Jumat, 24 Mei 2024

Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah Ke-33 : Yang Menuduh Harus Datangkan Bayyinah


 

Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah Ke-33 : Yang Menuduh Harus Datangkan Bayyinah


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ، لَادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ، وَلَكِنِ البَيِّنَةُ عَلَى المُدَّعِي، وَاليَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ البَيْهَقِيُّ هَكَذَا، بَعْضُهُ فِي الصَّحِيْحَيْنِ.

Dari Ibnu ‘Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya setiap manusia dipenuhi tuntutannya, niscaya orang-orang akan menuntut harta dan darah suatu kaum. Namun, penuntut wajib datangkan bukti dan yang mengingkari dituntut bersumpah.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi seperti ini dan sebagiannya ada dalam Bukhari dan Muslim)

     Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan,

أَجْمَعَ أَهْلُ العِلْمِ عَلَى أَنَّ البيِّنَةَ عَلَى المُدَّعِي ، وَاليَمِيْنُ عَلَى المُدَّعَى عَلَيْهِ

“Para ulama bersepakata bahwa yang menuduh diperintahkan mendatangkan bukti. Sedangkan, yang dituduh cukup bersumpah.”  (lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:230)

* da’waahum : tuntutan bahwa dia yang benar
* bayyinah : hujjah, dalil, atau bukti
* mudda’i : yang mengklaim bahwa dia itu benar, ia harus datangkan bukti
* mudda’a ‘alaihi : yang dituduh, dia disuruh mengingkari dengan sumpah jika tidak benar
 
     Sebagaimana pendakwa harus membuktikan dakwaannya dalam urusan dunia, ia harus mendatangkan bukti atas dakwaannya dalam urusan-urusan ukhrawi. 

Rabu, 22 Mei 2024

Wasiat Al Hasan Al Bashri Rahimahullah Untuk Ahlus Sunnah


 

Wasiat Al Hasan Al Bashri Rahimahullah Untuk Ahlus Sunnah


عن الحسن البصري رحمه الله قال: «يا أهل السنَّة تَرفقوا رحمكم الله فإنَّكم من أقلِّ الناس» شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي

Hasan Al Bashri rahimahullah berkata :

يا أهل السُّنَّةِ تَرَفَقُوا رَحِمَكُمُ اللَّهُ فَإِنَّكُم مِن أَقل النَّاسِ

"Wahai Ahlus Sunnah, berlemah lembutlah kalian! Semoga Allah merahmati kalian! Karena sesungguhnya kalian termasuk kelompok manusia yang paling sedikit!"
(Diriwayatkan Al-Laalikaa'i dalam I'tiqod Ahlis Sunnah, 1/57 no.19)

Kamis, 16 Mei 2024

Janganlah Engkau Berkecil Hati Dengan Sedikitnya Orang Yang Mengikuti Kebenaran


 

Janganlah Engkau Berkecil Hati Dengan Sedikitnya Orang Yang Mengikuti Kebenaran

قال بعض السلف : عليك بطريق الحق ، ولا تستوحش لقلة السالكين؛ وإياك وطريق الباطل، ولا تغتر بكثرة الهالكين. وكلما استوحشت في تفردك فانظر إلى الرفيق السابق، واحرص على اللحاق بهم ، وغض الطرف عمن سواهم فإنهم لن يُغنوا عنك من الله شيئا.
(ابن القيم | مدارج السالكين)

     Sebagian salaf mengatakan,

عليك بطريق الحق ، ولا تستوحش لقلة السالكين؛ وإياك وطريق الباطل، ولا تغتر بكثرة الهالكين. وكلما استوحشت في تفردك فانظر إلى الرفيق السابق، واحرص على اللحاق بهم ، وغض الطرف عمن سواهم فإنهم لن يُغنوا عنك من الله شيئا.

“Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa.
Kapan pun engkau merasa kesepian dalam kesendirian (keterasingan), lihatlah temanmu yang telah lebih awal, pastikan untuk mengejar mereka, dan tutup mata (tak usah perhatikan) terhadap selainnya, karena mereka tidak akan berguna bagi engkau di hadapan الله." (lihat Madarijus Salikin)

.

Rabu, 15 Mei 2024

Hakikat Orang Yang Berakal Sehat


 

Hakikat Orang Yang Berakal Sehat
حقيقة العاقل


قال سفيان بن عيينة -رحمه الله- : «ليس العاقل الذي يَعرِفُ الخيرَ والشرَّ؛ إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتَّبعه، وإذا رأى الشر اجتنبه». [«حلية الأولياء» لأبي نعيم : (8/ 339)، و«شعب الإيمان» للبيهقي : (4664)]

     Al Imam Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله berkata :

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر، إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه وإذا رأى الشر اجتنبه

"Orang yang berakal bukanlah yang mengetahui kebaikan dan keburukan. Akan tetapi orang yang berakal itu adalah orang yang apabila mengetahui kebaikan dia mengikutinya dan apabila mengetahui keburukan dia menjauhinya."
(Al-Hilyah Al-Auliya', 8/339)

Sabtu, 11 Mei 2024

Nasihat Utsman Bin Hakim Al-Adawi Rahimahullah Dalam Memilih Teman


 

Nasihat Utsman Bin Hakim Al-Adawi Rahimahullah Dalam Memilih Teman



قال عثمان بن حكيم الأودي : اصحب من هو فوقك في الدين ودونك في الدنيا. (الإخوان لابن أبي الدنيا ٩٦/١)

     Utsman bin Hakim Al-Adawi rahimahullah mengingatkan kita tentang pentingnya selektif dalam memilih teman. Beliau mengatakan,

اصحب من هو فوقك في الدين ودونك في الدنيا

“Bertemanlah dengan orang yang berada di atasmu dalam urusan agama dan berada di bawahmu dalam urusan dunia.”
(lihat Al-Ikhwan 1/96)

Senin, 06 Mei 2024

Ushul Yang Membangun Kebahagiaan Manusia


 

Ushul Yang Membangun Kebahagiaan Manusia
الأصول التي تُبنى عليها سعادة الإنسان


قال ابن القيم رحمه الله :
الأصول التي انبنى عليها سعادة العبد ثلاثة، ولكل واحد منها ضدٌّ، فمن فقد ذلك الأصل حصل على ضده: التوحيد وضده الشرك، والسنة وضدها البدعة، والطاعة وضدها المعصية، ولهذه الثلاثة ضد واحد، وهو: خُلوُّ القلب من الرغبة في الله وفيما عنده، ومن الرهبة منه ومما عنده.

     Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. (1) Tauhid, lawannya syirik. (2) Sunnah, lawannya bid’ah. Dan (3) ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan (ketaatan kepada) Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.”  (lihat Al-Fawa’id)

Minggu, 05 Mei 2024

Hukuman Atas Orang Yang Menolak Dan Tidak Mau Menerima Kebenaran


Hukuman Atas Orang Yang Menolak Dan Tidak Mau Menerima Kebenaran



وقال ابن القيم رحمه الله تعالى : من عرض عليه حق فرده فلم يقبله، عوقب بفساد قلبه وعقله ورأيه.
(مفتاح دار السعادة : ١/١٦٠)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Barangsiapa yang dipaparkan (ditunjukkan) kebenaran padanya namun dia menolaknya tidak mau menerima, maka dia akan dihukum dalam bentuk rusak hatinya, akal dan ra'yu-nya."
(lihat Miftah Daar As-Sa'adah 1/160)


Sulitnya Menjumpai Orang Yang Sholih Untuk Bisa Dijadikan Teman


 

Sulitnya Menjumpai Orang Yang Sholih Untuk Bisa Dijadikan Teman


     Umar radhiyallahu 'anhu berkata :

اعتزل ما يؤذيك، وعليك بالخليل الصالح وقلما تجده، وشاور في أمرك الذين يخافون الله.

“Tinggalkan hal-hal (semua orang) yang menyakitimu, bertemanlah dengan orang yang shalih walaupun engkau akan sulit mendapatkannya, dan bermusyawarahlah (minta nasihat) tentang urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah.”

(lihat Hilyatul Auliya’, no. 8996)

Minggu, 28 April 2024

Nasihat Uwais Al-Qorni Rahimahullah


 

Nasihat Uwais Al-Qorni Rahimahullah

"Janganlah engkau melihat pada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati.."


قال هرم بن حيان لأويس القرني: أوصني قال: توسد الموت إذا نمت، واجعله نصب عينيك، وإذا قمت فادع الله أن يصلح لك قلبك ونيتك، فلن تعالج شيئاً أشد عليك منهما، بينا قلبك معك ونيتك إذا هو مدبر، وبينا هو مدبر إذا هو مقبل، ولا تنظر في صغر الخطيئة ولكن انظر إلى عظمة من عصيت. (كتاب صفة الصفوة - ابن الجوزي)
https://shamela.ws/book/12031/877

Harim bin Hayyan pernah berkata kepada Uwais Al-Qorni rahimahullah , “Nasehatilah aku”. Beliau menjawab :
“Jadikanlah al maut (kematian) sebagai bantalmu saat kamu tidur, dan jadikan ia di pelupuk matamu. Jika kamu bangun, berdo’alah kepada الله untuk memperbaiki hati dan niatmu. Kamu tidak akan pernah mampu mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati hati dan niat. Adakalanya hatimu bersamamu tetapi niatmu berpaling darimu, dan adakalanya hatimu berpaling namun niatmu datang menghampiri. Dan janganlah kamu melihat pada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati.” (lihat Shifat Ash-Shafwah)

Rabu, 13 Maret 2024

Ramadhan Bulan Diturunkannya Al Qur’an Dan Diwajibkan Puasa





Ramadhan Bulan Diturunkannya Al Qur’an Dan Diwajibkan Puasa

     Allah Ta'ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
             
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 185)

Senin, 11 Maret 2024

Tahukah Engkau Hakikat Puasa ?


 

Tahukah Engkau Hakikat Puasa ?


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ. وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda : “Shiyam adalah tameng, maka jika salah seorang dari kalian sedang shoum maka janganlah berkata-kata kotor(rafats), dan jangan pula ribut-ribut.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dan jangan berbuat bodoh.” “Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).” (HR. Al-Bukhari No. 1894; HR. Muslim No. 1151)

     Nabi ﷺ bersabda :

لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ، فَإِنْ شَابَكَ أحَدٌ أَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنّي صَا ئِمٌ، إِنِّي صَاءِمٌ

”Puasa bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perkataan keji (rafats). Apabila salah seorang dari kalian mencaci atau menghinamu maka katakan, ‘Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.'” (Hadīts shahīh Ibnu Khuzaimah 1996, Al Hakim 1/430-431)

     قال ابن القيم رحمه الله: والصائم هو الذي صامت جوارحه عن الآثام، ولسانه عن الكذب والفحش وقول الزور، وبطنه عن الطعام والشراب، وفرجه عن الرفث؛ (الوابل الصيب 43).

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata : “Orang yang berpuasa adalah yang anggota tubuhnya berpuasa dari dosa-dosa, lisannya berpuasa dari ucapan dusta, perkataan keji dan persaksian palsu, perutnya berpuasa dari makan dan minum, dan kemaluannya berpuasa dari jima’.” (lihat Al-Wabilus Shayyib : 43)