Permisalan Teman Yang Baik Dan Teman Yang Buruk


 

Kita hendaknya bersahabat atau berteman duduk dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan gemar menasehati kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan peniup bara api (pandai besi). Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa radhiyaallahu 'anhu.)

     Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” (lihat Fathul Bari 4/324, Ibnu Hajar Al Asqolani)



Waspadalah Dalam Pertemanan Agar Pada Hari Qiyamat Tidak Menyesal


     Sahabat akrab bisa jadi musuh di hari kiamat. Allah Ta'ala berfirman :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu (hari qiyamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

     Ahli Tafsir imam At-Thabari rahimahullah menjelaskan :

المتخالون يوم القيامة على معاصي الله في الدنيا, بعضهم لبعض عدوّ, يتبرأ بعضهم من بعض, إلا الذين كانوا تخالّوا فيها على تقوى الله.

“Orang-orang yang saling bersahabat di atas maksiat kepada Allah di dunia, di hari kiamat akan saling bermusuhan satu sama lain dan saling berlepas diri, kecuali mereka yang saling bersahabat di atas takwa kepada Allah.” (Lihat Tafsir At-Thabari)


Saudara Dan Teman Sejatimu


     Imam Yahya bin Mu’adz rahimahullah pernah berkata:

أخُوْكَ مَنْ عَرَّفَكَ الْعُيُوْبَ، وَصَدِيْقُكَ مَنْ حَذَّرَكَ مِنَ الذُّنُوْبِ

“Saudaramu (yang sebenarnya) itu adalah orang yang menunjukkan kepada aib-aibmu (kekuranganmu).
Sedangkan teman/sahabatmu (yang sejati) itu adalah orang yang menyuruhmu berhati-hati dari dosa-dosa.” ( lihat Shifatus Shofwah (4/95), karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah)

Komentar