS. Az Zukhruf : 78)
3. Tidak Bersyukur (lihat QS. Al Baqarah : 243)
4. Fasiq (lihat QS. Al Maidah : 49)
5. Lalai Dari Ayat-ayat Allah (lihat QS. Yunus : 92)
6. Tidak Mengetahui Agama Yang Lurus (lihat QS. Yusuf : 40)
7. Mengikuti Persangkaan Belaka (lihat QS. Al An'am : 116)
8. Menyesatkan Orang Lain (lihat QS. Al An'am : 119)
9. Suka membantah perintah, membantah larangan atau membantah kebenaran. (lihat QS Al-Kahf i: 54)
10. Penghuni Neraka Jahannam (lihat QS. Al A'raf : 179)
Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menunjuki kita ke jalan yang lurus. Amin.
Minggu, 03 September 2023
Berteman Dan Mencintai Orang Miskin
Berteman Dan Mencintai Orang Miskin
Abdullah bin Mubarak Rahimahullah berkata :
ليكن مجلسك مع المساكين.
"Hendaknya teman dudukmu adalah orang-orang miskin." (lihat Siyar A'lam An Nubalaa 8/353)
Abdullah bin Aun Rahimahullah berkata :
«صحبتُ الأغنياء، فلم يكن أحدًا أطول همًا مني، إن رأيت أحدا أحسن ثيابا مني و أطيب ريحا مني وصحبت الفقراء فاسترحت»
صفة الصفوة ٢/٥٣
"Ketika aku bergaul dengan orang-orang kaya saat itu aku tidak menemukan seseorang pun yang lebih panjang kesedihannya dari diriku karena aku melihat seseorang yang lebih bagus pakaiannya dariku dan lebih harum aromanya dariku..,
Namun ketika aku berteman dengan orang-orang fakir hidupku lebih tentram dan tenang." (lihat Sifat Ash Shofwah 2/52)
Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman :
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِى وَتَرْحَمَنِى وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِى غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
“Wahai Muhammad, jika engkau shalat, ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin, wa an taghfirolii wa tarhamanii, wa idza arodta fitnata qowmin fatawaffanii ghoiro maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba ‘amalan yuqorribu ilaa hubbik (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin, ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu)”. Dalam lanjutan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, “Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah”. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Selasa, 29 Agustus 2023
Hiduplah Engkau Di Dunia Bagaikan Musafir
Hiduplah Engkau Di Dunia Bagaikan Musafir
وعن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري
Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh ﷺ pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Al Bukhori)
Rasulullah ﷺ bersabda :
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَ تَرَكَهَا
“Apa peduliku dengan dunia? Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti pengendara (musafir) yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551 dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata :
الناس منذ خلقوا لم يزالوا مسافرين, ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻬﻢ ﺣﻂٌّ ﻋﻦ ﺭِﺣﺎﻟﻬﻢ ﺇﻻَّ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨَّﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻨﺎﺭ
“Manusia sejak diciptakan senantiasa menjadi musafir, Batas akhir perhentian perjalanan mereka adalah surga atau neraka.” (lihat Al-Fawaid, hal 400)
Senin, 28 Agustus 2023
Bidadari Di Jannah ( Surga )
Bidadari Di Jannah ( Surga )
Diantara kenikmatan di Jannah, Allah Ta’ala berfirman :
فِيْهِنَّ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِۙ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ ٥٦ فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ ٥٧ كَاَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُۚ
"Di dalam Jannah itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (QS.Ar-Rahman/55: 56-58)
وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ ٢٢ كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ
"Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata Jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik." (QS. Al-Waqi’ah/56: 22-23)
اِنَّآ اَنْشَأْنٰهُنَّ اِنْشَاۤءًۙ ٣٥ فَجَعَلْنٰهُنَّ اَبْكَارًاۙ ٣٦ عُرُبًا اَتْرَابًاۙ ٣٧ لِّاَصْحٰبِ الْيَمِيْنِۗ
"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari)dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan." (QS. Al-Waqi’ah/56: 35-38)
Sabtu, 26 Agustus 2023
Carilah Ridho Allah Daripada Mencari Ridha Manusia ( Makhluk)
Carilah Ridho Allah Daripada Mencari Ridha Manusia ( Makhluk)
عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »
Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Rabu, 23 Agustus 2023
BURUKNYA SIFAT PENDUSTA
BURUKNYA SIFAT PENDUSTA
Dusta adalah kunci dan landasan kemunafikan, dan merupakan salah satu sifat makhluk yang paling tercela.
وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: “وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.”
Dari Abu Hurairah Radiyallāhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda : “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; ⑴ jika berkata ia bohong, ⑵ jika berjanji ia menyelisihi, dan ⑶ jika diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat.” (Muttafaqun ‘alaih)
Diriwayatkan pula dalam shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar: “Apabila ia bermusuhan (bersengketa) ia berbuat kefajiran (keluar dari jalan kebenaran).”
Dan tidaklah Adam dan Hawa dikeluarkan dari Jannah (Surga) kecuali karena kedustaan Iblis kepada keduanya. Allah berfirman tentang Iblis :
﴿وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ﴾
[ الأعراف: 21]
"Dan dia (syaithan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kalian berdua"," (QS. Al A'raf : 21)
Para ahli ilmu telah menjadikan keadaan pendusta itu lebih buruk daripada binatang, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Al Fatawa berkata:
الكاذب أسوأ حالًا من البهيمة العجماء.
“Seorang pendusta lebih buruk keadaannya dibandingkan hewan yang tidak bisa berbicara.” (lihat Majmu’ul Fatawa, jilid 20 hlm. 74)


















