Rabu, 05 Juni 2024

Perbanyak Istighfar Di Setiap Keadaan


 

Perbanyak Istighfar Di Setiap Keadaan


وقد رواه ابن أبي الدنيا في كتاب (التوبة) حديث رقم (158) قال:
حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ مَحْبُوبٍ، ثنا أَبُو تَوْبَةَ، ثنا الْمُعْتَمِرُ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ، يَقُولُ: أَكْثِرُوا مِنَ الِاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ، أَيْنَمَا كُنْتُمْ فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ.


✍🏼 Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

أَكْثِرُوا مِنَ الاسْتِغْفَارِ فِي بُيُوتِكُمْ، وَعَلَى مَوَائِدِكُمْ، وَفِي طُرُقِكُمْ، وَفِي أَسْوَاقِكُمْ، وَفِي مَجَالِسِكُمْ، أَيْنَمَا كُنْتُمْ فَإِنَّكُمْ مَا تَدْرُونَ مَتَى تَنْزِلُ الْمَغْفِرَةُ

Perbanyaklah istighfaar (1) di rumah-rumah kalian, (2) di meja-meja hidangan kalian, (3) di jalan-jalan kalian, (4) di pasar-pasar kalian, (5) di majelis-majelis (tempat perkumpulan) kalian dan dimana saja kalian berada. Sungguh kalian tidak mengetahui kapan turunnya ampunan .

📕 Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyaa dalam kitab At-Taubah hadits : 158.

Nasihat Apabila Usia Telah Memasuki 60 Tahun



 

Nasihat Apabila Usia Telah Memasuki 60 Tahun

      Apabila usia telah menginjak 60 tahun, maka janganlah malah panjang angan-angan dan cinta harta (dunia). Dalam hadits disebutkan,

قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ حُبِّ الْعَيْشِ وَالْمَالِ

 "(Ada) hati orang tua yang tetap muda dalam dua perkara, yaitu; dalam hal mencintai hidup (ingin berumur panjang) dan cinta harta." (HR. Muslim 1046)

     Dalam riwayat lain disebutkan,

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ

“Bani Adam (manusia) ada yang usianya menua. Hanya saja jiwanya tetap merasa muda mengenai dua perkara, yaitu tamak akan harta benda dan antusias untuk panjang umur.” (HR. Muslim)

     Dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

"Allah memberi udzur kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya, hingga sampai usia 60 tahun." (HR. Bukhari 6419).

     Bukan maksud hadits bahwa orang yang usianya di bawah 60 tahun, berarti dia punya udzur di hadapan الله. Karena semua orang tidak memiliki udzur (alasan) di hadapan الله (untuk melanggar) setelah الله mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan Kitab. Namun maksud hadits itu motivasi bagi manusia yang telah mencapai usia ini untuk semakin bertaqwa kepada Allah di sisa usianya.

قال الحافظ في " الفتح " ( 10 / 240 ) : " الإعذار : إزالة العذر . والمعنى : أنه لم يبق له اعتذار ، كأن يقول : لو مد لي في الأجل لفعلت ما أمرت به . .... وإذا لم يكن له عذر في ترك الطاعة مع تمكنه منها بالعمر الذي حصل له ؛ فلا ينبغي له حينئذ إلا الاستغفار والطاعة ، والإقبال على الآخرة بالكلية " انتهى.

     Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di Al Fath (10/240), الإعذار : terhapus udzur.

وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَمْ يَبْقَ لَهُ اعْتِذَارٌ كَأَنْ يَقُولَ لَوْ مُدَّ لِي فِي الْأَجَلِ لَفَعَلْتُ مَا أُمِرْتُ بِهِ ….وَإِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ عُذْرٌ فِي تَرْكِ الطَّاعَةِ مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْهَا بِالْعُمُرِ الَّذِي حَصَلَ لَهُ فَلَا يَنْبَغِي لَهُ حِينَئِذٍ إِلَّا الِاسْتِغْفَارُ وَالطَّاعَةُ وَالْإِقْبَالُ عَلَى الْآخِرَةِ بِالْكُلِّيَّةِ

"Makna hadits bahwa udzur (alasan) sudah tidak ada, misalnya ada orang mengatakan, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.” ....
Ketika dia tidak memiliki udzur untuk meninggalkan ketaatan, sementara sangat memungkinkan baginya untuk melakukannya, dengan usia yang dia miliki, maka ketika itu tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah ketaatan, dan konsentrasi penuh untuk akhirat. (lihat Fathul Bari, 11/240).

     Maka, semestinya orang yang usianya semakin menua untuk memperbanyak amal shalih. Meskipun, para remaja juga seharusnya demikian, karena manusia tidak tahu kapan ia akan meninggal. Bisa saja, seorang pemuda meninggal pada usia mudanya atau ajalnya tertunda hingga ia tua. Akan tetapi, yang pasti bahwa orang yang sudah berusia senja, ia lebih dekat kepada kematian lantaran telah menghabiskan jatah usianya.”

Minggu, 02 Juni 2024

Dzul-Qo'dah Termasuk Bulan Haram Yang Banyak Dilalaikan


 

Dzul-Qo'dah Termasuk Bulan Haram Yang Banyak Dilalaikan


     Di dalam Al Qur'an الله Ta’ala berfirman mengenai bulan haram,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi الله ialah dua belas bulan, dalam ketetapan الله di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

     Nabi  bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak الله Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzul-Qo'dah, Dzul-Hijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadilakhir dan Syakban” (HR. Bukhari dan Muslim).

     Dari keempat bulan haram tersebut yang paling banyak dilalaikan yaitu Dzul-Qo"dah. Beberapa ulama menjelaskan mengenai keutamaan bulan Haram. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

ثم اختص من ذلك أربعة أشهر فجعلهن حراما ، وعظم حرماتهن ، وجعل الذنب فيهن أعظم ، والعمل الصالح والأجر أعظم

“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut dan menjadikannya bulan haram. Allah jadikan melakukan perbuatan dosa pada saat itu lebih besar, sedangkan beramal salih diberi pahala lebih besar juga.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Jumat, 31 Mei 2024

Berdoa Berlindung Dari Kesyirikan


 

Berdoa Berlindung Dari Kesyirikan


      Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mempunyai kedudukan yang mulia. Allah Ta’ala berfirman tentang beliau,

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ {120}

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada الله dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) ” (QS. An Nahl:120). Namun di sisi lain, beliau masih berdo’a kepada Allah,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ اْلأَصْنَامَ {35}

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim : 35)

     Rasulullah  mengajari kita untuk berlindung dari kesyirikan. Beliau berdoa :

اللَّهُمَّ إَنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

"Ya Allah.. aku berlindung kepada Engkau dari kesyirikan yang aku mengetahui dan aku mohon ampunanMu dari syirik yang tidak aku ketahui.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad dan juga Abu Ya’la dalam musnadnya, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani Rahimahullah dalam Shahih Al-Adabul Mufrad)

Jumat, 24 Mei 2024

Sepuluh Perkara Yang Termasuk Fithrah


 

Sepuluh Perkara Yang Termasuk Fithrah
 عشر من الفطرة


وعَنْ عائِشة رضيَ اللَّه عنْهَا قَالَتْ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: عَشرٌ مِنَ الفِطرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ، وإِعفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، واسْتِنشَاقُ الماءِ، وقَصُّ الأَظفَارِ، وغَسلُ البَرَاجِمِ، وَنَتفُ الإِبطِ، وَحلقُ العانَة، وانتِقاصُ المَاءِ قَالَ الرَّاوي: ونسِيتُ العاشِرة إِلاَّ أَن تَكون المَضمضَةُ، قالَ وَكيعٌ وَهُوَ أَحَدُ روَاتِهِ: انتِقَاصُ الماءِ، يَعني: الاسْتِنْجاءَ. رَواهُ مُسلِمٌ.

Dari ‘Aisyah رضيَ اللَّه عنْهَا, Rasulullah bersabda: “Ada sepuluh perkara yang termasuk fithrah; (1) memotong (memendekkan) kumis, (2) memelihara jenggot, (3) bersiwak, (4) beristinsyaq (menghirup air ke hidung dalam berwudhu), (5) memotong kuku, (6) mencuci barojim (persendian yaitu tempat melekatnya kotoran seperti sela-sela jari, ketiak, telinga, dll.), (7) mencabut bulu ketiak, (8) mencukur bulu kemaluan, (9) intiqashul ma‘ (istinja’).” Zakariya berkata, Mush’ab berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin ia adalah (10) berkumur.” Qutaibah menambahkan, Waki’ berkata, “Intiqashul ma’ yakni istinja’. (HR. Muslim)

     Ada tambahan ke-11 yaitu khitan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ

“Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258)

Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah Ke-33 : Yang Menuduh Harus Datangkan Bayyinah


 

Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah Ke-33 : Yang Menuduh Harus Datangkan Bayyinah


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ، لَادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ، وَلَكِنِ البَيِّنَةُ عَلَى المُدَّعِي، وَاليَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ البَيْهَقِيُّ هَكَذَا، بَعْضُهُ فِي الصَّحِيْحَيْنِ.

Dari Ibnu ‘Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا bahwa Rasulullah bersabda, “Seandainya setiap manusia dipenuhi tuntutannya, niscaya orang-orang akan menuntut harta dan darah suatu kaum. Namun, penuntut wajib datangkan bukti dan yang mengingkari dituntut bersumpah.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi seperti ini dan sebagiannya ada dalam Bukhari dan Muslim)

     Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan,

أَجْمَعَ أَهْلُ العِلْمِ عَلَى أَنَّ البيِّنَةَ عَلَى المُدَّعِي ، وَاليَمِيْنُ عَلَى المُدَّعَى عَلَيْهِ

“Para ulama bersepakata bahwa yang menuduh diperintahkan mendatangkan bukti. Sedangkan, yang dituduh cukup bersumpah.”  (lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:230)

* da’waahum : tuntutan bahwa dia yang benar
* bayyinah : hujjah, dalil, atau bukti
* mudda’i : yang mengklaim bahwa dia itu benar, ia harus datangkan bukti
* mudda’a ‘alaihi : yang dituduh, dia disuruh mengingkari dengan sumpah jika tidak benar
 
     Sebagaimana pendakwa harus membuktikan dakwaannya dalam urusan dunia, ia harus mendatangkan bukti atas dakwaannya dalam urusan-urusan ukhrawi. 

Rabu, 22 Mei 2024

Wasiat Al Hasan Al Bashri Rahimahullah Untuk Ahlus Sunnah


 

Wasiat Al Hasan Al Bashri Rahimahullah Untuk Ahlus Sunnah


عن الحسن البصري رحمه الله قال: «يا أهل السنَّة تَرفقوا رحمكم الله فإنَّكم من أقلِّ الناس» شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي

Hasan Al Bashri rahimahullah berkata :

يا أهل السُّنَّةِ تَرَفَقُوا رَحِمَكُمُ اللَّهُ فَإِنَّكُم مِن أَقل النَّاسِ

"Wahai Ahlus Sunnah, berlemah lembutlah kalian! Semoga Allah merahmati kalian! Karena sesungguhnya kalian termasuk kelompok manusia yang paling sedikit!"
(Diriwayatkan Al-Laalikaa'i dalam I'tiqod Ahlis Sunnah, 1/57 no.19)

Kamis, 16 Mei 2024

Janganlah Engkau Berkecil Hati Dengan Sedikitnya Orang Yang Mengikuti Kebenaran


 

Janganlah Engkau Berkecil Hati Dengan Sedikitnya Orang Yang Mengikuti Kebenaran

قال بعض السلف : عليك بطريق الحق ، ولا تستوحش لقلة السالكين؛ وإياك وطريق الباطل، ولا تغتر بكثرة الهالكين. وكلما استوحشت في تفردك فانظر إلى الرفيق السابق، واحرص على اللحاق بهم ، وغض الطرف عمن سواهم فإنهم لن يُغنوا عنك من الله شيئا.
(ابن القيم | مدارج السالكين)

     Sebagian salaf mengatakan,

عليك بطريق الحق ، ولا تستوحش لقلة السالكين؛ وإياك وطريق الباطل، ولا تغتر بكثرة الهالكين. وكلما استوحشت في تفردك فانظر إلى الرفيق السابق، واحرص على اللحاق بهم ، وغض الطرف عمن سواهم فإنهم لن يُغنوا عنك من الله شيئا.

“Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa.
Kapan pun engkau merasa kesepian dalam kesendirian (keterasingan), lihatlah temanmu yang telah lebih awal, pastikan untuk mengejar mereka, dan tutup mata (tak usah perhatikan) terhadap selainnya, karena mereka tidak akan berguna bagi engkau di hadapan الله." (lihat Madarijus Salikin)

.

Rabu, 15 Mei 2024

Hakikat Orang Yang Berakal Sehat


 

Hakikat Orang Yang Berakal Sehat
حقيقة العاقل


قال سفيان بن عيينة -رحمه الله- : «ليس العاقل الذي يَعرِفُ الخيرَ والشرَّ؛ إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتَّبعه، وإذا رأى الشر اجتنبه». [«حلية الأولياء» لأبي نعيم : (8/ 339)، و«شعب الإيمان» للبيهقي : (4664)]

     Al Imam Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله berkata :

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر، إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه وإذا رأى الشر اجتنبه

"Orang yang berakal bukanlah yang mengetahui kebaikan dan keburukan. Akan tetapi orang yang berakal itu adalah orang yang apabila mengetahui kebaikan dia mengikutinya dan apabila mengetahui keburukan dia menjauhinya."
(Al-Hilyah Al-Auliya', 8/339)

Sabtu, 11 Mei 2024

Nasihat Utsman Bin Hakim Al-Adawi Rahimahullah Dalam Memilih Teman


 

Nasihat Utsman Bin Hakim Al-Adawi Rahimahullah Dalam Memilih Teman



قال عثمان بن حكيم الأودي : اصحب من هو فوقك في الدين ودونك في الدنيا. (الإخوان لابن أبي الدنيا ٩٦/١)

     Utsman bin Hakim Al-Adawi rahimahullah mengingatkan kita tentang pentingnya selektif dalam memilih teman. Beliau mengatakan,

اصحب من هو فوقك في الدين ودونك في الدنيا

“Bertemanlah dengan orang yang berada di atasmu dalam urusan agama dan berada di bawahmu dalam urusan dunia.”
(lihat Al-Ikhwan 1/96)

Senin, 06 Mei 2024

Ushul Yang Membangun Kebahagiaan Manusia


 

Ushul Yang Membangun Kebahagiaan Manusia
الأصول التي تُبنى عليها سعادة الإنسان


قال ابن القيم رحمه الله :
الأصول التي انبنى عليها سعادة العبد ثلاثة، ولكل واحد منها ضدٌّ، فمن فقد ذلك الأصل حصل على ضده: التوحيد وضده الشرك، والسنة وضدها البدعة، والطاعة وضدها المعصية، ولهذه الثلاثة ضد واحد، وهو: خُلوُّ القلب من الرغبة في الله وفيما عنده، ومن الرهبة منه ومما عنده.

     Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. (1) Tauhid, lawannya syirik. (2) Sunnah, lawannya bid’ah. Dan (3) ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan (ketaatan kepada) Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.”  (lihat Al-Fawa’id)

Minggu, 05 Mei 2024

Hukuman Atas Orang Yang Menolak Dan Tidak Mau Menerima Kebenaran


Hukuman Atas Orang Yang Menolak Dan Tidak Mau Menerima Kebenaran



وقال ابن القيم رحمه الله تعالى : من عرض عليه حق فرده فلم يقبله، عوقب بفساد قلبه وعقله ورأيه.
(مفتاح دار السعادة : ١/١٦٠)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Barangsiapa yang dipaparkan (ditunjukkan) kebenaran padanya namun dia menolaknya tidak mau menerima, maka dia akan dihukum dalam bentuk rusak hatinya, akal dan ra'yu-nya."
(lihat Miftah Daar As-Sa'adah 1/160)


Sulitnya Menjumpai Orang Yang Sholih Untuk Bisa Dijadikan Teman


 

Sulitnya Menjumpai Orang Yang Sholih Untuk Bisa Dijadikan Teman


     Umar radhiyallahu 'anhu berkata :

اعتزل ما يؤذيك، وعليك بالخليل الصالح وقلما تجده، وشاور في أمرك الذين يخافون الله.

“Tinggalkan hal-hal (semua orang) yang menyakitimu, bertemanlah dengan orang yang shalih walaupun engkau akan sulit mendapatkannya, dan bermusyawarahlah (minta nasihat) tentang urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah.”

(lihat Hilyatul Auliya’, no. 8996)