JANGAN JADIKAN AL-QUR’AN UNTUK MENCARI DUNIA
Imam Muhammad bin Husain al-Ajurry rahimahullah berkata ketika menyebutkan akhlak para penghafal al-Qur’an:
ولا يتآكل بالقرآن، ولا يحب أن تقضى له به الحوائج، ولا يسعى به إلى أبناء الملوك، ولا يجالس به الأغنياء ليكرموه.
“Tidak menjadikan al-Qur’an sebagai alat untuk mencari makan, tidak senang kebutuhannya dipenuhi dengan sebab hafalannya, tidak menjadikannya sebagai alat untuk berusaha mendekati anak-anak para raja, dan tidak suka bermajelis dengan orang-orang kaya dengan tujuan agar mereka memuliakannya karena hafalan yang dia miliki.”
(lihar Akhlaq Ahli al-Qur’an hlm. 78)
AL-QUR’AN UNTUK DIFAHAMI DAN DIAMALKAN, BUKAN HANYA UNTUK DIHAFAL SAJA
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
المطلوب فهم معاني القرآن والعمل به، فإن لم تكن هذه همة حافظه، لم يكن من أهل العلم والدين.
“Yang dituntut adalah memahami makna-makna al-Qur’an dan juga mengamalkannya, jadi jika hal ini bukan menjadi perhatian terbesar bagi orang yang menghafalnya, maka dia bukan termasuk ahli ilmu dan agama.”
(lihat Majmu’ul Fatawa, jilid 23 hlm. 55)
KEADAAN PENUNTUT ILMU DULU DAN SEKARANG
Ibnu Qutaibah rahimahullah (wafat 236H) berkata:
كان طالب العلم فيما مضى يسمع ليعلم، ويعلم ليعمل، ويتفقه في دين الله لينتفع وينفع.
وقد صار الآن يسمع ليجمع، ويجمع ليذكر، ويحفظ ليغلب ويفخر.
“Dahulu seorang penuntut ilmu mendengarkan ilmu dengan tujuan untuk mengetahui, mengetahui untuk diamalkan, dan mempelajari agama Allah untuk mengambil manfaat dan memberi manfaat orang lain.
Sementara sekarang ini (di zaman Ibnu Qutaibah) telah berubah niatnya menjadi; mendengar ilmu untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya, mengumpulkan agar dikenal, dan menghafal agar boleh mengalahkan orang lain dan membanggakan diri.”
(lihat Al-Madkhal al-Mufashshal, jilid 1 hlm. 13)

Komentar
Posting Komentar