Ilmu Nafi' (Ilmu Syar'i Yang Bermanfaat) Lebih Utama Dan Lebih Mulia Daripada Harta




 



Al Ilmu An Nafi' (Ilmu Syar'i Yang Bermanfaat) Lebih Utama Dan Lebih Mulia Daripada Harta

1. Perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa ilmu lebih baik daripada harta.
     Kumail bin Ziyad An-Nakha’i berkata bahwa ‘Ali bin Abi Thalib mengambil tangannya lantas berkata :

ِيا كميلُ بن زياد! القلوبُ أوعيةٌ؛ فخيرها أوعاها؛ احفظْ ما أقول لك: الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛

العلمُ خيرٌ من المال: العلمُ يحرِسُك وأنت تحرِسُ المالَ، العلمُ يزكُوْ على الإنفاق–وفي رواية على العمل–والمالُ تنقُصُه النفقةُ، العلمُ حاكمٌ  و المالُ محكومٌ عليه ومحبةُ العلمِ دينٌ يُدان بها، العلمُ يُكسِب العالمَ الطاعةَ في حياته وجميلَ الأُحْدُوْثَةِ بعد موته، وصنيعةُ المال تزول بزواله، مات خُزَّانُ الأموال وهم أحياءٌ، والعلماءُ باقُون ما بقي الدهرُ، أعيانُهم مفقودةٌ، وأمثالهُم في القلوب موجودةٌ.

“Wahai Kumail bin Ziyaad! Ingatlah, hati itu ibarat wadah. Hati yang paling baik adalah yang paling banyak menampung (kebaikan). Ingatlah, apa yang akan aku katakan kepadamu.
Manusia itu ada tiga (golongan): alim rabbani (ulama), penuntut ilmu yang berada di atas jalan keselamatan, dan orang awam yang mengikuti setiap orang yang berteriak (seruan), mereka condong sesuai dengan arah angin (kemanapun diarahkan) , tidak menerangi diri dengan cahaya ilmu, dan tidak berpegangan dengan pegangan yang kuat.”
Ilmu itu lebih baik daripada harta:
☆ lmu itu menjagamu. Sedangkan harta itu dijaga olehmu.
☆  Ilmu bertambah dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfakkan (dikeluarkan).
☆ Ilmu itu menjadi haakim (yang memberikan hukum), sedangkan harta itu menjadi objek hukum (terkena hukum).
☆ Mencintai orang yang berilmu (ulama) bagian dari agama, cinta yang mendekatkan diri kepada Allah.
☆ Ilmu menjadikan orang yang memilikinya menjadi seorang yang ditaati semasa hidupnya dan disebut dengan kebaikan setelah matinya.
☆ Apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang bersama kemusnahannya.
☆ Orang yang menumpuk harta, (nama) mereka mati sedang dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama akan tetap ada selamanya; jasad mereka musnah, tapi sifat-sifat teladan mereka hidup di dalam hati-hati manusia."
(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah Al-Auliya’, 1:79-80; Al-Khathib dalam Al-Faqiih wa Al-Mutafaqqih, 1:49; Asy-Syajari dalam Amaalihi, hlm. 66; Al-Muzani dalam Tahdzib Al-Kamaal, 24:220; An-Nahrawaani dalam Al-Jaliis Ash-Shaalih, 3:331. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, 2:112, “Hadits ini begitu masyhur di kalangan ahli ilmu, tanpa lagi memperhatikan sanadnya karena sudah saking masyhurnya).

2. Ilmu nafi' adalah nikmat dan rizki yang paling agung (besar).
     Allah Ta’ala menyebutkan beberapa nikmat dan karunia-Nya atas Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan menjadikan nikmat yang paling agung adalah diberikannya Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan Allah mengajarkan beliau apa yang belum diketahuinya. Allah berfirman:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“… Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” (QS. An-Nisaa’ : 113).
     Adapun harta bisa menjadikan hati terfitnah dan melalaikan. Allah Ta’ala berfirman :

قال الله تعالى :  يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ  [المُنَافِقُونَ: 9]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun/63: 9)

3. Ilmu nafi' hanya Allah berikan kepada orang mukmin atau hamba-hamba Allah yang shalih dan taqwa. Sedang Allah memberikan rizki harta kepada orang mukmin, orang zhalim, orang munafiq ataupun orang kafir..orang yang berbuat baik maupun buruk dan yang shalih ataupun yang jahat.

عن سهل بن سعد قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.

Dari Sahl bin Sa’ad berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda, “Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi. Syeikh Albani menshahihkan hadis ini).

4. Ilmu adalah warisan para nabi, sementara harta adalah warisan para raja dan orang kaya.

5. Hati itu menjadi mulia, tenang, bersih dengan adanya ilmu nafi'. Sehingga memiliki ilmu dianggap sebagai kesempurnaan dan kemuliaan jiwa. Sedangkan harta jika bertambah tidak menjadikan kita mulia, justru bisa muncul sifat-sifat jelek seperti rakus dan kikir. Maka bertambah ilmu membuat kita bertambah derajat di sisi Allah, diri semakin mulia, beda halnya dengan bertambahnya harta.

6. Kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :

ِأن ما أطاع الله أحد قط إلا بالعلم وعامة من يعصيه إنما يعصيه بالمال

“Seseorang itu bisa menaati Allah dengan benar karena ilmu yang ia miliki. Namun, sebaliknya, maksiat itu terjadi umumnya karena harta.” (Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:414) karya Ibnul Qayyim.)

7. Meraih ilmu adalah keberuntungan dan anugerah yang besar dibanding dengan meraih dunia.
     Kata Ibnul Qayyim rahimahullah :

ْأَنَّ مَنْ أَدْرَكَ العِلْمَ لَمْ يَضُّرَهُ مَا فَاتَاهُ بَعْدَ إِدْرَاكِهِ إِذْ هُوَ أَفْضَلُ الحُظُوْظِ وَالعَطَايَا, وَمَن
ِفَاتَاهُ لَمْ يَنْفَعْهُ مَا حَصَلَ لَهُ مِنَ الحُظُوْظِ بَلْ  يَكُوْنُ وَبَالاً عَلَيْهِ وَسَبَبًا لِهَلاَكِه

“Siapa saja yang mendapati ilmu, maka perihal dunia yang luput darinya tidak menjadi masalah untuknya. Ilmu adalah suatu keberuntungan dan pemberian yang paling utama (afdal). Siapa saja yang luput dari ilmu, maka keberuntungan dunia yang diperoleh tidaklah bermanfaat. Bahkan keberuntungan dunia itu dianggap menjadi bencana dan sebab kehancurannya.” (lihat Miftah Daar As-Sa’adah, 1:395)

8. Kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :

ِأن العالم يدعو الناس إلى الله بعلمه وحاله وجامع المال يدعوهم إلى الدنيا بحاله وماله

“Sesungguhnya ‘aalim itu mengajak manusia kepada Allah dengan ilmu dan keadaannya. Sedangkan, orang yang mengumpulkan harta mengantarkan manusia pada dunia dengan penampilan dan hartanya.” (Lihat Miftaah Daar As-Sa’adah (1:415) karya Ibnul Qayyim.)

9. Kata Ibnul Qoyyim rahimahullah :

الجود بالعلم وبذله وهو من أعلى مراتب الجود ، والجود به أفضل من الجود بالمال لأن العلم أشرف من المال .⁣

“Kedermawanan dengan ilmu dan berupaya (menyebarkan) ilmu adalah lebih utama daripada kedermawanan dengan harta, karena ilmu itu lebih mulia daripada harta“. ⁣(lihat Madarijus Salikin (II/281)⁣.)

10. Dunia itu dilaknat, sedang orang yang berilmu dikecualikan dari laknat Allah.
     Imam at-Tirmidzi (wafat th. 249 H) rahimahullaah meriwayatkan dari Abu Hurairah (wafat th. 57 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ.

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu."

11. Kebaikan dunia yang paling utama adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, itulah yang diminta dalam doa sapu jagat.
     Allah Ta’ala berfirman,

ِرَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
     Al-Hasan Al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah berkata :

ربنا آتنا في الدنيا حسنة هي العلم والعبادة وفي الاخرة حسنة هي الجنة 

“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, yaitu ilmu dan ibadah. Juga berikanlah kepada kami kebaikan di akhirat, yaitu surga.”
     Ibnul Qayyim rahimahullah lantas berkata setelah menyebutkan tafsiran dari Al-Hasan Al-Bashri,

وهذا من احسن التفسير فإن اجل حسنات الدنيا العلم النافع والعمل الصالح

“Inilah tafsiran yang paling bagus karena kebaikan dunia yang paling utama adalah ilmu nafi' (yang bermanfaat) dan amalan shalih.” (Lihat Miftah Daar As-Sa’adah, 1:391)

12. Siapa yang dianugerahi ilmu, ia berarti telah diberikan kebaikan yang banyak.
     Allah Ta’ala berfirman :

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)
     Ibnu Qutaibah dan jumhur berpendapat bahwa al-hikmah adalah mencocoki kebenaran dan mengamalkan kebenaran tersebut. Hikmah itulah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Demikian disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Miftah Daar As-Sa’aadah, 1:224.

13. Imam Ahmad rahimahullah berkata :

ِالنَّاسُ أَحْوَجُ إِلَى العِلْمِ مِنْهُمْ إِلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ لِأَنَّ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي اليَوْم مَرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ وَالعِلْمَ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ كُلَّ وَقْت

“Manusia sangat membutuhkan ilmu daripada kebutuhan pada makan dan minum. Karena kebutuhan makan dan minum dalam sehari hanya sekali atau dua kali. Sedangkan kebutuhkan kepada ilmu itu setiap waktu.” (lihat Miftah Daar As-Sa’adah, 1:297)

14. Ilmu membawa dan menarik jiwa kepada kebahagiaan yang Allah ciptakan untuknya, sedangkan harta adalah penghalang antara jiwa dengan kebahagiaan tersebut.

15. Kekayaan ilmu lebih mulia daripada kekayaan harta karena kekayaan harta berada di luar hakikat manusia, seandainya harta itu musnah dalam satu malam saja, jadilah ia orang yang miskin, sedangkan kekayaan ilmu tidak dikhawatirkan kefakirannya, bahkan ia akan terus bertambah selamanya, pada hakikatnya ia adalah kekayaan yang paling tinggi.

16. Mencintai ilmu dan mencarinya adalah pokok segala ketaatan, sedangkan cinta dunia dan harta dan mencarinya adalah pokok segala kesalahan.

17. Nilai orang kaya ada pada hartanya dan nilai orang yang berilmu ada pada ilmunya. Apabila hartanya lenyap, lenyaplah nilainya dan tidak tersisa tanpa nilai, sedangkan orang yang berilmu nilai dirinya tetap langgeng, bahkan nilainya akan terus bertambah.

18. Tidaklah satu orang melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala melainkan dengan ilmu, sedangkan sebagian besar manusia berbuat maksiat kepada Allah lantaran harta mereka.

19. Orang yang kaya harta selalu ditemani dengan ketakutan dan kesedihan, ia sedih sebelum mendapatkannya dan merasa takut setelah memperoleh harta, setiap kali hartanya bertambah banyak, bertambah kuat pula rasa takutnya. Sedangkan orang yang kaya ilmu selalu ditemani rasa aman, kebahagiaan, dan kegembiraan.

20. Umat manusia sepakat mengagungkan orang yang zuhud dalam harta, tidak menumpuk-numpuk harta, tidak meliriknya, dan tidak menjadikan hatinya budak harta. Mereka juga sepakat mencela orang yang merasa tidak membutuhkan ilmu, tidak mau melirik ilmu, dan tidak gigih mencari ilmu. 

21. Orang yang kaya harta suatu saat nanti pasti ditinggal oleh hartanya. Dia akan tersiksa dan sakit oleh sebab perpisahan ini. Sementara orang kaya ilmu nafi', ilmu tidak pernah meninggalkannya, juga ia tidak akan tersiksa atau tersakiti. Dengan demikian, kenikmatan harta ialah kenikmatan semu yang pasti berakhir hingga berujung kepada kepedihan, sementara kenikmatan ilmu adalah kenikmatan kekal abadi yang tidak disertai kepedihan. 

22. Orang yang kaya harta akan membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah. Karena kalau sudah cinta pada harta, ia tidak suka untuk berpisah dan ingin harta tetap bertahan agar ingin terus dinikmati. Berbeda dengan ilmu, ia membuat hamba menginginkan pertemuan dengan Allah dan mendorongnya untuk zuhud terhadap kehidupan yang penuh kesusahan dan fana ini

23. Ruh itu hidup dengan ilmu seperti halnya raga hidup dengan ruh. Orientasi orang kaya harta adalah menambah kehidupan raga. Sedangkan ilmu adalah kehidupan hati dan rohani.

24. Kaya harta adalah inti kemiskinan jiwa. Sedangkan, kaya ilmu adalah inti kekayaan jiwa, karena ilmu adalah kekayaan hakiki bagi jiwa.

25. Satu bab ilmu lantas mengajarkannya kepada muslim yang lain lebih aku sukai daripada memiliki dunia seluruhnya yang diinfakkan di jalan Allah.
     Al-Hasan rahimahullah berkata :

لِأَنْ أَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ العِلْمِ فَأُعَلِّمُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لِي الدُّنْيَا كُلُّهَا فَأُنْفِقُهَا فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu mengajarkannya lebih aku sukai dari memiliki seluruh dunia lalu aku infakkan di jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, 1:16. Riwayat ini terputus. Lihat Miftah Daar As-Sa’adah, 1:384)

     Setiap orang yang jujur dan berakal sehat insya Allah pasti akan mengakui ilmu lebih mulia daripada harta. Buktinya banyak orang yang hatinya ridho minta surat keterangan miskin, sebaliknya mereka tidak ridho jika dikatakan bodoh (tidak berilmu) atau minta surat keterangan bodoh. Wa Allahu a'lam.


Komentar