Lebih Baik Menjadi Musuh Seluruh Ahlu Bid’ah (Ahlu Ahwa'/Pengikut Hawa Nafsu) Daripada Menjadi Lawan Nabi


 

Lebih Baik Menjadi Musuh Seluruh Ahlu Bid’ah (Ahlu Ahwa'/Pengikut Hawa Nafsu) Daripada Menjadi Lawan Nabi

     Dari Anas radhiyallahu ’anhu , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43.)

      Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata :

لأن يكونوا خُصمائي أهل البدع , يـوم القيـامة ، خـير مـن أن يكـون, خَـصـمي رســول الله- صلى ا لله عليه وسلم-، بتَـركي الذبَّ عَـن سُـنّته

“Seandainya mereka semua (ahli bid’ah) menjadi lawan perselisihanku pada hari kiamat nanti, maka itu lebih baik bagiku, daripada lawanku adalah Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- disebabkan karena aku tidak mau membela sunnahnya.”

     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

{ الغالب أن الظلم في الدين يدعو إلى الظلم في الدنيا، وقد لا ينعكس، ولهذا كان المبتدع في دينه أشد من الفاجر في دنياه. }


“Seringnya kezhaliman dalam urusan agama menyeret kepada kezhaliman dalam urusan dunia, dan seringnya tidak terbalik, oleh karena inilah seorang mubtadi' dalam urusan agamanya lebih berbahaya dibandingkan orang yang jahat dalam urusan dunianya.” (lihat Jami'ul Masail, 6/40)

     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata :

{ أئمة أهل البدع أضر على الأمة من أهل الذنوب، ولهذا أمر النبي ﷺ بقتال الخوارج، ونهى عن قتال الولاة الظلمة. }


“Para penyeru bid'ah lebih berbahaya bagi umat Islam daripada para pelaku maksiat/dosa, oleh karena itulah Nabi  ﷺ memerintahkan untuk memerangi Khawarij (para teroris/pemberontak) dan melarang dari memerangi pemimpin/pemerintah yang zhalim.” (lihat Kitabul Iman, hal 223)

Komentar