Rabu, 31 Januari 2024

Ucapan Ketika Ada Musibah ( Kematian/Semisal ) Dan Ta'ziyah


 

Ucapan Ketika Ada Musibah ( Kematian/Semisal ) Dan Ta'ziyah

☆  Rasulullah ﷺ mengajarkan saat tertimpa musibah membaca doa berikut ini :

إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ..
“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.” (HR Muslim).

☆  Lafazh ta’ziyah yang paling utama yang berasal dari Sunnah Nabi ﷺ :

اِصْبِرْ وَاحْتَسِبْ فَإِنَّ ِللهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مَسَمًّى.

“Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah, sesungguhnya adalah hak Allah mengambil dan memberikan sesuatu, segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang telah ditentukan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

"Sesungguhnya adalah milik Allah apa yang Dia ambil, dan akan kembali kepadaNya apa yang Dia berikan. Segala sesuatu yang ada disisiNya ada jangka waktu tertentu (ada ajalnya). Maka hendaklah engkau bersabar dan mengharap pahala dari Allah." (HR Muslim, 3/39)

Kamis, 18 Januari 2024

Bila Akal Lebih Mendahulukan Sesuatu Yang Fana Daripada Yang Kekal


 

Bila Akal Lebih Mendahulukan Sesuatu Yang Fana Daripada Yang Kekal



قال العلامة ابن القيم رحمه الله:

" متى رأيت العقل يؤثر الفاني على الباقي فاعلم أنه قد  مُسِخ."

( بدائع الفوئد ٣/ ٢٢٤ )

Al-'Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

"Kapanpun engkau melihat akal lebih mengedepankan sesuatu yang fana daripada sesuatu yang kekal, maka ketahuilah bahwa akal tersebut telah rusak."
( lihat Badai'ul Fawa'id 3/224).

Jumat, 12 Januari 2024

Benarkah Keturunan Nabi Ibrahim Dari Jalur Ismail Tak Ada Yang Berhak Menjadi Nabi ?




 

Benarkah Keturunan Nabi Ibrahim Dari Jalur Ismail Tak Ada Yang Berhak Menjadi Nabi ?


۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

124. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya dengan sempurna. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Dia (Ibrahim) berkata: "Dan (saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak berlaku bagi orang-orang yang zhalim". (Al Baqarah : 124)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ (127) رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ (128) رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ (129)
وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَٰهِۦمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُۥ ۚ وَلَقَدِ ٱصْطَفَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ (130)

(127) Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(128) Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(129) Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
(130) Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. (QS. Al Baqarah : 127- 130)

     Frasa kunci untuk ayat-ayat di atas adalah "diantara anak-cucu kami" dan "utuslah untuk mereka seorang Rasul".
Pertanyaannya adalah: Siapakah Rasul yang dimaksud itu. Untuk menjawab pertanyaan di atas, Allah dengan tegas berfirman :

مَا كَانَ اِبۡرٰهِيۡمُ يَهُوۡدِيًّا وَّلَا نَصۡرَانِيًّا وَّ لٰكِنۡ كَانَ حَنِيۡفًا مُّسۡلِمًا ؕ وَمَا كَانَ مِنَ الۡمُشۡرِكِيۡنَ (67) اِنَّ اَوۡلَى النَّاسِ بِاِبۡرٰهِيۡمَ لَـلَّذِيۡنَ اتَّبَعُوۡهُ وَهٰذَا النَّبِىُّ وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا ‌ؕ وَاللّٰهُ وَلِىُّ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ (68)

67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."
68. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran : 67-68)

     Lebih jauh, Ibrahim berkata sebagaimana Firman Allah :

وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ

132. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim (memeluk agama Islam)". (QS. Al Baqarah : 132)

     Perhatikan kata "agama Islam" dalam ayat di atas yang berhubungan erat dengan Nabi Muhammad.

     Dalil bahwa Ismail juga seorang nabi dan rasul, Allah berfirman :

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (مريم: 54)

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi." (Q.S. Maryam [19]: 54).

     Diantara dalil bahwa Muhammad seorang rasul, Allah berfirman :

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
   
29. Muhammad adalah rasulullah (utusan Allah) dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al Fath : 29)

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (nabi Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”  (QS. Ash-Shaff : 6)

Selasa, 09 Januari 2024

Hujjah Dan Burhan Terhunus Untuk Para Pencela Nabi Muhammad Yang Menikahi Aisyah Usia Dini









Hujjah Dan Burhan Terhunus Untuk Para Pencela Nabi Muhammad Yang Menikahi Aisyah Usia Dini


    Ketika Nabi Muhammad ﷺ menikahi 'Aisyah radhiya Allahu 'anha pada usia belum dewasa (6-9 tahun) atau dibawah 15 tahun, maka tidak ada satupun musuh-musuh Islam yang mencela Nabi dari sisi ini karena pernikahan tersebut dianggap wajar dan bukan aib. Akan tapi celaan tersebut baru muncul ratusan tahun setelah Nabi ﷺ wafat. Maka sebagai burhan dan bantahan kita katakan :

1.  Apa kalian punya kitab atau wahyu yang berasal dari langit yang melarang dan mencela pernikahan dibawah umur 15 tahun?

     Adakah kitab yang disampaikan para rasul Allah..termasuk dalam Taurat dan Injil yang mencela pernikahan dini.???

2.  Pernikahan dibawah usia 15 tahun itu sudah biasa terjadi ratusan tahun sebelum zaman Nabi umat Islam dan ratusan tahun setelahnya

     Andai itu dianggap aib dan tercela tentu musuh-musuh Islam akan gunakan perkara tersebut untuk mencela nabi Muhammad ﷺ. Akan tapi realitanya pada waktu itu tiada satu pun musuh Nabi dari kalangan kafir Quraisy, Majusi, Yahudi ataupun Nashrani yang menggunakan perkara tersebut untuk menjatuhkan.

3. Bersikap adil-lah walau terhadap lawan
   
     Bagaimana pendapat kalian tentang :
▪ Pernikahan Maria 12 tahun
▪ Pernikahan Rebekah 3-10 tahun
▪ Pernikahan Abishag dengan David 12 tahun
▪ Pernikahan Betsyeba dgn David 6 tahun
Apa itu semua tidak benar.? Demikian juga tradisi Yahudi jauh sebelum Islam terkait pernikahan dini.
Silahkan baca :
https://berikk.home.blog/2020/07/19/pernikahan-di-bawah-umur-dalam-tradisi-yahudi-pedofilia/

4.  Nabi Muhammad ﷺ menikahi Aisyah itu karena wahyu atau perintah dari Allah yang mengandung hikmah

     Nabi ﷺ pernah berkata kepada Aisyah radhiyallahu’anha :

أُريتك في المنام مرتين أرى أنك في سرقة من حرير ويقال : هذه امرأتك ، فاكشف عنها فإذا هي أنت فأقول إن يك هذا من عند الله يمضه

“Aku diperlihatkan dirimu dalam mimpi dua kali. Aku saksikan engkau tersimpan dalam sebuah wadah sutera. Lalu dikatakan kepadaku: ini adalah istrimu. Ketika aku buka, ternyata ada wajahmu. Maka aku mengatakan, “Kalau ini dari Allah, maka akan terlaksana” (HR. Bukhari no. 3682).

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ: ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ اﻟﻠﻪِ -ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: "ﺃُﺭِﻳْﺘُﻚِ ﻓِﻲ اﻟﻤَﻨَﺎﻡِ ﺛَﻼَﺙَ ﻟَﻴَﺎﻝٍ ﺟَﺎءَ ﺑِﻚِ اﻟﻤَﻠَﻚُ ﻓِﻲ ﺳَﺮَﻗَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺣَﺮِﻳْﺮٍ ﻓَﻴَﻘُﻮْﻝُ: ﻫَﺬِﻩِ اﻣْﺮَﺃَﺗُﻚَ ﻓَﺄَﻛْﺸِﻒُ، ﻋَﻦْ ﻭَﺟْﻬِﻚِ ﻓَﺈِﺫَا ﺃَﻧْﺖِ ﻓِﻴْﻪِ. ﻓَﺄَﻗُﻮْﻝُ: ﺇِﻥْ ﻳَﻚُ ﻫَﺬَا ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ اﻟﻠﻪِ ﻳُﻤْﻀِﻪِ" 

"Dari Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Aku bermimpi tentangmu selama tiga malam. Malaikat membawamu dalam sebuah tempat yang terbuat dari sutera. Malaikat itu kemudian berkata, 'Ini adalah istrimu.' 'Aku buka wajahmu ternyata engkau di dalamnya.' Aisyah berkata, 'Jika ini datang dari Allah, maka akan berlanjut.'" (HR Muslim) 

5.  Aisyah radhiyallahu’anha bahagia menikah dengan Nabi ﷺ

     Orang-orang kafir, liberal, dan orientalis menggambarkan bahwa Aisyah radhiyallahu’anha merasa tertekan, tersiksa, dan tidak ridha ketika dinikahi oleh Rasulullah ﷺ. Jauh panggang dari api, kenyataannya tidak demikian. Justru beliau bangga dan bahagia ketika dinikahi oleh Rasulullah, tidak ada paksaan. Aisyah radhiyallahu’anha berkata:

تَزَوَّجَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَوَّالٍ وَبَنَى بِى فِى شَوَّالٍ فَأَىُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّى

“Rasulullah ﷺ menikahiku di bulan Syawal dan mulai tinggal bersamaku di bulan Syawal. Lalu istri Nabi yang mana yang lebih beruntung melainkan aku?” (HR. Muslim no. 3548).

6.  Nabi ﷺ bukan maniak seks

     Beliau sebagai seorang Nabi terakhir dan sebagai Rasulullah, tentu banyak sekali wanita yang berharap menikah dengan beliau. Dan beliau pun boleh menikah dengan banyak wanita tidak dibatasi dengan jumlah 4 istri. Allah ta’ala berfirman:

وَامْرَأَةً مُّؤْمِنَةً إِن وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَن يَسْتَنكِحَهَا خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin” (QS. Al Ahzab: 50).

     Andaikan beliau maniak seks, tentu sudah beliau nikahi semua wanita cantik yang ada, yang menawarkan diri kepada beliau, sebanyak-banyaknya. Nyatanya tidak demikian. Justru dari 11 istri beliau, hanya Aisyah radhiyallahu’anha yang dinikahi dalam keadaan perawan. Yang lainnya, merupakan janda. Padahal mudah saja beliau untuk menikahi para gadis. Ini menunjukkan bahwa beliau jauh sekali dari kata maniak seks atau semisalnya. 

7.  Nabi ﷺ tinggal bersama Aisyah ketika Aisyah berusia 9 tahun

     Dari riwayat A’masy, dari Ibrahim, dari Aswad, dari Aisyah, dia berkata,

تزوجها رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي بنت ست ، وبنى بها وهي بنت تسع ، ومات عنها وهي بنت ثمان عشرة ( رواه مسلم، رقم 1422)

“Rasulullah ﷺ menikahinya saat dia berusia 6 tahun, dan menggaulinya saat dia berusia 9 tahun. Beliau meninggal saat Aisyah berusia 18 tahun.” (HR. Muslim, no. 1422)

8.  Diantara dalil yang menunjukkan bolehnya menikahi wanita yang belum haidh atau pernikahan dini antara lain QS. An-Nisa` [4]: 3 dan 127, dan QS. Ath-Thalaq [65]: 4

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ
            
"Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim."(QS. An-Nisa' Ayat: 3)

وَيَسْتَفْتُوْنَكَ فِى النِّسَاۤءِۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِيْهِنَّ ۙوَمَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ فِى الْكِتٰبِ فِيْ يَتٰمَى النِّسَاۤءِ الّٰتِيْ لَا تُؤْتُوْنَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُوْنَ اَنْ تَنْكِحُوْهُنَّ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْوِلْدَانِۙ وَاَنْ تَقُوْمُوْا لِلْيَتٰمٰى بِالْقِسْطِ ۗوَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِهٖ عَلِيْمًا
            
"Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur'an (juga memfatwakan) tentang para perempuan yatim yang tidak kamu berikan sesuatu (maskawin) yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin menikahi mereka dan (tentang) anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) agar mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa' Ayat: 127)

وَالّٰۤـِٔيْ يَىِٕسْنَ مِنَ الْمَحِيْضِ مِنْ نِّسَاۤىِٕكُمْ اِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلٰثَةُ اَشْهُرٍۙ وَّالّٰۤـِٔيْ لَمْ يَحِضْنَۗ وَاُولَاتُ الْاَحْمَالِ اَجَلُهُنَّ اَنْ يَّضَعْنَ حَمْلَهُنَّۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

"Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara istri-istrimu jika kamu ragu-ragu (tentang masa idahnya) maka idahnya adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (QS. Ath Thalaq : 4)

9.  Pernikahan usia dini hal yang wajar, lumrah dan bukan aib

■  Menurut sumber yang terpercaya, Nabi Muhammad menikahi Aisyah ketika dia berusia 6 tahun dan mulai serumah dengannya ketika Aisyah berusia 9 tahun. Sangatlah penting untuk memahami konteks historis mengenai suatu kejadian. Oleh karena itu, satu hal yang harus dipahami adalah bahwasanya apa yang terjadi 1400 tahun yang lalu sangatlah berbeda dengan era saat ini. Waktu telah berubah, termasuk umat manusia.
■  Pada 1400 tahun yang lalu, wanita menikah di usia sangat muda merupakan hal yang lumrah. Bahkan, fakta sejarah mengungkapkan banyak dari para wanita usia 9-14 tahun telah menikah. Baik itu di Asia, Eropa, Afrika maupun Amerika Serikat. Contohnya, Augustine di tahun 350 M menikahi wanita yang berusia 10 tahun. Raja Richard II (Inggris) di tahun 1400 M menikahi wanita berusia 7 tahun. Raja Henry VIII (Inggris) di tahun 1500 M menikahi wanita berusia 6 tahun. Bahkan dalam Bible disebutkan, 'tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki biarkan hidup bagimu' (Bilangan 31: 17-18),"
■  Dijelaskan pula, hal tersebut juga terjadi di semua agama. Seperti ibu dari Yesus yang menikah di usia 12 tahun. Selain itu juga sebelum tahun 1929, Kementerian Gereja Inggris mengizinkan pernikahan di usia 12 tahun. Hukum kanonik Katolik juga mengizinkan pernikahan di usia 12 tahun sebelum tahun 1983.
■  Menurut Ensiklopedi Katolik, Maria ibu dari Yesus berusia 12 tahun ketika menikahi Yousef yang telah berusia 99 tahun. Sebelum tahun 1929, Kementerian Gereja Inggris mengizinkan pernikahan di usia 12 tahun. Sebelum tahun 1983, hukum kanonik Katolik mengizinkan pernikahan di usia 12 tahun. Banyak orang yang tidak menyadari di Amerika Serikat, di negara bagian Delaware pada tahun 1880 usia minimal untuk menikah adalah 7 tahun dan di California adalah 10 tahun," ulasnya."Bahkan saat ini, usia pernikahan di beberapa negara bagian (AS) adalah 12 tahun di Massachusetts, 13 tahun di New Hampshire dan 14 tahun di New York (tahun 2012 diubah menjadi 17 tahun)," lanjutnya.
■  Di Korea pada masa Dinasti Joseon, pernikahan pada usia 12 tahun sangat umum. 

10.  Apa semua nenek moyangmu menikahnya di atas 15 tahun.? Kenapa tidak kalian cela.??

تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا۟ بُرْهَٰنَكُمْ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

"Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah burhan (bukti kebenaran) kalian jika kalian adalah orang yang benar".

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.




 

Sabtu, 06 Januari 2024

Mengapa Kita Wajib Memahami Al Qur'an Dan As Sunnah Dengan Pemahaman Para Shahabat ?


 

Mengapa Kita Wajib Memahami Al Qur'an Dan As Sunnah Dengan Pemahaman Para Shahabat ?


لماذا يجب ان نفهم القرآن والسنة على فهم الصحابة رضي الله عنهم؟


قال العلامة ابن القيم رحمه الله تعالى : "أفهام الصحابة فوق أفهام جميع الأمة، وعلمهم بمقاصد نبيهم ﷺ ، وقواعد دينه وشرعه، أتمّ من عِلم كل مَن جاء بعدهم."  (الطرق الحكمية ٣٢٤/١)

Al Allamah Ibnul Qayyim رحمَـہ الله تَعـَالَـى berkata :

   "Pemahaman Shahabat رضي اللّه عنهم diatas pemahaman seluruh umat. Dan ilmu mereka tentang maksud tujuan Nabi ﷺ dan kaidah-kaidah agamanya dan syari'atnya lebih sempurna daripada ilmu setiap orang yang hidup setelah mereka."
(At Turuqul Hikmiyyah : 1/324)

Kamis, 04 Januari 2024

Ridho Semua Manusia Adalah Ghoyah ( Tujuan ) Yang Tidak Mungkin Digapai


 

Ridho Semua Manusia Adalah Ghoyah ( Tujuan ) Yang Tidak Mungkin Digapai


     Suatu hari imam Asy Syafi'i rahimahullah pernah memberikan nasehat kepada muridnya, Yunus bin Abdil A'la :

يا أبا موسى! رضاء الناس غاية لا تدرك ليس إلى السلامة من الناس سبيل. فانظر ما فيه صلاح نفسك فالزمه ودع الناس وما هم فيه

“Wahai Abu Musa! (nama kuniah Yunus).
Mendapatkan ridhonya seluruh manusia adalah tujuan yang tidak akan tercapai, tidak ada jalan untuk bisa selamat dari omongan (celaan dan gangguan manusia).
Maka perhatikanlah amalan yang baik bagimu, maka peganglah (fokuslah dengan itu), tinggalkan manusia dan apa yang ada bersama mereka.”
(lihat Al-'Uzlah lil Khatthábi hlm. 76)


Rabu, 03 Januari 2024

Ridho Qodha' Dan Taqdir Allah ( Oleh Imam Asy Syafi'i )




 

Ridho Qodha' Dan Taqdir Allah
( Oleh Imam Asy Syafi'i )

الرضا بقضاء الله وقدره ( للامام الشافعى )



دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَل مَا تَشَاءُ * وَطِبْ نَفْسَاً إِذَا حَكَمَ القَضَاءُ
ِ
وَلاَ تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَّيَالِي * فَمَا لِحَوادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ

وََكُنْ رجُلاً عَلَى الأَهْوَالِ جَلْداً * وَشِيمَتُكَ السَّمَاحَةُ وَالوَفَاءُ

وَإِنْ كَثُرَتْ عُيُوبُكَ فِي البَرَايَا * وَسَرَّكَ أَنْ يَكُونَ لَهَا غِطَاءُ

يُغَطّى بِالسَّمَاحَةِ كُلُّ عَيْبٍ * وَكَمْ عَيْبٍ يُغَطِّيهِ السَّخَاءُ

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرُورٌ * وَلاَ بُؤْسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ

وَلاَ تُرِ لِلأَعادِي قَطٌّ ذُلاًّ * فَإِنَّ شَمَاتَةَ الأَعْدَا بَلاّءٌ

وَلاَ تَرْجُ السَّمَاحَةَ مِنْ بَخِيلٍ * فَمَا فِي النَّارِ لِلظَّمْآنِ مَاءُ

وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَّأَنِّي * وَلَيْسَ يَزِيدُ فِي الرِّزْقِ العَنَاءُ

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوعٍ * فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَواءُ

وَمَنْ نَزَلتْ بِسَاحَتِهِ المَنَايَا * فَلاَ أَرْضٌ تَقِيهِ وَلاَ سَماءُ

وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ وَلكِنْ * إِذَا نَزَلَ القَضَا ضَاقَ الفَضَاءُ

دَعِ الأَيَّامَ تَغْدُرْ كُلَّ حِيْنٍ * وَلاَ يُغْنِي عَنِ المَوْتِ الدَّوَاء


"Biarkanlah hari-hari itu berbuat apa yang disukainya.., dan berlapang dadalah  ketika ketetapan telah diputuskan.

Jangan berkeluh kesah karena musibah di malam hari.., karena tidaklah musibah-musibah dunia itu berkelanjutan (tiada habisnya).

Jadilah seorang yang tabah atas segala teror (kengerian).., dan jadikan as-samahah (kemurahan) serta al-wafa' (kesetiaan) sebagai kebiasaanmu.

Apabila  aib-aibmu  tersebar di tengah-tengah  manusia.., kemudian engkau ingin agar aib-aib tersebut ada tutupan.

Maka semua aib bisa tertutupi dengan as-samahah (kemurahan).., betapa banyak aib (kesalahan) yang tertutupi dengan as-sakho' (kedermawanan/kemurahan hati).

Tiada kesedihan yang kekal dan tidak pula kesenangan itu kekal.., tidak pula kesengsaraan (kesusahan) dan kelapangan (kesejahteraan) itu berkelanjutan.

Dan jangan sekali-kali memperlihatkan kehinaan kepada musuhmu.., karena menyombongkan diri terhadap musuh adalah bala'.

Janganlah berharap kemurahan dari orang yang bakhil.., karena tidak ada pada api itu air bagi orang yang kehausan.

Rezekimu tidak akan terkurangi dengan kehati-hatian.., tidak pula dapat ditambahkan dengan kepayahan.

Jika engkau memiliki hati yang selalu menerima (qana'ah).., maka antara  kamu dan raja dunia adalah sepadan.

Siapa yang dikelilingi musibah (kematian).., maka tidak ada bumi yang melindunginya tiada langit yang dapat menyelamatkan.

Bumi Allah itu sangat luas, hanya saja... bumi yang luas akan menjadi sempit ketika datang qadha' (ketetapan Allah).

Biarkan hari hari itu berputar di setiap waktunya.., karena tidaklah obat itu dapat menyembuhkan kematian."



والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Ringkasan Sekelumit Gambaran Tentang Jannah (Surga) Sesuai Yang Dikhabarkan Nabi


 

Ringkasan Sekelumit Gambaran Tentang Jannah (Surga) Sesuai Yang Dikhabarkan Nabi



1 ☆  Di Surga engkau akan melihat Wajah Allah
tanpa berdesakan sebagaimana di dunia engkau bisa melihat Bulan purnama di malam yang cerah.
2 ☆  Penduduk surga akan masuk surga dalam keadaan muda, putih bersih dengan bercelak, dalam kisaran usia tiga puluh tiga tahun, dengan paras Adam setinggi enam puluh dira’.
3 ☆  Engkau akan berada di dalamnya selamanya.
4 ☆  Engkau akan tetap muda dan tidak akan tua.
5 ☆  Engkau tidak akan pernah tidur dan mati.
6 ☆  Engkau tidak akan lagi sholat, puasa, dan ibadah yang meletihkan sebagaimana waktu engkau di dunia.
7 ☆  Engkau tidak akan pernah sedih, sakit, capek, menderita, dan kesusahan.
8 ☆  Di Surga tidak ada siang dan malam, senantiasa terang karena cahaya yang datang di waktu pagi dan sore.
9 ☆  Engkau tidak lagi meludah dan buang air, serta
keringat yang engkau keluarkan sangat harum.
10 ☆  Engkau tidak akan hasad/iri dengan penduduk Surga
lain, semua puas dan senang.
11 ☆  Engkau tiada akan hidup sendirian karena semua penghuni Surga memiliki pasangan yang sebaya, penuh cinta, selalu mempesona, tidak membosankan dan kekal.
12 ☆  Engkau tidak akan bekerja lagi.
13 ☆  Engkau akan bahagia selamanya.
14 ☆  Semua isinya hanya untuk bersenang-senang sebagai rahmat dari Allah kepada penghuni Surga.
15 ☆  Di Surga banyak buah-buahan dan minuman yang kenikmatan rasanya tidak terkirakan
16 ☆  Engkau akan memiliki istana yang megah serta para pelayan yang tetap muda, rupawan dan cekatan melayani melebihi yang dimiliki raja dan kerajaan terbaik di dunia.
17 ☆  Bangunannya terbuat dari emas dan perak, semennya dari dari minyak misk yang wangi, kerikilnya dari permata dan yaqut, tanahnya dari za’faran.
18 ☆  Engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai yang mukmin.
19 ☆  Engkau akan mendapatkan apa saja yang
engkau inginkan sesuai yang Allah janjikan.

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  (السجدة: 17)

“Tak seorangpun mengetahui yang disembunyikan untuk mereka (berbagai nikmat) yang indah dipandang (menyenangkan hati) sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan."  (QS. As-Sajdah/32: 17)

Senin, 01 Januari 2024

Zina Dan Liwath ( Homoseksual/LGBT : Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender )





 

Zina Dan Liwath ( Homoseksual/LGBT : Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender )

https://hazimaljawiy.blogspot.com/2024/01/zina-dan-liwath-homoseksuallgbt-lesbian.html?m=1

Zina Termasuk Al-Kabaa’ir (Dosa-dosa Besar)
Janganlah Kalian Mendekati Zina

     Allah Ta'ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ﴿٤﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦﴾ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mu’minûn/23 : 1-7)

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisyah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang).” (QS. Al-Israa/17 : 32)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Dari Abi Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Nabi ﷺ , “Tidak akan berzina seorang yang berzina ketika dia berzina padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan meminum khamr ketika dia meminumnya padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan mencuri ketika dia mencuri padahal dia seorang mukmin. Dan tidak akan merampas barang yang manusia (orang banyak) melihat kepadanya dengan mata-mata mereka ketika dia merampas barang tersebut pada dia seorang mukmin.” (Hadits shahih riwayat Bukhari no. 2475, 5578, 6772, 6810 dan Muslim 1/54-55)

     Dari ‘Ubâdah bin ash-Shâmit Radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda :

خُذُوْا عَنّـِيْ ، خُذُوْا عَنّـِيْ ، قَـدْ جَعَـلَ اللّٰـهُ لَـهُنَّ سَبِـيْـلًا : اَلْبِكْـرُ بِالْبِكْرِ جَـلْـدُ مِائَـةٍ وَنَـفْيُ سَنَـةٍ ، وَ الثَّـيّـِبُ بِالثَّـيّـِبِ جَلْـدُ مِائَـةٍ وَالـرَّجْمُ.

Ambillah dariku, ambillah dariku. Allâh telah menetapkan ketentuan bagi mereka; Perjaka yang berzina dengan perawan (hukumannya) dicambuk seratus kali dan dibuang selama setahun, dan laki-laki yang sudah pernah menikah (yang berzina) dengan perempuan yang sudah pernah menikah (hukumannya) adalah dicambuk seratus kali dan dirajam." (Shahîh: HR. Ahmad (V/313, 317, 318, 320), Muslim (no. 1690), Abu Dawud (no. 4415), at-Tirmidzi (no. 1434), dan lainnya dengan sanad yang shahih.)

     Rasulullah ﷺ bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafadz hadits di atas milik Muslim).


Liwath (Homoseksual) Dan LGBT Termasuk Perbuatan Fahisyah Yang Dosanya Lebih Besar Dari Zina

     Homoseksual dalam bahasa Arab disebut dengan liwâth, dinisbatkan kepada kaum Nabi Luth Alaihissallam, karena mereka yang pertama kali melakukan perbuatan tercela itu. Adapun istilah LGBT adalah singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Awalnya pada tahun 1990, LGBT digunakan untuk merujuk pada kelompok homoseksual dan transgender saja. Sekarang, singkatan ini melingkupi lebih banyak orientasi seksual dan beragam identitas gender. 

     Liwath dan LGBT itu hakekatnya sama yaitu termasuk perbuatan Fahisyah. Allâh Ta'ala berfirman :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠﴾ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”. “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. (QS. Al-A’raf/7: 80-81). Dalam ayat lain disebutkan,

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ , وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 165-166)

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ ﴿٨٢﴾ مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Hud/11 : 82-83)

     Tentang hukuman bagi pelakunya di dunia, dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadits :

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh ﷺ bersabda, “Siapa saja yang kamu dapatkan melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan orang yang diperlakukan.” (HR. Ahmad; Abu Dawud; Tirmidzi; Ibnu Mâjah; dan al-Baihaqi. Dishahîhkan oleh syaikh al-Albani dalam Shahîh at Targhîb, no. 2422)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ تُخُومَ الْأَرْضِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ كَمَهَ الْأَعْمَى عَنْ السَّبِيلِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ وَالِدَهُ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Allâh melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allâh. Allâh melaknat orang yang merubah tanda (batas) tanah. Allâh melaknat orang yang menyesatkan orang buta dari jalannya. Allâh melaknat orang yang mencaci bapaknya. Allâh melaknat orang yang menisbatkan diri kepada bukan maulanya. Allâh melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth. Allâh melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth. Allâh melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth.” (HR. Ahmad; al-Hâkim, al-Baihaqi; dll. Dishahihkan oleh syaikh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah, no. 3462)


Doa Mohon Perlindungan Kepada Allah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِ وَمِنْ شَرِّ مَنِي

"Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, dari kejelekan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelekan pada mani atau kemaluanku." (HR. An-Nasa'i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492, hasan)


والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.


Minggu, 31 Desember 2023

Ada Apa Dibalik Perayaan Menyambut Tahun Baru ( Nairuz, Masehi, Dan Semisal ) ?








 

Ada Apa Dibalik Perayaan Menyambut Tahun Baru ( Nairuz, Masehi, Dan Semisal ) ?


1. Perayaan Tahun Baru (Nowruz, Masehi Dan Semisal) Bukan Termasuk Ajaran Islam

     Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan tahun baru mungkin tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan.

     Perayaan pergantian tahun atau tahun baru telah dilakukan oleh masyarakat Mesopotamia pada sekitar 2000 SM. Mereka merayakan pergantian tahun saat matahari tepat berada di atas katulistiwa, yang sekarang bertepatan pada tanggal 20 Maret. Perayaan tradisional seperti itu disebut Nowruz, yang sampai saat ini masih dilakukan di beberapa negara Timur Tengah. Setelah itu, peradaban di seluruh dunia juga tercatat merayakan tahun baru yang didasari oleh berbeda peristiwa.

     Perayaan tahun baru pada 1 Januari pertama kali dilakukan pada 46 SM, pada masa kekuasaan Kaisar Romawi, Julius Caesar. Kala itu, Julius Caesar memutuskan mengganti penanggalan Romawi yang terdiri dari 10 bulan (304 hari), yang dibuat oleh Romulus pada abad ke-8. Dalam mendesain kalender baru, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi asal Iskandariyah, Mesir. Sosigenes menyarankan agar penanggalan baru dibuat berdasarkan revolusi matahari, seperti yang dilakukan orang Mesir kuno. Setelah itu, 1 Januari resmi ditetapkan sebagai hari pertama tahun, di mana satu tahun terdiri atas 365 seperempat hari.

     Nama Januari diambil dari nama dewa dalam mitologi Romawi, yaitu Dewa Janus, yang memiliki dua wajah yang menghadap ke depan dan ke belakang. Masyarakat Romawi meyakini bahwa Dewa Janus adalah dewa permulaan sekaligus dewa penjaga pintu masuk. Julius Caesar juga setuju untuk menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM, sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Untuk menghormati Dewa Janus, maka orang-orang Romawi mengadakan perayaan setiap tanggal 31 Desember tengah malam untuk menyambut 1 Januari.

     Jadi kegiatan ini sama sekali tidak berasal dari ajaran Islam, tapi merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (lihat G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400).

     Dari sejarah tersebut maka bisa kita ketahui perayaan tahun baru ternyata sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus. Akan tapi Nabi ﷺ dan para Shahabat tidak ikut merayakan tahun baru. Demikian juga tiada nukilan dari para nabi sejak nabi Adam sampai nabi akhir zaman yang merayakan tahun baru.

2.  Nabi ﷺ Melarang Semua Perayaan Ahli Jahiliyah Dan Diganti Dengan 2 Hari Raya 'Id

     Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Dahulu orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari di setiap tahun yang malan mereka biasa bersenang-senang ketika itu. Ketika Nabi ﷺ datang ke kota Madinah, beliau bersabda,
“Dahulu kalian memiliki dua hari di mana kalian bersenang-senang ketika itu. Sekarang Allah telah menggantikan untuk kalian dengan dua hari besar yang lebih baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” (HR. Abu Daud no. 1134; An-Nasa’i no. 1556. Shahih)

     Hari Nairuz adalah hari raya tahun baru orang Majusi menurut perhitungan kalender masehi (pergiliran matahari). Masyarakat kota madinah saat itu ikut-ikutan merayakan hari raya Majusi tersebut. Beberapa kamus Arab menjelaskan demikian definisi Nairuz, semisal kamus AL-Lughah Al-Arabiyyah AL-Mu’aashir dijelaskan,

ﺃﻭّﻝ ﻳﻮﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺴَّﻨﺔ ﺍﻟﺸَّﻤﺴﻴَّﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻔُﺮﺱ

“Nairuz adalah hari pertama pada tahun syamsiyyah versi Persia (bangsa Majusi saat itu).”

     Adz-Dzahabi juga menjelaskan bahwa Nairuz ini juga ikut-ikutan dilakukan oleh penduduk Mesir saat itu, beliau berkata,

ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻨﻴﺮﻭﺯ، ﻓﺈﻥ ﺃﻫﻞ ﻣﺼﺮ ﻳﺒﺎﻟﻐﻮﻥ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻪ ، ﻭ ﻳﺤﺘﻔﻠﻮﻥ ﺑﻪ ، ﻭﻫﻮ ﺃﻭﻝ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ ﺳﻨﺔ ﺍﻟﻘﺒﻂ ، ﻭﻳﺘﺨﺬﻭﻥ ﺫﻟﻚ ﻋﻴﺪﺍً، ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﻬﻢ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ

“Adapun hari Nairuz, penduduk Mesir berlebih-lebihan melakukan dan merayakannya. Nairuz adalah hari pertama pada tahun Qibhti yang mereka menjadikannya sebagai hari raya (diperingati setiap tahun), kemudian kaum muslimin mengikuti mereka (tasyabbuh).” (lihat Tasyabbuhul Khasis biahlil Khamis hal 46)

3.  Larangan Ikut Merayakan Hari Raya Orang Kafir Walau Tujuannya Hanya Untuk Bersenang-senang

     Hari raya merupakan bagian dari agama dan mengandung unsur doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi ﷺ datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk Madinah,

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; 'Idul Fithri dan 'Idul Adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

     Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk Madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang Majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya lebih baik yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Untuk itu turut bergembira dengan perayaan orang kafir (meskipun hanya bermain-main dan tanpa mengikuti ritual keagamaannya) termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut menyetujui atau mensukseskan acara mereka.

4.  Merayakan Tahun Baru Berarti Mengikuti Perayaan Orang Kafir Dan Termasuk Tasyabbuh

     Tasyabbuh pada perayaan orang kafir itu terlarang. Nabi ﷺ melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabdda :

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

     Sahabat ‘Abdullaah bin ‘Amr radhiallaahu ‘anhuma berkata,

ﻣَﻦْ ﺑَﻨَﻰ ﻓِﻲ ﺑِﻼﺩِ ﺍﻷَﻋَﺎﺟِﻢِ، ﻭَﺻَﻨَﻊَ ﻧَﻴْﺮُﻭﺯَﻫُﻢْ ﻭَﻣِﻬْﺮَﺟَﺎﻧَﻬُﻢْ ﻭَﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻬِﻢْ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤُﻮﺕَ، ﻭَﻫُﻮَ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﺣُﺸِﺮَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam (negeri kafir), meramaikan hari raya Nairuz dan Mihrajan (perayaan tahun baru mereka), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” (Sunan Al-Kubraa 9/234)

5.  Mengikuti Hari Raya Orang Kafir Termasuk Bentuk Loyalitas Dan Menampakkan Rasa Cinta Kepada Mereka

     Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah Ta'ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق …

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)

6.  Kita Seharusnya Tidak Mengikuti Atau Tidak Meniru-niru Orang Kafir Dalam Perkara Agama Dan Keyakinan

     Yang kita ikuti bukanlah orang kafir atau ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) karena setiap rakaat dalam shalat, kita terus memohon kepada Allah jalan yang lurus yang bukan jalannya orang Yahudi dan Nasrani. Dalam surah Al-Fatihah disebutkan,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)

     Kalau mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak mendapatkan hidayah, kenapa sampai perayaan mereka diikuti oleh umat Islam?

7.  Menyambut Perayaan Tahun Baru Termasuk Begadang Tanpa Ada Hajat Syar'i, Padahal Nabi ﷺ Membencinya
    
     Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah ﷺ membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)

8.  Merayakan Tahun Baru Termasuk Tabdzir, Buang-buang Harta Untuk Tujuan Yang Salah

     Sebelumnya perlu kita luruskan, untuk membedakan antara mubadzir dengan tabzir. Tabdzir itu sikap dan perbuatan, sedangkan pelakunya disebut mubadzir. Kata tabdzir dan mubazir telah Allah Ta’ala sebutkan dalam Alquran. Allah berfirman,

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir, sesungguhnya orang yang suka bersikap tabdzir adalah ikhwan (saudara/teman) syaithan.” (QS. Al-Isra’ : 26-27)

9.  Melibatkan Dirinya Dalam Hari Raya Orang Kafir Berarti Bukan Termasuk 'Ibadurrahman (Hamba-hamba Allah Pilihan)

     Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar orang kafir adalah firman Allah :

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ
    
“Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur (memberikan persaksian palsu).” (QS. Al-Furqan/25 : 72)

     Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat 'Ibadurrahman yaitu para hamba Allah yang beriman. Sekelompok Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “Az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir. Sehingga artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

10. Merayakan Tahun Baru Terkadang Bisa Sampai Meninggalkan Shalat Padahal Meninggalkan Shalat Sekali Saja Telah Melakukan Dosa Besar Yang Lebih Parah Dari Membunuh, Berzina Dan Judi

     Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

لا يختلف المسلمون أن ترك الصلاة المفروضة عمدا من أعظم الذنوب وأكبر الكبائر وأن ائمه عند الله أعظم من إثم قتل النفس وأخذ الأموال ومن إثم الزنا والسرقة وشرب الخمر وأنه متعرض لعقوبة الله وسخطه وخزيه

"Ulama kaum muslimin tidak berbeda pendapat bahwa meninggalkan sholat wajib dengan sengaja termasuk dosa besar yang terbesar, dan bahwa dosanya di sisi Allah lebih besar dari dosa membunuh jiwa, mengambil harta tanpa hak, berzina, mencuri dan minum khamar, dan bahwa pelakunya terancam dengan hukuman Allah, kemurkaan-Nya dan kehinaan dari-Nya di dunia dan akhirat."
(lihat Ash-Sholaatu wa Ahkaamu Taarikiha, hal. 31)

11.  Pada Malam Tahun Baru, Banyak Kaum Muslimin Ikut Membunyikan Terompet Dan  Lonceng Yang Merupakan Syiar Orang Yahudi Dan Nashrani.

12. Mengucapkan Selamat Tahun Baru Atau Happy New Year Termasuk Ucapan Selamat Yang Tidak Dibolehkan Karena Perayaannya Tidak Disyariatkan.


والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Selasa, 19 Desember 2023

Bahaya Syahwat Perut






Bahaya Syahwat Perut

    Allah Ta’ala telah menyebutkan bagi kita berbagai jenis syahwat yang membawa jiwa untuk mencintainya. Seperti disebutkan dalam firman-Nya :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia syahawat (kecintaan kepada apa-apa yang diingini) yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al Imran:14)

     Syahwat perut termasuk salah satu perkara yang dapat membinasakan manusia. Banyak kemaksiatan (dosa) yang timbul penyebabnya akibat tidak bisa menjaga syahwat perut. Syahwat ini pula yang menjadi penyebab Nabi Adam Alaihissalam dikeluarkan dari Surga yang kekal. Rasulullah ﷺ pun mengkhawatirkan fitnah syahwat perut dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

"Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan." (HSR Ahmad)

     Oleh karena itu seorang mukmin memiliki cara makan yang berbeda dengan orang-orang kafir. Di dalam hadits yang shahih diriwayatkan :

عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يُؤْتَى بِمِسْكِينٍ يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَدْخَلْتُ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَكَلَ كَثِيرًا فَقَالَ يَا نَافِعُ لَا تُدْخِلْ هَذَا عَلَيَّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Dari Nâfi’, ia berkata: “Kebiasaan Ibnu ‘Umar, tidak makan sehingga didatangkan seorang miskin yang akan makan bersamanya,” maka aku memasukkan seorang laki-laki yang akan makan bersamanya. Laki-laki itu makan banyak, maka Ibnu ‘Umar berkata: “Wahai Nâfi’, janganlah engkau masukkan (lagi) orang ini kepadaku. Aku telah mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Seorang mukmin makan memenuhi satu usus, sedangkan orang kafir makan memenuhi tujuh usus".” (HR. Bukhari, no. 5391)

     Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan :

"شهوة البطن من أعظم المهلكات، وبها أخرج آدم عليه السلام من الجنة، ومن شهوة البطن تحدث شهوة الفرج والرغبة في المال، ويتبع ذلك آفات كثيرة."

"Syahwat perut termasuk salah satu sebab kebinasaan yang terbesar. Karena syahwat perutlah, Adam 'alaihis salam dikeluarkan dari surga. Darinya pula, muncul syahwat kemaluan dan ambisi terhadap harta. Itu pun masih diiringi dengan berbagai kerusakan lainnya yang banyak."
(lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 153)

     Orang bisa meninggalkan sholat, korupsi, tasawwul (mengemis), memakan makanan haram (bangkai ulat jati, babi dsb), membunuh orang, murtad (pindah agama), zina dan berbuat kemaksiatan (dosa) lainnya pangkal sumber penyebabnya juga bisa karena syahwat perut. 

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.