Kamis, 13 Juli 2023

Nabi Mengabarkan Jaminan Buah Dari Doa


 

Nabi Mengabarkan Jaminan Buah Dari Doa


     Rasulullah bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إثْمٌ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ؛ إِلاَّ أَعْطَاهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إذًا نُكْثِرُ. قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sesuatu pun, selama (doanya) tidak mengandung dosa atau memutus silaturahmi; kecuali Alah akan memberinya salah satu dari tiga hal:
(1) disegerakan baginya pengabulannya,
(2) atau disimpan baginya di akhirat,
(3) atau dihindarkan darinya bencana atau keburukan yang semisal dengannya.”
(Ketika mendengar hadits ini) para sahabat bertanya, “Kalau demikian (yakni setiap orang yang berdoa pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga hal tersebut), kami akan memperbanyak doa.”
Rasulullah menjawab, “Sungguh, pengabulan Allah subhanahu wa ta’ala lebih banyak daripada doa kalian.” 
(HR. Ahmad no. 11133, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1633.)

Selasa, 11 Juli 2023

“Maukah Aku Tunjukkan Kepadamu Salah Satu Dari Simpanan Al Jannah (Surga) ?”


 

“Maukah Aku Tunjukkan Kepadamu Salah Satu Dari Simpanan Al Jannah (Surga) ?”


وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَلاَ أدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ ؟ )) فَقُلْتُ : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : (( لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

     Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah menunjukkan kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu dari simpanan surga?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).” (Muttafaqun ‘alaih)

     Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut, “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.” Ulama lain menafsirkan, “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”

     Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menukil tafsir/makna kalimat "لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ", bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ

“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.”

Siapakah Kawan Sejatimu ?


 

Siapakah Kawan Sejatimu ?



قَــالَ الشَّـيخ العلّامــة ابن العُثيمين– رَحِمهُ الله تعالى – :
*• إذا رأيت أصحابك يدلونك على الخير ويعينونك عليه ، وإذا نسيت ذكروك ، وإذا جهلت علموك ، فاستمسك بحجزهم وعضّ عليهم بالنواجذ ؛*
*•• وإذا رأيت من أصحابك من هو مهمل في حقك ولا يبالي هل هلكت أم بقيت ، بل ربما يسعى لهلاكك ، فاحذره فإنه السم الناقع والعياذ بالله ، لا تقرب هؤلاء بل ابتعد عنهم ، فر منهم فرارك من الأسد .*
شرح رياض الصالحين (٢/٣٨٨)

Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata:
“Apabila kamu melihat temanmu menunjukkan kepadamu suatu kebaikan, dan membantumu untuk melakukan kebaikan tersebut ….
Apabila kamu lupa, maka dia mengingatkanmu.…
Dan apabila kamu tidak tahu (dalam suatu permasalahan), maka dia yang mengajarimu….
Maka (terhadap teman seperti ini), hendaknya kamu pegang teguh persahabatan dengan mereka,
Dan gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (yakni teruslah kamu bersahabat dengan mereka. Jangan kamu lepaskan sama sekali).

Tetapi apabila kamu melihat dari sahabatmu/ temanmu itu menyia-nyiakan hak-hakmu, dan dia tidak peduli dengan keadaanmu, apakah kamu binasa ataupun tidak …..
Bahkan terkadang dia berusaha untuk mengarahkan kebinasaanmu …..
Maka (terhadap teman seperti ini) hendaknya kamu berhati-hati,
Karena sesungguhnya dia itu adalah racun yang sebenarnya (bagimu),
Wal ‘iyyadzu billah ….
Jangan kamu dekat-dekat dengan mereka
Bahkan wajib bagimu untuk menjauh dari mereka, lari dari mereka, seperti larimu (ketika kamu takut) dari (terkaman) singa. (lihat Syarh Riyadhis, 2/388)
 

Minggu, 09 Juli 2023

Hadits : "Tidak akan masuk Neraka orang yang menangis karena khasyyah (takut) kepada Allah hingga susu kembali ke teteknya."


 

Hadits : "Tidak akan masuk Neraka orang yang menangis karena khasyyah (takut) kepada Allah hingga susu kembali ke teteknya."


عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «لا يَلِجُ النارَ رجُل بَكى من خشية الله حتى يَعود اللَّبنُ في الضَّرْع، ولا يَجتمع غُبَارٌ في سبيل الله وَدُخَانُ جهنم». [صحيح] - [رواه الترمذي والنسائي وأحمد]

     Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah bersabda, "Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena khasyyah (takut) kepada Allah hingga air susu kembali ke teteknya, dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap Jahanam (Neraka)."  
(Hadits shahih - Diriwayatkan At Tirmidzi)

     Rasulullah mengabarkan bahwa tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah. Sebab, biasanya takut itu menuntun orang melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, hingga susu kembali ke teteknya. Ini merupakan komentar terhadap sesuatu yang mustahil, dan tidak akan berkumpul pada seseorang debu di jalan Allah dengan asap neraka jahanam, seolah-olah keduanya adalah sesuatu yang berlawanan dan tidak pernah berkumpul seperti kondisi dunia dan akhirat. 

Hadits : "Di antara sebaik-baik sumber kehidupan manusia ..."


 

Hadits : "Di antara sebaik-baik sumber kehidupan manusia ..."

Keutamaan Jihad Dan Keutamaan Uzlah Ketika Terjadi Banyak Fitnah Dalam Agama

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أنه قالَ: "مِن خَيرِ مَعَاشِ النّاسِ لهم رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرسِهِ في سبيلِ اللهِ، يَطيرُ على مَتنِهِ كُلَّما سَمِعَ هَيْعَةً أو فَزعَةً، طَارَ عَليه يَبْتَغِي القَتْلَ، أو المَوتَ مَظانَّه، أو رَجلٌ في غُنَيمَةٍ في رأسِ شَعفَةٍ من هذه الشَّعَفِ، أو بطنِ وادٍ من هذه الأوديةِ، يُقيمُ الصلاةَ، ويُؤتِي الزكاةَ، ويَعبدُ ربَّهُ حتى يَأتِيَه اليقينُ، ليسَ من النَّاسِ إلا في خيرٍ". [صحيح] - [رواه مسلم]

     Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah , bahwasanya beliau bersabda, “Di antara sebaik-baik sumber kehidupan manusia adalah seorang pria yang memegang tali kekang kudanya (berjihad) di jalan Allah, ia terbang di atas punggungnya, setiap kali ia mendengar suara atau gemuruh perang, ia terbang di atas punggungnya ketika mendengar panggilan jihad, ia terbang di atas punggungnya karena ingin berperang atau mencari kematian di peperangan; Atau seseorang yang menggembala kambing di puncak gunung yang tinggi, atau di salah satu lembah dari lembah-lembah ini, ia juga menegakkan salat, menunaikan zakat, beribadah kepada Tuhannya hingga kematian menjemputnya, dan tidaklah (ia bersama) manusia melainkan dalam kebaikan.”  
(Hadits shahih - Diriwayatkan Muslim)

Sabtu, 08 Juli 2023

Teman Yang Menasihati Lebih Baik Dari Teman Yang Memberi Harta Dan Materi


Teman Yang Menasihati Lebih Baik Dari Teman Yang Memberi Harta Dan Materi


     Al Imam al-Auza’iy rahimahullah berkata bahwa beliau mendengar Bilal bin Sa’ad rahimahumallah berkata :

أخ ‌لك كلما لقيك ذكرك بحظك من الله ‌خير ‌لك من أخ كلما لقيك وضع في كفك دينارا.

“Saudaramu yang setiap berjumpa denganmu ia mengingatkan tentang kewajibanmu terhadap Allah, lebih baik dari saudaramu yang setiap kali ia berjumpa denganmu ia menaruh satu dinar di telapak tanganmu.”

(lihat Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya, jilid 5, hlm. 225)
 

Kehidupan Dunia Tiada Lain Kesenangan Yang Menipu


 

Kehidupan Dunia Tiada Lain Kesenangan Yang Menipu

     Sungguh banyak manusia yang terkagum-kagum dengan dunia. Begitu terpesona sampai lupa daratan. Dunia pun dikejar-kejar tanpa pernah merasa puas. Sifat qona’ah, merasa cukup dengan setiap nikmat rizki pun jarang dimiliki. Demikianlah watak kebanyakan manusia. Sekalipun Allah Ta’ala telah berfirman :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (20)

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid: 20)

Jumat, 07 Juli 2023

Hadits : "Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zhalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."



 

Hadits : "Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zhalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."


عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه مرفوعاً: «إن الله ليُمْلِي للظالم، فإذا أخذه لم يُفْلِتْهُ»، ثم قرأ: (وكذلك أخذ ربك إذا أخذ القرى وهي ظالمة إن أخذه أليم شديد). [صحيح] - [متفق عليه]

     Abu Musa Al-Asy'ariy radhiyallahu 'anhu meriwayatkan secara marfu', "Sesungguhnya Allah membiarkan orang yang zhalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya." Selanjutnya beliau membaca ayat, "Dan begitulah adzab Rabb-mu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih lagi keras.(QS. Hud : 102)."  (Hadits shahih - Muttafaq 'alaih)

     Nabi mengabarkan bahwa Allah menangguhkan orang yang zhalim dan membiarkannya menzhalimi dirinya hingga ketika Allah menghukumnya, Dia tidak meninggalkannya sampai Dia menuntaskan siksaan-Nya. Selanjutnya Nabi membaca firman Allah Ta'ala :

{وكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ} [هود: 102]

 "Dan begitulah azab Rabb-mu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih lagi keras."  (QS. Hud : 102)


 Faidah dari Hadits Diantaranya :


• Seorang yang berbuat kezhaliman kadang kala dibiarkan (ditangguhkan) oleh Allah Ta'ala di dalam kezhalimannya sehingga melanjutkan terus menerus perbuatannya, na’udzubillah.

• Orang yang berakal tidak akan merasa aman dari makar Allah saat dia berbuat zhalim lalu tidak ditimpa keburukan, tetapi dia yakin itu adalah bentuk istidraj (penangguhan), sehingga ia pun bersegera mengembalikan hak-hak tersebut kepada pemiliknya.

• Allah akan menangguhkan orang-orang yang zhalim agar dosa mereka bertambah lalu diadzab dengan adzab yang berlipat. 

• Apabila seorang berbuat kezhaliman lalu disegerakan hakuman/adzab/'iqobnya mungkin dia akan cepat sadar, bertaubat dan akan meninggalkan kezhalimannya tetapi bila dia dibiarkan dalam kezhaliman maka akan terus bertambah kezhaliman-kezhalimannya dan dosa-dosanya dan akan terus bertambah-tambah siksanya. Tetapi apabila Allah telah menghukumnya, maka tidak akan melepaskannya sama sekali – sampai hancur sehancur-hancurnya.

• Yang paling baik dalam menafsirkan hadits ataupun Al-Qur'an adalah dengan firman Allah dan Sunnah Rasul-Nya. 

Kamis, 06 Juli 2023

Hujan Termasuk Rahmat Yang Manfaat (Mashlahat) Dan Bisa Menjadi Adzab Yang Madharat






 

Hujan Termasuk Rahmat Yang Manfaat (Mashlahat) Dan Bisa Menjadi Adzab Yang Madharat

   
■  Hujan Termasuk Rahmat
    
     Allah Ta'ala berfirman :

وأنزل من السماء ماءً فأخرج به من الثمرات رزقاً لكم

“Dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah : 22)

وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهٗ ۗوَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ

Dan dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan dialah yang maha pelindung lagi maha terpuji." (QS. Asy-Syura: 28)

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ

"Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu." (QS. An-Nahl : 10)

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf : 9).

■  Hujan Bisa Sebagai Peringatan Dan Adzab Atas Para Pelaku Maksiat

     Hal ini dapat kita lihat pada firman Allah Ta’ala tentang adzab kaum ‘Aad :

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)

“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. Al Ahqaf: 24-25)

     Allah Ta’ala juga berfirman :

فكلاً أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصباً ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا به الأرض ومنهم من أغرقنا

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.” (QS. Al-Ankabut: 40)
Juga pada firman-Nya:

فأعرضوا فأرسلنا عليهم سيل العرم

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar.” (QS. Saba`: 16)

     Dalam hadits dikatakan, bahwa Nabi begitu khawatir pada saat muncul mendung, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Hal ini sebagaimana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan :

وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِى وَجْهِهِ . قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا ، رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ ، وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ . فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا ( هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا ) »

“Jika Rasulullah melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu girang. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.” Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adaah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

■  Sebab-sebab Umum Turunnya Hujan

1.  Ketakwaan kepada Allah

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

2.  Memperbanyak istighfar dan taubat dari dosa-dosa

فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفاراً. يرسل السماء عليكم مدراراً

“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.” (QS. Nuh: 10-11)

3. Istiqamah di atas syariat Allah

وألّوِ استقاموا على الطريقة لأسقيناهم ماءًً غدقاً

“Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar.” (QS. Al-Jin: 16)

4.  Istisqa', baik sekedar berdoa maupun diiringi dengan shalat istisqa' 2 raka'at sebagaimana sholat 'Id

     Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُتَبَذِّلاً مُتَوَاضِعًا مُتَضَرِّعًا حَتَّى أَتَى الْمُصَلَّى – زَادَ عُثْمَانُ فَرَقِىَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ اتَّفَقَا – وَلَمْ يَخْطُبْ خُطَبَكُمْ هَذِهِ وَلَكِنْ لَمْ يَزَلْ فِى الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّكْبِيرِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّى فِى الْعِيدِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam keadaan meninggalkan berhias diri, menghinakan diri dan banyak mengharap pertolongan Allah hingga sampai ke tanah lapang –Utsman menambahkan bahwa kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki mimbar- lalu beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kalian ini. Akan tetapi, beliau senantiasa memanjatkan do’a, berharap pertolongan dari Allah dan bertakbir. Kemudian beliau mengerjakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melaksanakan shalat ‘ied.” (HR. Abu Dawud no. 1165, At Tirmidzi no. 558, An Nasai no. 1508. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat Irwaul Gholil no. 665.)

     Di antara do’a istisqo’ yang dibaca adalah:

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْىِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

“Ya Allah, turunkanlah hujan pada hamba-Mu, pada hewan ternak-Mu, berikanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati.” (HR. Abu Dawud no. 1176, hasan)
     
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami.” (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897.)

■  Berdoa Ketika Hujan Turun

     Dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Nabi ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ‘Allahumma shoyyiban nafi’an (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat).’” (HR. Bukhari, no. 1032)

     Ibnu Baththal mengatakan, ”Hadits ini berisi anjuran untuk berdoa ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak manfaatnya.” (lihat Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal)

■  Turun hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa

     Terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda :

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika azan dan doa ketika ketika hujan turun.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi; Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan; lihat Shahihul Jami’, no. 3078)

■  Doa ketika hujan lebat

     Nabi suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebat, beliau memohon kepada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi berdoa :

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiraabi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan).” (HR. Bukhari, no. 1014)

■  Berdoa Setelah Turun Hujan

عن زيد بن خالد الجهني رضي الله عنه قال : صلَّى لنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - صلاة الصبح بالحديبية على إِثْر سماء كانت من الليلة ، فلما انصرف أقبل على الناس فقال : ( هل تدرون ماذا قال ربكم ؟ قالوا : الله ورسوله أعلم ، قال : أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر ، فأمَّا من قال : مُطِرنا بفضل الله ورحمته ، فذلك مؤمن بي وكافر بالكوكب ، وأما من قال : مُطِرنا بنوء كذا وكذا فذلك كافر بي ومؤمن بالكوكب ) رواه البخاري ومسلم .

     Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, “Nabi melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jamaah shalat, lalu mengatakan, ‘Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?’ Kemudian mereka mengatakan, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Kemudian Rasulullah bersabda :

أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

‘Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa yang mengatakan ’muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah) maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘muthirna binnau kadza wa kadza’ (kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini) maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman kepada bintang-bintang.’” (HR. Bukhari, no. 846; Muslim, no. 71)

■  Doa apabila ada angin kencang

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya.” (HR. Abu Dawud, 4:326; Ibnu Majah, 2:1228, lihat kitab Shahih Ibnu Majah, 2:305)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya dan kebaikan tujuan dihembuskannya angin ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan tujuan diehmbuskannya angin ini.” (HR. Bukhari, 4:76; Muslim, 2:616)

■  Apakah Penduduk Negeri Itu Merasa Aman?

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Namun mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka pada malam hari sewaktu mereka sedang tidur?” (Qs. Al-A’raf: 97)

أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka sewaktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (Qs. Al-A’raf: 98)

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 99)

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk segera beristigfar dan bertaubat dari segala dosa dan maksiat, yang dilakukan secara sengaja maupun tak sengaja, yang dilakukan sendirian maupun beramai-ramai, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Rabu, 05 Juli 2023

Afdholul Iman Adalah Sabar Dan Samahah



 

Afdholul Iman Adalah Sabar Dan Samahah
أفضلُ الإيمانِ الصبرُ والسماحةُ


     Dua perkara yang dapat mengantarkan kepada sebaik-baik iman adalah sabar dan "samahah". Dari Ma’qal bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu secara marfu dari Nabi ﷺ :

أفضلُ الإيمانِ الصبرُ والسماحةُ

“Sebaik-baik iman adalah sabar dan as-samahah.” (HR. Ad-Dailami, Abdullah bin Ahmad dalam Az Zuhd, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (1495)).

    Imam Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa sabar dalam hadits ini maksudnya adalah sabar dalam meninggalkan maksiat, dan "samahah" dalam melakukan ketaatan.

وقد سُئل الحسن البصري -رحمه الله تعالى- وهو أحد روَّاة هـذا الحديث قيل له: ما الصَّبر وما السَّماحة؟
قال: ((الصبر عن معصية الله، والسماحة بأداء فرائض الله عز وجل)) رواه أبو نعيم في الحلية (2/156).

     "Al-Hassan Al-Bashri rahimahullah dan beliau adalah salah satu perawi hadits ini, ditanya: Apa itu sabar dan apa itu "samahah"?
Beliau berkata : "Sabar dari meninggalkan maksiat kepada Allah, dan "samahah" dalam melaksanakan perintah-perintah Allah." (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (2/156)).

(الإيمان الصبر والسماحة) قال البيهقي: يعني بالصبر الصبر عن محارم الله وبالسماحة أن يسمح بأداء ما افترض عليه اه‍  (فيض القدير شرح الجامع الصغير - المناوي - ج ٣ - الصفحة ٢٤٣)

     Imam Al Baihaqi berkata : “Maksudnya yakni dengar sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dan dengan "samahah" yaitu mudah melaksanakan apa yang Allah wajibkan atasnya.” (lihat Faidhul Qodir Syarah Al-Jami' Ash-Shoghir, Imam Abdurrouf Al-Munawi)

     Kesabaran memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Allah dan tanpa sabar maka seorang Muslim tidak dapat melakukan apa yang telah Allah perintahkan kepadanya, atau berhenti dari apa yang dilarang oleh Allah. Oleh karena itu Allah memerintahkannya. Dan ketahuilah bahwa sabar juga menjadi prasyarat datangnya pertolongan Allah. Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan barang siapa yang menginginkan pertolongannya hendaklah dengan sabar dan shalat.

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (QS. Al Baqarah : 45)

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Senin, 03 Juli 2023

Hadits: "Sesungguhnya manusia apabila melihat pelaku kezaliman lalu mereka tidak berusaha mencegahnya, hampir pasti Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semua."



 

Hadits: "Sesungguhnya manusia apabila melihat pelaku kezaliman lalu mereka tidak berusaha mencegahnya, hampir pasti Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semua."


عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه قال: يا أيُّها النَّاس، إِنَّكُم لَتَقرَؤُون هذه الآية: (يَا أَيُّها الَّذِين آمَنُوا عَلَيكُم أَنفسَكُم لاَ يَضُرُّكُم مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيتُم) [المائدة: 105]، وَإِنِّي سمِعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إِنَّ النَّاس إِذا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَم يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيه أَوشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ».  [صحيح] - [رواه أبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد]

     Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu ia menuturkan, "Wahai manusia! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini, "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk..." (QS. Al-Ma'idah: 105), dan sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya apabila manusia melihat pelaku kezhaliman lalu mereka tidak berusaha mencegahnya, hampir pasti Allah akan menimpakan 'iqab (azab)Nya kepada mereka semua." (Hadits shahih - Diriwayatkan Ibnu Majah)

     Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu menuturkan, "Wahai manusia! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini : (يَا أَيُّها الَّذِين آمَنُوا عَلَيكُم أَنفسَكُم لاَ يَضُرُّكُم مَنْ ضَلَّ ( إِذَا اهْتَدَيتُم "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk..." (QS. Al-Maidah: 105) dan kalian memahaminya bahwa seseorang itu apabila telah mendapatkan petunjuk, maka kesesatan orang lain tidak membahayakannya, karena ia telah meluruskan dirinya. Apabila ia telah meluruskan dirinya, maka keadaan orang lain menjadi tanggung jawab Allah. Pengertian ini tidak benar. Sebab, Allah mensyaratkan orang yang sesat tidak bisa membahayakan kita bila kita mendapat petunjuk. Allah berfirman, (يَا أَيُّها الَّذِين آمَنُوا عَلَيكُم أَنفسَكُم لاَ يَضُرُّكُم مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيتُم) "Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk". Dan di antara manifestasi mendapat petunjuk adalah kita memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bila hal ini termasuk manifestasi "mendapat petunjuk", maka agar selamat dari bahaya, kita harus menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Oleh sebab itu, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu- mengatakan, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, "Sungguh, apabila manusia melihat pelaku kezaliman lalu mereka tidak berusaha mencegahnya, hampir pasti Allah akan menimpakan 'iqab (azab)Nya kepada mereka semua." Artinya, mereka terancam bahaya orang yang sesat apabila mereka melihat orang sesat namun tidak memerintahkannya melakukan kebaikan dan tidak mencegahnya dari kemungkaran. Sehingga nyaris Allah akan menimpakan azab kepada mereka semua; baik pelaku maupun orang yang lalai. Yakni, pelaku kemungkaran dan orang lalai yang tidak mencegah kemungkaran.  

Minggu, 02 Juli 2023

Hadits : "Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. ..."


 

Hadits : "Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. ..."


عن أبي هريرة رضي الله عنه أَن النبيَّ -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم- قَالَ: «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُر أَحَدُكُم مَنْ يُخَالِل».  
[حسن] - [رواه أبوداود والترمذي وأحمد]

     Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi bersabda, "Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang dari kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya."  
(Hadits hasan - Diriwayatkan At Tirmidzi)

     Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ini menunjukkan bahwa manusia itu tergantung kebiasaan, jalur dan perjalanan hidup sahabatnya. Demi kehati-hatian dalam urusan agama dan akhlaknya, hendaklah seseorang memperhatikan dan melihat siapa yang ia jadikan sahabatnya. Jika ada orang yang diridai agama dan akhlaknya, maka jadikanlah teman, dan jika tidak maka jauhilah. Sesungguhnya tabiat itu laksana pencuri, dan persahabatan memberi pengaruh terhadap perbaikan dan kerusakan keadaan.

     Kesimpulannya, hadits ini menunjukkan bahwa sepatutnya manusia bersahabat dengan orang-orang baik karena hal itu mengandung kebaikan. Dan hendaknya jangan bersahabat dengan orang kafir, ahlu ahwa' (shohibul bid'ah), orang fasiq ataupun orang zhalim.

Sabtu, 01 Juli 2023

Hadits : "Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, ..."


 

Hadits : "Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, ..."


عن سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- فقال: يا رسول الله، دُلَّنِي على عمل إذا عملته أحبني الله وأحبني الناس؟ «فقال ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس». [صحيح] - [رواه ابن ماجه]

     Dari Sahal bin Sa'ad As-Sa'idi radhiyallāhu 'anhu, ia berkata, "Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku lakukan, maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia?" Beliau bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah dengan apa yang ada di tangan manusia maka manusia akan mencintaimu!"  
(Hadits shahih - Diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

     Seorang lelaki datang kepada Rasulullah meminta kepada beliau agar menunjukkan kepadanya suatu amal, apabila dia mengerjakannya maka akan menjadi sebab kecintaan Allah kepadanya dan kecintaan manusia. Nabi Muhammad menunjukkan kepadanya satu amal komprehensif yang menyebabkan kecintaan Allah dan kecintaan manusia kepadanya. Rasulullah bersabda, "Zuhudlah terhadap dunia!" yakni, janganlah engkau mencari dunia kecuali apa yang engkau butuhkan, tinggalkan selebihnya dan apa yang tidak bermanfaat di akhirat, serta bersikap wara' terhadap sesuatu yang mengandung bahaya dalam agamamu. Berzuhudlah terhadap dunia yang ada di tangan manusia. Apabila ada hakmu di tangan salah seorang dari mereka atau akad tertentu, maka bersikaplah sebagaimana yang telah dikemukakan dalam hadits :

رحم الله امرءا سمحا إذا باع، سمحا إذا اشترى، سمحا إذا قضى، سمحا إذا اقتضى

"Semoga Allah merahmati orang yang berlapang dada ketika menjual dan berlapang dada ketika membeli. Berlapang dada ketika menetapkan keputusan dan berlapang dada ketika menuntut."(HR. Al Bukhari) sehingga ia menjadi orang yang dicintai oleh manusia dan disayangi di sisi Allah."