Jumat, 06 Januari 2023

Waspadalah Terhadap Ajaran Islam Palsu


 

Dunia Ibarat Samudera...As Sunnah Dan Amal Shalih Ibarat Bahtera


 

Kehidupan Dunia Hanya Kesenangan Yang Menipu


 

Keistimewaan Dan Keutamaan Hari Jum'at


 Keistimewaan Hari Jum'at

Rosulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at. Hari tersebut adalah hari diciptakannya Adam, hari ketika Adam dimasukkan ke dalam surga dan hari ketika Adam dikeluarkan dari surga. Hari kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at”. (HR. Muslim)

قال سعد بن عبادة:
خمس خصال من خصائص يوم الجمعة : فيه خلق الله آدم، وفيه أهبط من الجنة إلى الأرض، وفيه توفي. وفيه ساعة لا يسأل العبد فيها شيئاً إلا أعطاه إياه ما لم يسأل إثماً أو قطيعة رحم، وفيه تقوم الساعة.

Berkata Shohabat Sa’ad bin ‘Ubaadah رضي الله عنه, “Dalam Islam, semua hari adalah baik, hanya hari Jum’at memiliki keistimewaan tersendiri, antara lain:
(1) Pada hari itu Allah سبحانه وتعالى ciptakan Adam عليه السلام
(2) Pada hari itu Allah سبحانه وتعالى turunkan Adam عليه السلام dari surga ke bumi
(3) Pada hari itu Allah سبحانه وتعالى wafatkan Adam عليه السلام
(4) Pada hari itu tidaklah ada seorang yang bermohon (berdo’a) kepada Allah سبحانه وتعالى, kecuali Allah سبحانه وتعالى akan kabulkan, selama dia tidak meminta perbuatan dosa dan memutus silaturrohim
(5) Pada hari itu, akan terjadi hari Kiamat.
(Dinukil dari Kitab “Irsyaadul Ibaad ilaa Sabiilil Rosyaad”)


Kamis, 05 Januari 2023

Diantara Tanda Seorang Mukmin Sejati


 


Diantara Tanda Seorang Mukmin


Allah ta’ala berfirman :

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

     Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang-orang munafiq itu tiada sesuatu pun dari sebutan nama Allah yang dapat mempengaruhi hati mereka untuk mendorong mereka mengerjakan hal-hal yang difardhukan-Nya. Mereka tidak beriman kepada sesuatu pun dari ayat-ayat Allah, tidak bertawakal, tidak salat apabila sendirian, dan tidak menunaikan zakat harta bendanya. Maka Allah menyebutkan bahwa mereka bukan orang-orang yang beriman. Kemudian Allah Ta'ala menyebutkan sifat orang-orang mukmin melalui firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka. (QS. Al-Anfal: 2) Karena itu, maka mereka mengerjakan hal-hal yang difardukan-Nya. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah­lah iman mereka (karenanya). (QS. Al-Anfal: 2) Maksudnya, kepercayaan mereka makin bertambah tebal dan mendalam. dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS. Al-Anfal: 2) Yakni mereka tidak mengharapkan kepada seorang pun selain-Nya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir).

     Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan di dalam kitab tafsirnya:
"Demikianlah sifat orang yang beriman dengan sesungguhnya, yaitu orang yang apabila disebut Allah gemetarlah hatinya karena merasa takut kepada-Nya, lalu mengerjakan semua perintah­Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Ayat ini semakna dengan ayat lain, yaitu firman-Nya :
{وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ}
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon smpun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 135).Semakna pula dengan firman Allah lainnya, yaitu:
{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Robb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguh­nya surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Naziat: 40-41) (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim)

     Firman Allah Ta'ala : وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
"dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)." (QS. Al Anfal: 2). Perihalnya sama dengan firman-Nya :
{وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ}
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, "Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya sedang mereka merasa gembira." (QS. At Taubah: 124) (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

     Firman Allah Ta'ala :  {وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ}  "dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (Al-Anfal: 2). Yakni mereka tidak mengharapkan' kepada selain-Nya, dan tidak bertujuan kecuali hanya kepada-Nya. Mereka tidak berlindung kecuali hanya kepada naungan-Nya. tidak meminta keperluan-keperluan mereka selain hanya kepada-Nya. mereka tidak suka kecuali hanya kepada-Nya. dan mereka mengetahui bahwa apa yang dikehendaki Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. Dialah yang mengatur kerajaan-(Nya). hanya Dia semata, tiada sekutu bagi-Nya, tiada akibat bagi keputusan hukum-Nya, dan Dia Mahacepat perhitungan-Nya. Karena itulah Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa tawakal kepada Allah merupakan induk keimanan. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

     Al Imam Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:

إِنَّ مِنْ عَلَامَةِ الْمُؤْمِنِ: قُوَّةَ دِينٍ , وَحَزْمًا فِي لِينٍ , وَإِمَامًا فِي يَقِينٍ , وَحِلْمًا فِي عِلْمٍ , وَكَيْسًا فِي مَالٍ , وَإِعْطَاءً فِي حَقٍّ , وَقَصْدًا فِي غِنًى , وَتَجَمُّلًا فِي فَاقَةٍ , وَإِحْسَانًا فِي قُدْرَةٍ , وَتَوَرُّعًا فِي رَغْبَةٍ , وَتَعَفُّفًا فِي جَهْدٍ , وَصَبْرًا فِي شِدَّةٍ , وَقُوَّةً فِي الْمَكَارِهِ , وَصَبُورًا فِي الرَّخَاءِ , شَكُورًا لَا يَغْلِبُهُ الْغَضَبُ , وَلَا يَجْنَحُ، تَحْمِلُهُ الْحَمِيَّةُ , وَلَا يَمْزَحُ , وَلَا يَتَكَبَّرُ , وَلَا يَتَعَظَّمُ , وَلَا يَضُرُّ بِالْجَارِ , وَلَا يَشْمَتُ بِالْمُصِيبَةِ , وَلَا تَغْلِبُهُ شَهْوَتُهُ , وَلَا تُرْدِيهِ رَغْبَتُهُ , وَلَا يَبْذُرُهُ لِسَانُهُ , وَلَا يَسْبِقُهُ بَصَرُهُ، وَلَا يَغْلِبُهُ فَرْجُهُ، وَلَا يَمِيلُ فِي هَوَاهُ، وَلَا يَفْضِحُهُ بَطْنُهُ، وَلَا يَسْتَحِثُّهُ حِرْصُهُ , وَلَا يَقْصُرُ بِهِ بَيْتُهُ , وَلَا يَبْخَلُ , وَلَا يُبَذِّرُ , وَلَا يُسْرِفُ , وَلَا يَقْتُرُ , نَفْسُهُ مِنْهُ فِي غِنًى , وَالنَّاسُ مِنْهُ فِي رَجَاءٍ , لَا يُرَى فِي خُلُقِهِ وَلَا إِيمَانِهِ لَبْسٌ , وَلَا فِي فَرَحِهِ بَطَرٌ , وَلَا فِي حُزْنِهِ جَزَعٌ , يُرْشِدُ مَنِ اسْتَشَارَهُ , وَيَسْعَدُ بِهِ صَاحِبُهُ “

“Diantara ciri seorang Mu’min antara lain: (1) Kuat keislamannya, (2) Tegas dalam kelembutan, (3) Menjadi imam (terdepan) dalam keyakinan, (4) Lembut berdasarkan ilmu, (5) Cerdas dalam urusan harta, (6) Berbagi dalam kebenaran, (7) Sederhana saat berkecukupan, (8) tidak menunjukkan kekurangannya saat miskin, (9) Berbagi kebajikan saat mampu, (10) Waro’ (sikap berhati-hati) saat berkemauan, (11) Berbersih jiwa saat bekerja keras, (12) Bersabar saat mengalami kesusahan, (13) Kuat saat menghadapi yang dibenci, (14) Bersabar saat lapang, (15) Bersyukur tak terkalahkan oleh murka, (16) Tidak condong (pada kebathilan), (17) Berpegang-teguh pada nurani, (18) Tidak (gemar) bergurau, (19) Tidak takabbur (sombong), (20) Tidak mengagungkan dirinya sendiri, (21) Tidak mengganggu (merugikan) tetangga, (22) Tidak mengeluh karena musibah, (23) Tidak terkalahkan oleh syahwatnya, (24) Tidak terjatuhkan oleh kemauannya, (25) Lisannya tidak menyebabkannya terpeleset, (26) (Pandangan) matanya tidak mengalahkan imannya, (27) Kegembiraannya tidak menenggelamkannya, (28) Tidak condong kepada hawa nafsunya(pada ketidakbenaran), (29) Perutnya tidak mempermalukannya, (30) Ambisinya tidak mendorongnya pada kemaksiatan, (31) Rumahnya tidak membatasinya (dari berbagi kebaikan), (32) Tidak kikir, (33) Tidak tabdzir (menghamburkan harta untuk perkara tercela), (34) Tidak berlebihan, (35) Tidak kendor (dalam kesholihan), (36) Kaya hati, (37) Menjadi harapan banyak orang, (38) Kepribadian dan imannya lurus / tidak mudah goyah, (39) Rasa senangnya tidak berlebihan, (40) Dukanya tidak membuatnya galau, (41) Membimbing orang yang berkonsultasi padanya, (42) Temannya berbahagia dengan kehadirannya.“ (dinukil dari perkataan Al-Imam Ibnu Abid Dunya (wafat 281 H) lihat Ishlahul Maal)

Rabu, 04 Januari 2023

Pandanglah Orang Yang Dibawahmu Dalam Masalah Harta Dan Dunia


 


Pandanglah Orang Yang Di Bawahmu Dalam Masalah Harta Dan Dunia


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda,


 انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ 


“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian. Hal itu lebih layak membuat kalian tidak mengingkari nikmat Allah yang ada pada kalian.”  (HR. Al-Bukhari (6490) dan Muslim (2963) dan ini lafazh beliau)

     Berkata Imam Nawawi,


 قال ابن جرير وغيره: هذا حديث جامع لأنواع من الخير؛ لأن الإنسان إذا رأى من فضل عليه في الدنيا طلبت نفسه مثل ذلك، واستصغر ما عنده من نعمة الله تعالى وحرص على الازدياد ليلحق بذلك أو يقاربه، هذا هو الموجود في غالب الناس 


“Ibnu Jarir dan selain beliau mengatakan, hadits ini mengumpulkan banyak jenis kebaikan. Karena jika orang melihat pihak lain yang melebihi dia dalam hal dunia maka hatinya juga jadi menginginkan hal yang sama serta akan menganggap kecil nikmat Allah ta’ala yang ada padanya, dan diapun berambisi untuk menyamainya atau mendekatinya. Keadaan ini terjadi pada kebanyakan manusia.” (Al-Minhaj, XVIII/97)

    Nabi memerintahkan "Hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya" tujuannya agar ringan baginya jika ada hal yang kurang, gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepadanya, dan mensyukurinya. Adapun dalam masalah agama dan yang terkait akhirat hendaklah dia melihat pada yang di atasnya, agar bertambah semangatnya dalam melakukan berbagai kebaikan.

     Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata :

 أن الإنسان لا يرغب في هذه الدنيا، ولا يجزع بما أصابه، بل يصبر ويحتسب سواء كان فقيراً أو مريضاً أو غير ذلك، فالدنيا دار ابتلاء، فلا يجزع من المصائب ومن الابتلاء، والذي يسهل عليه ذلك ما أرشد إليه النبي ﷺ في هذا الحديث 

“Hendaklah manusia tidak condong pada dunia dan mengeluh ketika kena musibah. Bahkan seharusnya dia sabar dan mengharapkan pahala, apakah itu ujian hidup susah, penyakit, dan lain-lain. Sebab dunia memang tempatnya cobaan. Jangan dia mengeluh karena musibah dan cobaan. Dan hal yang dapat memudahkannya ialah yang dibimbingkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadits ini.” (Tashil al-Ilmam, VI/158)

     Demikian juga dalam perkara rupa atau bentuk fisik, maka hendaknya melihat yang dibawahnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

     Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud dengan al khalq adalah bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi.” (Fathul Bari, 11/32)

     Jika seseorang melihat pada yang lebih dari dia dalam hal harta, keelokan wajah, dan lain-lain maka dia bisa merasa sedih dan tersiksa. Maka hendaklah dia melihat pada orang lain yang di bawahnya, dari kalangan orang orang fakir lain yang di bawah dia dalam masalah harta, fisik, maupun yang lainnya sehingga dia dapat menyadari kadar nikmat Allah.

     Sesungguhnya Allah yang membagikan rizki dan penghidupan sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya. Tidak layak seorang hamba melihat pada orang lain. Sebab akan membuatnya menganggap remeh rizki yang sudah Allah berikan kepadanya berdasarkan hikmah dan hukum-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Allah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216). Dan Allah Ta’ala berfirman :

 فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا 

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’ : 19)

     Dunia itu bak air laut, semakin diteguk, ia akan semakin membuat haus seseorang. Hasrat terhadap dunia baru akan berhenti jika seseorang telah meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki dua lembah harta, dia pasti akan mencari lembah yang ke-3 (tidak akan pernah merasa puas). Seorang anak Adam tidak akan berhenti (mengejar dunia), kecuali ketika tanah sudah menyumpal mulutnya (jenazahnya telah dikebumikan).” (HR. Bukhari no. 6436)

     Itulah gambaran tentang dunia beserta arahan Islam dalam menyikapinya. Berbeda halnya dengan masalah akhirat, maka kita diperintahkan untuk melihat ke atas. Allah ﷻ mengajarkan kita untuk selalu bersemangat dalam masalah akhirat. Allah ﷻ berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ

“Berlomba-lombalah untuk meraih ampunan Allah. Dan berlomba-lombalah untuk segera meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Āli ‘Imrān: 133)

     Kita pun diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada Allah yaitu berdoa :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.”

     Demikianlah Allah ﷻ memerintahkan kita untuk menatap ke atas dalam masalah akhirat. Semoga Allah kelak mengumpulkan kita bersama orang-orang yang Allah beri nikmat yaitu para nabi, orang-orang shiddiq (jujur dalam keimanan), para syuhada, dan orang-orang shalih..

Selasa, 03 Januari 2023

Musabaqah (Perlombaan) Dalam Islam


 




Perlombaan atau musabaqah telah menjadi bagian dari aktifitas kehidupan manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang. Musabaqah artinya kegiatan yang berisi persaingan untuk berusaha lebih dari orang lain dalam suatu hal. Disebutkan dalam Al Mulakhas Al Fiqhi (2/155):

المسابقة: هي المجاراة بين حيوان وغيره، وكذا المسابقة بالسهام

“Musabaqah adalah mempersaingkan larinya hewan atau selainnya, demikian juga persaingan dalam keahlian memanah”.

Hukum Asal Perlombaan Jika Tanpa Hadiah Mubah

     Hukum perlombaan yaitu bersaing dengan orang lain dalam suatu hal dan berusaha lebih dari yang lain ini hukum asalnya mubah (boleh), selama tanpa ada taruhan, hadiah dan bukan untuk perkara yang Allah haramkan (seperti lomba musik, membuat shuroh (gambar bernyawa), tinju, adu ayam dan semisal). Karena perlombaan merupakan perkara muamalah (bukan perkara ibadah), sebagaimana kaidah fiqhiyyah mengatakan:

الأصل في المعاملات الحِلُّ

“Hukum asal perkara muamalah adalah halal (boleh)”.

     Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah berlomba lari dengan Aisyah radhiallahu’anha. Ummul Mukminin Aisyah radhiyaallahu 'anha bercerita:

سَابَقَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبَقْتُهُ حَتَّى إِذَا رَهِقَنَا اللَّحْمُ سَابَقَنِي فَسَبَقَنِي فَقَالَ : هَذِهِ بِتِيكِ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengajakku berlomba lari lalu aku mengalahkan beliau. Hingga suatu ketika ketika aku sudah lebih gemuk beliau mengajakku berlomba lari lalu beliau mengalahkanku. Beliau lalu berkata: ‘ini untuk membalas yang kekalahan dulu’” (QS. An Nasa-i no. 7708, Abu Daud no. 2257, dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa’ (5/327)).
    
     Tentunya lomba lari yang dilakukan antara Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan ummul mukminin Aisyah radhiyaallahu 'anha tanpa hadiah. Dan tujuan dari lomba adalah untuk melatih fisik, untuk mengetahui siapa yang paling tangkas, atau sekedar untuk bersenang-senang. 

Hukum Lomba Dengan Taruhan Atau Hadiah

     Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا سبَقَ إلا في نَصلٍ أو خفٍّ أو حافرٍ

“Tidak boleh ada perlombaan berhadiah, kecuali lomba memanah, berkuda, atau menunggang unta” (HR. Tirmidzi no. 1700, Abu Daud no. 2574, Ibnu Hibban no. 4690, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

     Ibnu ‘Abidin rahimahullah mengatakan:

لَا تَجُوزُ الْمُسَابَقَةُ بِعِوَضٍ إلَّا فِي هَذِهِ الْأَجْنَاسِ الثَّلَاثَةِ

“Maksudnya, tidak diperbolehkan lomba dengan hadiah kecuali dalam tiga jenis lomba yang disebutkan” (Ad Durr Al Mukhtar, 6/402).

     Dari hadits ini, ulama sepakat bahwa lomba yang disebutkan dalam hadits maka hukumnya jika ada hadiahnya. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah:

إِنْ كَانَتِ الْمُسَابَقَةُ بِجَائِزَةٍ فَقَدِ اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى مَشْرُوعِيَّتِهَا فِي الْخَيْل، وَالإبِل، وَالسَّهْمِ

“Jika lombanya berhadiah maka ulama sepakat ini disyariatkan dalam lomba berkuda, balap unta, dan memanah.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah , 15/80).

     Adapun untuk selain lomba yang disebutkan dalam hadits (lombs berkuda, balap unta dan memanah), maka jumhur ulama mengatakan tidak diperbolehkan. Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah:

فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ السِّبَاقُ بِعِوَضٍ إِلاَّ فِي النَّصْل وَالْخُفِّ وَالْحَافِرِ، وَبِهَذَا قَال الزُّهْرِيُّ

“Jumhur fuqaha berpendapat bahwa tidak diperbolehkan perlombaan dengan hadiah kecuali lomba memanah, berkuda dan balap unta. Ini juga pendapat dari Az Zuhri.” (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah , 24/126).

     Ini adalah pendapat mu’tamad 4 madzhab dari Syafi’iyyah, Hanabilah, Malikiyah, dan Hanafiyah, demikian juga pendapat Zhahiriyah. 


Bolehkah Musabaqah (Pelombaan) Dalam Perkara Ibadah Dengan Tujuan Untuk Mengharapkan Dunia Atau Hadiah?

    Ada sebuah pendapat yang membolehkan perlombaan tilawah Al Qur'an (MTQ), hafalan Al Qur'an (MHQ), hafalan hadits, fiqh, adzan, ilmu yang bermanfaat atau perkara ibadah walau dengan taruhan dan hadiah dengan dikiaskan lomba berkuda dan memanah untuk kepentingan jihad fissabilillah. Benarkah pendapat tersebut?

     Sepengetahuan ilmu yang Allah berikan kepada kami maka hal tersebut tidak benar, dikarenakan :

1. Pada zaman Nabi dan para Shahabat tiada nukilan shahih adanya lomba menghafal Al Qur'an atau semisal.
     Andai itu disyari'atkan tentu akan diamalkan para Shahabat. Tapi ternyata tidak diamalkan para Shahabat Nabi walau keadaan lebih menuntut yaitu banyak penghafal Al Qur'an yang gugur terbunuh. Apa para Shahabat Nabi kemudian melakukan musabaqah hafalan Al Qur'an.?? Ternyata tidak demikian.
     Maka Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an agar tidak hilang. Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, bahwa Umar Ibn Khaththab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu setelah selesainya perang Yamamah. Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, di samping Abu Bakar bediri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid : “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemrerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sekarang carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah!”, Zaid berkata : “Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang."
     Kaum muslimin saat itu seluruhnya sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, mereka menganggap perbuatannya itu sebagai nilai positif dan keutamaan bagi Abu Bakar, sampai Ali Ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu mengatakan : “Orang yang paling besar pahalanya pada mushaf Al-Qur’an adalah Abu Bakar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Bakar karena, dialah orang yang pertama kali mengumpulkan Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Perlombaan tersebut tidak ada contohnya dari Nabi dan para Shahabat.
     Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
     Dalam riwayat Muslim, disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718)

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ

“Tidak boleh memberi hadiah dalam perlombaan kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.” (HR. Tirmidzi, no. 1700; An-Nasai, no. 3615; Abu Daud, no. 2574; Ibnu Majah, no. 2878. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan dalam ta’liq beliau terhadap Jami’ At-Tirmidzi. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil, no. 1506, 5:333 mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

4. Ibnul Qoyyim dalam Al Furusiyah menyebutkan bahwa pengikut imam Malik., imam Ahmad dan imam Asy Syafi'i melarang hal tersebut.

5. Al Qur'an itu untuk dibaca, dihafal, diajarkan, ditadabburi ataupun diamalkan. Bukan untuk dilombakan dengan tujuan dunia atau mencari nama, mencari uang, mencari nomor (juara) satu, atau mengharapkan hadiah. Hal ini sebagaimana terjadi di dalam Musabaqah Tilawah Alquran (MTQ). Belum lagi pada umumnya dalam prakteknya terdapat banyak kemungkaran seperti ikhtilath, shuroh bernyawa, tepuk tangan dan lain-lain

6. Syarat diterimanya amalan itu ada dua yaitu ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Nabi dan para Shahabat).
     Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
     Sehingga siapa yang tilawah Al Qur'an, hafalan, ilmu dan lain-lain jika tujuannya untuk dunia, dipuji manusia, mendapatkan hadiah dan sebagainya maka bisa terjatuh dalam kesyirikan (minimal riya' (syirik kecil), sum'ah ataupun ujub).
     Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca. Dan kini kamu telah dikatakan seperti itu. Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 3527)

7. Para Shahabat memahami (فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ) yaitu berlomba dalam kebaikan untuk meraih maghfirah dan Surga Allah.
     Jadi bukan berlomba kebaikan untuk tujuan dunia atau mencari hadiah dari manusia.

8. Jika musabaqah tilawatil Qur'an diqiaskan dengan lomba berkuda maka hal tidak tepat, karena hukum asal tilawah Al Qur'an adalah ibadah yang disyari'atkan sedang hukum asal berkuda adalah mubah.

9. Dalam catatan sejarah dari sekian para mujaddid mulai Umar bin Abdul Aziz mujaddid di penghujung abad ke-1, Imam Asy Syafi'i mujaddid di penghujung abad ke-2 dst..jika memang ada, siapa yang pernah menjadi peserta musabaqah tilawatil Qur'an dengan hadiah.? Tanpa ada perlombaan tersebut pun Al Qur'an dan kemurnian agama Allah, insya Allah akan tetap terjaga.

     Agama Allah dibangun di atas dalil, sehingga bagi pendapat yang membolehkan perlombaan dalam perkara tersebut untuk tujuan dunia atau hadiah maka wajib mendatangkan dalilnya. Wa Allahu a'lam.

Senin, 02 Januari 2023

Berlomba-lomba Dalam Kebaikan


 


Dalam masalah beramal sholih (kebaikan) dan perkara Akhirat seharusnya seorang hamba berlomba untuk menjadi yang terdepan. Allah Ta'ala berfirman :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah: 148).

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26). Artinya, untuk meraih berbagai nikmat di surga, seharusnya setiap berlomba-lomba.

     Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menerangkan, “Para Shahabat memahami bahwa mereka harus saling berlomba untuk meraih kemuliaan di Surga. Mereka berusaha menjadi terdepan untuk menggapai derajat yang mulia tersebut. Oleh karena itu, jika di antara mereka melihat orang lain mendahului mereka dalam beramal, mereka pun bersedih karena telah kalah dalam hal itu. Inilah bukti bahwa mereka untuk menjadi yang terdepan.” (Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali hal. 428.)

     Syaikh Abdurrahman As Sa'di rahimahullah dalam kitab tafsirnya (halaman 73) menjelaskan:
     "Perintah untuk berlomba kepada kebaikan merupakan suatu yang lebih dari sekadar perintah untuk berbuat baik, karena berlomba berbuat kebaikan meliputi beberapa hal, yaitu dengan melakukannya, menyempurnakannya, dan menempatkannya dalam bentuk yang paling sempurna, serta bersegera kepadanya. Barangsiapa yang berlomba kepada kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi pemenang di akhirat dengan surga, dan orang-orang yang terdepan dalam perlombaan adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya.
     Kebaikan itu meliputi segala hal yang diwajibkan dan disunahkan, seperti shalat, puasa, zakat, haji, umroh, dan jihad serta memberikan manfaat secara luas maupun sempit. Ketika suatu hal yang paling mendorong jiwa untuk berlomba-lomba kepada kebaikan dan menggiatkan nya adalah apa yang dijanjikan oleh Allah terhadapnya dari pahala, maka Allah berfirman,

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian pada hari kiamat Sesungguhnya Allah Maha penguasa atas segala sesuatu,”. Allah akan mengumpulkan kalian pada hari kiamat dengan kuasaNya, kemudian Allah akan membalas segala perbuatan setiap orang sesuai dengan perbuatannya,

لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَسَاۤءُوْا بِمَا عَمِلُوْا وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا بِالْحُسْنٰىۚ

"(Dengan demikian) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (QS. An-Najm ayat 31)
     Ayat yang mulia ini dapat dijadikan dalil untuk mengadakan setiap hal yang mulia yang berkaitan dengan suatu perbuatan, seperti shalat pada awal waktu, bersegera dalam menunaikan kewajiban, seperti puasa, haji, umroh, mengeluarkan zakat, mengerjakan sunah-sunah Ibadah dan adab-adabnya. Sungguh hanya milik Allah sajalah ayat yang sangat lengkap dan paling bermanfaat ini."

     Al Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan :
     “Wahai anak Adam, jika engkau melihat manusia berada dalam sebuah kebaikan, saingilah mereka. Namun, jika engkau melihatnya berada padasebuah kebinasaan, janganlah engkau menyaingi mereka dan pilihan mereka.”
     “Sungguh, kami telah melihat beberapa kaum lebih memilih bagian mereka yang disegerakan (di dunia) daripada yang diakhirkan (di akhirat). Akhirnya, mereka menjadi hina, binasa, dan terkenal (keburukannya).”
     “Barang siapa yang berlomba denganmu dalam hal agama, saingilah dia. Adapun orang yang menyaingimu dalam hal duniamu, lemparkanlah urusan dunia itu ke lehernya.”
     “Apabila engkau melihat manusia menyaingimu dalam hal dunia, saingilah mereka dalam hal akhirat. Sungguh, dunia mereka akan hilang dan akhirat akan kekal.”
(Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)

     Allah Ta'ala juga perintahkan kita berlomba untuk meraih maghfirah dari Allah dan Surga-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ}

“Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) kamu untuk (meraih) pengampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS Ali ‘Imraan: 133).

Dalam ayat lain, Dia Ta’ala juga berfirman:

{وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ}

“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang (yang beriman) berlomba-lomba (untuk meraihnya)” (QS al-Muthaffifiin: 26).

     Dengan jelas Allah Ta'ala telah memerintahkan kita untuk meraih ampunan-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

سابقوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها كعرض السماء والأرض أعدت للذين آمنوا بالله ورسله ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء والله ذو الفضل العظيم

Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah memiliki karunia yang besar. (QS. Al Hadiid: 21).

     Imam Asy Syaukani berkata: Berlombalah menjadi yang terdepan dalam beramal salih yang menyebabkan datangnya ampunan dari Rabb kalian, dan juga bertaubatlah atas maksiat yang kalian perbuat. (Fathul Qodir, Asy Syaukani, Mawqi 'At Tafasir, 7/156).

     Perlombaan akan menjadi lebih bersemangat ketika hadiahnya jelas dan menggiurkan. Allah Ta'ala telah menginformasikan bahwa surga adalah imbalan yang akan diberikan kepada siapa saja yang banyak kebaikannya. Surga adaah tempat kenikmatan tiada tara. Cukuplah firman-firman Allah Ta’ala berikut ini menggambarkan sempurnanya kenikmatan di Surga :

{وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نزلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ}

“Di dalam Surga kamu memperoleh apa (segala kenikmatan) yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa (segala kenikmatan) yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Fushshilat: 31-32).

{يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan gelas-gelas, dan di dalam Surga itu terdapat segala apa (kenikmatan) yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata, dan kamu kekal di dalamnya” (QS az-Zukhruf: 71).

     Allah Ta’ala juga berfirman:

{فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat tinggi di Surga) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS as- Sajdah: 17).