Siapakah Ashhabul Yamin-Ashhabul Maimanah?
Ashhabul Yamin disebutkan dalam surat Al-Waqi’ah: 90-91. Allah Ta'ala berfirman :
وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ . فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ
"90. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,
91. maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya terhadap surat al Waqi’ah: 90-91 mengatakan, ”Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan berbagai kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan meskipun ada kekurangan dalam hal pemenuhan sebagian hak-hak yang tidak menyebabkan tejadinya cacat pada tauhid dan iman mereka.
Ashhabul Maimanah disebutkan dalam Surat Al-Balad : 17-18. Allah Ta'ala berfirman:
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ
"17. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan."
Ibnul Jauzi di dalam kitabnya Zadul Masir berkata :
فأصحاب الميمنة فيهم ثمانية أقوال: أحدها: أنهم الذين كانوا على يمين آدم حين أخرجت ذريته من صلبه، قاله ابن عباس . والثاني: أنهم الذين يعطون كتبهم بأيمانهم، قاله الضحاك والقرطبي . والثالث: أنهم الذين كانوا ميامين على أنفسهم، أي مباركين، قاله الحسن والربيع . والرابع: أنهم الذين أخذوا من شق آدم الأيمن، قاله زيد بن أسلم . والخامس: أنهم الذين منزلتهم عن اليمين، قاله ميمون بن مهران . والسادس: أنهم أهل الجنة، قاله السدي . والسابع: أنهم أصحاب المنزلة الرفيعة، قاله الزجاج . والثامن: أنهم الذين يؤخذ بهم ذات اليمين إلى الجنة، ذكره علي بن أحمد النيسابوري
“Ashhabul Maimanah itu ada delapan pendapat mengenai mereka:
(1) Ibnu ‘Abbas mengatakan mereka adalah orang-orang yang berada di sebelah kanan Adam pada saat keturunannya dikeluarkan dari tulang sulbinya.
(2) Adh-Dhahak dan Al-Qurthubi mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang diberi kitab dari sebelah kanan mereka.
(3) Al-Hasan dan Ar-Rabi’ berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang diberkahi dirinya.
(4) Zaid bin Aslam mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil posisi sebelah kanan dari Adam.
(5) Maimun bin Mihran berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang kedudukannya di sebelah kanan.
(6) As-Suddi berkata bahwa mereka itu adalah para penghuni surga.
(7) Az-Zujaj berkata bahwa mereka itu orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi.
(8) Ali bin Ahmad An-Naisaburi berkata bahwa mereka itu orang-orang yang akan dibawa ke surga dari arah sebelah kanan.
Ashabul Maimanah memiliki pengertian yang sama dengan Ashabul Yamin. Hal ini terlihat dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menyamakan antara Ashabul Yamin, Ashabul Maimanah dan Al-Abrar yang tersebutkan di surat al-Waqi’ah, Al-Mudatstsir dan Al-Muthaffifin.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa wali–wali Allah itu ada dua macam: Muqarrabun dan Ashhabul Yamin sebagaimana telah disampaikan sebelumnya. Nabi ﷺ telah menyebutkan amalan masing-masing dari wali Allah tersebut dalam hadits wali, dengan sabdanya :
يقول الله تعالى: من عادى لي وليا فقد بارزني بالمحاربة وما تقرب إلي عبدي بمثل أداء ما افترضته عليه ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه؛ فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها
Allah Ta’ala berfirman,”Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah menyatakan perang kepadanya, Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.
Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. (Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6502)
Jadi, Al-Abrar Ashabul Yamin adalah orang-orang mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai fardhu. Mereka melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan atas diri mereka dan meninggalkan apa saja yang Allah haramkan atas diri mereka serta tidak memaksakan diri mereka dengan perkara-perkara yang bersifat mandub (dianjurkan secara syar’i/bukan wajib). Selain itu mereka tidak meningalkan perbuatan-perbuatan mubah yang tidak ada faedahnya. (lihat Al-Furqan Baina Auliyaurrahman wa Auliyausy Syaithan, Ibnu Taimiyah, hal. 92)
Ashhabul Yamin disebutkan dalam surat Al-Waqi’ah: 90-91. Allah Ta'ala berfirman :
وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ . فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ
"90. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan,
91. maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya terhadap surat al Waqi’ah: 90-91 mengatakan, ”Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan berbagai kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan meskipun ada kekurangan dalam hal pemenuhan sebagian hak-hak yang tidak menyebabkan tejadinya cacat pada tauhid dan iman mereka.
Ashhabul Maimanah disebutkan dalam Surat Al-Balad : 17-18. Allah Ta'ala berfirman:
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ
"17. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan."
Ibnul Jauzi di dalam kitabnya Zadul Masir berkata :
فأصحاب الميمنة فيهم ثمانية أقوال: أحدها: أنهم الذين كانوا على يمين آدم حين أخرجت ذريته من صلبه، قاله ابن عباس . والثاني: أنهم الذين يعطون كتبهم بأيمانهم، قاله الضحاك والقرطبي . والثالث: أنهم الذين كانوا ميامين على أنفسهم، أي مباركين، قاله الحسن والربيع . والرابع: أنهم الذين أخذوا من شق آدم الأيمن، قاله زيد بن أسلم . والخامس: أنهم الذين منزلتهم عن اليمين، قاله ميمون بن مهران . والسادس: أنهم أهل الجنة، قاله السدي . والسابع: أنهم أصحاب المنزلة الرفيعة، قاله الزجاج . والثامن: أنهم الذين يؤخذ بهم ذات اليمين إلى الجنة، ذكره علي بن أحمد النيسابوري
“Ashhabul Maimanah itu ada delapan pendapat mengenai mereka:
(1) Ibnu ‘Abbas mengatakan mereka adalah orang-orang yang berada di sebelah kanan Adam pada saat keturunannya dikeluarkan dari tulang sulbinya.
(2) Adh-Dhahak dan Al-Qurthubi mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang diberi kitab dari sebelah kanan mereka.
(3) Al-Hasan dan Ar-Rabi’ berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang diberkahi dirinya.
(4) Zaid bin Aslam mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil posisi sebelah kanan dari Adam.
(5) Maimun bin Mihran berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang kedudukannya di sebelah kanan.
(6) As-Suddi berkata bahwa mereka itu adalah para penghuni surga.
(7) Az-Zujaj berkata bahwa mereka itu orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi.
(8) Ali bin Ahmad An-Naisaburi berkata bahwa mereka itu orang-orang yang akan dibawa ke surga dari arah sebelah kanan.
Ashabul Maimanah memiliki pengertian yang sama dengan Ashabul Yamin. Hal ini terlihat dari penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menyamakan antara Ashabul Yamin, Ashabul Maimanah dan Al-Abrar yang tersebutkan di surat al-Waqi’ah, Al-Mudatstsir dan Al-Muthaffifin.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa wali–wali Allah itu ada dua macam: Muqarrabun dan Ashhabul Yamin sebagaimana telah disampaikan sebelumnya. Nabi ﷺ telah menyebutkan amalan masing-masing dari wali Allah tersebut dalam hadits wali, dengan sabdanya :
يقول الله تعالى: من عادى لي وليا فقد بارزني بالمحاربة وما تقرب إلي عبدي بمثل أداء ما افترضته عليه ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه؛ فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها
Allah Ta’ala berfirman,”Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku telah menyatakan perang kepadanya, Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.
Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. (Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6502)
Jadi, Al-Abrar Ashabul Yamin adalah orang-orang mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai fardhu. Mereka melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan atas diri mereka dan meninggalkan apa saja yang Allah haramkan atas diri mereka serta tidak memaksakan diri mereka dengan perkara-perkara yang bersifat mandub (dianjurkan secara syar’i/bukan wajib). Selain itu mereka tidak meningalkan perbuatan-perbuatan mubah yang tidak ada faedahnya. (lihat Al-Furqan Baina Auliyaurrahman wa Auliyausy Syaithan, Ibnu Taimiyah, hal. 92)


Komentar
Posting Komentar