5 Tanda Munafiq



 

5 Tanda Munafiq (Nifaq 'Amal)

    Dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam Ibnu Rajab pada hadits ke-48 disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : أَربعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً ، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ  خَرَّجَهُ البُخَارِيُّ  وَمُسْلِمٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Empat hal  barangsiapa keempatnya ada padanya menjadikan munafiq Jika salah satu perangai itu ada, berarti ia punya sifat munafiq sampai ia meninggalkannya. Empat hal itu (1) jika berkata, berdusta; (2) jika berjanji, tidak menepati; (3) jika melakukan khushomah (debat dan permusuhan ), ia fujur (zhalim/berpaling dari kebenaran); (4) jika mengadakan perjanjian, ia melanggarnya (mengkhianati).” (HR. Bukhari dan Muslim).

    

     Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

Di antara tanda munafiq ada tiga: jika berbicara, dia berdusta; jika berjanji, dia tidak menepati; jika diberi amanat, dia berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59)
     Dalam riwayat lain disebutkan :

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُسْلِمٌ

Tanda munafik itu ada tiga, walaupun orang tersebut puasa dan mengerjakan shalat, dan ia mengklaim sebagai orang muslim.” (HR. Muslim, no. 59).

     Dari ketiga hadits di atas insya Allah dapat disimpulkan 5 tanda munafiq yaitu (1) jika berbicara gemar dusta, (2) jika berjanji tidak menepati, (3) jika dalam khushumah, ia fujur (melampaui batas), (4) jika membuat perjanjian sengaja dilanggar, (5) jika diberi amanat maka khianat. Wa Allahu a'lam.

Ada hadits lain yang menambahi tanda munafiq selain hadits di atas sebagai berikut :

Al Hasan Al Bashri mengatakan :

مِنَ النِّفَاقِ اِخْتِلاَفُ القَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَاخْتِلاَفُ السِّرِّ وَالعَلاَنِيَّةِ ، وَاخْتِلاَفُ الدُّخُوْلِ وَالخُرُوْجِ

“Di antara kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 490)



Para Shahabat Nabi Dan Orang Sholih Takut Tertimpa Kemunafikan

Para Shahabat Nabi banyak yang takut tertimpa kemunafikan.

وقال ابنُ أبي مُلَيْكَة : أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ .

“Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata: Aku telah mendapati 30 orang Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya khawatir pada dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari no. 36)

     Umar pernah berkhutbah di atas mimbar, lantas ia mengatakan:

إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ المنَافقُ العَلِيْمُ ، قَالُوْا : كَيْفَ يَكُوْنُ المنَافِقُ عَلِيماً ؟ قَالَ : يَتَكَلَّمُ بِالْحِكْمَةِ ، وَيَعْمَلُ باِلجَوْر ، أَوْ قَالَ : المنْكَرِ

“Yang aku khawatirkan pada kalian adalah orang 'alim yang munafiq. Para Shahabat lantas bertanya: “Bagaimana bisa ada orang berilmu yang munafiq?” Umar menjawab, “Ia berkata perkataan hikmah, namun sayangnya ia melakukan kemungkaran.”

     Al Hasan Al Bashri sampai menyebut orang yang nampak padanya sifat kemunafikan dari sisi amal, maka ia disebut munafiq. Sebagaimana ada perkataan Asy Sya’bi semisal itu pula :
مَنْ كَذَبَ ، فَهُوَ مُنَافِقٌ

“Siapa yang berdusta, maka ia adalah munafik.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 493)

     Al Hasan Al Bashri berkata :
مَا خَافَهُ إِلاَّ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ أَمَنَهُ إلِاَّ مُنَافِقٌ

“Orang yang khawatir terjatuh pada kemunafikan, itulah orang mukmin. Dan tidaklah orang yang merasa aman dari kemunafikan, kecuali orang itu munafiq.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 491).

     Semoga Allah menyelamatkan kita dari kemunafikan (nifaq i'tiqodi dan nifaq 'amal) serta melindungi kita dari keburukan orang-orang munafiq.


    

Komentar