Rabu, 15 Mei 2024

Hakikat Orang Yang Berakal Sehat


 

Hakikat Orang Yang Berakal Sehat
حقيقة العاقل


قال سفيان بن عيينة -رحمه الله- : «ليس العاقل الذي يَعرِفُ الخيرَ والشرَّ؛ إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتَّبعه، وإذا رأى الشر اجتنبه». [«حلية الأولياء» لأبي نعيم : (8/ 339)، و«شعب الإيمان» للبيهقي : (4664)]

     Al Imam Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله berkata :

ليس العاقل الذي يعرف الخير والشر، إنما العاقل الذي إذا رأى الخير اتبعه وإذا رأى الشر اجتنبه

"Orang yang berakal bukanlah yang mengetahui kebaikan dan keburukan. Akan tetapi orang yang berakal itu adalah orang yang apabila mengetahui kebaikan dia mengikutinya dan apabila mengetahui keburukan dia menjauhinya."
(Al-Hilyah Al-Auliya', 8/339)

Sabtu, 11 Mei 2024

Nasihat Utsman Bin Hakim Al-Adawi Rahimahullah Dalam Memilih Teman


 

Nasihat Utsman Bin Hakim Al-Adawi Rahimahullah Dalam Memilih Teman



قال عثمان بن حكيم الأودي : اصحب من هو فوقك في الدين ودونك في الدنيا. (الإخوان لابن أبي الدنيا ٩٦/١)

     Utsman bin Hakim Al-Adawi rahimahullah mengingatkan kita tentang pentingnya selektif dalam memilih teman. Beliau mengatakan,

اصحب من هو فوقك في الدين ودونك في الدنيا

“Bertemanlah dengan orang yang berada di atasmu dalam urusan agama dan berada di bawahmu dalam urusan dunia.”
(lihat Al-Ikhwan 1/96)

Senin, 06 Mei 2024

Ushul Yang Membangun Kebahagiaan Manusia


 

Ushul Yang Membangun Kebahagiaan Manusia
الأصول التي تُبنى عليها سعادة الإنسان


قال ابن القيم رحمه الله :
الأصول التي انبنى عليها سعادة العبد ثلاثة، ولكل واحد منها ضدٌّ، فمن فقد ذلك الأصل حصل على ضده: التوحيد وضده الشرك، والسنة وضدها البدعة، والطاعة وضدها المعصية، ولهذه الثلاثة ضد واحد، وهو: خُلوُّ القلب من الرغبة في الله وفيما عنده، ومن الرهبة منه ومما عنده.

     Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. (1) Tauhid, lawannya syirik. (2) Sunnah, lawannya bid’ah. Dan (3) ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan (ketaatan kepada) Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.”  (lihat Al-Fawa’id)

Minggu, 05 Mei 2024

Hukuman Atas Orang Yang Menolak Dan Tidak Mau Menerima Kebenaran


Hukuman Atas Orang Yang Menolak Dan Tidak Mau Menerima Kebenaran



وقال ابن القيم رحمه الله تعالى : من عرض عليه حق فرده فلم يقبله، عوقب بفساد قلبه وعقله ورأيه.
(مفتاح دار السعادة : ١/١٦٠)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Barangsiapa yang dipaparkan (ditunjukkan) kebenaran padanya namun dia menolaknya tidak mau menerima, maka dia akan dihukum dalam bentuk rusak hatinya, akal dan ra'yu-nya."
(lihat Miftah Daar As-Sa'adah 1/160)


Sulitnya Menjumpai Orang Yang Sholih Untuk Bisa Dijadikan Teman


 

Sulitnya Menjumpai Orang Yang Sholih Untuk Bisa Dijadikan Teman


     Umar radhiyallahu 'anhu berkata :

اعتزل ما يؤذيك، وعليك بالخليل الصالح وقلما تجده، وشاور في أمرك الذين يخافون الله.

“Tinggalkan hal-hal (semua orang) yang menyakitimu, bertemanlah dengan orang yang shalih walaupun engkau akan sulit mendapatkannya, dan bermusyawarahlah (minta nasihat) tentang urusanmu dengan orang-orang yang takut kepada Allah.”

(lihat Hilyatul Auliya’, no. 8996)

Minggu, 28 April 2024

Nasihat Uwais Al-Qorni Rahimahullah


 

Nasihat Uwais Al-Qorni Rahimahullah

"Janganlah engkau melihat pada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati.."


قال هرم بن حيان لأويس القرني: أوصني قال: توسد الموت إذا نمت، واجعله نصب عينيك، وإذا قمت فادع الله أن يصلح لك قلبك ونيتك، فلن تعالج شيئاً أشد عليك منهما، بينا قلبك معك ونيتك إذا هو مدبر، وبينا هو مدبر إذا هو مقبل، ولا تنظر في صغر الخطيئة ولكن انظر إلى عظمة من عصيت. (كتاب صفة الصفوة - ابن الجوزي)
https://shamela.ws/book/12031/877

Harim bin Hayyan pernah berkata kepada Uwais Al-Qorni rahimahullah , “Nasehatilah aku”. Beliau menjawab :
“Jadikanlah al maut (kematian) sebagai bantalmu saat kamu tidur, dan jadikan ia di pelupuk matamu. Jika kamu bangun, berdo’alah kepada الله untuk memperbaiki hati dan niatmu. Kamu tidak akan pernah mampu mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati hati dan niat. Adakalanya hatimu bersamamu tetapi niatmu berpaling darimu, dan adakalanya hatimu berpaling namun niatmu datang menghampiri. Dan janganlah kamu melihat pada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati.” (lihat Shifat Ash-Shafwah)

Rabu, 13 Maret 2024

Ramadhan Bulan Diturunkannya Al Qur’an Dan Diwajibkan Puasa





Ramadhan Bulan Diturunkannya Al Qur’an Dan Diwajibkan Puasa

     Allah Ta'ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
             
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 185)

Senin, 11 Maret 2024

Tahukah Engkau Hakikat Puasa ?


 

Tahukah Engkau Hakikat Puasa ?


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ. وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah bersabda : “Shiyam adalah tameng, maka jika salah seorang dari kalian sedang shoum maka janganlah berkata-kata kotor(rafats), dan jangan pula ribut-ribut.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dan jangan berbuat bodoh.” “Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).” (HR. Al-Bukhari No. 1894; HR. Muslim No. 1151)

     Nabi bersabda :

لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ، فَإِنْ شَابَكَ أحَدٌ أَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنّي صَا ئِمٌ، إِنِّي صَاءِمٌ

”Puasa bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perkataan keji (rafats). Apabila salah seorang dari kalian mencaci atau menghinamu maka katakan, ‘Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.'” (Hadīts shahīh Ibnu Khuzaimah 1996, Al Hakim 1/430-431)

     قال ابن القيم رحمه الله: والصائم هو الذي صامت جوارحه عن الآثام، ولسانه عن الكذب والفحش وقول الزور، وبطنه عن الطعام والشراب، وفرجه عن الرفث؛ (الوابل الصيب 43).

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata : “Orang yang berpuasa adalah yang anggota tubuhnya berpuasa dari dosa-dosa, lisannya berpuasa dari ucapan dusta, perkataan keji dan persaksian palsu, perutnya berpuasa dari makan dan minum, dan kemaluannya berpuasa dari jima’.” (lihat Al-Wabilus Shayyib : 43)

Senin, 12 Februari 2024

Diharamkan Orang Berbicara Perkara Agama Tanpa Landasan Ilmu ( Dalil Shahih )


 

Diharamkan Orang Berbicara Perkara Agama Tanpa Landasan Ilmu ( Dalil Shahih )

     Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia sesat karana hanya mengikuti hawa-nafsunya. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

"Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun." (Al-Qashshash : 50)

اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
              
     "Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah." (QS. Al-Baqarah : 169)

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗوَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ
               
".... Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir."  (QS. Al-Ma'idah : 44)

وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung." (QS. An-Nahl (16): 116)

Minggu, 11 Februari 2024

Ridha Terhadap Segala Sesuatu Yang Allah Taqdirkan


 

Ridha Terhadap Segala Sesuatu Yang Allah Taqdirkan

    
قال بعض السلف : " ارض عن الله في جميع ما يفعله بك ، فإنه ما منعك إلا ليعطيك ، ولا ابتلاك إلا ليعافيك ، ولا أمرضك إلا ليشفيك ، ولا أماتك إلا ليحييك ، فإياك أن تفارق الرضا عنه طرفة عين ، فتسقط من عينه ".
( مدارج السالكين ٢/ ٢١٦)

     Sebagian As Salaf berkata : "Bersikap ridhalah kepada Allah pada segala sesuatu yang Dia lakukan kepadamu, karena tidaklah Dia menahanmu kecuali untuk memberimu, tidaklah Dia mengujimu kecuali untuk menyelamatkanmu, tidaklah Dia membuatmu sakit kecuali agar menyembuhkanmu dan tidaklah dia mewafatkanmu kecuali agar menghidupkanmu.
Jangan sampai kamu berpisah dari ridha kepadaNya sekejap mata pun, yang bisa membuatmu jatuh di mataNya."
(lihat Madarijus Salikin 2/216)

     Ridha kepada Allah dan takdir-Nya termasuk ibadah paling utama dan kedudukan yang tertinggi di sisi Allah. Ridha kepada takdir adalah buah iman kepada Allah dan tawakkal kepada-Nya. Dengan ini maka Allah akan senantiasa membersamai dan menunjuki hamba-Nya.

Kamis, 01 Februari 2024

Keutamaan Membantu Kesulitan Seorang Mukmin


 

Keutamaan Membantu Kesulitan Seorang Mukmin

     Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah bersabda :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat.

Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.

Siapa yang menutupi seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.

Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya.

Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Siapa yang lambat amalnya, maka bagusnya nasab tidak dapat mengejar ketertinggalan amal.” (HR. Muslim, no. 2699)